Setelah lulus menempuh jenjang KMI, pendidikan dasar selama enam tahun bagi yang masuk setelah SD dan empat tahun ybagi yang masuk setelah SMP, kita diwajibkan untuk mengabdi. Dimanapun itu tempat yang telah ditentukan. Sebagai transfer apa yang pernah kita dapat. Selanjutnya, terserah kita. Toh pasti ijazah Gontor pasti akan dibagikan bagi siapa yang layak dan meminta. Pengabdian bukan untuk ijazah. Itu menurut kaca mata pandangku.
Entah karena kami itu perempuan sehingga masalah sepele pun seringkali terlihat menjadi sangat besar. Kemarin aku mengikuti pembukaan orientasi untuk pengurus OPPM dan KOORDINATOR baru. Dibuka oleh salah seorang dosenku, beliau mengatakan bahwa memang sudah sewajarnya manusia itu memilki angan-angan dan cita-cita, cara menggapainya melalui sarana dan media. Ingin menjadi dokter, ya kuliah di kedokteran. Mungkin itu juga yang memuat kami pusing di akhir-akhir waktu pengabdian ini. Banyak cita-cita dan angan yang terasa sangat perlu sekali untuk diwujudkan. Berkata bahwa melanjutkan mondok lagi di salam pondok itu menghabiskan umur dan bosan. Banyak komentar ataupun pandangan akan hal ini. Semua itu kan tergantung orangnya. Bila beralasankan hanya birru-l-walidain untuk terus melanjutkan di sini, lebih baik pikir ulang. Biloa hanya beralasankan bosan untuk melanjutkan di sini, sebaiknya pikir ulang lagi. Mengapa? Karena alasan tersebut tidak dapat menjadi prioritas alasan mengapa memilih. Memang hidup kita hanya karena birrul walidain? Kita punya pilihan. Memang hidup kita hanay kembali dalam satu titik bosan? Tergantung orang tersebut memandang hidupnya. Harus bagaimana memandang hidup itu.
Aku sendiri menulis ini bukan karena menganggap pilihanku ini paling benar. Semua orang mempunyai jalannuya masing-masing. Tapi harus beralasan dan berorientasi. Bukan asal jalan saja. Apapun yang dipilih semoga menjadi sebuah pilihan terbaik.
Semua orang punya mimpi. Semua orang punya cara sendiri untuk meraih mimpinya. Apakah setelah kita memilih maka kita harus menganggap pilihan yang lain itu buruk? Tidak sama sekali. Menurut perempuan terhebat yang berhasil menjadikanku ada di dunia ini, dimanapun kita, asal serius dan mampu menerima segala konsekuensi yang ada. Why not?
aku belum merasakan bagaimana kembali nyantri terlepas dari kata-kata pengabdian, jadi tak dapat berkomentar banyak tentang bagaimana keadaan yang akan kuhadapi, namun aku sudah melihat dan mendengar. Memang bagaimanapun itu keadaan, tergantung siapa yang menjalaninya. Bila orang hanya melihat dari satu sisi, seperti pelajaran Muthola’ah kelas enam yang pernah kupelajari, orang yang hanya melihat segala sesuatu dari satu sisi hanya akan melihat yang buruk-buruk saja. Tidak ada kata baik dalam kamusnya. Plus minus tentu saja ada. Apapun itu yang akan kita kerjakan.


Leave a Reply

Powered by Blogger.