Dalam sebuah perkumpulan, Dr.KH.Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, MA mengatakan, bahwa pondok Gontor itu dibangun dengan dua pandangan. Filsafat dan Hikmah. Sebenarnya apa perbedaan dari kedua itu sendiri? Dijabarkan secara singkat, bahwa orang-orang filosof yang mengusahakan sebuah pemahaman dari yang semula majhul ke ma'lum. Sedangkan Al-Hakim (Ahli  Hikmah), yaitu orang-orang yang selalu menjaga dengan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan (darsu-l-hayah). Filosof yang sesungguhnya adalah yang mengedepankan akal dan perasaan daripada iman. Baik-buruk sesuatu tergantung dengan selera masing-masing filosof itu sendiri. Sedangkan Al-Hakim menilai baik-buruk sesuatu tergantung dengan Allah, tapi kita sesuaikan dengan diri kita. Semampunya kita. Walau ada yang mengaku filosof agamis, tetap seenaknya saja tanpa mau ikut aturan agama. Bukan berarti kita tidak boleh menerima cara berfikir para filosof, namun harus sesuai. Filosof, tapi Al-Hakim. Al-Hakim, tapi Filosof. Dengan penggunaan iman, akal, dan hati yang seimbang. Metode siapa yang paling baik? Tentunya bila disesuaikan dengan gaya pengajaran di pondok, metode hikmah yang lebih mengena. Kenapa? Dalam makna tarbiyah sendiri, qudwah hasanah alias contoh yang baiklah metode paling efektif. Kita berlaku, berkata, memberikan darsul hayah dari refleksi kehidupan yang kita atau orang lain rasakan, daya lekat dan sentuh tentu lebih besar. Aku sendiri masih ingat bagaimana salah seorang guru menceritakan tentang masa galaunya, masa bahagianya, pelajaran yang dapat diambil dari tiap peristiwa dan geraknya.
Semoga dapat menjadi ahli Hikmah agar lebih bermanfaat.


Leave a Reply

Powered by Blogger.