Karena rembulan tetap hidup bersama dirimu
Menerangi malam
Menemani gelap
Buta mata tak lihat pancar sinarmu
Buta hati tak lihat sinar jiwamu
Kemarin aku tlah berjanji
Menjadi manusia malam
Kemudian terkena sinarmu
Dipeluk hangat dalam beku dingin temanmu
Kita bercengkrama lama
Kala lain telah lelah bersama hidup
Aku bercerita
Berkeluh tentang penat lampau
Jernihkan esok yang masih kabur
Biarlah,
Biarkan aku walau sejenak
Setiap hari begini bersamamu
Menenangkanku
Sembari menjemput sang pagi
Karna aku juga dijanjikan
Akan terlambung kini dan nanti
Bila kutetap bersamu
Ah, semoga janjiku kemarin lalu tak menguap
Diajak masa untuk pergi
Biarlah aku, kau dan Ia bersama
Kala itu...




Tak jarang aku harus menelungkupkan diri.
Untuk sembunyikan segala sedih dan tangis. Namun ternyata Kau tahu juga.
Lalu Kau telah berjanji bahwa tak akan pernah pergi tinggalkanku. Bersama alam sepiku, gelapku, dalam segala kesusahan yang Kau berikan sebagai ujian. Hingga aku tak punya alasan lagi untuk dapat bersedih.
Kau selalu menjanjikan segala ketenangan bagiku, asal aku selalu mengingatMu, mendekatiMu yang tak akan pernah pergi.
Padahal Kau telah jelaskan, bahwa dalam setiap kesusahan itu, dalam setiap sedih yang kurasakan karenanya, selalu kau selipkan kemudahan.
Dan tentang banyak hal yang kubenci, tak pernah kusukai, sebelumnya Kau telah memprediksi. Bahwa semua itu memang layak bagiku, memang baik untukku.
Namun aku tak pernah menyadari, tak akan pernah mengerti, tak dapat memahami segala rahasia hidup yang aku jalankan berdasarkan apa yang Kau sebut dengan takdir.
BersamaMu mudah, menjauhiMu apalagi, namun untuk dapat kembali dekat denganMu itu yang paling susah. Untuk dapat menerima seikhlas-ikhlasnya takdirMu yang sebenarnya memang indah, namun sering kupertanyakan.
Walau kuminta agar Kau tak jauh dariku, ternyata Kau memang tak akan pernah pergi. Kecuali aku yang mulai untuk menjauhiMu.
Namun jangan! Jangan pernah biarkan hal itu terjadi.
Bagaimana lagi keadaanku tanpa kehadiranMu di sini, dalam hati dan setiap gerak yang kuhasilkan.
Aku coba memnita, karena Kau juga berjanji akan selalu mengabulkan doa yang kupanjatkan, asa yang kuharapkan, agar Kau berikanku kekuatan. Kekuatan dalam beriman. Agar tak pernah suatu hari dalam hidupku untuk mempercayai selain diriMu. Tidak juga diriku.




Apa sebenarnya definisi bahagia bagimu?
Saat melihat sunrise di atap? Saat semester ini tak ada lagi yang perlu diperbaiki? Saat nilai mata pelajaran yang kita ajar menjadi pelajaran dengan nilai tertinggi saat ikhtibar di kelas? Saat dosen tak hadir tatkala kita belum siap untuk presentasi? Atau saat menjemur baju kemudian cuaca sedang bagus padahal musim hujan?
Bayak sekali ternyata bahagia yang kita punya. Dari hal rumit hingga hal yang remeh sekalipun. Kata Aristoteles, seorang filosof Barat asal Yunani, Happiness depends on ourselves. Happiness as a central purpose of human life and a goal in itself.Bahagia itu tergantung dari setiap individu dan kebahagiaan pula yang menjadi harapan utama bagi manusia beserta tujuan yang harus dicapai. Ingin hidup macam apa? Hidup yang bahagia dunia dan akhirat tentunya.
Banyak orang memaknai bahagia yang mereka punya dan rasakan. Bahagianya orang tua tentu berbeda dengan makna bahagia yang kita punya. Jangankan begitu, bahkan antara sesama kita saja makna bahagia yang kita miliki tak tentu sama. Tak usah dicemooh. Mungkin hal yang remeh bagi kita akan menjadi esensi bahagia bagi yang lain, begitu pula sebaliknya. Biarkan saja. Karena dari hal-hal remeh itulah banyak orang sudah mengerti bagaimana cara bahagia yang sederhana. Sesederhana kita mengucapkan kata bahagia itu sendiri
Bahagia itu absurd. Tidak bisa dihitung, diukur, bahkan dibeli. Banyak orang yang sudah merasa hidupnya nestapa mencoba untuk mencari-cari kebahagiaan. Dalam bentuk apa dan bagaimana sebenarnya bahagia itu?
Bahagia bisa jadi makna lain dari bersyukur. Mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan, maka kita akan selalu merasa bahagia. Kita seharusnya bisa percaya bahwa takdir Allah itu selalu hebat meski baik ataupun buruk. Jika begitu, kita tak akan pernah berpikir bahwa kita adalah orang paling tidak beruntung di dunia. Enyah semua rasa galau ataupun sesal dari dalam diri, karena yang kita miliki adalah sepotong rasa percaya pada-Nya. Insya Allah kita akan selalu merasa bahagia dalam kondisi apapun.
Suatu hari di tahun lalu, Dr. Dihyatun Masqon menjelaskan perihal ‘happiness’. Beliau berkata, happiness is from our mind and heart. Karena kebahagiaan tidak bisa diraih pabila kita tidak berpikir akan bahagia serta membuka hati bahwa sebenarnya kita sedang dan harus bahagia. Hal serupa tercetak di sudut buku tulisku, happiness  comes from  within your heart. Maka milikilah hati yang luas lagi lapang agar kita bisa merasakan dan menerima respon positif dari kebahagiaan yang (sebenarnya) selalu kita miliki dalam kehidupan ini.
Lalu bagaimanakah bahagia bagimu?
Serumit hingga harus dicari?
Atau sesederhana saat kita merasakannya?
Apapun itu, selamat berbahagia!



Siapa bilang bermimpi itu dilarang? Mimpi itu harus dimiliki oleh setiap orang yang hidup. Mau jadi apa hidup dengan segala rutinitas yang ada? SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja, kalau nggak ya langsung nikah-Punya anak-Tua-berakhir denga titel alm.
Dari kecil kita sudah banyak memiliki mimpi. Ingin jadi ini-itu, namun saat sudah lebih dewasa. Saat sudah mulai mengerti dan mengenal dunia yang tak jarang tertampar realita, mimpi itu lama kelamaan pudar. Hilang. Tanpa jejak. Kata orang-orang dewasa, berpikir itu yang realistis. Orang-orang yang masih juga bermimpi pada umur yang dikatakan sudah dianggap dewasa akan dianggap aneh.
Salah seorang temanku ada yang memiliki kreativitas tanpa batas, bermimpi besar, berusaha hebat. Namun banyak orang yang menganggapnya aneh dan malah mencemooh akan mimpi-mimpi hebatnya. Mustahil, kata mereka. Kenapa kita harus men-judge seseorang akan mimpinya? Meski kita perhitungkan dengan rasio realitas, segalanya terlihat tidak mungkin. Yang lebih tidak mungkin itu adalah yang tidak berbuat apa-apa akan mimpinya. Mimpi akan selamanya menjadi angan belaka bila tidak ditindaki, diusahakan, didoakan.
Bermimpilah yang besar...
Bertindaklah tanpa batas...
Berdoalah yang keras...
Lebih baik mencoba kemudian gagal daripada gagal mencoba. Hasilnya sudah jelas berbeda meski sama-sama gagal. Tidak aneh bila sekali mencoba kemudian gagal, dua kali mencoba juga masih gagal. Thomas Alva Edison saja sudah gagal lebih dari itu namun tetap berusaha sehingga kita dapat kenal dengan lampu. Dari gagal kita belajar. Tidak ada suatu hal yang sia-sia dalam hidup ini. Sukses adalah saat bertemunya kesempatan dengan passion yang kita punya. Bile belum ada kesempatan, maka buatlah kesempatan itu.
Be a dream catcher, gals!




Pada tahun ajaran lalu seorang senior bercerita tentang salah seorang muridnya yang terkenal pintar. Nomor 1 di angkatannya. Di akhir pertemuan sebelum ujian murid itu tidur dan meremehkan seniorku sehingga membuatnya tersinggung. Ternyata saat ujian lisan tanpa disangka-sangka seniorku menguji anak tersebut. Kalau kita berpikir secara rasionil, anak paling pintar seangkatan pasti akan dengan mudahnya menjawab meski tanpa memperhatikan penjelasan di kelas. Namun ternyata saat diuji anak itu tidak dapat menjawab dengan baik pada materi yang diajar seniorku tadi. Andil siapakah ini?
Seringkali kita terlalu percaya akan kekuatan yang kita miliki. Kalau aku belajar, pasti bisa. Kalau aku malas, pasti tidak bisa. Itu berarti kita percaya pada diri kita sendiri, sehingga lupa bahwa ada yang memiliki andil besar dalam kehidupan kita berikut rahasia yang ada di dalamnya. Konsep seperti ini bukannya salah, tidak berarti: bila aku malas, asal berdoa maka bisa. Iman tanpa amal. Banyak yang sudah belajar dengan sungguh-sungguh, namun saat ujian lupa. Bukan berarti karena belajarnya yang kurang, amal tanpa iman. Sudah baikkah hubungan kita dengan-Nya?
Banyak yang berdoa lebih khusyuk, memperbanyak shalat malam saat menjelang ujian. Apakah salah? Tentu tidak. Yang salah justru yang tidak ingat sama sekali.
Dalam mata kuliah bahasa Inggris beberapa minggu lalu kami berdiskusi tentang Concept of Religion. Dalam perspektif Islam tentunya. Seorang teman bertanya, bagaimana caranya kita memahamkan orang non-Muslim bahwa kita memiliki agama bukan karena kita lemah seperti yang dikatakan oleh seorang filusuf Barat, Auguste Comte. Ia berkata, hanya orang-orang lemah saja yang memiliki agama. Karena mereka menggantungkan diri pada agama tersebut. Seperti kita yang seringkali baru mengingat Allah saat dilanda kesusahan.
Kita sebagai manusia harus tahu bahwa sejatinya kita memang makhluk lemah, makanya kita bergantung pada Ia yang Maha Kuat. Kalau kita percaya dan yakin bahwa karena-Nyalah kita kuat, bukan Maha Kuat sehingga tak boleh bergantung pada yang lain. Seperti kisah anak pintar tadi. Terlalu percaya pada diri sendiri tanpa ingat bahwa ada campur tangan yang ‘lain’ dalam segala amr yang kita kerjakan. Berkah itu yang harus kita kais-kais dari dulu. Bila doa kita belum diterima, bisa jadi doa orang lain yang akan diterima. Bisa juga berkah orang lain yang meridhai kita yang diterima.
 Allahumma amiin.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.


Beberapa hari yang lalu seorang teman datang kembali ke tempat ini. Just couple of days, itupun adalah karena sebuah kedatangan yang belum terencanakan. Hanya karena sekilas lewat saat perjalanan menuju Solo. Dari melihat sekilas itu ia tanpa kontrol langsung menitikkan air mata. “Aku pernah bersekolah di sini. Aku pernah di sini. Aku pernah merasakan semua yang ada di sini.” Bahkan masih melewati Walikukun, ia sudah merasa rindu.
            Padahal belum juga satu tahun namun perasaan rindu yang ia miliki sudah membuncah seperti itu. Walhasil baru beberapa hari di Solo, ia memutuskan untuk datang ke tempat ini. Sholat di masjid, khusyu’ termenung mendengar syiar Abu Nawas, melihat segala gerakan yang ada, yang tak pernah mati, makan empek-empek Walikukun yang menurutnya paling enak sedunia. Tak ada suasana yang seperti ini di luar, katanya. Aku hanya dapat mengangguk sambil menimpali sekenanya.
            Aku belum bisa merasakan esensi kehilangan yang seperti itu, karena aku masih ada di sini. Yang pernah kurasakan adalah ‘hampir’ meninggalkan, jadi esensi yang kumiliki adalah rasa syukur yang berlimpah. Belum kehilangan.
            Mengutip Prie GS di novelnya Ipung, Cuma dengan pergi manusia akan mengerti indahnya pulang. Banyak yang ‘baru’ merasa sangat sayang dan beruntung justru saat sudah tak berada di dalamnya. Kemudian bagaimana perasaan yang masih ada di dalam ini? Apakah harus keluar dulu baru merasa beruntung? Susah. Karena tak akan bisa kembali lagi. Jika saja semua orang dapat merasa beruntung walau masih berada di tempat ini, percaya bahwa tempat ini akan membawa kita pada kebaikan, menjadi orang hebat, mungkin tak akan ada yang memakai kerudung pelanggaran atau melakukan kesalahan. Meski memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa, dengan rasa percaya itulah setiap orang akan bergerak dan merasa menurut kepercayaannya tersebut. Percaya akan menjadi hebat, ya akan bertingkah laku baik.

            Namun aku percaya, bagi siapapun yang pernah menapakinya, menghirup udaranya, bagi para nahkoda tangguh yang terlahir dari lautan yang tak pernah tenang, semua akan menjadi orang hebat. Seperti kata temanku itu dalam suatu keheningan, “Ana percaya. Magenta akan menjadi orang hebat semua.” Amin, kawan!


Satu hari itu aku sedang memikirkan tentang beberapa masalah yang sedang aku alami. Melihat banyak orang yang sedang tersenyum bahagia, sepertinya yang lain baik-baik saja. Iseng membuka massage di Facebook, seorang teman memintaku menuliskan sebuah note karena sedang miskin motivasi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Aku sendiri kadang masih bingung juga menyelesaikan masalah, malah dimintai motivasi. Anggap saja aku sedang berbagi apa yang aku dapatkan di sini. Di tempat ini. Di rumah ini.
            Dalam pidatonya saat apel tahunan PKA, pimpinan pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal berkata, “Jangan mau hanya dianggap hebat, apalagi merasa hebat.”
            Seringkali karena latar belakang pendidikan kita yang hebat ini, kita dianggap hebat. Ditunjuk dimana-mana, dalam event apapun. Karena banyak orang yang sudah percaya. Pun begitu ada juga yang sudah merasa hebat karena pernah bersekolah di tempat hebat ini. Pertanyaannya adalah, sudah benar hebatkah kita? Beberapa kawan yang kini sudah benar-benar terjun ke masyarakat merasa risih dianggap hebat, kemudian tak sedikit yang menyembunyikan identitas. Memikul beban berat katanya.
            Banyak orang yang telah ber-husnu dzoni bahwa kita hebat. Yang malu justru karena (maaf) belum menjadi hebat sebelumnya. Atau bisa jadi belum merasa hebat.
            Seandainya kita percaya bahwa tempat penempaan kita dulu adalah ladangnya para orang-orang hebat, maka kita akan berlaku, bertingah, memiliki jiwa-jiwa yang hebat. Tentang hebat bukan hanya soal merasa ataupun dianggap, tapi tentang bagaimana kita bertindak, berpikir dan bereaksi hebat atas reflek yang kita punya.
            Bila masih juga ‘baru’ dianggap, biarkan saja. Berarti kita sudah memiliki langkah awal untuk menjadi hebat. Karena sesungguhnya, siapa saja yang pernah menapaki tanahnya, menjamahi tempatnya, atau pernah turut bergelut di dalamnya, memiliki jiwa-jiwa seekor singa yang tertanam. Bila belum muncul, mungkin sedang tertidur. Bangunkan ia! agar dapat mengaum lebih keras, bertindak lebih bijaksana, bergerak tanpa batas.

            Be proud, orang hebat!


Ada satu tempat. Saat kuterbangun di pagi, aku berpikir apa yang bisa kulukis pada langitnya, apa yang bisa kutoreh pada batunya...

Sungai jiwa yang mengalir di tempat itu, tidak tampak oleh mereka, tidak terdengar oleh mereka. Tapi kita melihatnya, kita menyentuhnya, kita merabanya, kita merasakan sejuknya di ujung jemari kita saat kita mencicipi airnya.

Pepohonan yang tumbuh di tempat itu... sebagian menjalar dan merapat, sebagian menjulang untuk melindungi, bukan menjulang untuk mengungguli. Pepohonan yang menyerap makanan dari tanah itu, menunjukkan padaku bahwa terkadang daun harus gugur agar pohon bertahan pada hari-hari terik. Dedaunan merasa, ia terlahir untuk melindungi pohon... bukan pohon terlahir untuknya. Dedaunan mengerti, saat ia gugur nanti, jasadnya kan jadi energi baru bagi sang pohon.

Ada satu ruang. Saat kumenghirup nafas, aku tertegun... lalu bersyukur Allah menarik garis hidupku ke ruang ini. Lalu bersyukur lampu-lampu-Nya menyinariku di ruang ini...

Di sudut ruang itu, sering kutemukan tawa dan tangis menari bersama bagai angin dingin dan panas bergelut menjadi hangat. Sering kutemukan perih dan didih bahu membahu menjadikan lemah menjadi tegap.

Ada satu lembar. Baris demi barisnya mengajarkanku bernafas... mengajarkanku bersujud... mengajarkanku mendaki...

Bait-baitnya memecutiku untuk tegar, menopangku untuk berdiri, membocorkan padaku rahasia-rahasia waktu.

Ada suatu tempat. Yang siapapun pernah menjejakkan kaki di halamannya. Tak dapat menemukan alasan untuk menyesal pernah berada di sana.

Dan jika kamu berdiri di atasnya, lalu mentari terbit, bayang-bayangmu akan muncul dari tanahnya, dan bayang-bayang itu akan terus mengikutimu. Membayangimu, mengawasimu... mengajakmu berbicara dalam sepimu, menahan kakimu dan memarahi hatimu dalam khilafmu. Menyemangatimu dalam gugupmu.

Di hari apapun di masa depan kamu terbangun. Bayangan itu tak kan meninggalkanmu, tak dapat meninggalkanmu. Dan sekeras apapun kamu mencoba, kamu takkan dapat melepaskannya. Kamu bahkan tak dapat menutupinya

Setinggi apapun kamu terbang. Segelap apapun goa persembunyianmu. Serapat apapun kunci hatimu. Bayang-bayang itu akan selalu... dan selalu menjadi guru dan sahabatmu.

Ada satu tempat. Saat kuterbangun di pagi, aku berpikir apa yang bisa kulukis pada langitnya, apa yang bisa kutoreh pada batunya...

Jika belum dapat kutorehkan kata yang menawan, akan kutorehkan sebuah kalimat sederhana... Terima kasih Gontor...



REFLEKSI
Dalam Perjalanan Menjadi Seekor Singa

Teruntuk generasi tangguh,,,,
Singa betina.....
Mengapa kita masih juga berada di sini? Sudah hampir delapan atau enam tahun kita tertempa di tempat ini, namun mengapa kita masih juga berada di tempat yang pernah membuat kita menangis, berteriak, tertawa, juga bermimpi ini?
Alasan mengapa masih kita berada di sini tentu bermacam-macam. Kita simpan sendiri. Tidak perlu banyak orang yang tahu. Yang perlu kita tahu adalah bahwa kita ‘sebenarnya’ tak perlu mempunyai alasan untuk menyesal masih berada di sini. Mungkin beberapa mimpi kita pernah digantungkan di luar, bersama teman-teman kita yang sudah tak lagi menopang badan bersama. Bahwa hidup adalah sebuah lembaran-lembaran. Yang selalu membuat kita ragu adalah bayangan masa lalu dan juga guratan masa depan. Bila hidup dengan abyang-bayang di belakang, maka kita tak akan pernah maju. Bila membayang terus ke depan, sering kali kita tak akan pernah mau merasa puas. Naluriah memang. Namun apa yang tertakdirkan oleh Allah hingga kita masih berada di tempat ini, itulah yang terbaik. Berbaik sangkalah pada-Nya. Bagaimana kita dapat mempercayai diri kita bila kita tak dapat mempercayai Tuhan kita sendiri?
Terkadang kita suka merasa tak pantas. Mengingat bagaimana pendahulu kita. Mengingat teman-teman kita. Mengapa kita yang terpilih di sini? Mengapa bukan yang lain? Mengapa harus kita? Sejujurnya bukan karena sidang atau bagaimana kita sehingga kita masih ada di sini. Melainkan karena Allah yang memilih kita. Allah saja percaya bahwa kita bisa, mengapa kita tak percaya pada diri kita sendiri bahwa kita bisa?
Sadar tak sadar ada juga beberapa prilaku kita yang berubah. Beberapa reflek kita berbeda. Cara pandang kita yang tak lagi sama dari beberapa tahun yang lalu. Itulah prilaku, reflek dan cara pandang Gontor. Itulah prilaku, reflek dan cara pandang seekor singa. Tak mungkin pula kita berpura-pura untuk menjadi seekor biri-biri. Singa adalah hewan yang terhebat, kemudian mau jadi seorang yang ter- apakah kita ini?
Kelak kita yang akan memegang setir pondok. Kelak kita yang akan mendidik singa-singa. Tak menunggu kelak pun banyak yang sudah melihat kita, menilai kita. Reflek baik janganlah kita tinggalkan, namun diperbaiki, juga ditingkatkan. Jangan pula melek walang dengan keadaan yang terjadi di sekeliling. Sadar kawan, kita memiliki reflek seekor singa.
Masih berada di sini berarti harus tahu konsekuensi apa yang akan kita hadapi. Tak bisa bila memikirkan diri sendiri. 33% untuk mengajar, 33% untuk belajar, 33% untuk pondok. Untuk marhalah adalah sebuah kesadaran, bukan tuntutan. Bondho bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan, dalam artian yang sebenarnya.
Kawan, mungkin apa yang kita alami kini tidak sama dengan apa yang teman kita di luar alami. Lakukan saja yang terbaik, kelak akan kembali ke kita juga. In ahsantum ahsantum lianfusikum, wa in asa’tum falaha.
Mari menjadi singa. Mari kita tetap menjadi tangguh layaknya nama yang kita panggul. Mari kita berjuang. Mari kita bertindak. Mari mencetak generasi yang tangguh. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Berbanggalah karena terlahir menjadi nahkoda tangguh yang terlahir dari laut yang tak pernah tenang.

Yang selalu menyayangi sedalam lautan hati,

MAGENTA



Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup berpindah-pindah. Beradaptasi dengan lingkungan yang satu, kemudian ke tempat lainnya. Berusaha memahami apa yang teman-teman katakan menggunakan bahasanya sendiri. Mencoba tak lagi sakit hati dengan kebiasaan ataupun watak dari teman dari daerah lain.
Sampai selesai SD total aku sudah berpindah sebanyak lima kali. Beberapa opsi pilihan SMP sudah aku miliki. Saat itu aku berada di Banjarbaru, sebuah kota di Kalimantan Selatan. Orang tua tentu hanya mendukung saja kemana aku akan meneruskan sekolah, meski seringkali terbayang akan kepindahan Ayah yang dapat terjadi kapan saja.
Tak banyak teman perempuan yang aku miliki. Berteman dengan perempuan itu harus menggunakan perasaan. Tidak jelas maunya apa. Mungkin aku juga begitu dulu. Aku malah lebih akrab dengan teman laki-laki karena kesamaan hobi. Suka Jepang dan komik (sekarang kamu dimana, kawan?). salah satu teman perempuan yang kumiliki ini keturunan Arab. Pelajaran agama yang diberikan oleh orang tuanya lumayan. Ia direncanakan masuk pondok almameter ayahnya, Gontor. Yang aku tahu dari Gontor hanyalah sekolah dimana anak teman orang tuaku memasukkan anaknya. Di Ponorogo sana.
Detik-detik menjelang ujian makin dekat. Orang tua temanku ini makin gencar untuk memasukkan anaknya ke Gontor. Ia berontak. Aku hanya bisa menguatkan. Sempat aku bercerita pada Mama perihal temanku yang satu ini, yang ternyata disambungkan ke teman Mama yang memasukkan anaknya ke Gontor pula.
Di sepotong sore aku sendirian di rumah. Teman Mama datang hanya menitipkan kalender. Kalender Gontor Putri 2007 untuk diberikan pada temanku. Ternyata teman mama ini turut mendukung untuk masuk ke Gontor. Sepulangnya beliau, aku yang tak bisa diam dengan rasa penasaran tinggi membuka hati-hati bungkus kalender itu. Apa sih Gontor?
Di dalam kalender itu terdapat beberapa foto kegiatan dan bangunan serta penjelasan menggunakan 3 bahasa. Indonesia, Inggris dan Arab. Takjub. Hanya itu yang dapat kukatakan. Di lembar paling depan terdapat penjelasan persyaratan masuk. Entah apa yang merasuki otakku, akhirnya aku rapihkan kembali kalender itu. Menunggu Mama datang untuk mendiskusikan sesuatu.
Tanpa basa-basi saat Mama datang aku ungkapkan, “Ma... kalau aku masuk pondok gimana?” aku tahu raut Mama saat itu pasti bingung. Kalau di garis silsilah, mungkin hanya aku yang berkeinginan masuk pondok. Tapi prinsip orang tuaku adalah selalu mendukung apa yang kami inginkan. Asalkan itu baik. “Ya nggak apa-apa.” Dan beberapa wejangan lain. Ayah yang ternyata lebih berat untuk melepaskanku pergi. Aku yang baru saja lulus SD akan dilepas sendiri di tanah orang.
Meski dengan berat hati toh Ayah mengantarkanku juga ke Ngawi. Kebetulan saat itu Ayah sedang ada dinas ke Bandung dan sebelum pindah ke Kalimantan kami menetap di Surabaya. Masih ada bawahan Ayah yang mau mengantar kami ke Ngawi dan melanjutkan dinas Ayah ke Bandung.
Jujur saja, aku orang yang tak sabaran dengan sesuatu yang baru. Sesampainya kami di Gontor Putri 2 ternyata pengarahan belum lama selesai. Alhasil kami harus menunggu hingga malam tiba.
Aku langsung berkenalan dengan salah seorang teman asal Bojonegoro yang ternyata akan menjadi teman sebelah kamarku nantinya.
Dalam pengarahan, ternyata Gontor tidak mengadakan UAN. Ijazahnya pun berbeda dengan SMA atau MAN. Pendidikannya 6 tahun komplit. Aku tak akan memiliki ijazah SMP nantinya. Ayah sibuk bertanya ini-itu. Aku sih tenang saja. Ajang mencari sensasi dengan pengalaman baru.
Ternyata every begining is difficult. Tak semudah yang aku kira.


Belum lama ini seseorang bertanya padaku, kenapa sikap Gontor Putri 1 dan 3 itu berbeda? Gontor Putri 3 lebih supel, ramah dan enak diajak gaul. Sementara Gontor Putri 1 terkenal jutek, terlebih terhadap laki-laki. Saat itu yang dapat kujawab hanyalah, mungkin karena beda pengasuh. Namun jawaban itu ditolak mentah-mentah karena Gontor sejatinya dari satu rumpun yang sama.
Baru saja Kamis kemarin jawaban itu kudapatkan. Saat Kamisan, bapak pengasuh menjelaskan, bahwa untuk mendidik seorang laki-laki sangat gampang. Terlebih sudah ditemukan metode yang pas. sementara perempuan, lebih complicated. Intinya, menjadi seperti Gontor Putra, tapi yang Putri. Melihat missi yang sudah berbeda, tentu ada saja beberapa pengajaran yang juga berbeda.
Kau tahu sampai bagaimana besarnya pondok itu menjaga kita?
Jika pergi ke Gontor Putra tidak boleh memakai gamis dan baju dengan warna terang. Mencolok dan sedikit membentuk tubuh, tidak boleh memakai sandal dan lain sebagainya. Jangan kemayu, jangan terlalu ramah. Nanti bisa jadi fitnah. Bahkan bila pergi ke rumah ustadz di sini yang sudah menikah saja tidak diperkenankan sendiri.
Sampai sebegitunya pondok menjaga kita.
Lalu apa tujuannya?
Menjadi mar’ah shalihah yang sitti-l-kull (bahasa Mesir yang berarti sayyidah kull. Perempuan yang sempurna dan serba bisa). Dapat kuat dengan keadaan, tegar, bila bahasa bapak pengasuh, pendamping yang ideal.
Oke, yang bagian terakhir ini aku belum mengerti karena yang ada di pikiranku kali ini hanyalah belajar, mematangkan diri, melengkapi diri dari kekurangan dan menghadapi hidup yang tentu berbeda dari remaja seumurku.

Bismillahirrohmanirrohim. Semoga ahdaf dan tujuan yang dimisikan dapat terealisasikan. Meski sadar tak sadar.



Sama halnya seperti mahasiswa baru yang harus mengikuti OSPEK, begitu juga santri baru. Bahasa kamusnya ‘perpeloncoan’. Pekan Khutbatu-l-‘Arsy (PKA) yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Tahun ini, tahun kedelapanku, tentu saja selalu berbeda.
Mengapa santri lama, bahkan aku juga yang sudah delapan tahun, harus mengikuti PKA? Semata-mata untuk memperbaharui niat dan janji. Aku baru sadar, bahkan setelah delapan tahun, bahwa pesan dari PKA itu sangatlah berat bobotnya.
Jangan menilai pondok karena bahasanya, organisasinya, mottonya, karena menilai pondok itu seutuhya. Tidak bisa hanya dari satu sisi. Absurd. Tidak komplit. Karena apa yang dinilai belum tentu baik, nanti kecewa. Karena apa yang tidak dinilai, siapa tahu baik.
Menjelaskan makna KEIKHLASAN pada orang luar itu susah-susah gampang. Mungkin karena asas pengalaman. Kalau dibilang pengabdianku (lagi) ini timbal balik atas kuliah murah, tentu aku tidak setuju. Kadar ikhlas nanti berkurang.
Karena mengajar, bukan hanya asal menyampaikan pelajaran, namun juga mendidik. Bila mendidik, bukan seberapa jam kita berada di dalam kelas, sebanyak apa lembar buku yang kita sampaikan, namun juga ikut aktif dalam proses belajar. Muroqobah, mulahadzoh, isyrof, bukan sekedar ta’lim.
Tahun ini, BISMILLAH, niat yang baru, sikap yang baru, pandangan yang baru, tentu yang lebih baik. SUBHANALLAH, betapa hebatnya Gontor mendidik kita. ALHAMDULILLAH, masih bisa berada di tempat ini. ALLAHU AKBAR, atas segala pengalaman hidup dan pikiran yang kujalani selama delapan tahun ini.


Menyambut PKA, akhirnya kamarku mengadakan pembersihan besar-besaran. Dan apa yang kami temukan? Dua ekor kucing kecil, bersih, di dalam sebuah kardus dengan sarung bantal dan sebuah majalah terbitan kalangan sendiri, Nukhbah.
Aku yang tidak berpengalaman memelihara binatang, ikut tergerak hatinya. Di umurnya yang seperti itu ia tak bisa berjalan lincah dan makan apapun, minumpun begitu. Entah bagaimana muasalnya ia berada di sana, kata beberapa teman mungkin alasan ia berbadan bersih karena dibersihkan ibunya, namun saat dua kucing ini telah tersentuh manusia, si ibu tak akan mau lagi datang kepada anaknya. Sampai sebegitunyakah?




Sepertinya baru Senin kemarin kalau tidak salah antaran soft lense-ku datang. ini kali kedua aku meemakainya. saat kelas enam dulu juga pernah, tak berlangsung lama, as you know how was class six life yg memang harus serba cepat dan surely, aku nggak telaten. Minus empat. Lumayan juga sebenarnya.
Teman dudukku dulu sempat menasihatiku untuk memakai alat bantu lihat, kaca mata atau soft lense, nyesel banget nggak bisa lihat dunia seindah ini. Nasihat yang sebenarnya tidak aku gubris penuh. Selama aku rasa nyaman dan tak mengganggu (sori, memang mengganggu sebenarnya), ya tidak usah diambil pusing. Aku malah berkata, saat manusia mendapat kekurangan sebenarnya Tuhan memberikan beberapa kelebihan lain. Saat aku tak bisa melihat sempurna, aku dapat merasakan lebih tajam. Gerakan orang lain. Aku hampir hapal bagaimana orang lain berjalan.
Saat ini, saat memang aku benar-benar butuh, saat aku akhirnya sudah bisa melihat dengan sempurna meski dengan bantuan soft lense, aku baru memahami betul makna kata 'indah' yang temanku bilang itu. Banyak sekali warna, cerita, kata, tulisan yang seharusnya dapat kulihat, namun kuanggap lalu begitu saja. 
(mataku nggak secakep ini)
Tak ada yang sia-sia bukan dalam hidup ini? Betapa (sebenarnya) indahnya dunia ini, namun masih saja ada rasa keluh dan sesal di dalamnya. Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk melihat.


Powered by Blogger.