MALDA. Satu-satunya nama yang terpaut di benakku tak ada yang lain. Aku hanya mendambakan staff ini semenjak kelas satu. Dan kini aku tersedu melihat sederetan nama yang tak mencantumkan namaku, Anistyorini. “ Kenapa bisa? Padahal aku yakin aku bisa menjawab semua soal, dan kemampuan konputerku juga mumpuni.”
                Tak mendapatkan apa yang kudamba, aku pun beralih mencari peruntungan lain. Tak beda jauh dengan MALDA, GILDA (Gudang  Ilmu Darussalam) juga menguji kemampuan literature kita. Hingga aku sampai di babak terakhir yang mengharuskanku untuk membuat satu karya ilmah dan mereferensi satu buku.  Aku gunakan tenaga ahli dari teman-temanku yang tak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia tulis menulis. Dhita dan Laila, dua master inilah yang mencurahkan semua kekuatan mereka untuk membantuku dalam referensi buku. “Ayo Anis, anti pasti bisa masuk. Ini udah ok kok!” kata mereka menyemangatiku.
                Aku serahkan hasil karya kami ke bagian perpustakaan. Yakin atas keberhasilanku dengan referensi ini, bagaimana tidak? Dhita dan Laila, mereka berdua adalah penulis terbaik di angkatanku dan keduanya juga sudah  resmi masuk menjadi angota MALDA. Dan aku tidak. Menyakitkan memang.
                “Anis, ini ada risalah buat Alfi, taruh diatas lemarinya ya!”
Hah, surat itu, surat pengangkatan sebagai staff perpus, alias GILDA. Terus suratku?
                Tangisku pecah. Kembali aku gagal dalam pencapaian mimpi hanya karena anak-anak rayonku memiliki masalah dengan bagian perpustakaan. Masalah berebut kamar mandi. Sepele memang tapi aku yang kini terkena imbasnya. “Kenapa aku yang kena, padahal mereka yang punya masalah.”  Aku tak bisa terima dengan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, surat pengangkatan terlanjur dibagikan.
                Kelas empat 2010. Aku telah berhasil menjadi staff bagian kesehatan. Tapi ada satu hal yang membuat keyakinanku akan staff ini goyah.
                “Anis, anti masih mau jadi staff qismu sihhah?  Udah lupa sama DKK ya?” kata kak Amel kepadaku.
                “Kaifa kaman kak, daripada gak dapet staff.”
                Piiranku kacau mengingat obrolan singkat dengan kak Amel tadi sore. Kak Amel, ketua gudepku, seakan memberi harapan jika aku meninggalkan staff baruku ini, aku bisa menjadi staff DKK. Bait-bait doa kuhaturkan kepada sang penentu arah jalanku. Aku sudah memutuskan.
                Aku mencoba mengikuti ujian menjadi DKK, bukan untuk apa-apa, tapi mungkin saja keberuntungan menyapa dan aku lolos dalam ujian. Siapa tahu? Selain aku ternyata juga banyak anak-anak dari gudepku yang mengikuti ujian ini.
                Tak seperti yang lain, aku mengikuti ujian ini tanpa persiapan. Aku takut akan sakit hati lagi seperti tragedi MALDA dan GILDA. Dengan sepenuh hati aku mengikutinya tapi hasilnya nihil. Jika sekarang aku mengikuti tanpa persiapan mungkin tak akan seberapa sakitnya jika nanti aku tak lolos.
                Sepanjang ujian ini aku ditemani oleh satu orang yang sangat simpati padaku. Afdilla, dialah teman berjuangku hingga babak terakhir ini. Dia yang dikenal sebagai anak yang supel dan suka membuatku tertawa. Namun bagiku dialah sahabat yang selalu ada jika aku membutuhkanya. Kami berjuang demi mendapatkan nama DKK. Ya, meski persiapanku tak begitu matang, aku tetap berjuang kan.
                Jam pelajaran kelima baru saja dimulai. Tiba-tiba datang ustadzah sektor Mabikori ke kelasku dengan secarik kertas didalam map batiknya.
                “Assalamu”alaikum wr. wb.”
                “Wa’alaikumsalam wr. wb.” Jawab kami serentak.
                “Nama-nama yang terpanggil di bawah ini, harap datang ke depan kantor Mabikori setelah Ashar.”  Ustadzah mulai memanggil nama-nama yang aku tahu pasti nama-nama anak yang diterima menjadi DKK.
                “Inayati....., Azkia...., ...” dan namaku tak disebut. Itu berarti aku tak diterima menjadi DKK. Aku kesal , padahal aku sudah melepas staff kesehatanku untuk mengikuti ujian DKK. Ternyata meski aku tak begitu berniat mengikutinya, ternyata yang namanya sakit hati itu pasti ada didalam kegagalan. Situasi ini sangat serasi dengan lagu yang barusaja kita dengarkan dalam pelajaran listening tadi. Judul lagunya “Trauble is a friend”. Lagu ini membuat hatiku semakin sakit, terasa teriris-iris, terblender dan lumat. Aku sesenggukan dalam perjalanan menuju kelas setelah mendengarkan musik di kamar ustadzah.  Inikah akhirku?
                Dalam keterpurukan yang mendalam ini masih saja aku sibuk dengan acara besar gebyar seni darussalam. Aku dianugerahi peran sebagai sutradara drama. Baguslah, setidaknyanaku tidak terlarut-larut dalam kesedihan akibat semua kegagalan yang aku alami.
                Semenjak itu aku bersikeras untuk menjadikan DK (Dewan Kehormatan) gudepku maju, lebih maju dibandingkan DKK. “Pokoknya kita harus lebih bagus dan unggul dari DKK, apaan itu DKK,” aku terlanjur sakit hati dengan skenario hidupku. Aku dan teman senasibku Ovi, telah bertekad untuk bangkit dan memajukan nama gudepku 17-62.
                Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya. Latihan drama yang bertemakan Spanyol. Ya, drama ini mengisahkan tentang pembakaran perpustakaan di Cordoba. Aku tahu betul cerita ini karena aku sangat antusias mendapat jabatan sebagai sutradara drama. Saat sedang asyik berlatih, salah seorang sahabatku memanggilku. “Anis, anti disuruh ke Koord sekarang, sama Syifa dan Kurnia juga,” dia berkata sambil tergopoh-gopoh. Aku terbawa suasana, dengan sedikit rasa panik kucari dua sahabatku itu, Syifa yang menjabat sebagai sutradara acara, dan Kurnia yang mendapat peran utama dalam Gebyar Seni Darussalam. Otomatis dengan kepergian kami bertiga latihan pun menjadi kacau. Ah...kita sangat bersalah.
                Gelap, hanya ada lilin-lilin yang mengelilingi gedung Afganistan, kantor Koordinator. Tak ada seorang pun disini namun sudah ada beberapa temanku yang sepertinya juga disuruh kesini. Tak selang beberapa lama kakak koordinator keluar dari kamarnya.
 “Sekarang semuanya berbaris!”   kak Hayun. Kami hanya bisa saling memandang mendengar perintah yang sangat tiba-tiba. Tak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya kami mengikuti aba-aba kak Hayun, ketua ANKULAT yang kami tahu pasti dia adalah orang yang sigap, tegas dan cerdas.
                “Kalian ini gak tahu bersyukur bla...bla...bla...” aku tak paham kemana arah bicaranya. Dia memarahi kami tanpa alasan yang kami ketahui. Kami tertunduk meski kami tak paham maksud kak Hayun.
                “Sekarang semuanya sujud syukur!” katanya sambil menunjuk tanah. Tak paham apa sih yang diinginkan orang-orang ini. Apanya yang disyukuri, orang habis dimarahi gini kok malah disuruh sujud syukur. “Sekarang!” suara itu seakan membawa mantra bagi kami. Tak sempat berfikir, seketika itu juga kami bersujud diatas tanah berumput yang sedikit basah karena hujan tadi siang.
Plok...plok...plok... suara tepuk tangan membahana di gedung ini. Meeka semua tersenyum menang. “Mabruk ya...sekarang antuna sudah resmi menjadi DKK,” kata kak Amel, ketua gudepku. Aku masih tak percaya semua ini. Aku berhasil masuk staff DKK. Entah apa yang membuatku diterima, aku tak tahu pasti, yang jelas anugerah ini patut kusyukuri dengan sujud syukur yang asli.
               

                


Leave a Reply

Powered by Blogger.