Kalau ditanya duduk di kelas berapakah yang paling berkesan? Aku akan menjawab kelas empat. Aku yakin itulah jawaban yang paling pas, mengingat bahwasanya kelas empat ialah masa perhelatan dimana kita mencoba meninggalakan masa anak-anak dan mencoba menjadi lebih dewasa. Ya...samalah jika dibilang masa remaja labil, seperti yang dialami kebanyakan anak SMA, bedanya kita disini dituntut menjadi pribadi yang lebih dewasa dari anak seumuran kita.
            Sore itu kulihat secarik kertas hijau terselip diatas lemari kayuku. Kertas panggilan ruapanya dari bagian penerimaan tamu. Aku sudah tak asing lagi dengan kertas kecil itu, secara aku sering sekali mendapatkanya, ibu dan ayahku sering menjengukku, maklum aku berdomisili di Madiun yang hanya membutuhkan waktu satu jam untuk kesini.
            Tapi ini bukan ibu ataupun ayahku yang menjenguk, melainkan saudari sepupuku dari pihak ayahlah yang memanggilku. Obrolan seputar sekolahku dan kabar-kabar yang dia ceritakan mengisi obrolan kami siang ini. Tak segan aku meminjam handphone-nya untuk menelfon ibu dirumah. 08563*****...tut..tut..
            “Hallo, Assalamualaikum,” suara ibuku dari seberang.
            “Waalaikumslam ibu, bu...Shofi nggak betah. Shofi mau pulang bu, nggak mau sekolah disini lagi.”
            “Eh nak...Shofi kenapa, kok ngomong kayak gini? Ceritain dulu ke ibu alasanya Shofi mu pulang!” tanya ibuku yang terdengar bingung dengan permintaanku yang tiba-tiba.
            Masalah tak henti-hentinya datang padaku. Sifatku yang mungkin kurang perasa membuatku tenggelam semakin dalam masalah ini. Masalah yang sangat mengusikku, belajarku dan semua aktifitasku yang lain. Aku sangat tak nyaman dengan ini.
            Terpilihnya diriku sebagai kader Paskibra PKA saat aku kelas tiga menjadi pemicu dari masalah ini. Ya walaupun aku mengundurkan dirikarena tak kuat debgan sindiran-sindiran orang. “Baru kelas tiga juga, sabar kenapa sampai kelas empat kalau mau jadi paskib,” kata kakak kelas yang memang tak menyukaiku.
            Kejadian seperti itu terulang lagi saat salah satu dari kakak kelasku salah faham atas apa yang ia dengar. “Waktu kelas tiga sudah kepilih kan jadi paskib, masak sekarang nggak kepilih? Udah tenang aja, insyaallah masuk paskib kok,” kata ketua gudepku berusaha meyakinkanku. Aku sangat takut jika tak masuk menjadi anggota paskibra. Sudah pasti karena tinggi badanku yang memang diatas rata-rata.
            Hari-hari kujalani sebagaimana biasanya. Aku tak begitu suka melanggar peraturan, jadi aku tak ada masalah denganbagian-bagian persidangan. Tapi kebanyakan masalahku terjadi antara aku dan kakak kelasku. Satu hari saat aku berjalan menuju kamar anggota Koordinator, dimana ketua gudepku juga tinggal disana. Tiba-tiba datang dua orang sang empunya rayon ini, tak tahu kenapa yang pasti mereka berkata sinis padaku, aku sangat yakin perkataan itu ditujukan padaku karena tak satupun orang disana selain aku.
            “Pede banget sih tu anak, siapa juga yang mau milih dia jadi Paskibra?”
            “Tau tuh, kayak nggak ada orang lain aja ya?”kata kakak yang satu lagi.
            Entahlah kenapa mereka berkata seperti itu, dan darimana  mereka bisa berfikir seperti itu tentangku, aku sendiri tak tahu. Yang aku rasakan hanyalah takut pada kakak-kakak yang barusaja menyindirku.
            Sindiran-sindiran kerapa aku dengar dari mulut tajam mereka. Aku tak habis fikir apa sih yang membuat mereka bisa berfikir seperti itu. Bagaimana kau bisa tenang dengan keadaan yang seperti ini, setiap aku berpapasan dengan mereka kata-kata itu lagi yang selalu kudengar. “Apa nggak ada topik lain yang menarik bagi mereka, selain menyindirku dan menjelek-jelekan diriku?”
            Ketahanan batinku jebol taksanggup lagi menerimanya,tak terasa butiran-butiran bening itu mengalir dipipiku. Setiap hari teman-temanku bingung melihatku yang seperti ini, kian hari aku semakin memburuk hingga akhirnya aku jatuh sakit karena tak kuat dengan semua yang menimpaku. Tak ada hari tanpa tangisan bagiku.
            “Bagaimana bu?”  kataku pada ibu setelah mengutarakan apa isi hatiku. Tak ada jawaban, hanya diam.
            “Shofi nggak mau disini, Shofi nggak betah bu.”
Sekali lagi tak ada suara, hingga samar-samar terdengar suara isak tangis. Degh...jantungku terhenti sejenak. Ibuku menangis dan aku tak tahu harus bagaimana. Perasaan bersalah mengepungku, aku bingung. “Astaghfirullah,,,”kenapa aku membuat ibuku menangis, tak bermaksud sedikitpun untuk membuat beliau bersedih ataupun kecewa dengan ceritaku. Benar-benar setan telah menggelayutiku, menutup rasioku. Air mata yang sedari tadi mengembun kini telah deras mengalir.
            “Ibu maafkan aku, aku nggak akan lagi ngecewain ibu, maafin Shofi bu. Shofi sayang ibu. Assalamualaikum.
            Kututup handphone sepupuku tanpa menunggu jawaban salam dari ibu. Aku sangat bersalah membuat beliau menangis. Setahuku ibuku adalah wanita yang kuat, tak pernah menangis. Sebesar apapun cobaan dan musibah yang beliau hadapi. Ibuku adalah sosok yang semangat, tegar dan kuat. Aku semakin merasa bersalah mengingat akan adanya kanker ditubuhnya semenjak aku kecil.
            Sejak saat itu aku bertekad untuk menemukan titik permasalahan ini. Aku kuat seperti ibu. Kemungkinan apapun yang akan terjadi, akan aku hadapi.
            Hari-hari terus berlalu, dan kakak kelasku tak lagi menyindirku. Mereka tahu aku tak bersalah dan semua masalah ini hanyalah salah paham. Mereka mengira bahwa akulah yang berkata jika pasti diterima menjadi paskibra PKA, karena kau sudah pernah terpilih menjadi paskibra semenjak duduk di kelas tiga. Padahal ketua gudepkulah yang mengatakanya, tidak lain hanya untuk menyemangatiku supaya tidak pesimis. Aku lega masalah ini selesai juga.
            Dan kini aku berdiri disisni. Paskibra PKA. Aku terpilih menjadi ketua kelompok merah karena tak ada lagi yang sama dengan tinggi badanku. Kakak pelatih bilang jika aku masuk barisan akan merusak barisan, karena badanku yang menjulang tinggi.

            Terimakasih Allah atas kesempatan ini. Berilah ibuku umur yang panjang supaya  aku bisa membuktikan, akulah yang terbaik baginya.
(By:Shofi Rahmawati)


Leave a Reply

Powered by Blogger.