Aku bukanlah orang yang berlebih, tapi dibilang kurang juga tidak tepat biasa saja memang. Jajan saja aku tak berani banyak-banyak. Hanya secukupnya dan jika perlu. Dari situlah aku pandai mengatur masalah finansial.
            Pertama kali aku masuk sini.aku sama sekali tak tahu apa itu gontor. Yang ada di venakku hanyalah pondok biasa yang memakai dua bahasa sebagai bahasa pengantarnya. Ternyata aku salah. Gontor adalah tempat yang hebat. Bagaimana tidak, dengan umurnya yang sudah tak muda lagi ia masih bisa menyedot murid dari berbagai kalangan. Dimulai dari kalangan bawah, menengah seperti aku, dan kalangan bonavit yang punya segalanya. Semuanya ada ditempat ini, GONTOR.
            Awalnya aku tak kuat dengan kebiasaan ini. Dengan banyaknya tempat jajan dan juga teman-teman yang gemar membeli jajan, sebagai manusia biasa tentunya aku juga ingin melakukannya.meski bukan sifat asliku yang seperti itu.
            Tak sekedar bingung, aku pun berniat untuk meninggalkan tempat ini. Aku tak bisa lagi mengontrol diriku. Aku terjerat dalam lingkup kehidupan borju yang ditawarkan teman-temanku. jikalau bukan teringat atas kerja keras orang tuaku melayani pembeli setiap hari. Ya, aku hanya anak tukang bakso dan mie ayam di kotaku, Medan. Aku tak sampai hati meminta pulang kepada mereka, begitu banyak anak-anak yang ingin menempati posisiku disini. Sedangkan aku malah ingin pulang dan melepas posisi ini hanya karena masalah jajan. Sungguh tak etis pikirku.
            Tak semudah membalikkan telapak tangan memang, butuh niat dan perjuangan besar untuk melawan hawa nafsu. Untuk menyiasati semua ini aku berusaha menyibukkan diriku dengan berbagai   kegiatan. Untunglah aku diterima menjadi kelompok Da’iah cilik dalam staff JMK. Yang mengharuskanku membuat tiga teks pidato dengan tiga bahasa dalam seminggu. Belum lagi harus memeriksakannya ke bagian bahasa pusat, serta mengahafalnya hingga diluar kepala. Tak hanya berhasil melakukannya, bahkan aku sukses membuat diriku meninggalkan tempat-tempat jajanan itu. Dan dari situlah muncul keinginanku untuk menjadi bagian pengajaran yang memang sudah dekat denganku semenjak menjadi JMK.
            Tak hanya keinginan belaka, kenyataan pun menyapa. Tepat saat pengukuhan OPPM, aku diamanati untuk menjadi bagian pengajaran. Alhamdulillah.
            Bagian ini telah menjadi separuh hidupku. Memang tak seperti bayanganku tentang bagian pengajaran yang terlihat seru dan menyenangkan. Ternyata lebih mengarah pada hal-hal yang menyedihkan namun penuh kesan. Banyak masalah yang aku temui disini, mulai dari kena marah dari pembimbing karena kerja yang kurang maksimal, bertengkar dengan teman, badan capek karena harus mengontrol kerapian shof sholat, hingga keliling pelajaran sore dan latihan pidato. Setiap detiknya mengandung arti, mengandung makna tersendiri. Melekat, menyatu dalam nafasku.

            (By. Tatik sujiati)


Leave a Reply

Powered by Blogger.