Barusan tadi aku pulang dari menjenguk adik di pondok yang tak terlalu jauh dari tempatku. Dapat ditempuh dengan dua kali naik bis kecil. Bersebelahan dengan simbok kopda, aku hanya bisa diam melihat seorang ibu membawa tiga balon yang masing-masing terikat di sebuah lidi. Tentu tahu balon yang dapat dibentuk apa saja. Berbentuk kepala, kemudian dihiasi balon juga yang dibentuk seperti mahkota, dan aneka bentuk lainnya. Tak lama ibu itu turun. Dengan kepayahan membawa belanjaan, tiga balon dan tiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana raut muka ibu itu? Tak ada satu pun rasa lelah. Anak-anak tadi bergelayutan memaksa ibu untuk memberikan balon agar dipegang sendiri. Anak-anak itu bahagia hanya dengan sebuah balon.
lama kumencari makna bahagia. Bisa jadi bahagia saat merasa puas. bisa jadi bahagia hanya dengan merasakan segala hal yang ada di dunia itu sebuah kenikmatan yang patut disyukuri. Bisa jadi bahagia karena aku sendiri yang menentukan bagaimana diriku untuk bahagia. Dan anak kecil itu memilih bahagia dengan sebuah balon. Namun aku juga sering melihat orang dewasa yang juga dapat bahagia dengan mudahnya hanya dengan melihat orang yang disuka (padahal belum tentu orang yang disuka itu merespon), melihat benda berkilauan (memangnya benda tersebut dapat mengabulkan permohonan?), dan lain sebagainya. Hal-hal remeh, bahkan terkadang tak masuk akal itu termasuk kebahagiaan orang dewasa. tak usah dipertanyakan mengapa dapat bahagia hanya seperti itu, karena itu mungkin cara mereka untuk dapat hidup bahagia. Hak orang. Tak usah diusik. 
Sepertinya aku dulu juga bahagia dengan balon, clay yang dapat dibentuk, boneka beruang yang berhasil kugunting agar bulunya dapat lebih lebat, dan hal remeh lain. kalian juga pernah, kan?


Leave a Reply

Powered by Blogger.