Siapa pula yang sempurna di dunia ini selain Ia yang menciptakan kita? Dikira telah mengambil yang tepat, toh pernah juga merasakan penyesalan. Wajar saja. Kembali ke pasal di atas. Karena manusia tidak sempurna. Namun dengan begitu, apa haruskah kita menyesal berkepanjangan? Berpikiran super. Menyesal boleh, namun jangan terlalu lama. Naluriah sebenarnya, tapi jika berkepanjangan akan terlihat wujud ketidaksyukuran kita.
Wujud rasa syukur itu banyak. Seperti motif seseorang bahagia yang sebelumnya pernah kutulis. Tak usah banyak kata, cukup dalam hati saja. Mensyukuri bisa juga menikmati. Mensyukuri bisa juga memberi. Mensyukuri bisa juga menghargai. Dan masih banyak macamnya.
Tak usah pikirkan bagaimana nasib orang lain. Jangan berpikir bahwa hidup kita adalah yang paling banyak masalah, nestapa, sedangkan orang lain dapat melalui hidup tanpa masalah dan sempurna. Kita mungkin tak tahu bagaimana orang lain itu melalui cobaan versinya. Bisa jadi lebih berat dari cobaan yang kita lalui. Bayangkan saja seperti dalam perlombaan lari. Padahal jarak yang dilalui sama, tapi tetap saja ada yang di depan dan belakang. Apakah dengan begitu jarak yang dilalui orang yang berada di posisi depan lebih pendek dengan yang berada di posisi belakang. Sama saja. Mungkin yang membedakan adalah bagaimana menyikapi jarak tersebut. Ada yang bersiap-siap. Ada yang pemanasan.

Menjadi manusia harus dapat pandai-pandai bersyukur. 


Pertama kali masuk pondok, ada acara Khutbatu-l-'Arsy. Acara yang memang dikhususkan untuk santri baru agar lebih mengenal pondok, dan umumnya untuk seluruh penghuni pondok agar tak salah memandag pondok. namun bukan itu yang ingin kubahas kali ini.
Di dalam buku Khutbatu-l-'Arsy, ada kata-kata, "Is-al ila dhomiirik" Tanyakan pada dhomirmu. Apa yang disebut dengan dhomir itu sendiri? Banyak peraturan tidak tertulis, jika dilanggar, tetap dikenai hukuman. tanya dhomir. Pantas atau tidak. Dhomir berarti kata hati. Namun bukan hati perasaan. Kata seorang teman, kalau hati itu statis. Bisa naik-turun. Sedangkan dhomir tidak. Selalu mengarahkan pada yang benar (seharusnya). 
Setiap orang memiliki dhomir. Kadar dhomir itu pun tergantung dengan kualitas diri masing-masing. Dalam menghadapi life skill atau value yang bisa diambil. Namun kenapa masih ada saja orang yang berbuat jahat? Berarti dirinya kalah dengan ego. Kalau semua orang mengikuti kata dhomirnya masing-masing, tak akan ada yang berbuat jahat, insya Allah. Coba saja, bila ada tukang ojek yang (ingin) menipu tarif [(pengalaman)], pasti tukang ojek itu akan berfikir, ini bukan cara yang halal. Itu bila mengikuti dhomir. Bagiku sendiri, dhomir atau kata hati adalah petunjuk yang Allah beri agar kita tak pernah tersesat. Petunjuk Allah tak mungkin salah, kan? Konklusinya, dhomir itu benar. ingin benar, berarti mengikuti dhomir. 
pernah suatu kali aku dihadapkan oleh sebuah keputusan. Tak berani memulai sholat istikharah karena takut. Karena dhomir sebenarnya sudah tahu keputusan apa yang seharusnya kuambil. namun ego mengalahkannya. kemudian di saat-saat terakhir, Allah tetap saja memberikan petunjuk pada hamba-Nya yang sombong ini. untuk mengikuti dhomir. dhomir berkata, Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, bukan? Namun apa yang kita butuhkan, dan itu terbaik.
Let your dhomir guide you....


Sahur pertama di Padang. Masih kagok, karena ternyata Subuh saja masih jam lima lewat. Kali ini pun aku sholat Subuh di sebuah masjid dekat rumah. Masjid Sahara. Mungkin karena kecamatannya bernama Padang Pasir, jadi dinamai Sahara. 
Suasananya enak, nyaman, sejuk. Betah aku berlama-lama di masjid. Seusai sholat, ada sesi kultum. Oleh pemerintah kota Padang, semua anak sekolahan wajib mengikuti pesantren kilat yang berada di masjid terdekat di lingkungan rumahnya. Namun sekolah diliburkan. Acara ini diselenggarakan hingga 20 Ramadhan nanti. Walhasil aku menemani adikku sekalian ikut mencatat hasil kultum tadi. 
Aku langsung teringat akan perkataan yang sering didengungkan di pondok, jarum jatuh kedengaran. Maksudnya kita harus tenang dan khusyu' dalam perkumpulan apalagi ujian. Karena hari itu pembukaan pesantren kilat, banyak sekali anak sekolahan yang datang. Suasana kultum saat itu jauh dari kata tenang, gaduh malah. Penceramah mau saja untuk ditinggal ngobrol seperti itu. Terlebih ini di dalam masjid.
Hampir siang aku sekeluarga bertandang ke Bukittinggi untuk menengok sepupuku yang baru saja melahirkan dua hari yang lalu. Anaknya perempuan. Kecil sekali. Kata Mama, dulu aku sebesar itu. Keponakanku yang baru saja lahir ini tidur saja. Memang bayi seperti itu kan? Aku jadi membayangkan bagaimana aku bayi dulu. Katanya saat aku masih kecil sangat... sangat... bandel. Hahahha.....
Karena sepupuku itu akan segera keluar dari rumah sakit, kami tidak lama. karena waktu masih lumayan banyak, kami pergi ke Pasar Atas Bukittinggi. Memang hawa di Bukittinggi ini dingin. Siang saja tak terasa panasnya. 
Hal yang paling kusuka dan kubenci adalah jalan menuju Bukittinggi. Dari Padang, tak mungkin untuk tidak melewati lembah Anai yang sangat indah. Di samping kanan dan kiri banyak sekali pohon yang dibiarkan hidup dengan umur yang sangat lama. Sering ditemui kera yang kebetulan keluar dari habitatnya. Kera-kera itu kecil, jadi besar kemungkinan banyak kera lain yang lebih besar, rajanya. Jadi kalau ada yang berani mengambil kera dari sana, banyak kera lain yang akan marah.
Hawa di lembah anai tak usah diragukan. Sangat sejuk. Sengaja kami membuka jendela mobil untuk menghirup hawa yang jarang ditemukan di Jawa.

Yang paling menyebalkan adalah jalannya yang berkelok-kelok tajam. Perut dan kepalaku terasa dikocok dengan paksa. Tak pernah aku tak mabuk bila pulang dari Bukittinggi. *pusing....


Malamnya aku sangat lelah. Maka jangan salahkan bila selepas jam sepuluh aku langsung tidur. Menyalakan alarm di ponsel pukul tiga agar bisa siap-siap sebelum berangkat ke bandara Solo. Hari ini aku pulang. Sebenarnya berat untuk pulang sekarang, padahal aku sebelumnya sudah berencana untuk pulang tanggal 17 saat kelas 6 yudisium. Namun apa mau dikata. Aku lebih tak tahan bila ada yang pamit denganku. Kemudian aku ditinggalkan. Lebih baik aku yang duluan meninggalkan. Kata seorang teman, back to home for good. Bisa jadi.
Ternyata aku malah bangun sebelum alarmku berbunyi. Jam tiga kurang seperempat. Aku mandi sambil menggigil, sahur bentar, kemudian berpamitan ke teman-teman yang akan pergi nanti. Awalnya biasa saja. Facebook connecting people, namun tetap saja keluar dari kamar mereka mataku sempat basah. Kutahan. Aku harus kuat. Pamitan terakhir ke wali kelasku dulu saat kelas 4. tahun depan beliau sudah tak kembali lagi ke pondok. Ini pengabdian di tahun keenamnya. Beliau bagiku bukan hanya seorang guru, tapi juga ibu, motivator, psikiater, teman, dan beragam titel lainnya. Bisa dibilang keputusan untuk melanjutkan pendidikan di pondok pun salah satu faktornya adalah beliau. Namun di pertemuan terakhir ini beliau terlalu lelah karena selepas sidang kelas 6 hingga jam 3. Tak mau mengganggu, aku pulang setelah bersalaman. Aku selalu berdoa, semoga beliau selalu mendapat kebaikan balasan dari kebaikan beliau selama ini. 
Berangkat dari pondok selepas Subuh. Hawa dingin dan bis yang kelewat cepat membuatku tak bisa tidur. Sampai di bandara terlalu pagi. Tak apalah. Aku bisa membaca buku yang baru kubeli kemarin. Namun tak tersentuh karena aku malah keasyikan menulis catatan di facebook. Aku mengedarkan pandanganku. Bukan zamannya lagi khoiru jaliisin fii-z-zamani kitaabun (sebaik-baiknya teman adalah buku), tapi khoiru jaliisin fii-z-zamani mahmulun. (sebaik-baiknya teman adalah ponsel). Sampai di bandara Soekarno-Hatta pun yang kulihat di sekitarku adalah orang-orang yang menunggu pesawat sambil membawa ponsel. Berderet. dari kursi ujung ke ujung. Tontonan yang ditayangkan di televisi pun kalah. 
Salah satu status di facebook yang kutulis saat menunggu adalah "bandara... kumpulan dari ribuan harapan". Itu kutulis setelah melihat seorang perempuan yang menangis sambil berbicara lewat ponsel. Sayup kudengar ayahnya meninggal. Ternyata tujuan kami sama. Ke Padang. Memang kenyataannya bandara, terminal, stasiun adalah kumpulan harapan dari banyak orang. Bayangkan, orang rela mengeluarkan kocek untuk membeli tiket demi harapan untuk dapat bertemu sanak saudara, keluarga, pekerjaan kantor, yang jelas tak mungkin orang yang datang ke tempat-tempat di atas tanpa tujuan. Tidak mungkin kan orang yang membeli tiket dari Jakarta ke Pontianak untuk luntang-luntung saja? pasti memiliki tujuan. Itulah harapan.
Hari ini aku puasa cukup lama. Sahur di Ngawi yang imsaknya pukul empat lewat, dan berbuka di Padang yang maghribnya baru pukul setengah tujuh. Lelah tak kuasa dibendung. Namun setelah bertemu dengan keluarga, perlahan rasa itu menguap.
Yang kupelajari pada hari ini adalah mencoba mengikhlaskan segala hal. Meski berat. Eksternal hard disc-ku hilang di koper yang kutaruh di bagasi. Bukan hard disc yang kusesali, namun apa yang ada di dalamnya. Seperti yang pernah kubilang dulu. Aku termasuk orang yang sangat menghargai kenangan. Untuk itu foto dari kelas empat bahkan sampai lulus saat ini pun aku simpan. Belum lagi beberapa tulisan lain. Aku hanya bisa merengut sebentar. Bagaimana lagi? Untung tak dapat dikejar, rugi pun tak dapat dihindari. Belajar untuk ikhlas. 



Beberapa hari terakhir ini ada yang berbeda. Bayangkan saja, agenda harian yang biasanya padat dimulai dari mengajar, kuliah, isyrof, keliling saat belajar malam, otomatis hilang saat liburan. Hanya berdiam apa guna? Kata seorang teman, kita hidup harus bisa menggetarkan apabila tidak ada getaran. Do something usefully. Bosan dengan diam, akhirnya aku memutuskan menikmati hari dengan gaya baru. Bila biasanya aku dan beberapa temanku mengantar kepergian matahari (baca:sun
set), maka kini kami ingin menjemput matahari terbit. Sun rise di bangunan paling tinggi yang dapat kami capai. Sejauh ini sudah empat kali di tiga tempat berbeda kami melakukan ritual ini. Beberapa gagal karena langit yang sedang sendu. Tak ijinkan matahari untuk muncul. Pagi berarti semangat baru. Setelah kepenatan dari hari kemarin, satu masalah terlewati. Melihat matahaari terbit membuat perasaan menjadi terbakar, terlebih dengan hawa pagi yang menyejukkan. I love morning!



Sekali waktu aku pernah dihadapkan dalam sebuah keputusan yang harus dapat kuambil dari banyak sekali pilihan dan pertimbangan. semua pilihan sama-sama memiliki plus-minus. Mungkin juga yang membedakan hanyalah dhomir dan hati. baru kemarin aku tahu diantara keduanya itu berbeda. Saat dhomir berkata untuk mengambil sebuah pilihan yang sedikit sulit kuambil, aku baru saja merasakan makna dari ayat, "bisa jadi apa yang kita suka itu buruk bagi kita, bisa jadi apa yang tidak kita suka itu baik bagi kita, dan Allah Maha Mengetahui dan kalian tak mengetahui." Juga perkataan bahwa Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Apakah hingga saat ini aku masih berat untuk mengambil keputusan tersebut? Aku berusaha. Sebagai pemimpi dan seharusnya dream catcher, mimpi-mimpi itu sudah seharusnya untuk diraih. Harapan-harappan serta janji masa depan itu ada dalam pilihan yang lain. Tak kuambil. Apa aku membuangnya? Apakah dengan begitu harapan, mimpi serta usaha kecilku itu hilang?

Hidup tanpa mimpi, layaknya hidup tak hidup. Tak memiliki passion dan hanya mengikuti saja kemana air mengalir. Namun takdir Allah tak mungkin salah. Pasti selalu baik bagi kita yang meyakini, berusaha, dan tawakal. Bukan berarti Allah itu php (pemberi harapan palsu) karena membiarkanku berharap dan menghapuskan harapan itu dan menggantinya dengan takdir yang lain. Tenang, Allah itu memang php (pemberi harapan pasti). Bila keinginan kita kuat, usaha keras, doa yang tak pernah terputus, apa tega untuk tidak memberi. Ingat, Allah itu Maha Memberi. Percaya saja. Bila dengan kuasa Tuhan pun kita tak percaya, kemudian dengan apa lagi kita harus meyakini dalam hidup ini. Allah itu pasti php. Pemberi harapan pasti! Pasti bisa!


Di hari kedua ini aku mendengar beberapa keluhan dari teman. Ramadhan nggak Ramadhan sama aja rasa puasanya. Jelas saja. Di hari biasa saat aktivitas pondok masih aktif (mengajar, kuliah, isyrof, keliling belajar malam) saja diwajibkan puasa Senin-Kamis, bagaimana dengan liburan yang bahkan tak ada kerjaan. Benar juga, namun esensi Ramadhan yang jelas berbeda dari hari-hari biasanya.
Hari ini aku belajar tentang kebersamaan. Mengutip dari lagu Westlife, we are strong because we are together, kuat karena bersama. Beberapa sisi kelemahanku justru muncul karena perpisahan. Untuk itu aku memilih cepat pulang. Walau hati ini sedikit tidak tenang, namun beban yang kuterima akan lebih sedikit.
Karena tahu besok aku akan pulang, maka aku berusaha untuk mengumpulkan kenangan terakhir yang dapat kulakukan. Melakukan sun rise di atap gedung Mesir baru (yang ternyata tertutup awan sehingga matahari tak kunjung muncul), mengumpulkan tulisan teman-teman yang akan pergi, sedapat yang bisa kulakukan. Juga buka bersama anak-anak Malda 2012 asuhanku dulu. Mereka sudah ada di sektor-sektor OPPM dan Koordinator kini. Aku bangga dengan mereka. Sangat. Meski perjuangan untuk mencari bukaannya itu lumayan juga.

Sore ditemani langit mendung dan beberapa rintikan hujan, berpartnerkan seorang teman yang saat itu menjabat menjadi tukang ojek dan aku sekretaris, karena harus mencatat pesanan teman-teman. Jalanan sore itu penuh dengan truk-truk. Sempat spot jantung diajak ngebut. Jadilah sore itu aku sun set di jalan. Melihat matahari yang tinggal separuh ditelan awan. Padahal hari itu mendung. Subahanallah. Indah sekali. 
Hari itu tarawih terakhirku di pondok bersama seorang teman. Teman sesama pemimpi. Teman sesama pejuang mimpi. Sebelumnya ia baru saja mendapat kabar bahwa ujian untuk kuliah di Mesir tahun ini dibatalkan. Padahal seharusnya ujian akan diadakan satu minggu lagi. Tepat pada tanggal 17 di Malang. Segala persiapan, harapan, doa, dan buku-buku itu, harus diundur untuk satu tahun ke depan. Namun ia masih memiliki rencana lain untuk mengisi kekosongan selama setahun. Walau agak melenceng. Yang kusalutkan adalah ketegaran hatinya. Seperti yang pernah ia katakan padaku sebelumnya, Allah itu nggak php alias pemberi harapan palsu. Tenang dan percaya. Insya Allah akan membayar segala harapan-harapan itu.
Manusia memang harus selalu berencana. Walau Allah jugalah yang menentukan, bukan berarti kita hanya menunggu rencana dari Allah. Sebagai manusia yang hidup dengan sejatinya memiliki keinginan, tentu harus memiliki perencanaan dalam hidupnya. hasilnya? Baru serahkan pada Allah.


Tahun ini pun terdapat perbedaan dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan.  Bukan hanya di Indonesia saja ternyata. Bila di Indonesia golongan Muhammadiyah memulai puasa pada tanggal 9 Juli dan pemerintah (Gontor juga) keesokan harinya pada tanggal 10. Di belahan dunia lain, antara Amerika dan Arab Saudi juga Syria memiliki perbedaan. Hal yang jarang terjadi. Sku belum menguasai bagaimana cara penghitungannya, yang terpenting kerusuhan dalam perbedaan tidak begitu kentara tahun ini. 
Rindu Ramadhan, tentu saja. Dimana suasana gegap gempita menyambut Ramadhan sudah bergaung sedari lama. Dari iklan-iklan yang diganti, display di toko,  dan hiasan di jalanan juga ikut menyemarakan. Namun lebih dari itu, yang dirindukan dalam Ramadhan adalah peningkatan diri dalam ibadah. Ramadhan berarti puasa. Bukan hanya puasa dengan makna umum yang berarti menahankan makan dan minum dari terbit fajar hingga waktu Maghrib, namun juga menahan diri dari hal-hal yang bersifat ke-hawa nafsu-an. Apa saja. Seperti berlebih-lebihan dalam hal duniawi. Anggap saja kita berzuhud pada bulan ini, namun tanpa melalaikan kewajiban sebagai manusia untuk menjadi khalifah di bumi. Insya Allah apa yang kita lakukan dalam catatan hal kebaikan akan mendapat pahala. Terlebih saat Ramadhan. Kenapa tidurnya orang yang berpuasa disebut ibadah, itu juga salah satu faktor untuk menghindari diri dari hal yang tidak bermanfaat. Tapi juga bukan berarti tidur terus sampai buka puasa, bangun hanya untuk shalat. Banyak hal yang dapat dilakukan, banyak berkah yang dapat didapat, banyak pahala yang harus dicari. Jangan hanya berdiam diri saja.
Hari pertama Ramadhan ini aku masih berada di pondok. Setelah bepergian dan sampai pada waktu Maghrib, tarawih pertama yang kujalani lumayan juga. Menunggu imam yang tak kunjung datang, juga suasana masjid yang masih kagok dengan hari pertama. 
Kegiatan bahagia sederhanaku akhir-akhir ini melihat matahari terbit. Selepas Subuh dan mengaji, kukayuh sepeda menuju kamar teman dan mengajaknya untuk pergi ke out bound melihat matahari terbit. Out bound adalah area paling belakang di pondok ini. Namun tak dapat diusahakan lagi, kabut tebal meliputi pagi. Ditambah awan gelap sisa-sisa hujan semalam masih menyisa. Akhirnya kami memutuskan untuk mengaji dengan suasana dingin sepotong pagi. 
Agak siang, kuputuskan untuk pergi ke tempat adik. Perpisahan, karena Jum'at aku akan kembali ke Padang. Sekarang ia kelas lima dan tak akan pulang hingga lulus kelas enam nanti. Ramadhan pertamanya di pondok. Tak apalah kutemani walau hanya sebentar. Pulangnya aku menaiki bis kecil. Tepat di sebelahku dua orang ibu-ibu yang ternyata simbok kopda. Agak depan adalah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil, beserta balon. Hal yang kurenungi dan kuposting dengan judul "Bahagia Gaya Anak-Anak".
Di hari pertama Ramadhan ini langit sedang sendu. Hujan mengguyur bumi sejak siang hingga waktu berbuka. Jadilah aku terjebak dalam kebahagiaan. Bahagia yang sederhana juga. Berkumpul bersama teman melakukan hal yang apa adanya. Bukan sesuatu yang spesial, namun sulit untuk dibeli lagi momen seperti ini. Terlebih aku yang akan dalam posisi ditinggalkan.
Hari itu aku menemukan makna bahagia sesederhana mungkin. Bahagia tak perlu dibeli. Bahagia tak perlu dicari. Cukuplah kita hanya dengan merasakannya. 
Semoga Ramadhan tahun ini dapat menjadi berkah. Amiin....


Mungkin tahun ini genap sepuluh tahun aku (seharusnya) memakai kaca mata. Sejak kelas empat SD memang aku memiliki masalah lain dengan penglihatan. Beberapa kali berganti kaca mata tak membuatku jera juga untuk tetap memakainya. Dengan alasan ribetlah, malaslah, pusinglah, dan sebagainya.
Akhir-akhir ini aku mencoba (kembali) untuk menggunakan kaca mata. Agar tak tertipu  oleh dunia. Namun perasaan kagok dan tak seimbang sering hadir. Mungkin alasanku yang tak ingin memakai kaca mata karenaaku takut. Takut jika dunia memperlihatkan kejujuran. Di saat aku tak dapat melihat dengan baik, ya sudah, aku termasuk dalam golongan orang yang ingin saja ditipu oleh dunia. Namun seorang teman berkata, beberapa nikmat yang Tuhan disediakan di dunia ini sangat sayang bila hanya dilihat tipuan dan dengan ketidak aslian yang kulihat. Mungkin saja.



Barusan tadi aku pulang dari menjenguk adik di pondok yang tak terlalu jauh dari tempatku. Dapat ditempuh dengan dua kali naik bis kecil. Bersebelahan dengan simbok kopda, aku hanya bisa diam melihat seorang ibu membawa tiga balon yang masing-masing terikat di sebuah lidi. Tentu tahu balon yang dapat dibentuk apa saja. Berbentuk kepala, kemudian dihiasi balon juga yang dibentuk seperti mahkota, dan aneka bentuk lainnya. Tak lama ibu itu turun. Dengan kepayahan membawa belanjaan, tiga balon dan tiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana raut muka ibu itu? Tak ada satu pun rasa lelah. Anak-anak tadi bergelayutan memaksa ibu untuk memberikan balon agar dipegang sendiri. Anak-anak itu bahagia hanya dengan sebuah balon.
lama kumencari makna bahagia. Bisa jadi bahagia saat merasa puas. bisa jadi bahagia hanya dengan merasakan segala hal yang ada di dunia itu sebuah kenikmatan yang patut disyukuri. Bisa jadi bahagia karena aku sendiri yang menentukan bagaimana diriku untuk bahagia. Dan anak kecil itu memilih bahagia dengan sebuah balon. Namun aku juga sering melihat orang dewasa yang juga dapat bahagia dengan mudahnya hanya dengan melihat orang yang disuka (padahal belum tentu orang yang disuka itu merespon), melihat benda berkilauan (memangnya benda tersebut dapat mengabulkan permohonan?), dan lain sebagainya. Hal-hal remeh, bahkan terkadang tak masuk akal itu termasuk kebahagiaan orang dewasa. tak usah dipertanyakan mengapa dapat bahagia hanya seperti itu, karena itu mungkin cara mereka untuk dapat hidup bahagia. Hak orang. Tak usah diusik. 
Sepertinya aku dulu juga bahagia dengan balon, clay yang dapat dibentuk, boneka beruang yang berhasil kugunting agar bulunya dapat lebih lebat, dan hal remeh lain. kalian juga pernah, kan?


Apa makna ulang tahun bagimu? Saat banyak orang mengucapkan selamat? Saat kado bergantian berdatangan? Saat dimana kita merasa sangat spesial pada hari tersebut? Pernah beberapa saat lalu di ulang tahunku yang kesembilan belas terasa hampa. Tak ada ucapan, terlebih kado. Bukan itu sebenarnya inti yang kuharapkan. Yang kuharapkan adalah tanda seberapa pentingnyakah aku di hati teman-temanku. Karena bagiku, orang yang kuanggap penting adalah orang-orang yang kuhafal kapan ia menjadi spesial saat ulang tahun. Tak berlangsung lama, karena ingin bersikap layaknya orang dewasa, aku berusaha bersikap santai. Malah ternyata setelah sikap santai itu lahir perenungan. Berarti hari ini aku bertambah tua. Berarti hari ini jatah hidupku berkurang. Muhasabah. Sekiranya sudah melakukan apa saja selama sembilan belas tahun hidup di dunia? Sudah berbuat banyakkah dalam kebaikan? Ulang tahun berarti juga sebuah kesyukuran. masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bernafas, berbuat banyak, dan menabung untuk tunjangan di akhirat. Selamat ulang tahun!



       Dewasa adalah dapat menempatkan diri dimanapun dan kapanpun itu. Setelah kelas enam pun kita harus siap diletakkan dimana pun dan dengan yang tugas yang pondok amanahkan. Jadilah aku penjaga gerbang di gerbang Pakistan pada panitia ujian. Kata orang bawwabah itu  berbahaya dan menyeramkan, bukan karena banyak setan atau makhluk halus apapun, tapi terlebih karena gerbang adalah penyambung kehidupan dunia pondok dan luar sehingga menjadi sangat penting untuk dijaga. Keterlambatan seakan tak diampuni walau semenit karena begitu pentingnya.
                Saat hari pertama bawwabah aku terpaksa harus menjaga gerbang sendiri. Minusnya bawwabah adalah faktor kejenuhan, terlebih lagi jika sendirian. Antara lapar, ngantuk, mual, dan bajuku yang basah dikarenakan hujan membuatku tak dapat membayangkan sembilan hari  ke depan. Untung saja aku mendapatkan pengganti partner yang cukup menyenangkan. Terlambat ketika ke tempat bawwabah membuahkan berdirinya aku ketika evaluasi pagi. Tentu saja aku malu di depan teman-temanku. Akhirnya aku bertekat untuk bangun lebih pagi dan berlari agar dapat tepat waktu tiba ditempat.
                Hari-hari bawwabah selanjutnya, yang pertama kali kuingat saat bangun tidur adalah gerbanng Pakistan. Aku menyegerakan mandi dan siap- siap untuk berangkat sebelum salah seorang temanku mengingatkan untuk sholat subuh. Astaghfirullah!  Ternyata yang kuingat pertama kali bukanlah sholat melainkan gerbang Pakistan yang seolah tengah menungguku datang. Berangkat sebelum fajar menjelang dan pulang hampir petang karena penggantiku di sore hari belum juga datang yang kerap telat datang membuatku seakan memiliki rumak ke dua di gerbang Pakistan.

                Selesai menjadi panitia ujian membuatku memiliki kenangan tersendiri dengan gerbang Pakistan dan subuh. Pelajaran yang kuambil selain harus bermuka riang alias baasyasyatu-l- wajhi adalah mengingat sholat sebelum pekerjaan lain.




            Gontor...kata bapakku waktu itu, sebelum beliau meninggalkan keluarganya untuk menghadap Allah. “Dek Unda kamu harus bisa lulus dari Gontor kayak masmu. Kalian berdua harus sekolah disana kayak pesan bapak.” Ibuku mengingatkanku akan wasiat bapak sebelum pergi. Semenjak itu aku berjanji akan berusaha sekuat tenagaku untuk menjalankan wasiat bapak. Bismillah...aku melangkah menuju pintu gerbang Gontor. “Bapak jangan khawatir aku akan melaksanakan wasiat bapak dengan semampuku,” aku bbergumam dala hati.
            Aku masih teringat betul hari tu. 06 juni 2006, tanggal dimana aku memasuki kawasan berjilbab Gontor. Tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Suasana baru, kamar baru dan teman baru. Tak satu pun orang yang kukenal disini.
            Bulan berganti, aku dikenal sebagai anak yang pendiam dan pasif dalam kegiatan. “ Tahukah kalian? Sebenarnya aku tak suka dengan tanggapan-tanggapan kalian yang seakan membuat keadanku disini semakin buruk.”
            Dengan semangat yang tinggi aku selau mencoba untuk mengubah kepribadianku. Ku coba untuk menjadi anak yang supel, belajar trik-trik berkomunikasi yang baik dengan orang lain sampai belajar mengubah intonasi suaraku. Semua kulakukan untuk meningkatkan kualitas diriku. Setiap ada seleksi aku selalu muncul sebagai peserta supaya banyak orang yang mengenalku. Walau tak satupun perlombaan yang aku menangkan.
            Kadang aku merasa semua ini tak adil. Kenapa hanya anak itu-itu saja yang tampil dan menang. Mana yang sering digembar-gemborkan dengan istilah pemerataan kepernahan? Nothing, omong kosong buatku. Rasa iri pun terpicu dengan prestasi non akademis kakak laki-lakiku, dia yang aktif disini, disitu, ikut ini, ikut itu bahkan dia sering membawa piala ke rumah.
            “Ayo, buktiin ke aku kalau kamu bisa kayak kakakmu ini!” Mas Aryo berkata padaku tapi lebih tepat disebut mengejekku.
            “Ok, aku bawa besok piala ke rumah,” dengan kepedean aku katakana itu padanya. Aku tak mau dianggapnya remeh.
            Tapi semuanya belum juga berubah. Sepintas kemenangan membayangiku sampai akhirnya aku gugur di babak teakhir dalam kompetisi MTQ (Musabaqah Tilawati-l-Qur’an). Sedih , kecewa dan putus asa.
            Beberapa tahun berlalu dan sekarang kutemukan dimana passion-ku sebenarnya. Pramuka. Aku sangat suka dengan kegiatan ekstra yang satu ini. Kecintaanku dengan pramuka bermula dari keikutsertaanku dalam kelompok gemar membaca saat aku masih duduk di kelas dua, berlanjut menjadi anggota PMR di kelas tiga. Dan yang terakhir menjadi Dewan Kerja Koordinator di kelas empat.
            Inilah awal percaya diriku. DKK memberiku banyak kesempatan untuk mengeksplorasi ide-ideku. Aku menemukan duniaku. Dengan kostum kebesaran kami, baju pramuka, dan senjata tali, tongkat dan peluit kami telusuri apa yang dinamakan pramuka. Dan bagaimana pengamalan dari Dasa Dharma itu sendiri.
            Tahun kelimaku di pondok ini membuatku enggan untuk keluar dan meninggalkan pondok tercintaku. Kesempatan yang besar telah dipasrahkan padaku. Jabatan sebagai ketua rayon sighor jadidah pun tak pernak aku bayangkan sebelumnya. Di tahun ini juga aku mendapat teman-teman baru yang sebelumnya belum pernah aku kenal di kelas empat. Mereka teman-teman dari kelas intensive alias baru masuk pondok setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP ataupun MTs. Tak kusangka aku merasa cocok dengan mereka yang sempat aku berfikir bahwa mereka ini cuek dan tak mengerti arti sebuah kebersamaan.
            Keadaan tak selamanya bersahabat, begitu juga dengan kesehatan yang dianugerahkan Allah untuk hamba-hambaNya. Dan ini yang kami rasakan. Wabah penyakit menjalar dengan cepatnya. Banyak anggota rayonku yang terpaksa pulang karena harus dirawat di rumah masing-masing. Mengingat usia mereka yang rata-rata baru dua belas tahun suasana rumah memang sangat di butuhkan, apalagi perhatian dari orang tua. Tak beda jauh denganku. Aku meninggalkan banyak momen di kelas lima, seperti acara tahunan pecan perkenalan, KMD, musyawarah kerja rayon, idul adha bahkan acara monumental drama arena yang seharusnya aku ada di dalamnya. Aku tak bisa mengelak dengan penyakit tifusku. Aku terbaring di rumah sakit.
            Tak ada daya dalam tubuhku. Gambaran rayonku dengan komposisi pengurus yang hanya beberapa gelintir ditambah kondisi anggota yang banyak terjangkit penyakit  sangat menghambat kesembuhanku. Aku erus kepikiran dengan tugas-tugas yang aku tinggalkan selama sakit. Tak ingin rasanya berlarut-larut dalam keadaan ini. Aku berusaha keras untuk sembuh.
            Tahun berlalu begitu cepatnya. Dan di tahun terakhir akademis aku diamanati untuk menjadi ketua bagian kesehatan. Mungkin supaya aku lebih bisa meningkatkan kualitas kesehatan pondok begitu juga kesehatanku. Kekompakan yang selalu kami jaga dan semangat untuk menjadikan anggota Darussalam sehat kembali inilah sumber tenaga kami dalam menjalankan amanat suci. Dengan terus memegang nilai-nilai yang ditanamkan dalam diri akhirnya kami bisa menyelesaikan amanat dengan baik.
            “Aku memang tak sehebat Mas Aryo, tapi setidaknya aku tak sepasif yang dia kira,” aku sedikit berbangga hati dengan diriku, guna menumbuhkan rasa percaya diriku yang kian menipis menjelang ujian akhir. Kepercayaay diri ini sangat membantuku dalam mengerjakan soal-soal ujian yang berlembar-lembar.
            Graduation siswi akhir KMI. Langkah kaki pun ku percepat menuju terop yang terpasang didepan tiga gedung itu. Inilah masa-masa akhirku, entah kemana nasib akan membawaku setelah ini yang pasti aku harus mempersiapkan diri dengan matang.
            Aku duduk di baris kedua sebelah kiri. Direktur KMI pun meminta kami untuk membuka amplop yang kami terima saat berjalan di tangga menuju gedung Kuwait tadi. Nomor tiga puluh Sembilan. Alhamdulillah, ternyata aku masih bisa mengabdi di pondok tercinta ini.
            Medali bertuliskan angkatan VIXX melingkar rapi dileherku. Dengan ucapan syukur yang tak henti-hentinya terucap aku berjalan menuruni anak tangga yang menuju pintu keluar. Seluruh wali sudah berjubel menanti kedatangan putri-putrinya. Tiba-tiba sesosok yang amat sangat kukenal berhambur memelukku, mencium pipiku dan meneteskan air mata. Ternyata kedua kakakku dan keponakanku juga ikut menjemputku.
            “Panggilan nomor berapa?” Tanya mas Aryo padaku.
            “Nomor 39.” Kataku lirih menahan tangisku yang hamper tumpah.
            “Yah…masih kalah sama aku.” Katanya lagi
            “Ok, one day I’ll show you. That I’ll be better than you, I promise,” aku tersenyum padanya, sinis.
           (By. Undainti)

                        





            Kesalahan memang hal absolut pada manusia, tak terkecuali aku yang  hanya segelintir manusia tang bahkan tak dikenal dunia. Dan kali ini pertama kalinya aku disini, di kantor pengasuhan dengan kerudung orange-biru didepanku.
            “Hudzi al-khimar!,” kata ustadzah kepada kami untuk segera mengambil kerudung-kerudung sial itu. Tak ada pilihan lain kecuali patuh. Ya patuh. Sulit dipercaya bahkan aku sendiri belum percaya ditahun terakhirku aku harus merasakan kerudung pelanggaran. Penyebabnya sepele memang, hanya karena belum merapikan soundsystem seusai acara. Tak lihat hukuman ini, bagaikan parang bagiku.
            Aku tak mau keluar kamar, bahkan untuk sekedar makan. Dunia serasa sempit, semua mata melihat saat kuberjalan. “Hey, I am an ordinary person, i can be punished, don’t you?” tak paham apa yang mereka lihat dariku. Aku dan kelima pesakitan lain mengenakan kerudung jelek ini hampir sepuluh hari. Entah karena kasihan atau bosan melihat kami dengan kerudung belang, akhirnya pengasuhan mencopotnya. Duniaku kembali.
            Abah-Umi menjengukku jum’at ini, syukurlah kerudung belang tak lagi dikepalaku. Aku tak yakin mereka bisa tenang melihatku yang seperti itu. Tak lebih dari tontonan gratis di ruang penerimaan tamu pastinya, mereka akan kecewa padaku.
            Sebulan lebih dari kejadian itu. Ternyata pengalaman tak membuat kami paham. Aku dan teman-temanku BAGIAN INFORMASI kembali memakai kerudung itu dengan kesalahan yang sama, tapi yang sekarang sedikit keterlaluan. Kami membiarkan soundsystemitu bertengger di lapangan Ninsia semalaman tanpa menutupnya dan mematikannya. Untungnya sibelang bersama kami hanya beberapa hari, mungkin empat. Tapi ada bonus hukuman yaitu dijemur di depan masjid setelah dhuhur, dan tak ada yang memanggil kami untuk pulang. Ah...mungkin ustadzah lupa.
Tak berapa lama dari tragedi soundsystem, kami dicoba lagi dengan hukuman. Tapi kali ini bukan penuh kesalahan BAGIAN INFORMASI, karena saat itu waktu pembacaan syi’ru Abu-nawas menjelang maghrib. Dua orang temanku berbicara dengan bahasa Indonesia dan parahnya suara mereka terdengan ke seantero pondok karena mereka mengambil shaf sholat terdepan dan memang dekat dengan speaker. Kerudung belang kuning-pink pun menyapa. Kali ini dari ustadzah Language Advisory Council (LAC). Tapi bukannya sedih kami malah tertawa, karena saking seringnya dengan sibelang mungkin? Dan untuk yang ketiga kalinya juga Abah-Umi datang dari Bojonegoro untuk melihatku. Dan ini yang paling kusyukuri, mereka tak melihat sibelang di kepalaku, karena tepat di malamnya aku selesai menjalankan hukuman.
Introspeksi diri, selalu hal ini yang kami tekankan dalam bagian kami. Bagian informasi. Dan hasilnya pun Alhamdulillah, kami tak lagi lalai akan kewajiban, selalu tepat waktu dan tidak ada permusuhan. Tapi kalau namanya berantem antar teman tentu ada, namun masih dalam taraf yang wajar.
Tapi tidak untukku. Si belang selalu mengejarku, mengintaiku, dan mencari celah untuk menikamku. Tepat dihari kedua ujian untuk pelajaran sore aku diturunkan dari nomerator kertas jawaban ujian. Ya...tidak salah lagi karena kurang teliti dalam meghitung kertas jawaban. Aku dipindah tugaskan ke bagian yang menurutku sangat menguntungkan. Bagian koperasi dapur yang bertugas membagikan nasi dan lauk saat makan siang ke seluruh santriwati. Tak kuanggap ini sebagai hukuman, karena bagian ini sangat menyenangkan. Tapi satu yang membuatku tak percaya diri untuk berjalan. Si belang semangka, hijau merah tetap saja menempel di kepalaku. Dan ini untuk yang terakhir kalinya si belang terlepas dari kepalaku sehari sebelum  Abah dan umi menjengukku.

Si belang telah menjadi bayanganku setengah tahun terakhir ini, mulai dari yang orange biru, kuning pink dan semangka hijau merah. Mereka telah datang dan menyinggahi kepalaku. Tapi aku bersyukur karena Abah dan Umi tak pernah tahu itu. Biarkan saja ini menjadi rahasiaku. Apalagi Abah dan Umiku.
(By. Shofuria)




Gontorputri 2, enam tahun yang lalu...
            Aku masih bingung. Ayahku yang mengantarku kesini hanya bisa menemaniku dalam waktu dua hari. Banyak acara yang menunggu di rumah, itulah alasan yang aku tahu. Aku takut, bingung, apa aku bisa hidup sendiri tanpa kedua orang tuaku. Apakah aku kuat untuk menjalani kehidupanku selanjutnya? Aku terlalu kecil untuk berpisah dengan mereka, aku baru dua belas tahun. Apa yang bisa aku lakukan di umurku yang sekarang ini?
            Hari demi hari pun berlalu dengan cepatnya.Hingga tiba ujian yang menentukan kehidupanku di pondok untuk beberapa tahun ke depan.“Ya Allah, ana pingin lulus di Gontor Putri 1,”gumamku saat kami. Semua berjalan beriringan menuju gedung syiria, libanon, dan yordania. Sore itu kami membersihkan tempat yang akan kami gunakan untuk ujian pertama kelulusan.
            Do’a selalu kupanjatkan untuk kelulusanku di GP 1.Belajar yang keras pun aku lakoni demi hasil yang ingin kucapai dan akan kutunjukkan pada ayah. Aku tak akan membuatmu kecewa ayah.
            Akhirnya hari itu tiba. Dimana kami berkumpul dibawah naungan terop yang terbentang di antara gedung damaskus dan Beirut. Aku duduk bersama teman-teman sekamarku. Memenjatkan do’a, berharap keinginan yang kami cita-citakan menjadi kenyataan.
            “Panggilan pertama, Gontor Putri 1, no…,…,”
Aku terus memanjatkan do’a. “Ya Allah semoga nomor ana kesebut..”
            “no. 878, 879, 880, 882,…”
Degh! Aku tersentak. Nomorku tidak tersebut? Apa aku salah dengar? Apa aku kurang memperhatikan? Benarkah nomorku tak disebuut barusan. Perlahan namun pasti tangisku pecah. Rasanya begitu menyakitkan, begitu perih setelah apa yang kita usahakan ternyata sia-sia. Benarkah aku tak lulus di GP 1, mungkinkah di GP 2? atau di GP yang lainya?
            Aku masih terisak memikirkan kenyataan yang akan menimpaku. Tidak luluskah?
            “Panggilan selanjutnya, Gontor Putri 2. No…..”  aku masih terdiam mendengarkan dengan seksama. Semoga nomorku disebut di panggilan ini.Ku panjatkan do’a sekali lagi. Berharap nomorku akan segera disebut.
            “dan nomor 1252” aku tersentak lagi. Ya Allah, kapan nomorku disebut? Sudah cukup kesabaran menanti panggilanku. Sudah cukup rasa perih yang kutahan karena aku gagal mendapat apa yang aku inginkan. Apakah aku lulus, atau tidak? Aku pun tak lagi peduli. Aku sudah meninggalkan sanak saudara nun jauh disana untuk menuntut ilmu di Gontor. Apa aku harus pulang sia-sia tanpa membawa kebarhasilan? Aku masih mendengarkan panggilan selanjutnya.
            “Panggilan ketiga. Kelulusan Gontor Putri 3, no…, …, …
            “Ya Allah, kapan nomorku disebut Ustadzah?” Aku masih memperhatikan.
            “ No 881, no….”
Aku tersentak lagi. Itu nomorku. Seketika dadaku terasa lapang. Meski aku tak lulus di GP 1, tapi setidaknya belajarku tak sia-sia. Langsung setelah itu, aku berangkat ke wartel untuk memberi tahu orang tuaku perihal kelulusanku.
            Pertama kali kupijakkan kakiku di GP 3, aku ragu. Bisakah aku meneruskan kehidupanku disini, dengan pondok yang belum terlalu luas, jalan belum dipaving, dan terlebih lagi hatiku belum mantap disini. Apa aku bisa?
            Kucoba beradaptasi, mungkin akan sedikit membantu tuk hilangkan harapan akan kehidupan di GP1. Aku duduk di kelas 1C. Tapi ya, kalau dibandingkan teman-temanku aku tak lebih pintar dari mereka. Aku terus mencoba meningkatkan belajar untuk meningkatkan kelasku.
            Setahun berlalu. Sangat tidak ku percaya saat melihat papan kenaikan kelas. Aku mencari namaku dari kelas terbawah, 2 I. Aku teringat percakapan antar aku dan ayah baberapa minggu lalu.
            “Kalau Wiwit kelasnya dua I bagaimana?” Ayah bertanya sambil melihatku tajam.
            “Ya,,Wiwit harus meneruskan lah yah, kan udah bertekad.”
            “Kalau Wiwit gak naik?” Tanya ayahku lagi.
            Aku berfikkir sejenak. “Ya,,tetep balik lah.” Jawabku sekenannya.
            Aku terus menelusuri nama-nama itu. 2I, 2H, 2G, 2F. “ Ya Allah nama ana gak ada, apa ana gak naik?” Aku bingung dengan semua ini. 2E, 2D, 2C.
4. ....
5. Azizah Esti Pratiwi
6. .....
“Yes!” Pekikku dalam hati. Sungguh aku tak menyangka kalau aku bisa naik ke kelas 2C. Alhamdulillah...
            Setengah tahun berlalu. Karena beberapa faktor nilaiku yang diawal tahun 7,00 kini turun drastis menjadi 5,71. Absenku pun ikut turun dari nomor empat ke nomor dua puluh satu. Apa aku kurang belaja, apa aku terlalu sombong.  Aku tak tahu pasti yang aku tahu hanyalah aku harus berubah.
            Sepuluh syawwal. Kembali kutelusuri papan nama tua itu masih berharap namaku tercantum didalamnya dengan kategori anak-anak yang naik kelas da selalu memakai papan nama merah yang selalu aku banggakan. Aku kembali memperhatikan papan di ddepanku. Tiga G, batas akhir angkatanku. Mengapa berkurang begitu banyaknya. Dua kelas terhapus berarti empat puluh anak lebih yang tak naik kelas. Aku merasa bersalah tak mampu membawa mereka untuk naik ke kelas tiga.
            Hari demi hari berganti higga tiba saatnya ujian pertengahan tahun. Sayang aku terkena sakit, badanku panas, kepalaku pusing dan enggan untuk berfikir. Yang aku lakukan hanyalah terbaring lemas diatas kasur.  Untunglah banyak orang yang bersimpati dan selalu menyemangatiku, termasuk kakak kelasku. Mereka membantuku untuk memahami pelajaran yang tak aku mengerti, menemaniku belajar dan masih banyak hal baik lainya.
            Liburan tengah semester uai, kini raport kelas siap untuk dibagikan, meminta pertanggungjawaban atas apa yang kita jawab ketika ujian. Aku hanya bisa pasrah dengan hasilku ini. Jangankan nmor absen naik kelas pun aku tak sepenuhnya yakin. Wali kelasku membagi raport dimulai dari absen paling bawah. “Ana nomor berapa ya?” naik ataupun turun, aku harus tetap semangat.
            Semua telah dibagikan. Aku termangu menatap secarik kertas yang ada di tanganku.
            “Wah, Wiwit mabruk ya..namroh ula coba, gak nyangka tau.”
            “Iya, iya, kok bisa sih Wit? Anti kan ngantukan di  kelas.”
            “Alah,,Wiwit nih ngantuk juga tetep pinter.”
            “Apaan sih antuna?” Sanggahku kepada mereka. Pujian demi pujian terlontar dari mulut teman-temank. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Aku tak mau dianggap besar hati dengan semua ini. Kalau dibilang aku suka ngantuk itu memang benar, bahkan bukan rahasia lagi, ustadzah pun sudah kenal padaku karena sifat ngantukku itu. Biarpu aku ngantuk aku harus bisa membuktikan kalau aku ini rajin dan aku bisa.
            Masa kelas tigaku penuh dengan semangat optimisme. Berbagai seleksipun aku coba, seperti seleksi menjadi anggota Persada atau persatuan senam darussalam. Walaupun aku tak terlalu mahir dalam menggerkkan badan tapi setidaknya aku mencoba. Dan sore itu...
            “Ayyuwah, ij’alna shufuf murottaban!” kata bagian olahraga pusat. Aku merentangkan tangan dan meluruskan barisan. Lagu diputar dan badanku mulai bergerak mengiringi irama. Kakak-kakak dari bagian olahraga pun berkeliling mencari anggota yang dianggap pantas masuk Persada. Tiba-tiba salah satu dari mereka berdiri di depanku, konsentrasiku terhadap gerakan pun buyar dan perut bagian kiriku terasa angat sakit. Aku harus terpilih maka dengan sekuat tenaga kutahan rasa sakit yang melilit perutku.
            “Masmuki ukhti?” tanya seorang bagian olga.
            “Ismi Afifah ukhti.” Dia anak yang berada disebelahku.
Tepat setelah itu lagu berhenti. “Intahaina min ikhtiyaari, yang namanya kesebut segera berkumpul sama ukhti Medita hunaka! Dan ntuk yang disebut namanya, boleh pulang sekarang.” Aku terpukul dengan hasil akhir ini. Seluruh tenagaku terkuras habis untuk mengikuti gerakan ini dan aku rasa aku sudah cukup semangat mengikui gerakan aneh tadi. Atau memang ukhtinya kurang memperhatikan aku? Hatiku perih, sia-sia yang kulakukan, padahal sore ini berniat untuk nyetrika baju yang baru selesai dicuci. Karena mendengar seleksi Persada langsung kutinggalkan baju-bajuku, bahkan mandi pun aku tak sempat. Dan sekarang malah aku tak loos seleksi. Sangat memprihatinkan nasibku ini. Ikhlas kutanamkan dalam hati, masih ada tahun depan pkirku.
            Tahun keempatku disini aku diberi hukuman akibat dari kesalahanku sendiri. Ya, aku membaca novel yang kudapat dari temanku sewaktu dijenguk oleh orangtuanya. Aku sadar dan sangat menerima kerudung bagi sang pesakitan seperti aku dan kesepuluh kawan-kawan senasibku. Tak jauh beda dengan hukuman-hukuman yang sering kudengar, aku pun mendapat hukuman yang sama. Meminta nasehat dari wali kelasku, ustadzah Hifdzotul Munawwaroh.
            Tak seperti yang kami harapkan, ternyata beliau tidak mau memberi kami nasehat. Beliau tahu bahwa nasehat tak lagi bisa membuat kami berubah, beliau hanya ingin melihat kami berubah dengan keinginan kami sendiri dan kesadaran diri.
            Satu persatu dari kami sudah dipanggil untuk melepas kerudung pesakitan ini. Tapi kapan giliranku?
            Lima puluh empat hari kemudian. Aku terbaring lemah dengan bintik-bintik merah disekujur tubuhku. Penyakit cacar ini sangat mengganggu dan terlebih sangat membuatku terlihat tak berdaya. Tapi dalam kondisi yang seperti inilah aku mendapat kebebasanku kembali, kerudung yang hampir dua bulan bersamaku kini terlepas dariku. Aku bebas dari kerudung jelek ini, aku tak berharap untuk memakainya lagi. Tak akan.
            Tahun kelimaku masih kujalani seperti biasanya, ya, biasa mendapat omelan dari pemimbing, biasa bertengkar dengan teman sebagianku dan biasa memarahi anak-anak yang melanggar di bagian olahraga. Geduang Al-azhar masih tampak megah seperti biasanya, dan aku berharap tahun depan masih bisa melihatnya. Entah kenapa aku merasa akan sangat rindu dengan tempat ini nantinya. Lima tahun  lebih aku bersamanya, menikmati megahnya setiap aku membuka mata. Aku suka tempat ini.
            Otakku hampir tak sanggup  berfikir lagi, tapi untunglah semua ujian ini sudah berakhir. Rangkaian panjang ujian yang sangat melelahkan. Bagaimana tidak? Dimulai dari ujian lisan yang tak berjeda, ada tapi hanya satu hari selama dua minggu. Practical teaching yang sangat menguras tenaga dan pikiran sampai siang setiap hari, belum lagi ujian tulis dengan materi yang tak kurang dari dua puluh lima materi pelajaran, jika aku tak cukup kuat aku yakin sekarang rambut hitamku telah memutih sekarang ini, untungnya itu tak terjadi.
            Gontor Putri 1
            Malam kebersamaan siswi akhir KMI 2012, ya disinilah aku sekarang. Berdiri untuk menyaksikan malam dimana kami, seluruh siswi akhir KMI dari semua Pondok Putri berkumpul, entah itu dari Gp 1 yang berlokasi di Mantingan, GP 3 yang tak begitu jauh karena masih dalam satu kabupaten, Ngawi, GP 4 di Kendari pun turut bergabung di Mantingan sejak kelas lima, bahkan teman kami yang berada di GP 5 Kediri pun berada disini. Podok terlihat sangat padat dengan mobil-mobil yang berplat polisi yang sangat beragam, maklum sekolah kami berstandar internasional.
            Malam ini kami merasa dipersatukan kembali setelah sekian lama kami dipisahkan karena harus disebar ke pondok yang berbeda-beda, tapi sekarang kami satu, alumni dua ribu dua belas.
            “Kayaknya ini terakhir kalinya aku nyanyi lagu Oh Pondokku deh,”kata salah satu sahabatku.
            “Iya, kayaknya sih aku juga gitu,”kata yang lain lagi.
            “Makanya nyanyinya yang khusu’ , ntar kalo kita diluar kan gak kayak gini lagi,”tambahku ke mereka.
            “Bener banget, gak bakal denger lagu ini lagi, jadi sedih,”kata mereka lagi.
            “Sstt...diam!” kata suara dibelakang kami.
            Kami kembali melantunkan lagu Oh Pndokku dengan penuh khidmat. Acara sakral ini dihadiri oleh bapak pimpinan, serta ketua badan wakaf dan juga guru-guru senior yang berdomisili di Gontor Putra.
            “Iya,,,masih makai jaurob nih,” teriakku ke salah satu kawanku.
            “Cepetan, kita hampir telat loh,” balasnya padaku.
            Ya, hari ini hari upacara kelulusan kami, yudisium siswi akhir KMI 2012. Hari dimana kami dinyatakan lullus atau tidak dari sekolah keren dan ajaib ini. Semua santriwati telah duduk rapi di barisan kursi yang memang diperuntukkan bagi kami. Tak banyak kursi yang kosong karena memang angkatanku sangat  banyak orangnya.
            “Nih, anti dapet risalah, bacanya ntar pas pulang ke rumah ya!” kata sahabatku.
            “Jangan lupain ana ya..”
            “Siapa yang ngabdi di ma’had ya?”
Panggilan pertama sudah terdengar, namun cuap-cuap kami dan teman-teman yang lainya masih terdengar.
            “Ah,,masih panggilan pengabdian GP 1, kita masih lama,”
            “Ngabdi dimana ya?” kataku.
            Tiba-tiba,” Ananda Azizah Esti Pratiwi binti Bahari, Kalimantan,” Aku gelagapan mendengarnya. Langsung aku sambara agenda disampingku yang belum sempat kubuka karena sibuk bercanda dengan teman-temanku. Aku masih tak percaya, begitu juga teman-temanku pastinya. Semua mata tertuju padaku dengan aura binging yang tak terjawab. “Apa kalian bingung? Akupun juga,” batinku.
            Sekarang aku duduk disini, duduk di depan bapak pimpinan untuk mendengar nasehat beliau sebelum melepas kami keluar ke masyarakat nantinya. Aku merasa De Javu sejenak. Seperti kelas lima dulu aku tak menyangka akan dipanggil mendahului teman-temanku. Nomor 32, yah memang tak begitu atas, tapi diantara delapan ratus siswi, bagiku sudah dari cukup mendapat urutan ini.
            Seusai taujihat, aku masih bingung dengan cerita hidupku selanjutnya, inikah jalan yang harus aku lalui.
            “Anti dari Gontor putri3 ya?” kata teman sampingku yang memang belum aku kenal sebelumnya.
            “Na’am,” jawabku sekenanya.
            “Ana Nanda Nabilah, min Jakarta,,masmuki?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
            “Ana Wiwit, min Kalimantan,” jawabku sambil membalas uluran tangannya.
            “Salam kenal ya,”katanya lagi.
            Kami keluar satu-persatu melalui tangga gedung Kuwait, setelah bersalaman dengan para madamat yang memberi kami medali kelulusan yang bertuliskan “Alumni 2012”, dengan pita merah, hijau dan putih yang merupakan warna bendera Pondok kami.
            “Esti mabruk ya, ngabdi di GP 1,”
            Mabrukya wit,” Semua ustadzah yang membagikan tas marhalah mengucapkan selamat padaku. mana ayah ya? Pikirku.
            “Lho, Wiwit sudah dipanggil ya?” tanya seseorang disampingku, yaang ternyata ibu dari teman sekonsultku.
            “Iya tante,,,ngabdinya disini,” jawabku . Dan beliau langsung menelephon ayahku. Tiba-tib mataku terasa berat, penglihatanku mulai kabur. Aku pun bergegas pergi menuju masjid untuk berkumpul. Pengarahan un tuk opspek dan pengukuran baju tadris begitu juga almamater universitasku yang baru.
            Aku duduk disamping masjid, sendiri, memandang sekeliling. Semua orang sibu dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang berfoto ria dengan sanak saudara, sahabatnya, ada yang sibuk mengukur baju dan ada juga yang menelepho ria denga orang diseberang sana. Aku termenung.
            Ya Allah,,inikah jawaban do’aku enam tahun yang lalu, dimana aku sangat menginginkan kelulusan disini, dan mendambakan kehidupan disini. Enam tahun  telah berlalu, dan di momen kelulusan pula do’aku terkabul. Mungkin ini yang terbaik. Aku akan menjalaninya dengan baik. Enam tahun aku telah menunggunya, dan semua itu tak cukup terganti dengan satu tahun pengabdian, mungkin lebih.

           
           



Powered by Blogger.