Mengapa kita hidup?
Mengapa pula kita diciptakan di dunia?
Klise sebenarnya pertanyaan ini. Menganggap kehidupan adalah sebuah skenario yang harus kita lakoni atau juga sebuah permainan yang harus kita menangkan. ‘Hanya’ menjalani dengan lurus, sama saja kita melihat film yang diperankan oleh aktor tanpa penghayatan peran. Mana pula ada yang akan tertarik untuk menonton.
Seperti itu pula hidup kita. Bila dipandang ‘biasa-biasa’ saja, sama halnya seperti film tadi. Tidak menarik karena dilakoni tanpa penghayatan. Tidak perlu pula kita harus menjadi koruptor di kantor agar terasa ‘seru’ dikejar-kejar polisi dan KPK. Tidak pula harus minum bensin agar lebih ‘seru’ merasakan sakit.
Memang bagaimana hidup yang menarik itu? Allah menciptakan kita semata agar kita menjadi khalifah di bumi. Meski tahu, hingga malaikat berdebat, bahwa manusia itu juga yang akan merusak bumi, namun Allah tetap saja mempercayakan bumi ini pada manusia. Untuk diusahakan, dihuni, dan diberkahi. Sama juga layaknya sutradara yang mempercayakan peran untuk filmnya kepada aktor. Diberikan naskah, diberikan takdir untuk dijalani. Kemudian kembali lagi pada aktornya. Dapatkah ia memerankan perannya itu dengan baik dan penuh penghayatan.
Menarik atau tidaknya hidup ini, semua ada di tangan kita. Akan dikemas semenarik mungkin atau semembosankan mungkin, kita yang menjalaninya. Hidup bukan asal jalan saja seperti air yang mengalir, butuh penghayatan dan riak kecil untuk membiarkan air mengalir dengan indah. Banyak sekali yang lalu lalang melewati kehidupan kita, seandainya saja kita dapat ‘melek’ untuk melihat itu semua, betapa berwarnanya hidup ini. Hidup ini kolosal. Bukan hanya kita yang menghuni dan merasakan sebuah kehidupan. Banyak orang lain yang juga merasakan hidup. Bila dalam pandang kita, kitalah yang menjadi pemeran utama. Maka orang lain adalah pemeran pendukung yang sebenarnya juga memilki kunci penting dalam berhasilnya hidup kita. Siapa yang tahu?
-D-


Leave a Reply

Powered by Blogger.