Siapa pula yang sempurna di dunia ini selain Ia yang menciptakan kita? Dikira telah mengambil yang tepat, toh pernah juga merasakan penyesalan. Wajar saja. Kembali ke pasal di atas. Karena manusia tidak sempurna. Namun dengan begitu, apa haruskah kita menyesal berkepanjangan? Berpikiran super. Menyesal boleh, namun jangan terlalu lama. Naluriah sebenarnya, tapi jika berkepanjangan akan terlihat wujud ketidaksyukuran kita.
Wujud rasa syukur itu banyak. Seperti motif seseorang bahagia yang sebelumnya pernah kutulis. Tak usah banyak kata, cukup dalam hati saja. Mensyukuri bisa juga menikmati. Mensyukuri bisa juga memberi. Mensyukuri bisa juga menghargai. Dan masih banyak macamnya.
Tak usah pikirkan bagaimana nasib orang lain. Jangan berpikir bahwa hidup kita adalah yang paling banyak masalah, nestapa, sedangkan orang lain dapat melalui hidup tanpa masalah dan sempurna. Kita mungkin tak tahu bagaimana orang lain itu melalui cobaan versinya. Bisa jadi lebih berat dari cobaan yang kita lalui. Bayangkan saja seperti dalam perlombaan lari. Padahal jarak yang dilalui sama, tapi tetap saja ada yang di depan dan belakang. Apakah dengan begitu jarak yang dilalui orang yang berada di posisi depan lebih pendek dengan yang berada di posisi belakang. Sama saja. Mungkin yang membedakan adalah bagaimana menyikapi jarak tersebut. Ada yang bersiap-siap. Ada yang pemanasan.

Menjadi manusia harus dapat pandai-pandai bersyukur. 


Leave a Reply

Powered by Blogger.