Pengabdian. Satu tahun penuh harus dijalani tamatan akhir KMI Pondok Modern Gontor. Untuk apa? Bila saya fikirkan, bukan sebuah penangguhan ijazah, karena hakikatnya ijazah Gontor itu diberikan kepada siapa saja yang berhak dan menginginkan. Pengabdian juga bukan berarti bagaimana kita menghabiskan waktu menjadi guru. Tapi pengamalan apa yang sudah pernah kita dapatkan berupa ilmu dan pengalaman selama empat atau enam tahun bahkan lebih di Gontor. Saya sendiri ketika mengajar, yang saya tekankan adalah saya juga mendalami kembali apa yang sudah pernah saya terima dulu juga transfer ilmu. Bukan semata-mata mengajar. Dibalik itu saya juga belajar kembali.
Namun setelah lewat dari satu tahun, bukan pengabdian lagi namanya, tapi pengorbanan. Sebuah pilihan besar. Bila dulu masuk Gontor karena disuruh orang tua atau asal masuk karena booming Negri 5 Menara, maka kini adalah keputusan untuk bagaimana kita melanjutkan hidup nantinya. Karena ini adalah pilihan yang sangat besar. Bila itu mendapat tempat pengabdian di dalam pondok. Bila di luar ataupun alumni, saya tidak dapat membeberkan lebih jauh karena saya tidak merasakan. Ini yang saya dan teman-teman rasa.
Bila dari awal sudah memantapkan diri untuk melanjutkan hingga jenjang strata satu, maka kesempatan pengalaman yang dimiliki lebih banyak. Karena Gontor adalah pondok kader. Banyak sektor yang harus diurus, seperti halnya Gontor yangtak kunjung mati. Itulah yang ditanamkan dari hal kecil. Agar kepengurusan itu tidak hilang dengan cara kaderisasi.
Bila hanya satu tahun. Yaitu masa pengabdian, maka seperti pesan pengasuh Gontor Putri 1, Al-Ustadz DR. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, MA, bahwa pengabdian satu tahun berarti pengabdian yang sangat intensif. Seakan-akan kita mengabdi empat tahun yang disusutkan menjadi satu tahun. Bukan dengan keputusan yang mudah untuk meninggalkan pondok. Basic Gontor yang condong ke agama, memang dirasa sulit untuk melanjutkan ke universitas dengan jurusan umum, namun berkat falsafah yang Gontor ajarkan, bila kita memilki kemauan keras dan dengan usaha yang juga keras, insya Allah kita akan mendapatkan.



Judul buku         : Seasons to Remember
Pengarang          : Ilana Tan
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku         : 160 halaman
Tahun                   :Januari 2013

Masih ingat kisah cinta empat musim Ilana Tan yang sempat dicetak ulang berbelas-belas kali? Diterbitkan pertama kali dimulai dari Summer in Seoul (Jung Tae-Woo dan Sandy), Autumn in Paris (Tatsuya Fujisawa dan Tara Dupont), Winter in Tokyo (Nishimura Kazuto dan Ishida Keiko), dilanjutkan dengan Spring in London (Danny Jo dan Naomi Ishida).
Dalam buku yang berjudul Seasons to Remember ini, Ilana Tan membuat kita mengenang kembali semua cerita dan rentetan kejadian yang ada di keempat novelnya. Diusung dengan tema jurnal agar kita dapat me-review ulang.
Pertama kali mendapat kabar dari fan page Facebook Ilana Tan bahwa akan ada bukunya yang terbit di tanggal 14 Februari, saya sudah ancang-ancang dan tak sabar menunggu kemunculannya di display Gramedia. Maklum, selain keempat novel di atas (yang sudah terlanjur jatuh cinta), saya juga mengoleksi buku Sunshine Becames You (Alex-Mia). Jadi untuk buku setelahnya, saya tidak boleh ketinggalan.
Akhirnya saya menitip teman dengan harapan yang sangat tinggi. Akan menemukan kisah Ilana Tan yang baru lagi. Ketika membuka sampul dengan merogoh kocek sebesar lima puluh ribu rupiah, senyum saya sedikit memudar. Saya belum tahu bahwa buku baru Ilana Tan itu ternyata bukan dalam bentuk novel, namun potongan perkataan maupun tulisan yang ada di keempat novelnya. Tak lama. Karena setelah melanjutkan membaca yang tak perlu memakan waktu lama itu saya dapat menarik kesimpulan. Liana Tan sedang mengobati kerinduan pembaca. Tentu harus menghabiskan banyak waktu bila kita membaca keempat buku tersebut. Namun bila kita membaca halaman per halaman yang hanya bertuliskan sepotong kalimat, kita langsung saja dapat mengingat potongan-potongan yang ada di keempat novel tersebut.
Misalkan saja, lagu anda… lagu anda.. bagus” _Sandy kepada Jung Tae Woo. Ada yang ingat? Ini adalah perkataan Sandy saat Jung Tae Woo mengantarkannya ke rumah karena larut akibat posel Sandy yang tertukar dan mengakibatkan Sandy harus dating ke rumah Jung Tae Woo. Tae Woo yang sudah vakum selama empat tahun, tiba-tiba merasa pamornya kurang karena melihat reaksi Sandy yang datar. Apa ia sudah tidak terkenal lagi? Akhirnya setelah sampai di apartemen Sandy, Tae Woo bertanya apakah Sandy mengenalnya.
Ada juga “Banyak orang lebih suka melihat kota Paris dari puncak Eiffel, tapi menurutku pemandangan dari puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik” _Tara Dupont kepada Tatsuya Fujisawa. Kalau yang ini adalah saat Tara menjadi guide Tatsuya mengelilingi kota Paris.
Kemudian, “Kau bisa melupakannya dan mulai benar-benar… benar-benar melihatku?” _Nishimura Kazuto kepada Ishida Keiko.  Ini adalh saat Kazuto mencoba menghutarakan perasaannya pada Keiko setelah mereka berkencan pada malam Natal. Settingnya di stasiun. Keiko yang mengejar kereta untuk pulang kampong. Sementara Kazutop merasa penting untuk mengatakan hal ini. Terlebih ia berjanji ingin mengatakan kebenaran masa lalu dari cinta pertama Keiko yaitu Akira.
`”Katakan padaku, apa yang dimilikinya yang tidak kumiliki?” _Danny Jo kepada Naomi Ishida. ini adalah saat Danny bertanya pada Naomi setelah mereka bertemu kembali di Korea setelah sebelumnya Danny menahan selama dua tahun untuk tidak bertemu dengan Naomi perihal masalah di London lalu. Namun ketika Danny tiba di apartemen Naomi, ia melihat perempuan yang ia pikir Naomi sedang bergandengan dengan mesra di samping seorang lelaki. Padahal perempuan itu adalah kembaran Naomi, Keiko Ishida.
Entah berapa kali saya sudah membaca buku empat musim itu hingga saya rasa mendapat IP 4untuk menebak setiap adegan yang didasarkan oleh potongan kalimat di Seasons to Remember.
Bagi yang merasa penggemar Ilana Tan, harap menambah Seasons to remember sebagai list buku yang wajib anda beli. Namun, jangan pasang harapan terlalu tinggi. Di buku yang hanya 160 halaman dengan space yang terlalu kosong, anda dapat menghabiskan lima puluh ribu hanya untuk beberapa menit saja. Maka nikmati saja di tiap potongan kalimatnya. Seakan intensif kita membaca empat buku hanya dalam satu bnuku di waktu yang tak perlu lama. Have a nice reading!



Tahun lalu, sebagai refleksi ulang tahunku yang kedelapan belas, bukanya mentraktir teman, malah aku membagikan hasil dari refleksi tersebut. Bahwasanya terkadang kita suka dibingungkan dengan dua kalimat, yakni kuunii ‘inda husni-dz-dzonni ghoyriki yang berarti jadilah seperti apa yang orang fikir kamu itu baik, dengan kalimat just be yourself.
Bila kita terbebani untuk menjaid seperti orang fikir, maka kita harus menjadikan diri kita pribadi itu menjadi baik sendiri. Sehingga orang  lain meilai bahwa kita itu baik, menjadi diri sendiri karena kita sesungguhnya memang baik. Tidak perlu menjadi orang lain demi mendapat nilai baik di kaca mata orang lain atau tidak usah menjadi seorang yang masa bodoh dengan pendapat orang lain. Justru karena pendapat orang lain itulah yang kerap kali membangun kita. Bagaimana kita berlaku, orang yang dapat menilai. Kita juga tak usah pula pusing memikirkan apa yang akan orang lain katakan. Menjadi diri sendiri, tapi yang baik. Mungkin itu yang kufikirkan menjadi refleksi dari kedua kalimat tersebut.
Ulang tahunku yang kedelapan belas sukses kulewati dengan bahagia di karantina kelas enam. Aku tak sempat lagi memikirkan ujian karena telah sukses membawaku pada masuk angin, cucian kotor menumpuk, dan bersin karena kotakku yang penuh dengan bedak entah milik siapa. Mungkin karena aku yang terlalu lama hidup dalam duniaku sendiri sehingga perhatian teman-teman yang baru kutemui di karantina itu memilki efek yang sangatbesar. Bahwasanya aku hidup di dunia ini tidak sendiri. Bahwasanya banyak orang telah menilai kita dengan berbagai sudut pandangnya tanpa kita tahu. Krena gerakan yang kita lakukan secara sadar atau tidak, semua orang dapat melihatnya.
Entah masih ingat atau tidak, LIBANON 4, memberikanku banyak sekali pelajaran. Terlebih tentang hidup dan arti dari mengerti perasaan.


MAAF KAMI TUTUP SEMENTARA SHOLAT JUM’AT
Ini yang terpampang dalam sebuah distro mencakup kafe yang saya kunjungi sengaja untuk mencari makan siang. Distro kafe ini merupakan tempat nongkrong yang cukup cozy ditinjau dari segi pelayanan, makanan, suasana, juga tema yang diusung. Pengunjungnya juga mayoritas anak muda seperti saya. Saya dan beberapa teman cukup kaget juga membaca pengumuman tersebut. Kami baru saja berbelanja di tempat yang tak begitu jauh dari distro kafe ini. Akhirnya kami menunggu di penghalang jalan yang sudah diaspal. Saya langsung teringat sebuah ayat.
إذا نودي للصلاة في يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله و ذروا البيع
Bila kita mendengar azan atau panggilan di hari Jum’at maka segeralah mengingat Allah (dengan bersegera berangkat ke masjid dan sholat Jum’at) dan meninggalkan jual-beli. Jual-beli bisa jadi makruh apabila dilaksanakan pada waktu sholat Jum’at.
Saya merenung sebentar sebelum penjaga distro kafe itu memanggil kami menandakan bahwa mereka sudah datang dan distro kafe siap dibuka. Bahwa sesungguhnya, apapun yang kita kerjakan. Baik bagi diri kita sendiri, kepentingan umum, apalagi pekerjaan yang akan berhubung juga soal urusan perut, kita harus tetap mengingat akan Dzat yang menciptakan dan yang memberikan kita rezeki itu. Mungkin bisa saja bila ada kejadian seperti di atas si pemilik kafe akan rugi. Karena dalam waktu yang sebentar saja (apalagi di jam makan siang), pelanggan banyak yang datang dan keuntungan pun melayang. Tapi apalah arti sebuah keuntungan dibandingkan berkah yang dapat diambil bila kita melakukan apa yang oleh Pemberi nikmat itu perintahkan dan larangkan? Wallahu a’lam bis-showab.....
(March 1, 2013_renjo Distro and Cafe 13.38)


Hidup akan terasa sangat mudah bila kita menikmatinya, namun untuk terlena dan tetap diam menikmati posisi yang ada saat ini hingga lupa untuk ke pemberhentian selanjutnya, apakah semua itu masih dapat disebut nikmat?
Dalam satu titik pencapaian hidup, anggaplah itu layaknya stasiun. Seperti juga akhir tujuan kita. Yaitu kematian. Tahapan dalam hidup kita lalui dan mampir sementara untuk mencapai stasiun berikutnya dengan pencapaian yang bermiliu lebih besar.
Bayangkan saja, ada orang yang biasa-biasa saja, lalu menjadi kaya. Anggaplah cerita ini seperti orang-orang yang kaya mendadak saat krisis Indonesia berpuluh tahun lalu. Saat harga dolar lemah, ia menukar rupiah dengan dolar, lalu saat harga dolar melejit, ia menukarnya kembali dengan rupiah yang konon tak hais hingga tujuh turunan. Apa ia berusaha keras? Tidak. Yang ada hanyalah keberuntungan. Kita ibaratkan seperti itu. Dengan kekayaannya yang besar itu, bila hanay dinikmati tanpa berfikir bagaimana akan mengembangkan uang yang ia milki menjadi sebuah perusahaan besar mungkin, menolong ODHA bisa jadi. Karena terlena apa yang sudah ada di tangan ini, kerap kali kita sebagai manusia gelap mata dan tak tahu arah.
Sama halnya dengan pencapaian mimpi. Mimpi diusahakan, didoakan, dan diperjuangkan, saat mendapatkanya, apa yang akan dilakukan? Tentunya bukan karena hanya ingin mencoret list yang ada di dalam notes, tapi harus dapat diusahakan kembali dengan sebaik mungkin. Konsekuensi dengan mimpi yang sudah dipilih dan diraih. Ingat! Hidup itu sebuah pencapaian. Bila telah mencapai stasiun yang satu, maka yang perlu kita lakukan adalah menuju stasiun selanjutnya. Selamat berusaha!





Mengapa kita hidup?
Mengapa pula kita diciptakan di dunia?
Klise sebenarnya pertanyaan ini. Menganggap kehidupan adalah sebuah skenario yang harus kita lakoni atau juga sebuah permainan yang harus kita menangkan. ‘Hanya’ menjalani dengan lurus, sama saja kita melihat film yang diperankan oleh aktor tanpa penghayatan peran. Mana pula ada yang akan tertarik untuk menonton.
Seperti itu pula hidup kita. Bila dipandang ‘biasa-biasa’ saja, sama halnya seperti film tadi. Tidak menarik karena dilakoni tanpa penghayatan. Tidak perlu pula kita harus menjadi koruptor di kantor agar terasa ‘seru’ dikejar-kejar polisi dan KPK. Tidak pula harus minum bensin agar lebih ‘seru’ merasakan sakit.
Memang bagaimana hidup yang menarik itu? Allah menciptakan kita semata agar kita menjadi khalifah di bumi. Meski tahu, hingga malaikat berdebat, bahwa manusia itu juga yang akan merusak bumi, namun Allah tetap saja mempercayakan bumi ini pada manusia. Untuk diusahakan, dihuni, dan diberkahi. Sama juga layaknya sutradara yang mempercayakan peran untuk filmnya kepada aktor. Diberikan naskah, diberikan takdir untuk dijalani. Kemudian kembali lagi pada aktornya. Dapatkah ia memerankan perannya itu dengan baik dan penuh penghayatan.
Menarik atau tidaknya hidup ini, semua ada di tangan kita. Akan dikemas semenarik mungkin atau semembosankan mungkin, kita yang menjalaninya. Hidup bukan asal jalan saja seperti air yang mengalir, butuh penghayatan dan riak kecil untuk membiarkan air mengalir dengan indah. Banyak sekali yang lalu lalang melewati kehidupan kita, seandainya saja kita dapat ‘melek’ untuk melihat itu semua, betapa berwarnanya hidup ini. Hidup ini kolosal. Bukan hanya kita yang menghuni dan merasakan sebuah kehidupan. Banyak orang lain yang juga merasakan hidup. Bila dalam pandang kita, kitalah yang menjadi pemeran utama. Maka orang lain adalah pemeran pendukung yang sebenarnya juga memilki kunci penting dalam berhasilnya hidup kita. Siapa yang tahu?
-D-



Kenangan manis di masa lalu tentu tak akan pernah terlupa. Meski tak ada lembaran foto ataupun tulisan di catatan harian sebagai bukti adanya sebuah kenangan, namun otak kita yang (seharusnya) melebihi kerja komputer dan menyimpan memori banyak ini mampu mengingat hal-hal yang menjadi kenangan kita itu. Walau tak jarang kenangan yang teringat bukan hanya yang indah saja, tapi juga yang buruk.
Bila kita tengok diri kita hari ini, lalu membandingkan hari kemarin dan ternyata hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini, ingin rasanya untuk numpang ke lorong masa depannya doraemon agar dapat kembali mencicipi atau menikmati indahnya masan lalu yang (ternyata) lebih baik.
Kemudian tak jarang juga kita terlewat pusing memikirkan hari esok hingga apa yang ada di depan mata kita pada hari ini terbengkalai. Mau terus kuliah dimana? Nanti kalau sudah besar enaknya kerja apa? Nanti kalau sudah menikah bagaimana? Bisa apa tidak nanti mengurus anak? Padahal kita yang hari ini sedang ditunggu oleh hal-hal yang sebenarnya sudah siap untuk dikerjakan.
 Memang benar, bahwa orang yang hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini termasuk orang yang merugi. Kalimat tersebut ditunjukkan untuk memotivasi kita agar selalu berusaha yang lebih baik lagi setiap harinya. Namun bila kenyataan berkehendak lain, mau apa kita? Kembali ke masa lalu kemudian memperbaikinya? Atau mengingat-ingat masa lalu untuk membahagiakan diri bahwasanya kita juga pernah memiliki hal baik (dulu). Nasi telah menjadi bubur, namun seorang teman pernah menambahkan, maka kita buat bubur tersebut menjadi enak. Diberi ayam, beberapa bumbu agar tak hambar, atau aneka tambahan lain agar membuat nasi yang telah menjadi bubur itu dapat enak dinikmati. Untuk itu kita tak perlu menyesal terlalu lama akan buruknya hari ini. Bangkit dan berusaha untuk lebih baik lagi.
 Sama halnya yang terlalu ingin baik di masa depan dengan mengabaikan apa yang ada hari ini. Karena terlalu berat setelah difikirkan terlalu jauh, kita menjadi takut untuk mengerjakan apa yang ada di depan mata kita kini. Misalkan saja, ada orang yang sudah memikirkan susahnya melahirkan. Saat hamil yang akan membuat seorang perempuan menjadi gemuk, sakit tak tertahankan, hingga prosesi melahirkan. Belum lagi banyak kejadian seorang ibu yang meninggal saat melahirkan. Padahal perempuan itu masih belasan tahun. Setelah berfikir (kelewat) jauh, perempuan itu menjadi parno melihat ibu hamil, alih-alih akan takut melahirkan dan tak mau menikah. *horor
Kawan... hari ini adalah sebuah kehidupan yang nyata. Bukan tentang hari kemarin, bukan juga tentang hari esok. Hari kemarin hanya cukup untuk dikenang saja, bukan untuk diingat-ingat. Hari esok adalah sebuah harapan, tetapi yang paling jelas adalah apa yang ada di depan mata. Yaitu hari ini. Yang akan mengubah hari esok dan memperbaiki hari kemarin.


Ini adalah sebuah judul buku dari Prie GS yang berceritakan dan lebih dikenal dengan Ipung, yang sampai sekarang belum juga saya membacanya lantaran antri pinjam yang tidak sampai juga ke tangan saya. Walau belum membacanya, saya sangat terinspirasi sekali dengan susunan kata di atas.
Memang nyatanya hidup itu keras, penuh dengan tantangan dan masalah hidup yang ada saja untuk mewarnai dan menambah catatan harian kita. Kalau kita tetap melek mengahadapi hidup tersebut dan tak juga ikutan keras, kita akan kalah. Bukan bermaksud untuk mengikuti hukum rimba, yaitu yang menang yang berkuasa. Namun, dalam hakikatnya hidup ini toh memang tak semudah cerita. Dalam cerita saja ada susahnya, bagaimana bila dengan kehidupan nyata dan asli?
Untuk menghadapi, melewati, bahkan menaklukan hidup yang diperlukan banyak. Salah satunya adalah kepercayaan dan keyakinan bahwa kita dapat menggebuk hidup yang keras itu. Bukan justru terpuruk dan kalah dengan keadaan. Dari awal kita diciptakan di dunia ini kan memang ditakdirkan menjadi pemenang, bukan menjadi loser aau pecundang. Mari sama-sama kita menggebuk si keras yang bernama hidup itu!!!!!



Seorang guru, dosen, motivator, rektor, dan berbagai titel lain yang beliau miliki itu bertanya dalam sebuah pertemuan mingguan demi kemajuan bahasa kepada temanku tentang arti kebahagiaan menurutnya. Acara yang digelar jam dhuha saat matahari berusaha naik itu tak begitu dingin lantaran adanya fasilitas pendingin. Suasana cair seperti biasanya.
Saat temanku itu menjawab bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pencapaian atas mimpi, beliau tak membenarkan juga tak menyalahkan. Hanya menambahkan bahwa bahagia itu berbeda dengan sukses. Akhirnya demi memuaskan keingintahuan kami yang memilki wajah kelewat penasaran itu, beliau menyerah dan menjelaskan.
 Happiness is different with success. Success is from your thought , but happiness from your heart and mind. Kesuksesan itu bisa datang bahwa kita berfikir akan, harus atau telah sukses. Sementara bahagia punya sisi yang lebih kompleks, namun mudah. Dari hati dan fikiran. Mengapa demikian? Karena kita berfikir bahwa sesuatu itu membahagiakan, namun setengah hati merasakannya apakah kita dapat menikmati kebahagiaan tersebut secara utuh?
Bahagia itu mudah. Tergantung bagaimana cara kita menyikapi dan memandang segala hal. Melihat kehidupan dengan kacamata yang lebih indah. Tulisan di catatan harianku yang sering membuatku tersetrum adalah happiness is within your heart. Mungkin memulai dengan sesuatu yang sederhana. Jangan pula terlalu pusing mencari sebuah kebahagiaan. Bila ada di depan mata, susah atau beratnya sebuah pekerjaan pun akan dapat terlihat membahagiakan. Tentunya semua orang ingin memilki hidup yang bahagia. Namun ada saja yag memandang dan menganggap bahwa hidupnya itu susah dan suram. Ubah dari sekarang mind set seperti itu! Keoptimisan dalam hidup juga merupakan faktor besar dalam kebahagian. Mau coba?

(Tambahan: Assalamu'alaikum. Ini Dhita di tahun 2018 bulan Juli yang sedang edit-edit blog karena tidak ada kerjaan lantaran libur semester yang terlalu lama. Ustadz yang kumaksud di atas adalah Dr. Dihyatun Masqon rahimahuLlah. Akhir Februari lalu beliau wafat karena sakit. Namun ilmunya masih tersimpan dalam benak dan tulisan. Semoga bisa menjadi jariyah tersendiri. Amin)



Ternyata memang doktrin itu layaknya vonis mati. Itu salah satu status yang kubuat di facebook karena mengingat masa lalu. Seperti kata mahfudzot kelas empat. Sekali kita mendoktrin seseorang dengan buruk atau baik, selamanya doktrin itu akan melekat pada diri. Sayangnya vonis mati saja bisa diubah dengan sedikit ‘pelicin’, tapi kalau doktrin buruk? Mau pakai ‘pelicin’ sebanyak apapun akan sulit, malah bahkan tak pernah hilang dari penilaian orang. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan loreng, dan manusia.... hidup dan mati masih meninggalkan sebuah penilaian. Entah itu baik ataupun buruk.
Bila seseorang telah dipandang tidak baik, ingin berubah pun akan sulit. Entah dari segi niat orang tak percaya, perkataan orang tak mau tahu, dan perkataan orang tak mau lihat. Masa juga tak dapat mengubah pandangan itu. Hingga tak jarang si korban ‘vonis’ itu tak mau tahu lagi dengan omongan orang, bahkan tak ada semangat untuk berubah. Bila sudah ‘terlanjur’ begitu, maka harus bagaimana? Tetapkah dengan kondisi yang buruk itu?
Mengutip perkataan seorang dosen, WELL BEGIN HALF DONE. Yang berarti permulaan yang baik saja sudah termasuk setengah pekerjaan. Kalau begitu, bila diakhiri hingga baik pula bisa saja pekerjaan itu dapat mencapai hasil yang kita  inginkan. Mau coba?
Ustadz Jefri Al-Bukhari dan Opick saja sebelum lebih mendalami islam dan menjadi ‘sesuatu’ bagi umat di Indonesia saja berawal dari musik rock bahkan mantan narapidana. Dengan blacklist yang seperti itu, toh mereka mampu juga untuk tetap berubah dan baik.
Tanpa peduli kata orang, tanpa peduli pandangan orang, dan tanpa peduli bagaimana orang menilai kita... yang kita punya hanya niat yang tulus dan Allah. Hasil akhir siapa yang tahu bila tak mencoba untuk berubah.  So... KEEP MOVING FORWARD!!!!!!!



Kalian tahu twitter? Salah satu jejaring sosial yang sudah marak sejak beberapa tahun terakhir ini. Manusia yang juga telah menyiapkan diri untuk modernisme membutuhkan segala hal yang sepraktis dan sesimple mungki. Utuk itu twitter ada dan praktis mempunyai peraturan agar tak melebihi 125 karakter. Bukan hanya diambil dari segi praktisnya, namun sang empu twitter sengaja membuat sebuah keterbatasan dalam menulis. Mangapa? Karena dalam keterbatasan sesungguhnya manusia yang sehat (akal dan fikirannya) itu justru malah lebih kreatif. Banyak teman sesama kita yang memilki keterbatasan dari segi fisik, justru memilki prestasi yang melampaui mereka yang memiliki fisik yang alhamdulillah baik. Otak kita bekerja lebih kreatif dalam sebuah keterbatasan. Bukanlah sebuah keterbatasan menjadi sebuah halangan, tapi bentuk dari seni lain untuk menghadapi juga melewati hidup.



Sekilas terdengar klise. Diary atau catatan harian seringkali teribaratkan layaknya gadis remaja yang suka mencurahkan isi hatinya tentang keseharian, naksir cowok, tugas yang tak kunjung selesai, novel baru yang akan segera terbit, atau hal-hal remeh dalam keseharian remaja. Mangapa demikian? Karena mereka dianggap puya waktu luang yang berleih untuk menulis semua itu.
Coba kita persenkan, berapa banyak orang dewasa yang masih suka menulis catatan harian. Tentang pekerjaan mugkin, atau kuliah, pasangan, anak, atau bisa jadi tentang resep masakan yang layak dicoba. Terkadang kita suka melewatkan hal-hal remeh yang ada di sekitar kita. Padahal, bila termaktubkan lalu dibaca sepuluh tahun mendatang akan menjadi sejarah. Misalkan dulu saat masih duduk di bangku sekolah pernah berantem dengan salah seorang teman, hal tersebut kita tulis kemudian dibaca sepuluh tahun lagi saat bahkan tak ingat bila pernah bertengkar. Membacanya tentu akan menjadi sebuah hal yang lucu dan mengesankan.
Kita dapat mengetahui bagaimaa diri kita berubah dengan sendirinya secara beratur melalui catatan harian tersebut. Kok dulu aku bisa seperti ini, sih? Itu kan kekanak-kanakan banget! Lalu saat dewasa kita yang telah dapat berfikir lebih dalam dan (semoga) bijaksana tahu, bahwa tak sia-sia waktu membawa kita hingga saat ini. Catatan harian juga sebagai pertanda bahwa kita pernah hidup dan membuat suatu sejarah pada hari kemarin. Seperti layaknya blog ini yang sebenarnya saya dedikasikan untuk catatan perjalanan saya yang pernah’sempat’ hidup di dunia. Yang tentunya pantas untuk dikenang kembali. Karena kita setidakya tahu, bahwa saat itu kita pernah hidup dan merasakan banyak hal.
Hal yang sedang tren saat ini mungkin dengan menggunakan jejaring facebook ataupun twitter. Bukan hanya sekedar menjadi sarana untuk berteman dengan orang lain yang lebih luas, tapi juga sebagai media curhat yang lebih praktis dan simple. Hari ini akan menjadi sebuah sejarah bagi hari esok. Untuk itu, selalu tingkatkan kualitas diri di tiap harinya!
من كان يومه خير من أمسه فهو رابح




Bahagia itu sederhana, sesederhana kita mengucapkannya. Apabila kita selalu mencari kebahagiaan, kemana pula akan kita temukan? Ia tak berwujud, tapi mampu kita rasakan. Seperti layaknya parfum. Tak bisa dilihat, namun dapat terasa oleh indra penciuman dan lagi menenangkan.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang selalu saja murung dan berusaha mencari kebahagiaan dimanapun. Dengan berganti pekerjaan, berganti rumah, berganti suasana. Sampai akhirnya ia pergi jauh untuk mencari lagi sebuah kebahagiaan yang ia rasa hilang. Hingga ia pulang pun tak ia temukan bahagia yang dicari. Sesampainya rumah, lama tak bertemu orang tua, ia bahagia. Kucing peliharaannya datang menghampiri dan bersikap manja di sekitarnya, ia bahagia. Melihat adik sepupu kecil yang baru saja bisa berjalan memamerkan kebolehannya berjalan, ia bahagia. Ia tak tahu, bahwa kebahagiaan itu justru ada di sekitarnya. Bahwa kebahagiaan yang ia cari itu semu, bila tak membuka hati.
Ambil saja contoh terkecil dan sepele dalam keseharian. Asal kita dapat membuka mata hati dan fikiran, maka kita akan merasakan semprotan parfum kebahagiaan. Bahagia bukan hanya milik kita sendiri. Kebahagiaan orang lain, bisa juga membahagiakan kita, asal tak merugikan.
Kecewa dan bersedih boleh, itu manusiawi dan lumrah dirasakan oleh manusia yang notabene makhluk berperasaan (terutama perempuan!), namun bila berkepanjangan, lain lagi ceritanya. Kehidupan akan tetap berlanjut. Apakah kita akan ditinggalkan oleh kehidupan dengan bermuram durja dan meratap sedih? Ikuti saja ritme hidup yang ada. Karena hidup, kita yang memilih dan menjalankan. Tentunya harus dilalui dengan sebuah sikap yang lurus. Berbahagialah dalam hidup!



Apakah manusia menyukai akhir yang bahagia? Kodratinya sih seperti itu, tapi toh banyak juga orang yang malah lebih suka membaca atau menoton film yang justru sad ending. Yang akhirnya tokoh utama pria meninggal, kasih tak sampai, ternyata tak cinta, dan sebagainya. Menurut pendapat mereka, itulah cerita yang leih terlihat manusiawi. Manusiawi? Apakah akhir yang bahagia itu tak mausiawi? Karena dalam cerita baik komik, film, novel, bahkan dongeng anak sebelum tidur selalu berakhir dengan bahagia, maka banyak orang berfikir, kehidupan adalah sebuah realita, bukan cerita semata.
Padahal sering kali kita tak menyadari bahwa bahagianya kita dengan adegan happy ending dalam kehidupan rumit dan remeh kita ini. Ketika angkot yang lama ditunggu akhirnya datang, ketika nilai ujian berakhir baik, ketika hendak bepergian hujan tak turun. Apakah itu bukan happy ending? Meski sering kali sulit berfikir bagaimana akhir dari sebuah pengharapan atau juga penantian.
Memikirkan akhir yang bahagia sering kali membuat terlena hingga tak siap untuk menghadapi hal yang jauh dari perkiraan tersebut. Karena dalam istilah Cina, yin dan yang selalu ada, maka bolehlah kita berfikir panjang dengan hal tersebut. Agar bila sesuatu yang buruk terjadi, maka kita akan siap dan tangguh untuk menerima hal tersebut. Manusia terlalu rapuh dan lemah untuk sekedar menghadapi kenyataan yang ada.
Perasaan bangkit dan mengingat masih ada janji masa depan lain yang menunggu di depan mata sana dengan mengumpulkan segala kekuatan dan sisa energi yang berhasil dikumpulkan. Siapa pula yang berharap kejelekan dan akhir yang menyedihkan dalam hidupnya sendiri. Sesungguhnya akhir dari kehidupan, bahkan kehidupan itu sendiri sejatinya ada di tangan manusia itu sendiri. Bila kita yang menentukan, untuk apa hanya menjadi sebuah rencana manis? Bergerak dan atur kembali strategi untuk hidup demi mencapai akhir yang bahagia, yang tentunya kita harapkan dan kita impikan setelah diperjuangkan.



Semakin bertambah dewasa, semakin kompleks pula kita berfikir. Semakin kita lebih mengetahui hakikat pada sebuah kesatuan yang ada. Pada diri sendiri maupun orang lain. Saat ibu mengelus kepala sebelum kita tidur, mungkin kita hanya berfikir itu adalah kebiasaan ibu untuk menidurkan kita. Namun saat kita beranjak dewasa dan intensitas bertemu ibu berkurang, lalu ibu mengelus kepala kita (lagi) sebelum tidur, kita kemudian (seharusnya) berpikir. Ibu sangat merindukan anaknya, ibu terlanjur sayang pada anaknya, ibu ingin menenangkan anaknya, dan beragam pikiran lain yang ada memenuhi saat melihat atau memperhatikan apa yang ada di sekitar. Tak terkecuali tentang ibu. Semakin dewasa, harusnya semakin bertambah pulalah rasa sayang kita pada ibu. Bukan tentang bagaimana enaknya rasa masakan ibu, bukan pula berapa banyak ibu memberikan kita uang bulanan, tapi bagaimana kita tahu bahwa ibu selalu ada saat kita butuhkan dan selalu ingin memberikan yang terbaik pada anaknya. Jika ada ibu yang tidak memenuhi kriteria tersebut, mungkin saja ibu tersebut memiliki cara lain utuk menunjukkan rasa sayang nya pada sang anak. 100% love mom. Ada yang tidak?


   Sebenarnya entah yang keberapa kalinya aku memvarifikasikan blog. Total blog yang kumiliki dari kelas tiga SMP dulu sudah ada empat. Bisa jadi aku yang bosan, atau juga fitur blog lama yang kupakai dulu sudah lawas. Membuat tampilannya menajdi berantakan. Alhasil semua tulisan dari blog yang lama insya allah akan kukumpulkan menjadi satu di blog ini. Hanya sebagai catatan, bahwa aku pernah hidup di dunia ini.


Powered by Blogger.