Aku masih terlalu belia untuk hidup sendiri. Dua belas tahun terlalu kecil untuk berpisah dengan orang tua. Tapi tak apa, keberadaan kakakku yang juga ketua rayonku sangatlah membantuku.
            Semua berawal dari watakku yang tidak suka dibandingkan dengan orang lain. I was born to be my self. Aku juga tak menyukai bahas, bahasalah yang selalu membuatku dibandingkan dengan kakakku yang bernotabene sebagai bagian bahasa pusat setelah kenaikan pengurus. Tak terhitung, sudah berapa kali aku tertangkap bagian bahasa pusat.  Dan sekali lagi nama kakakkulah yang diungkit meski dia sudah tak berada disini. Aku benci bahasa, yang seolah menjadi jurang antara aku dan kakakku.
            Tahun selanjutnya, semakin sering aku keluar masuk bagian bahasa. Seolah semua orang memberiku perhatian lebih saat aku berbicara. Entahlah aku tak tahu darimana mereka mendengar ucapanku, yang pasti aku masuk persidangan. Aku makin benci bahasa, seolah menyepelekan aku di depan orang lain. Bahkan sempat aku sombong akan bahasaku, aku merasa sudah bisa memahami pelajaran tanpa bahasa, merasa tak butuh akan bahasa yang selama ini menjadi “mahkota” Pondok.
            Pun aku dinobatkan menjadi Queen of Language ditahun keempatku tak lantas aku cinta dengan bahasa. Bukan untuk apa, aku mengikuti lomba ini karena ingin membayar kegagalanku di Festifal Santri Intelek. Aku tak cukup puas untuk menjadi kontengen zone, aku ingin menjadi kontingen utama.
            Aku tetap benci bahasa., hingga kerudung pelanggaran bahasa tersampir di kepalaku dengan alasan bahwa ratu tak boleh berbahasa Indonesia. Aku bisa menerimanya, tapi tidak untuk membawa nama kakakku dalam masalah ini.
Aku makin benci bahasa. Bahkan ketika aku dijadikan ketua penerjemah teks Drama dalam acara GSD (Gebyar Seni Darussalam). Aku hanya butuh menerjemahkannya. Baiklah, tugas ini aku terima. Sekedar menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab dan Inggris. Bukan berarti aku harus mengucapkannya kan?
Menjadi ketua bagian bahasa rayon pun tak membuatku bergeming. Memang, aku mulai memakai bahasa, tapi hanya di depan para anggota, aku terlalu benci untuk terus memakainya setiap hari. Dia yang telah mengambil waktu berhargaku dengan bayangan harus seperti kakaku. Aku tak bisa menjadi orang lain.
Siapa sangka aku bisa menjadi bagian pengajaran  di OPPM. Bagus…setidaknya aku tak harus berbahasa resmi, hanya saat persidangan sajalah aku menggunakannya. Aku hampir tak pernah berurusan dengan bahasa.. hingga datang masa Revormasi kepengurusan. Aku dipindah tugaskan menjadi bagian peningkatan bahasa (Language Improvement Section). Ini mimpi buruk sekaligus bencana bagiku. Semuany tahu aku tak akan menyukainya. Semua orang paham aku sangat benci dengannya.tapi kenapa harus aku? Masih banyak orang yang menginginkan bagian ini, dan itu bukan aku. Aku tak bisa memaksakan diri untuk menyukainya. Ah…seandainya bumi bisa terbelah aku berharap aku sudah lenyap dilumatnya. Kini terlintas bayangan bahasa yang harus aku gunakan setiap hari, bahkan harus menghukum anak-anak yang tak menggunakannya, seperti aku ini. Ini mustahil kulakukan. Aku tak akan bisa.
            Segala acara kebahasaan terpaksa kuhadiri. Dengan dalih sang mantan CLI harus tetap terjun di acara-acara sepert ini. Aku makin benci bahasa. Beban untuk selalu berbahasa makin melekat padaku dan tak mungkin bagiku unutuk melepasnya. Aku tak ingin terus membencinya, tapi untuk mencintainya pun juga sungguh hal yang sulit.
            Hingga datang dimana aku menyadari kesalahanku selama ini. Bukan bahasa yang patut kusalahkan. Bukan bahasa yang pantas kubenci. Bahkan bahasalah yang telah mengajarkanku bahwa banyak hal-hal penting di dalam pengamalannya. Betapa bahasa menjadi kebutuhan pokok kita, bagaimana bahasa menghubungkan kita dengan dunia. Dan betapa aku kini sangat bergantung padanuya.
            Namun satu hal yang masih mengganjalku, perbandingan. Bagaimana orang lain membandingkanku dengan kakakku dan dengan segala keistimewaanya. Bagaimana bisa mereka membandingkan aku yang masih duduk di kelas satu dengan dia yang berada di kelas lima? Dan bagaimana mungkin aku yang masih duduk di kelas dua dibandingkan dengannya yang telah duduk di kelas enam? Mereka hanya membandingkan aku yang ada sekarang, tanpa memberikan peluang untuk waktu yang datang dan membuktikan. Tunggulah sebantar, hingga aku berada di posisi kakakku. Maka bandingkan, dan kamu tak akan menemukan suatu kesamaan antara diriku dan kakakku. Karena aku bukan dia.
            Aku sangat sadar, semua orang dilahirkan dalam kodrat yang berbeda-beda. Bahkan anak yang terlahir kembar pun belum tentu memiliki sifat yang sama kan. Dan aku lahir untuk menjadi diriku, bukan menjadi seperti kakakku. I wasn’t born to be the other. Dan aku tahu diriku sekarang, aku tidak membenci bahasa, aku tak pernah membencinya, tapi aku hanya tak menyukai mereka yang melihatku dari segi kebahasaan saja, karena aku tahu betul aku sangat menyukai dan mencintai bahasa.
           (By. Alfi Ramadhani)
           



Leave a Reply

Powered by Blogger.