Menjadi pengurus rayon bukanlah hal yang mudah seperti apa yang aku pikirkan di tahun-tahun sebelumnya. Dan kini aku benar-benar merasakan gesekan naluri yang menjadikanku lebih dewasa karena peranku sebagai seorang pengurus.
            Janji suci untuk menjadi pengurus yang baik untuk menegakkan disiplin telah terucap. Apapun bagian yang kita teriman, itu lah yang akan kita jalani.Bagian keamanan rayon. Itulah garis yang telah ditetapkan untukku. Bagian yang menuntutku untuk bertindak tegas tanpa meninggalkan rasa kasih sayang bagi adik-adik. Aku harus bisa mengayomi mereka.
            Aku sangat menikmati peranku sebagai penegak kedisiplinan. Semua itu memberiku banyak manfaat dalam meningkatkan kwalitas diri. Sebagai bagian keamaanan tentu aku harus menjadi contoh yang baik ubtuk anggota rayonku umumnya dan diriku sendiri khususnya.
            Dua bulan aku lewati kepengurusan ini bersama teman angkatanku di rayon qotar. Semua hal kita lakukan bersama, makan, belajar, rapat, diskusi atau hanya sekedar kumpul-kumpul berbagi cerita semuanya kita lakukan bersama. Bahkan menangis dan tertawa pun kita lakukan bersama.  Aku ingat saat itu ada ketidakcocokan diantara kami, para pengurus rayon. Kita sadar betul masalah tidak akan selesai jika tek segera diselesaikan. Konsekwensi pekerjaan harus tetap dijaga, namun jika hati tak senada maka hasilnya pun tak akan semaksimal seperti apa yang dilakukan dengan hati. Hati dan fikiran haruslah senada dalam hal apapun. Kita menangis bersama di kantor yang juga berfungsi sebagai tempat curhat bbersama. Ah.. semua pasti baik pada akhirnya, aku tahu itu. Masalah pun teratasi. Dengan persatuan masalah apapun pati akan terselesaikan.
            Sebuah bagian dari bagian informasi, yang mengharuskanku datang ke kantor pengasuhan. Ada apa ya kira-kira? Apa aku melakukan sebuah kesalahan sampai dipanggil segala?  Apa kata anggota rayonkku nanti jika tahu bagian keamanan yang biasanya menasehai mereka dipanggil ke pengasuhan karena melanggar? Ya Allah aku tak mau memberi contoh buruk bagi mereka.
            Terdiam dalam langkah menuju  kantor pengasuhuan. Disana terlihat beberapa temanku yang juga dipanggil bersama dengan namaku. Mereka melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas dengan senyuman kecil itupun sdikit aku paksakan.
            Selembar kertas sudah ditanganku, ini angket riwayat hidupu di pondok, pikirku. Diatasnya berisi kolom-kolom yang harus aku isi seluruhnya. Salah satunya adalah kolom prestasi yang pernah aku raih selama di pondok. Apa yang  harus aku tulis disini? Toh aku tak punya prestasi yang patut aku banggakan selama ini kecuali pengalamanku yang hanya pernah menjadi staff bagian penerimaan tamu waktu aku di kelas empat. Aku isi kolom-kolom itu semampuku tanpa menambah ataupun menguranginya.
            Sepulangnya aku dari kantor pengasuhan, aku dikeroyok dengan berbagai pertanyaan yang haya membuatku samakin bingung.
“Anti kenapa dipanggil ke kantor ri’ayah Mi?”
“Salah apa ya sampai dipanggil sama qismu i’lam?”
Aku tak menjawab karena aku pun tak tahu jawabanya, yang aku tahu cuma disuruh mengisi kolom-kolom identitas, “mungkin identitasku kurang lengkap makanya disuruh mengisi lagi..”aku sedikit berbohong untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang lebih rumit karena aku tak menginginkan itu.
            Namaku terdengar lagi dari bagian informasia, dengan tujuan yang sama , kantor pengasuhan. Apa lagi yang akan terjadi padaku?aku tak tahu dan apapun itu yang pasti ini tak akan seperti apa yang aku ingikan. Aku tak ingin hidupku berubah saat ini, aku cukup bahagia dengan kehidupanku yang sepert sekarang ini.
            Satu ustadzah dari staff pengasuhan menyodorkanku kertas seperti sebelumnya. Namu ini berbeda, ini bukan kertas yang berisi kolom-kolom kosang yang harus kuisi seperti kemarin melainkan surat keputusan bahwa aku telah disahkan menjadi pengurus OPPM, tepatnya menjadi bagian penerimaan tamu seperti staff yang aku dapat saat kelas empat dulu. Aku belum bisa percaya dengan kejadian ini. Dan hidupku akan segera berubah.
            Rasa kaget ini belum bisa kuatasi. Aku menerima keputusan ini dengan sedih, takut, bingung, sekaligus bangga aku biberi amanat untuk menjadi kader bagian penerimaan tamu di sebuah organisasi yang memang sudah aku inginkan semennjaka aku kelas satu. Tapi di sisis lain aku harus maeninggalakan rayon dan teman-temanku sekaligus anggota yang sudah aku anggap adikku sendiri. Aku harus menukar kehidupan yang aku cintai dengan kehidupan bersama kakak kelas yang menjadi parter kerjaku dalam bagian baruku. Aku belu percaya dengan hal ini.
            Resah, itulah yang aku rasakan menanti waktu yang telah ditentukan oleh pengasuhan. Kepindahanku ke kamar baruku membuatku takut. Aku takut jika aku tidak diterima oleh kakak kelasku, aku takut aku tak bisa menjaga sikapku, aku takut tak bsa menjalani tugasku sabagai kaer dengan baik, aku takut tak bisa menjadi sosok ideal bagi teman-temanku kelak. Aku takut.
            Sadarku bahwa berhasil tidaknya bagian ini akan ada ditanganku. Aku harus menyerap ilmu dari kakak-kakak sebanyak mungkin. Aku tak mau melewatkan setitik ilmu dalam bagian ini. Aku harus maksimal.
            Kakak kelasku menerimaku dengan baik. Mereka pn mengajariku dengan penuh kesabaran. Ini tak seburuk pikiranku rupanya.
            Bulan berganti tanpa terasa, dan aku sudah terbiasa dengan kehidupan baruku. Makan bersama kakak kelas, tidur, antri, bercanda, belajar, semua kulakukan bersama mereka. Kehidupan baruku menyenangkan. Tapi ada kalaya aku merindukan kebersamaan dengan teman-teman angkatanku. Aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan. semuanya dilakukan bersama. Salah satu hal yang membuatku merasa sendiri ketika mereka bercerita tentang teman-teman mereka, angkatan suasana kelas dan sebagainya. Aku pun ingin baerbagi berbagi cerita dengan temen-teman sengkatanku.
            Belajar malam kali ini aku mendatangi rayonku yang dulu, aku rindu teman-teman. Aku menceritakan segala keluh kesah yang mengganjal diriku. “ Ingin rasanya ku menetap lagi disini, tidur dengan kalian, berangkat sekolah bareng, sholat ke masjid bareng-bareng juga, aku ingin sama kalian,” isakku pecah. Aku menangis di pelukan sahabat-sahabat terbaikku yang telah ku tinggalakan.
            Nasehat dan petuah mereka sangat menenangkanku. Aku tahu meski aku tak lagi bersama meraka, mereka selalu ada untukku, mereka menyayangiku, bahkan mereka juga sangat merindukanku. Aku terharu mendengarnya.
            Bulan berlalu begitu cepatnya. Dan tongkat estafet Gontor harus tetp berjalan. Patah tumbuh hilang berganti. Motto inilah yang membbuat Gontor tetap exis dengan kuriulumnya. Waktu pergantian pengurus pun tiba. Sedih dan takut saat kakak-kakak akan meninggalkanku. Sama takutnya seperti ketika aku masuk bagian ini untuk yang pertama kalinya. Dan rasa takut ini semakin menjadi saat aku tahu aku akan menjadi ketua dari teman-temanku nantinya.
            “Apa aku bisa menjadi ketua yang baik kak, aku tak sebaik kalian” kataku pada kakak kelasku.
            “Bisa Ami, kia dulu juga kaak gitu, takut gak bisa menjadi seperti apa yang diharapkan, khususnya ana, ana  juga pernah merasakakn apa yang anti rasakan sekarang Mi, kita siap bantu antuna kalau ada yang belum antuna pahami, jangan sungkan minta tolong ya! Anti bisa Mi!”petuah kak Ihda sangat memberiku perubahan untuk menghadapi realita hidup ini.
            “Ana akan mengamban amanat ini kak, semampuku,” aku berjanji ke kak Ihda.
            Hari-hari telah kujalani semenjak kepergian kakak-kakakdari kamar ini. Sekarang yang aku lihat adalah lemari-lemari teman-temanku. Aku ingat bagaimana sedihnya aku dulu, jika kakak-kakak berbara tentang angkatan merekayang tidak aku pahami, aku akan segera menyingkir ke depan lemariku dan melakukan aktivitas tang aku sendiri tak perlu merencanakanya.
            Kini kamar ini menjadi surga kecil bagiku, bagi kami, kamar yang melihat pertumbuhanku, kegelisahanku, dan sekarang dia melihat bagaimana aku temukan kembali kebahagiaanku bersama teman-temanku. Dan pastinya tak ada lagi acara menyendiri di depan lemari seperti yang sering kkulakukan dulu saat bersama kakak-kakak. Hanya dua harapanku saat ini, pertama dapat menciptakan kebersamaan yang indah bersama teman-teman rekan kerjaku, dan yang kedua ialah dapat maksimal dalam menerima amanat ini. Karena aku tahu kepercayaan itu sulit di dapatkan, jadi menjaga kepercayaan ituah yang harus kami perjuangkan saat ini.
            Dari sinilah aku sadar akan pentingnya komunikasi yang baik antara kami. Merekalah yang mempu melukiskan senyuman di bibirku. Terima kasih untuk kalian semua atas kerja sama yang terjaga hingga akhirnya kita bisa menyelesaikan tongkat estafet Gontor. Kemampuan yang kita miliki memang tak seberapa namun kepercayaan yang kita punya mampu mengalahkan segalanya. Terima kasih ya Rabbi atas segala nikmat yang Engkau limpahkan pada kami, pertolongan-Mu lah yang selalu mengiringi langkah kami. Meski berliku dan curam tapi baik pada akhirnya. Jika itu tidak baik maka itu bukanlah sebbuah akhir.


            (By. Halida Umami)


Leave a Reply

Powered by Blogger.