Ditanya berat, tentu jawabanku iya. Sangat berat. Dengan mimpiku yang begitu banyak. Dengan keinginanku yang tak terbendung. Dengan egoku yang tinggi.
Pernah dengar istilah bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, namun apa yang kita butuhkan? Mungkin itu pelajaran hidup yang bisa kupetik kini.
Salah bila kuanggap kesempatan hanya satu kali. Kesempatan itu ada banyak. Tergantung bagaimana kita mencari kesempatan tersebut. Salah bila kubilang mimpi-mimpiku harus dibuang. Mimpi-mimpi itu tidak dibuang, namun disimpan, atau bisa juga dengan perubahan. (*aku sedang menghibur diri)
Aku tak menyesal. Karena harus melepaskan mimpi belajar di sekolah ternama, kesempatan untuk menemukan banyak hal, ya mungkin memang bukan saatnya. Hari-hari ini jangan kaget bila masih ada derai air mata. Tentu perasaan sedih itu pasti ada. Namun kuyakin, ini hanya sementara.
Akan segala kesungguhan saat itu...
Harapan dan do’a yang kupanjatkan lebih keras daripada hal lain yang pernah kuinginkan...
Itu semua adalah pelajaran. Seperti yang Mama katakan, sudah besar harus bisa cepat mengambil keputusan. Mengikuti keinginan tak akan ada habisnya. Mama berbagi cerita, baginya keputusan untuk keluar kerja dan menikah dengan Ayah adalah keputusan yang paling berat. Namun bila takdir itu tak terjadi, mungkin aku tidak bisa berbagi cerita kini.
Kini aku sedang menata hati. Menghibur diri. Bahwa apa yang kulakukan adalah keputusan yang benar. Be like them (*you know who). Aku akan membuat janji-janji pada diriku sendiri. To be something.
Mengutip kata Mario Teguh, kita tidak bisa menentukan bagaimana perasaan menguasai kita, namun kita dapat menentukan tindakan apa yang harus kita lakukan.


Leave a Reply

Powered by Blogger.