Selamat pagi.
Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang mnyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah kerinduan, dan helaan napas tertahan.
Kata ini aku kutip dari buku Tere-Liye yang berjudul Sunset Bersama Rosie. Toh memang pagi selalu menyenangkan, tenang. Tak (belum) ada pikiran baru selain menunaikan shalat Subuh, kemudian mentadabburi ayat Qur’an. Hal yang tak bisa aku jalankan ketika masih menjadi siswi. Terang saja, setelah shalat Subuh kami langsung bergegas kembali ke rayon untuk muhadatsah pagi. Penambahan tiga kosa kata tiap harinya. Harus bersemangat dan bersuara keras. Aku menulis inipun dengan suara latar teriakan anak-anak yang sedang mihadatsah pagi. Kalau ingat hal ini, ternyata masih banyak kosa kata yang belum aku kuasai. Kalau tidakberorientasi, maka segalanya hanya akan menjadi asal lewat saja. Muhadatsah, yang penting muhadatsah. Kalau saja benar-benar, tentu semua kosa kata yang lima tahun ter-muhadatsahkan masih nyantol. Kalau dihitung per hari dikali tiga, berapa banyak kosa kata yang aku miliki?
Selelah apapun, aku berusaha agar tidak tidur lagi setelah menunaikan shalat Subuh. Bukan karena jam terbang mengajarku yang selalu siang, namun bagiku pagi adalah waktu paling berkah. Waktu dimana otak itu harus segera diajak bekerja. Untuk berpikir, mencerna banyak hal. Maka tidak salah bila pagi adalah waktu yang paling baik untuk menghafal. Saat karantina kelas enam dulu, itu yang aku lakukan. Daripada harus begadang sampai tengah malam bertemu pagi lagi yang menyebabkan resiko ngantuk besoknya, lebih baik mempergunakan waktu pagi dengan maksimal. Karena konsentrasi di waktu pagi masih belum buyar.
Pernah saking lelahnya setelah pulang larut karena panitia, akhirnya aku kalah. Tidur setelah Subuh. Alhasil apa yang terjadi? Otakku eror. Kemampuan berpikir lambat. Istilahnya lemot. Akhirnya di berbagai kesempatan aku selalu mencoba untuk tidak tidur pagi.
Dalam kuliah Subuh-nya, bapak Direktur KMI, Al-Ustadz KH. Ahmad Suharto, (yang sebentar lagi MA. Beliau sedang ujian tesis yang tertunda selama enam tahun. Semoga sukses, pak!), entah beliau yang baru saja dipindahkan ke kampus putrid (2011) dan heran tak ada yang mengamini saat beliau imam shalat Subuh. Kata-kata yang masih melekat adalah,
نومة الصبح تورث الفقر
yang artinya, tidur pagi itu pangkal miskin. Banyak hal yang bisa dilakukan saat pagi. Tak salah bila pepatah bilang, tidur pagi maka rezeki akan dipatok ayam. Ayam saja sudah beraktivitas dikala pagi, kenapa kita bgisa kalah dengan ayam?
_refleksi pagi, 5.19)


Leave a Reply

Powered by Blogger.