Egypt excursion programme. Acara yang baru bermula saat aku duduk di kelas tiga intensif. Tepatnya tahun 2010. Siapa pula yang tak menginginkannya? Mesir termasuk ke dalam list negara impianku yang patut dikunjungi setelah Makkah tentunya. Salah satu negeri yang mana di dalamnya terdapat universitas tertua yang merupakan salah satu sintesa pondok. Al-Azhar.
                Untuk mengikuti program ini tentunya harus melewati tes yang dilaksanakan di kantor KMI. Layak atau tidak untuk dibawa ke Mesir dengan beasiswa. Tes berupa Insya’ dan menjawab beberapa pertanyaan berbahasa Arab yang berhubungan dalam suatu bacaan yang diberikan.namun sayang, ternyata aku tidak lulus dari seleksi. Memang sainganku saat itu cukup berat. Pasrah dan tawakkal. Mungkin ini bukan rezekiku.
                Tak lama berselang, disebarkan pengumuman pendaftaran sebagai peserta studi banding dengan biaya sendiri. Biaya sendiri, berarti dua puluh juta. Bukan angka yang kecil. Nekat aku bertanya kepada orang tua, siapa tahu ini bisa dijadikan sebuah peruntungan.
                “Ayah.... ternyata masih ada kesempatan untuk bisa ke Mesir. Tapi....”
                “Kenapa?”
                Aku ragu untuk menjawab. “Biayanya dua puluh juta. Ayah lagi ada?”
                “Dua puluh juta ya? Tahun depan masih ada? Sekarang kebetulan lagi nggak ada uang.”
                Setelah beberapa kalimat aku menutup telepon. Menghentikan pembicaraan. Percakapan tadi tak perlu diteruskan lagi diteruskan. Aku tak ingin memaksakan kehendak. Mungkin masih belum rezeki. Mencoba mempasrahkan segalanya tanpa menyalahi suatu apapun. Seperti daun yang jatuhkan angin. Allah pernah berjanji, bila tak langsung dikabulkan, bisa saja diundur atau diganti dengan yang lebih baik. Aku tak ingin memikirkannya lagi, karena otak ini harus mulai konsentrasi pada belajar. Besok ujian lisan!
                Ternyata tidur semalam cukup untuk membuatku melupakan hal tersebut. Refresh pikiran lewat belajar boleh juga. Hari itu aku mendapat giliran nomor dua untuk ujian lisan di hari pertama.  
                Pagi buta aku mendapatkan telepon dari rumah. Telepon???? Tak biasanya aku ditelepon. Namun tentu ini adalah telepon dari rumah. Dengan membawa salah satu buku materi yang akan diujikan pagi ini, aku pun langsung menuju ke tempat penerimaan telepon yang terletak di gedung Bosnia bawah. Takut-takut orang tua akan telepon lagi dan aku belum datang. Ada apa gerangan?
                “Jadi mau ke Mesir?”
                Itu kalimat pertama yang diucapkan oleh Mama.
                Deg! Aku tak ingin berbesar hati dulu.
                “Ya kalau ditanya mau, ya iya. Memang ada uang?”
                “Setelah kamu telepon kemarin, ternyata mama dapat uang sertifikasi. Baru cair dan lumayan. Cukup untuk bawa kamu ke Mesir.”
                “Dua puluh juta?”
                Mama mengiyakan. Beliau juga memberikanku kesempatan menggunakan uang sertifikat tersebut asal bermanfaat. Karena rezeki tak akan pernah lari kemana.
                Tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke arah kantor KMI untuk kembali mendaftarkan diri. Tak terpikirkan lagi ujian yang menungguku beberapa jam lagi. Kekuatan doa? Mungkin. Kekuatan mimpi? Bisa jadi. Yang terpenting dari semua itu adalah kekuatan kasih sayang orang tua. Hingga doa kami muwaffiq dengan apa yang Allah takdirkan.

                Setidaknya uang tersebut tak akan menjadi sia-sia. Kumanfaatkan baik untuk menunjang mimpi, juga pengalaman yang tuntas sudah terbeli. Mesir..... semoga bertemu lagi!
(By . Lathifah)


Leave a Reply

Powered by Blogger.