Hidup akan terasa sangat mudah bila kita menikmatinya, namun untuk terlena dan tetap diam menikmati posisi yang ada saat ini hingga lupa untuk ke pemberhentian selanjutnya, apakah semua itu masih dapat disebut nikmat?
Dalam satu titik pencapaian hidup, anggaplah itu layaknya stasiun. Seperti juga akhir tujuan kita. Yaitu kematian. Tahapan dalam hidup kita lalui dan mampir sementara untuk mencapai stasiun berikutnya dengan pencapaian yang bermiliu lebih besar.
Bayangkan saja, ada orang yang biasa-biasa saja, lalu menjadi kaya. Anggaplah cerita ini seperti orang-orang yang kaya mendadak saat krisis Indonesia berpuluh tahun lalu. Saat harga dolar lemah, ia menukar rupiah dengan dolar, lalu saat harga dolar melejit, ia menukarnya kembali dengan rupiah yang konon tak hais hingga tujuh turunan. Apa ia berusaha keras? Tidak. Yang ada hanyalah keberuntungan. Kita ibaratkan seperti itu. Dengan kekayaannya yang besar itu, bila hanay dinikmati tanpa berfikir bagaimana akan mengembangkan uang yang ia milki menjadi sebuah perusahaan besar mungkin, menolong ODHA bisa jadi. Karena terlena apa yang sudah ada di tangan ini, kerap kali kita sebagai manusia gelap mata dan tak tahu arah.
Sama halnya dengan pencapaian mimpi. Mimpi diusahakan, didoakan, dan diperjuangkan, saat mendapatkanya, apa yang akan dilakukan? Tentunya bukan karena hanya ingin mencoret list yang ada di dalam notes, tapi harus dapat diusahakan kembali dengan sebaik mungkin. Konsekuensi dengan mimpi yang sudah dipilih dan diraih. Ingat! Hidup itu sebuah pencapaian. Bila telah mencapai stasiun yang satu, maka yang perlu kita lakukan adalah menuju stasiun selanjutnya. Selamat berusaha!


Leave a Reply

Powered by Blogger.