Judul ini kudapat dari sebuah novel karya Tere-Liye. Bukan maksud plagiat, tapi lebih tepatnya terinspirasi. Dari segi filosofisnya, daun tak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Walau dijatuhkan, walau diterbangkan. Begitu pula kehidupan. Sejauh manakah kehidupan ini telah menjungkir balikkan diri ini, tapi layakkah kita untuk membenci dengan segala yang ada? Memarahi kehidupan alih-alih pada Tuhan. Tidakk..... Maka jadilah seperti daun yang jatuh. Ia mengikhlaskan segalanya. Seikhlas-ikhlasnya.....


Leave a Reply

Powered by Blogger.