Gerakan kita berarti sebuah ibadah, seni, rasa, dan juga akhlaq.
Semula biasa saja, namun setelah mendapat penyegaran saat Kamisan tanggal 11 April lalu, aku baru paham. Bahwa yang dimaksud adalah gerakan kita.Infi’aalaat. Secara sadar ataupun tidak, apa yang kita lakukan mencerminkan bagaimana ibadah kita, rasa seni kita, perasaan kita, juga akhlaq kita.
Contoh kecil yang diberikan oleh bapak Pengasuh adalah mengendarai sepeda ataupun motor. Bila grusak-grusuk, nabrak kemana-mana, itu dapat menunjukkan bagaimana akhlaq kita seperti apa. Padahal naik sepeda adalah hal yang biasa, namun dari hal yang biasa inilah orang dapat menilai kita.Teratur atau tidak. Slebor atau tidak.
Mungkin kebiasaan akan sulit sekali diubah. Namun bila dapat terbiasa untuk berubah, mengapa tidak?






Bila ditanya, berapa persen usaha dan do'a bila dikerahkan? Bila menjawab fifty-fifty, berarti berusaha dan berdo'a hanya setengah-setengah, bila menjawab do'a lebih banyak, maka termasuk orang yang pasrah, bila menjawab usaha lebih banyak, maka ia sombong tak bertawakal. Maka, jawaban yang sekiranya pas adalah 100%-100%. Kenapa? Atas dasar اعملوا فوق ماعملوا maka secara tidak langsung kita harus maksimal dalam melakukan segala pekerjaan. Dirasa kita masih belum sempurna, maka do'alah penyempurnanya dengan do'a yang 100% pula. belajar 100%, tanpa do'a, siapa tahu kalau seandainya saat ujian kita sakit. Pintar pun tak akan kuasa bila dalam kondisi lemah. Do'a 100% apalagi. Memang segala sesuatu itu adalah di tangan-Nya, tapi Tan pun menyuruh pada hamba-Nya agar selalu berusaha. Usaha tanpa Do'a = SOMBONG, Do'a tanpa Usaha = BOHONG. lalu, apa yang harus kita lakukan? Maksimal di segala sisinya.





اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا و اعمل لأخرتك كأنك تموت غدا
  Bila kita mengerjakan sesuatu untuk duniawi, maka kita harus mengerjakannya semaksimal mungkin seakan-akan kita akan hidup selamanya, tapi untuk masalah ke-akhiratan, sebaiknya kita mengingat seakan-akan kita akn mati esok. Maka kita akan jauh lebih giat beribadah. Refleksi setelah mengajar di MI. Ada seorang murid kelas enam yang ternyata mengidap kanker otak stadium empat, walau tak kenal aku tetap asyik menyimak cerita Pak Kepala Sekolah. Kondisi anak itu telah kritis. Sampai-sampai botok kepalanya retak. Kondisi pasca operasi yang ‘paling’ selamat adalah setengah mati. Karena otaknya akan diambil setengah. Ditangani oleh dua dokter kepresidenan yang sudah dihasut untuk berbuat amal bagi anak itu. Semoga operasinya berhasil. Amin. Sang kepala sekolah jugaSemoga operasinya berhasil. Amin. Sang kepala sekolah juga bercerita tentang mimpinya. Dulu sekali beliau pernah bermimpi mati. Sangat terasa. Sudah dimandikan, dikafani, dan akan dikuburkan, si mayat kepala sekolah itu bicara. Ia belum bersyahadat. Setelah membaca syahadat lengkap, beliau terbangun karena tebasan sajadah temannya yang mengatakan ia mengigau sambil bersyahadat keras-keras. Subhanallah.... bila saja kepala sekolah tersebut tak bersyahadat bisa saja ia dibawa mati dalam tidurnya. Aku termenung sejenak. Mungkin juga aku sudah lama tak pernah memikirkan kehidupan setelah mati itu. Aku terlalu disibukkan dengan urusan keduniawian. Sibuk memikirkan kuliah selanjutnya, hiburan, dan berbagai macam hal yang sebenarnya hanya sesaat. Bulu kudukku otomatis berdiri mendengar cerita tersebut. Hampir saja menangis. Saat kepala sekolah bercerita tentang pembantunya yang ribut dengan pertanyaan. “Kita hidup untuk aapa, sih?” beliau menjawab, “Kita hidup untuk menyiapkan bekal setelah mati. Memilki mobil, digunakan untuk menolong orang. Memilki banyak uang, duigunakan untuk sedekah. Jadi sebenarnya yang kita lakukan di dunia ini ya kembalinya untuk nanti ketika kita telah mati.” Lalu, apa yang telah kita persiapkan kini untuk bekal kelak bila nanti nafas tak mau lagi berhembus? Atau saat jantuk tak mau lagi berdetak? Siapkah kita untuk semua itu? Indahnya hidup adalah saat kita dapat mengetahui kapan kita mati. Sama seperti hujan tak akan ada yang prenah tahu kan kapan turunnya kecuali jika sudah ada tanda-tanda mendung dan langit gelap? Karena tidak tahu itu, maka kita harus menyiapkan diri dengan segala kemungkinan terburuk. Bisa saja setelah aku menulis ini aku mati. Siapa yang tahu?



Kenangan manis di masa lalu tentu tak akan pernah terlupa. Meski tak ada lembaran foto ataupun tulisan di catatan harian sebagai bukti adanya sebuah kenangan, namun otak kita yang (seharusnya) melebihi kerja komputer dan menyimpan memori banyak ini mampu mengingat hal-hal yang menjadi kenangan kita itu. Walau tak jarang kenangan yang teringat bukan hanya yang indah saja, tapi juga yang buruk.
Bila kita tengok diri kita hari ini, lalu membandingkan hari kemarin dan ternyata hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini, ingin rasanya untuk numpang ke lorong masa depannya doraemon agar dapat kembali mencicipi atau menikmati indahnya masan lalu yang (ternyata) lebih baik.
Kemudian tak jarang juga kita terlewat pusing memikirkan hari esok hingga apa yang ada di depan mata kita pada hari ini terbengkalai. Mau terus kuliah dimana? Nanti kalau sudah besar enaknya kerja apa? Nanti kalau sudah menikah bagaimana? Bisa apa tidak nanti mengurus anak? Padahal kita yang hari ini sedang ditunggu oleh hal-hal yang sebenarnya sudah siap untuk dikerjakan.
 Memang benar, bahwa orang yang hari kemarin itu lebih baik daripada hari ini termasuk orang yang merugi. Kalimat tersebut ditunjukkan untuk memotivasi kita agar selalu berusaha yang lebih baik lagi setiap harinya. Namun bila kenyataan berkehendak lain, mau apa kita? Kembali ke masa lalu kemudian memperbaikinya? Atau mengingat-ingat masa lalu untuk membahagiakan diri bahwasanya kita juga pernah memiliki hal baik (dulu). Nasi telah menjadi bubur, namun seorang teman pernah menambahkan, maka kita buat bubur tersebut menjadi enak. Diberi ayam, beberapa bumbu agar tak hambar, atau aneka tambahan lain agar membuat nasi yang telah menjadi bubur itu dapat enak dinikmati. Untuk itu kita tak perlu menyesal terlalu lama akan buruknya hari ini. Bangkit dan berusaha untuk lebih baik lagi.
 Sama halnya yang terlalu ingin baik di masa depan dengan mengabaikan apa yang ada hari ini. Karena terlalu berat setelah difikirkan terlalu jauh, kita menjadi takut untuk mengerjakan apa yang ada di depan mata kita kini. Misalkan saja, ada orang yang sudah memikirkan susahnya melahirkan. Saat hamil yang akan membuat seorang perempuan menjadi gemuk, sakit tak tertahankan, hingga prosesi melahirkan. Belum lagi banyak kejadian seorang ibu yang meninggal saat melahirkan. Padahal perempuan itu masih belasan tahun. Setelah berfikir (kelewat) jauh, perempuan itu menjadi parno melihat ibu hamil, alih-alih akan takut melahirkan dan tak mau menikah. *horor
Kawan... hari ini adalah sebuah kehidupan yang nyata. Bukan tentang hari kemarin, bukan juga tentang hari esok. Hari kemarin hanya cukup untuk dikenang saja, bukan untuk diingat-ingat. Hari esok adalah sebuah harapan, tetapi yang paling jelas adalah apa yang ada di depan mata. Yaitu hari ini. Yang akan mengubah hari esok dan memperbaiki hari kemarin.



Siapa yang akan tahu ke manakah aliran air akan melaju? Bisa saja terbawa arus menuju samudra yang luas ataukah bersama melawan kerasnya ombak yang datang. Tidak akan pernah dapat memprediksikan apa yang ada dalam kehidupan kita nanti dan kelak. Dalam mitologi Yunani ada cerita tentang kotak pandora, tapi cerita yang lebih kukenal adalah sebuah cerita rakyat Jepang. Tentang seorang pria yang terbawa ke sebuah kerajaan di dalam laut karena ia menolong salah satu putri di kerajaan tersebut. Ia dijamu sebagaimana layaknya seorang pahlawan. Setelah itu, ia ingin kembali ke dunianya dan sang ratu memberikannya sebuah kotak dengan syarat lelaki itu tidak boleh membukanya sebelum sampai di rumah. Karena rasa penasarannya yang melebihi, ia tak tahan lagi untuk membuka isi kotak hadiah tersebut. Voila! Apa yang terjadi? Pria itu berubah menjadi seorang kakek-kakek berumur 100 tahun karena rasa penasarannya itu. Dalam mitologi Yunani, pandora mempunyai cerita sendiri. Untuk menghukum umat manusia karena telah mencuri api dari Gunung Olimpus, Zeus menyuruh salah satu anaknya, Hefaistos dewa pandai besi, untuk membuat seorang manusia. Maka terciptalah manusia perempuan pertama di dunia. Setelah diciptakan, Athena mengajarinya menenun dan menjahit serta memberinya pakaian, Afrodit memberinya kecantikan dan hasrat, para Kharis memakaikan padanya perhiasan, para Hoirai memberinya mahkota, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Poseidon memberinya kalung mutiara, Hera memberinya rasa penasaran yang besar, Hermes memberinya kepandaian berbicara serta menamainya Pandora, bermakna "mendapat banyak hadiah". Zeus kemudian memberikan Pandora pada Epimetheus untuk dinikahi. Prometheus, saudara Epimetheus, berusaha memperingatkannya untuk tidak menerima Pandora tetapi Pandora begitu mempesona sampai-sampai Epimetheus mau menikahinya. Pada hari pernikahan mereka, para dewa memberi hadiah berupa sebuh kotak yang indah dan Pandora dilarang untuk membuka kotak tersebut.

Suatu hari, Pandora sangat penasaran dan kemudian membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, tiba-tiba aroma yang menakutkan terasa di udara. Dari dalam kotak itu terdengar suara kerumuanan sesuatu yang dengan cepat terbang ke luar. Pandora sadar bahwa dia telah melepaskan sesuatu yang mengerikan dan dengan segera menutupnya tapi terlambat, Pandora telah melepaskan teror ke dunia. Masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya telah bebas. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti umat manusia. Pandora sangat terkejut dan menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Dia kemudian melihat ke dalam kotak dan menyadari bahwa ternyata masih ada satu hal lagi yang tersisa di sana, yaitu harapan. Lalu hikmah apa yang dapat kita ambil dari dua cerita di atas? Bet6apa kita tak dapat dan boleh mengetahui rahasaia langit yang memang sangat rahasia. Sebenarnya untuk apa sih Tuhan merahasiakan cerita hidup kita sendiri? Agar manusia selalu dapat berusaha dengan segala kekuatannya dan menerima kejutan tiap detiknya dari Tuhan dengan cara melewati kehidupan ini. Tidak ada yang dapat manusia lakukan selain berusaha!


Powered by Blogger.