Pernah merasa galau, risau, hati tidak tenang, seakan harapan itu tak ada? Aku pernah. Tanpa ada alasan yang jelas, bagi seorang perempuan yan dapat kulakukan adalah menangis. Ingin mendekatkan diri kepada Allah, ternyata sedang berhalangan. Mencurahkan semuanya kepada seorang teman. Yang ia katakan hanyalah, “Kita bukan orang Korea yang kalau ada masalah langsung bunuh diri. Kita orang Islam, masih punya Allah di sini.” Ia menunjuk dadanya.
Mencoba untuk bangkit, kemudian kembali pada rutinitas seperti biasa. Untuk apa pula kita berpikir menjadi orang yang paling mengenaskan di dunia? Menjadi orang paling sial di dunia. Padahal jika kita mau sedikit saja melihat, masih banyak orang lain yang kekurangan jauh sekali dibanding dengan kita yang kini bisa mengakses internet.
Hati kita harus dapat dibuat lapang, kaena jika kita sudah memiliki hati yang lapang, masalah akan melebur, otak dapat berpikir dengan baik secara rasional ataupun irasioanal, masukan ataupun kritikan akan diterima dengan lapang. Untuk menjadi pembangkit kita. Bila hati sempit, pikiran pun akan sempit. Mind set yang akan kita jalankan bermula dari pikiran yang sempit hingga kita tidak dapat berlapang. Dengan memiliki pikiran yang sempit, kita akan jauh lebih tersiksa. Selalu terbawa akan perasaan curiga, mengangap orang lain tak jauh lebih baik dari kita. Padahal apalah kita itu? Di atas langit masih ada langit.
Ibaratnya sebuah gelas. Bila gelas itu kosong, akan mudah diisi dengan air, yakni hal-hal yang baik. Namun bila kita selalu merasa bahwa gelas itu penuh, akan sulit untuk diisi lagi.
Pernah pula saat galau aku shalat malam hingga menangis. Dengan begitu akan meleburkan masalah, selalu ingat bahwa Allah selalu bersama kita. Membaca al-Qur’an dengan halaman acak pun ternyata pernah memebrikanku jawaban atas masalah yang sedang dihadapi. Logis tak akan didapat, namun magisnya doa kita dan takdir Allah yang ternyata muwaffiq itu yang membuat kita cenderung lebih merasa tenang.
Hati yang gusar dan sering gelisah kadang menjadi barometer ketakwaan. Seberapa dekatkah kita dengan Sang Pencipta?





Dari segi harfiah berarti gairah ataupun keinginan besar dalam melakukan sesuatu. Sedangkan kata ‘passion’ sendiri diambil dari kata ‘pass’ yang berarti melewati atau lulus ditambah prefix ‘ion’. Aku sempat berpikir atau ini hanya intunisiku saja. Bila kita berniat keras melakukan suatu hal, bukan hanya keinginan saja, namun juga harus ada tindak lanjut dalam melakukan pekerjaan tersebut, terlebih lagi harus terselesaikan.
Kata seorang dosen, WELL BEGUN, HALF DONE. Permulaan yang baik bisa diibaratkan setengah pekerjaan. Termasuk juga niat dan keinginan yang bila sudah terpresentasikan dengan baik maka akan berbuah baik pula.
Melakukan sesuatu harus selesai. Tidak tanggug-tanggung dan setengah-setengah. Melakukan sesuatu bukan hanya asal igin saja, namun dengan niaty yang kuat. Menyelesaikan sesuatu juga jangan hanya asal selesai saja, namun juga dengan hasil yang maksimal. Bukan hanya kuantitas saja yang dihitung, namun dari segi kualitas itu sendiri.
Bila kembali lagi, seberapa besar PASSION kita? Bagaimna kualitas PASSION kita? Secara tidak langsung, bermula dari PASSION inilah yang akan menentukan hasil akhir dari pekejaan. Bila kuat dan besar keinginan, serta berkualitas tentu akan mempengaruhi kinerja saat melaksanakannya.
PASSION pulalah yang membedakan derajat manusia. Orang-orang yang memiliiki PASSION sellau menitikkan target pada hidupnya. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki PASSION, tentu saja bak air sungai. Hanya mengikuti kemana arus akan membawanya. Istilah dalam bahasa Jawanya. Nrimo.
TAKE YOUR PASSION AND MAKE IT HAPPEN!


Powered by Blogger.