Bagian Keamanan 2012. Keluarga keduaku di pondok ini. Dimulai dari sebuah amanat besar yang membebani pundak kami, seakan kesatuan pohon beringin yang sangat besar. Itulah yang kami rasakan ketika menginjakkan kaki pada sebuah bangunan tua di pondok ini. SYANGGIT. Itulah kediaman beruku sekarang. Kamar dua Syanggit yang terkenal dengan keangkerannya dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menembus beberapa pintu di dalamnya.
Takut, bingung dan tak percaya. Apa benar itu profesiku kini? Tak pernah terbesit sebelumnya, bahkan tak pernah bermimpi untuk bisa memasuki kamar dua Syanggit. Bingung. Itulah yang selalu menghantui hidupku, apa yang harus aku lakukan untuk menjalankan perputaran kehidupan dan keamanan pondok tercinta ini. Dengan begitu banyaknya tugas-tugas besar yang sebenarnya berat kami pikul. Sedangkan jika dipikir, siapa kami? Kami tidak memiliki Doraemon  yang bisa melakukan sesuatu dengan mudahnya. Kami juga bukanlah seorang Nabi yang dapat dituntut menjadi sosok yang sempurna dalam segala hal. Kami bukan juga seorang tentara yang dapat menjaga pondok setiap saat. Namun kami hanyalah seorang perempuan biasa yang memiliki ketakutan, kelemahan dan rapuh. Kami hanyalah siswi KMI biasa seperti yang lain, memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama.
            Tak jarang kami harus mengorbankan kepentingan pribadi dengan kepentingan pondok. Harus meneteskan air mata dikala kami diterpa berbagai macam permasalahan yang disertai dengan tugas-tugas berat terpikul pada pundak kami. Membuka mata sebelum warga Darussalam terbangun dari lelap tidurnya, dengan berat kami harus mengayuh sepeda tua kami dalam keadaan setengah hidup, menyebar menuju seluruh penjuru pondok. Dengan kekuatan yang belum dapat terkumpul sempurna, kami membangunkan santri-santri di rayon. Memukulkan tongkat ke pintu yang menimbulkan efek berisik luar biasa, kotak sandal, sementara suara kami juga terbatas. Berteriak dan saling bersahutan satu sama lain. Inilah pekerjaan kami setiap pagi bahkan fajar pun belum menjelang. Belum lagi untuk menggiring tiga ribu santriwati untuk pergi ke masjid dengan kami yang hanya berjumlah dua belas orang. Laa haula walaa quwwata illa billah.....
            Pagi itu tugas kami berlanjut mulai dari harisah nahar (piket rayon), membagikan tasrih (kartu perizinan tidak masuk kelas karena piket), penjaga gerbang, menjaga paket di kantor administrasi, dan memukul jaros (bel) tanda pergantian jam pelajaran.
            Jaros. Teringat akan kenangan yang takkan pernah aku lupakan. Kami harus dijemur berdua belas dan salah satu diantara kami memakai kerudung pelanggaran KMI yang berwarna merah kotak-kota dan hijau tua. Dikarenakan ia yang terlambat memukul jaros dan kami yang lalai untuk mengingatkan. Sebenarnya ingin teratwa. Biasanya kami yang menjemur orang, kini giliran kami yang dijemur. Setelah semua santriwati turun dari masjid setelah shalat dzuhur, semua mata memandang ke arah kami dengan pandangan hina berikut celotehan dan cacian yang terlontar. Sportif. Tak boleh mengingkari. Ini semua kesalahan kami yang memang harus dipertanggungjawabkan. Setelah kejadian ini bila mendapat piket memukul jaros, maka yang ada di otak kami hanyalah jaros, jaros, jaros, tak dapat tenang untuk belajar bahkan untuk tidur di kelas. Selalu kaget bila ada yang mengagetkan bahwa jaros tinggal lima menit lagi. Terlebih bila saat itu bertepatan dengan jadwal harisah lail (piket jaga malam). Rasa kantuk sudah tak bisa terbendung lagi. Setiap kali ada Ustadzah yang bertanya, teman sekelasku yang perhatian pun membela,
            “Asifan ustadzah, ba’da  harisah lailiyah(kasihan ustadzah, habis jaga malam).”
            Bila terlambat walaupun dua menit saja, kami harus terima omongan orang dan menunggu panggilan dari ustadzah KMI.
            Daur shalat lima waktu setaiap harinya. Bila sepulang sekolah lelah dan ingin tidur-tidur sebentar, tapi kami langsung bersiap-siap untuk daur walaupun yang berhalangan. Lima menit istirahat bagaikan waktu yang sangat berharga. Bila kami terlambat daur, maka seluruh santriwati pun akan terlambat untuk menunaikan shalat.
            Banyak cerita ketika daur shalat. Jatuh dari sepeda, sarung yang melorot, menginjak sandal adik-adik sampai putus, menabrak, dan lain-lain. Kalau tidak punya mental yang kuat, tentunya tidak akan dapat berdiri di tengah jalan dan memukuli serta meneriaki adik-adik yang terlambat satu per satu.
            Kalau dipikir, siapa pula yang ingin berjalan dengan memasang muka seram tanpa mengobrol dengan yang lain? Kami pun ingin berjalan layaknya teman-teman yang lain. Sambil tersenyum, riang, dan tertawa. Pergi ke mini market, wartel, ataupun kafe.
            Daur maskan tiga kali sehari selayaknya meminum obat. Sampai mereka sepertinya bosan melihat kami. Pagi buta siapa yang mau disuruh mengepel, membersihkan selokan, menyapu halaman dan lain-lain. Sebenarnya tidak tega melihat mereka, namun bagaimana lagi? Ini adalah tugas. Tak jarang sandal kami disembunyikan, pura-pura terlempar saat merapikannya. Itulah kejadian-kejadian lucu yang kami alami dan masih banyak lagi cerita dari sebelas temanku yang lain.
            Tak jarang perdebatan dan perselisihan mewarnai kehidupan kami. Terlebih bila salah seorang dari kami ada yang marah, sepertinya pintu kamar kami yang reot kesakitan karena menjadi korban pelampiasan kami dengan membantingnya. Bayangkan saja, dua belas orang yang semuanya keras dicampur menjadi satu. Walaupun sebelum menjadi Bagian Keamanan ia adalah orang yang lembut, namun setelah menjabat mau tak mau tertular juga sifat keras itu. Bila semua panas maka apa yang akan terjadi? Kebakaran.
            Sering pula kami harus mendengarkan bentakan, marahan, caci maki dan hinaan yang ditujukan pada kami. Seakan telinga kami tebal dan terbiasa mendengarkan semua itu. Bukan hanya dari anggota, tapi teman seangkatan pun pernah menghina.
            “Eh, ada setan lewat, tuh!”
            Aku sangat kaget ketika pemeriksaan baju besar-besaran. Semua caci maki terlontarkan pada kami. Hari itu Sabtu. Aku masih sangat ingat jam pertama aku tidur di kelas dan di sampingku Hana. Kita sama-sama tidur di kelas, Aisyah 105. Tiba-tiba ketika jam kedua ada kejadian aneh. Semua kelas kosong. Tak ada satupun ustadzah yang masuk. Dan tiba-tiba lagi, ustadzah pengasuhan datang untuk memanggil kami berdua. Kami pulang dan membawa buku-buku kami. Aku masih bingung. Ada apa dengan semua ini? Saat kakiku melangkah keluar, aku baru tersadar bahwa hari ini adalah pemeriksaan baju besar-besaran. Aku melihat banyak ustadzah pengasuhan yang berjaga di setiap ujung jalan. Kelas enam pun berteriak histeris sambil menghujat seluruh Bagian Keamanan.  Jujur, kami bingung. Kami hanya ditugaskan untuk menjaga setiap sudut jalan.
Jam istirahat....
Entah kabar dari mana, semua warga Darussalam panik dan kami pun ikut bingung. Setelah bel dipukul dan semua santriwati kembali ke rayon masing-masing, tugas kami selanjutnya adalah keliling pondok. Untuk apa? Untuk menemukan tempat penyembunyian baju-baju terlarang. Sementara pemeriksaan di rayon diserahkan kepada ustadzah pembimbing.
            Begitu banyak trik-trik warga Darussalam untuk menyelamatkan baju-baju mereka. Ada yang menyembunyikan di tong sampah, underground auditorium, luar gerbang belakang, atas genteng, menyangkut di pohon, dalam kamar mandi yang rusak, bak mandi rusak, di bengkel dekat tailor, di semak-semak, di gudang, kelas, bahkan di rumah madamat.
            Setelah kejadian itu seakan semua warga Darussalam membenci kami. Bahkan teman-teman kami sendiri sampai tega untuk menyindir kami. Pantas saja jika kami takut. Dimanapun kami berada kami selalu disindir. Sepertinya tidak ada yang ingin berteman dengan kami.
            Seminggu setelah itu smeua berjalan seperti biasanya. Tugas kami selanjutnya adalah membersihkan dan menjadikan kantor ri’ayah bersih dari baju dan barang-barang sitaan. Bukan hanya sepuluh atau seratus baju, tapi mencapai lima ribu baju. Bayangkan, kami harus membersihkan itu semua selama seminggu. Dari pagi, siang, sore, malam. Hanya itulah pekerjaan kami. Sedangkan seminggu lagi kami harus mempersiapkan diri untuk ikhtibar. Aku sempat menangis. Menahan semua rasa. Lelah, ngantuk, belum belajar, semua menjadi satu. Sampai-sampai kami harus makan nasi goreng di dalam ri’ayah pada Jum’at pagi.
            Satu kejadian besar lainnya. Ingatkah kalian dengan FSI? Yah, kasus pencurian besar dan berantai. Hingga saat ini pun belum terkuak. Ketika masuknya pencuri pada saat belajar malam, kami pun harus mengejarnya hingga ke semak-semak belakang aula. Dalam keadaan gelap pun kami berusaha untuk menangkapnya. Bak seorang polisi yang meringkus penjahat.
            Beberapa hari selanjutnya Darussalam dipenuhi dengan kecemasan akan datangnya kasus-kasus pencurian yang tak bisa dipecahkan. Darussalam gempar. Entah sampai kapan kasus ini akan berlanjut.
            Satu malam yang sangat menyedihkan dan tak akan pernah kami lupakan. Kami disidang habis-habisan oleh staf pengasuhan. Dimulai setelah shalat Isya’ hingga jam dua belas malamm kami dibentak, dimarahi, dan diancam untuk keluar dari pondok ini. Bayangkan, semua ustadzah ri’ayah duduk di kursi dan kami duduk di bawah. Disidang habis-habisan yang berakar dari sebuah kesalahpahaman. Dan aku harus menetap di ri’ayah. Sedangkan teman-temanku yang lain diperbolehkan pergi. Aku takut, bingung, sedih karena aku harus diintrogasi lebih dalam serta memilih orang-orang dari kami yang akan diturunkan saat itu juga. Apa yang harus aku lakukan? Dan ketika aku hanya terdiam dan tak menjawab, aku dibentak.
            “Min, kami nggak butuh diam kamu!!!”
            Di tengah kebingunganku itu, untunglah masih ada dua temanku. Ketua OPPM saat itu, Masyitoh dan Lathifah. Mereka berdua membantuku untuk meyakinkan mereka semua. Jika kalian tahu apa yang ada di hatiku saat itu, aku pun tak tahu harus berbuat apa.
            Pukul dua belas tepat, aku kembali ke kamar. Saat itu juga aku mengayunkan tanganku untuk memukul bel tanda jam dua belas malam. Kubuka pintu kamarku dan kudapati teman-teman telah terlelap tidur. Mereka terlalu lelah setelah menangis. Begitu juga aku. Tapi aku masih berfikir, bila semua tidur maka siapa yang akan menjaga malam hari ini? Namun aku pun tak kuat bila harus berjaga sendiri. Untunglah ada Lathifah dan Okta dari Bagian Pengajaran yang rela menggantikanku untuk berjaga malam ini. Itulah malam yang paling menegangkan.
            Dan masih banyak kenangan-kenangan lain yang tak pernah terlupakan sampai kapanpun. DG (Dangerous Gang) adalah keluarga keduaku di pondok ini. Terkadang semua kesemangatan dan kebersamaan harus dibayar dengan kekecewaan, bentakan dan marahan. Seakan semua pekerjaan dan usaha keras yang kami lakukan tak berarti sama sekali.
            Maafkan kami. Jika kami tak sehebat mereka sebelum kami. Hanya inilah kemampuan yang dapat kami usahakan. Dengan sekaut tenaga kami mengorbankan segalany demi menjaga keamanan pondok ini. Dari sinilah aku belajar untuk menjadi seorang yang tangguh dalam menghadapi hidup. Semoga Allah menerima segala usaha kami. Miss you all!!!
            Remember our motto? DICIPLINE IS OUR BREATH.

 By. Mien Amrina Rosyada


Leave a Reply

Powered by Blogger.