Tanpa kusadari tetes-tetes bening itu telah membasahi pipiku yang sudah lama terkena terik matahati. Ustadzah Asma Khoirunnisa, wali kelasku waktu dikelas empat dulu membacakan perpindahan rayon. Aku menangis sejadi-jadinya mengetahui bahwa penempatan rayonku tak seperti yang aku harapkan.
“Dira Aghnia,, intaqilii ilaa Palestina A, hujroh tsalitsah!” Astaghfirullah….satu kemungkinan yang paling aku takuti kini menjadi kenyataan. Tangisku tak henti-hentinya pecah dengan pengumuman ini. Aku menangis, marah dan menyalahkan semuanya, bahkan keadaan pun patut aku salahkan kala itu. “Kenapa harus aku? Kenapa harus di tempat itu? Dan kenapa ini harus terjadi?”  tak ada jawaban yang bisa membuatku menerima kenyataan ini.
                Beberapa jam berlalu, aku masih tidak bisa menerimanya. Bukan karena aku tak suka dengan tempat itu, namun kemampuanku. Apa aku bisa kuat dengan suasana rayon, dimana semuanya terdiri dari santriwati-santriwati baru. Mereka yang tak tahu apa itu pondok, tak tahu bagaimana hidup disini dengan semua hal yang serba sederhana, mereka yang terlalu polos, terlalu lugu dan masih banyak lagi hal-hal yang tak mereka ketahui tentang hakikat kehidupan ala pondok.
                “Kenapa sih Dira nggak mau di maskan jadid? Padahal kan enak,” teman-temanku tak berhenti bertanya soal alasanku yang tak menyukai suasana baru rayonku nanti.  Beberapa teman telah berusaha menguatkanku, bahkan mereka bersedia mengorbankan waktunya hanya karena ingin memahamkanku atas keadaan yang tak mungkin bisa dirubah, ini sebuah ketentuan.
                Tak hanya teman-temanku yang peduli pada nasibku, bahkan wali kelasku pun bersedia meluangkan waktunya untukku. Ustadzah Asma, lagi-lagi beliaulah yang bisa membuatku sedikit menerima keadaan ini. Beliau bersedia mendengarkan cerita-ceritaku, memberi solusi akan masalah yang sedang aku alami, bahkan beliau sudi untuk memberiku sedikit kata petuah yang berhasil membuat semangat prajuritku kembali dan pantang mundur meski musuh datang mengepung. Ah beliau hebat…
                “Mereka yang ditempatkan disana itu orang-orang pilihan, mereka terpilih. Tak sembarang orang ditempatkan disana. Kami yang memilihnya sudah pasti sudah memikirkannya terlebih dahulu. Anti qowiyyah Dira!” kata beliau sambil menupuk pundakku. Beliau sangat mahir untuk membesarkan hatiku, aku akui itu. Aku memahaminya  meski hati ini belum sepenuhnya menerima kenyataan ini.
                Matahari belum sepenuhnya berada diatas kepalaku, tapi sudah berhasil membuat keringatku bercucuran. Aku berjalan menuju rayon lamaku, bahroin, dengan menyeka keringat yang tak henti-hentinnya membasahi pelipisku. Masih tersisa rasa sebal dengan keputusan ini memang, tapi apa daya diriku, toh aku tak punya kuasa apapun untuk menolaknya. Semuanya harus diikhlaskan meski tak semudah mengucapkannya aku akan mencobanya.
                Rayon lamaku terlihat sangat berantakan dengan barang-barang yang berserakan. Santriwati, semuanya sangat sibuk dengan barang masing-masing. Namun tak sedikit yang terlihat saling membantu untuk membawa lemari ataupun koper-koper pakaian. Semuanya tampak harmonis, dari situ aku melihat betapa kita  bukanlah sekedar teman namun keluarga. Susah satu maka yang menanggung semuanya, begitupun kalau bahagia, semuanya ikut merasakan.
                “Huh…banyak banget nih barang-barangku yang mesti dipindah, mana rayonnya jauh banget lagi,” kataku.
                “Emang anti ayyu maskan Dir?” Tanya salah satu temanku.
                “Palestina A,” jawabku sekenanya, karena harus mengeluarkan kardus dari tumpukan barang milik orang lain. Melihat barang yang banyak ini menambah rasa berat yang kutanggung walau aku belum mengangkatnya. Benar-benar hari yang berat bagiku, ditambah aku yang selalu mengeluh.
                Satu persatu barangku seperti kasur, guling, bantal dan koper sudah dipindahkan ke rayon baru. Kebetulan sekali kamarku terletak dititik terjauh jika dihitung dari Auditorium. Terletak diujung sana, didekat perbatasan Gontor Putri 1 dan Gontor Putri 2.
Terbayang dalam pikiranku, “Bagaimana nanti jadinya jika aku telah resmi menyandang nama mudabbiroh. Bagaimana kalau aku tidak mampu?”
Kuletakkan kardus pertamaku diatas trolli sambil membayangkan bagaimana aku ditahun depan. Memang hari sial bagiku atau apalah julukan yang pas untuk hari ini. Trolli yang sedari tadi aku gunakan untuk membantuku membawa barang-barangku rodanya terlepas. Padahal aku sengaja membelinya sebelum perpindahan supaya aku tak susah membawa barang. Dan benar, barang yang sudah berat malah semakin berat karena aku harus membawanya dengan tangan kosong. Sebenarnya tidak terlalu berat tapi jika mengingat jarak antara rayon lamaku yang berada dibelakang dan rayon baruku yang saat  ini menempati lokasi terujung pondok, aku yakin semalaman pun tak cukup untuk mengendurkan otot kakiku.
                “Ya Allah… nyebelin banget sih trollinya, udah tahu pindahannya jauh, pake acara rusak segala, padahal baru dipakai hari ini,” kataku sambil merutuki nasibku pagi ini.
                Ya, mungkin ini peringatan dari Allah supaya aku lebih mengikhlaskan semua ini. Karena kardus-kardusku masih banyak yang belum dipindahkan, dan sangat tak mungkin untuk membawanya satu-persatu dengan tangan kosong. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku menunggu trolli temanku yang telah selesai memindahkan barang.
                Matahari semakin tinggi menunjukkan semangatnya yang tak kalah dengan semangat kami pagi ini. Jarum telah menunjukkan ke angka sebelas. Meskipun begitu masih banyak santriwati yang terlihat sibuk dengan barang-barang dan kardus-kardus mereka, termasuk diriku. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya aku sudah menyelesaiakan perpindahan sebelum jam sepuluh, namun incident pagi ini telah mengubah jadwalku. Seharusnya aku sudah duduk atau tiduran dengan minuman dingin yang siap diminum. Tapi lihat aku sekarang, berjalan terseok-seok dengan kardus diatas trolli, hasil pinjaman pula. Belum lagi acara bersih-bersih rayon setelah perpindahan. Tahun sebelumnya, aku tak ikut membersihkan rayon karena masih banyak adik-adik kelas yang sudah pasti bersedia membersihkannya. Tapi sekarang…tak etis rasanya jika aku tak ikut berpartisipasi dalam bersih-bersih rayon, apalagi aku akan menjadi seorang mudabbiroh nantinya.
                “Ya Robbi, kuatkanlah aku dalam mengemban amanah ini. Aku bukan hamba yang kuat, apalagi untuk mengurus santriwati yang baru masuk, oleh sebab itu berikanlah hamba sedikit kekuatan-Mu ya Allah,” hanya itu do’a yang aku panjatkan seusai sholat maghrib. Kekuatan untuk menghadapi santriwati baru.
                Relief kehidupan telah terpahat. Tak akan pudar akan terik mentari, apalagi lapuk akan rintikan hujan. Realita yang nyata adanya. Dan memang itulah kehidupan.
                Waktu bergulir begitu cepatnya. Bulan tak lagi ada arti, apalagi dengan hari. Semuanya berlari, berlomba-lomba. Tak menghiraukan kenangan yang tak rela untuk dihapus.
                Memang tak mudah menjadi seorang mudabbiroh, apalagi di rayon baru. Berat, capek dan harus sabar. Sabar untuk mendengarkan keluhan mereka, sabar untuk menjawab pertanyaan mereka, meski kadang tak masuk akal. Dan sabar untuk terus membimbing mereka agar menjadi pribadi yang mantap ketika mereka harus pindah ke rayon qodimah. Disinilah letak amanat kita, kita dituntut untuk membentuk mereka dengan semua kegiatan pondok yang tak ada hentinya. Al-ma’hadu laa yanaamu abadan. Kita harus mengatur seluruh gerak mereka, sampai hal terkecil pun harus kita atur dan control, seperti keramas ataupun mencuci kaos kaki. Bentuk mereka ditahun depan adalah tanggung jawab kami sekarang. Tak ada hal yang lebih menyenangkan bagi kami, mudabbiroh, selain melihat para anggota yang rajin makan ataupun merapikan lemari.
                Namun kebahagiaan itu tak berjalan lama. Aku harus menjalani kehidupan baruku dibagian yang baru pula. Pergantian pengurus organisasi mengakhiri kebersamaan dengan mereka. Dan sungguh penyesalanku yang amat mendalam ialah disaat aku mengerti betapa aku sangat menyayangi mereka, disaat itu pulalah aku harus meninggalkan mereka. Mereka telah menjadi bagian hidupku, bahkan menjadi penghibur dikala sedih. Tingkah mereka, celotehan, sampai pertanyaan mereka yang kadang mengesalakan akan menjadi kenangan termanis. Siapa yang menyangka aku akan menyukai semua ini bahkan sampai menyayangi mereka seperti adikku sendiri.
 Dimana kita ditempatkan, maka disitu kita menggerakkan. Allah akan selalu memberikan kita yang terbaik. Dan bukanlah menjadi rahasia Allah lagi jika ini adalah akhir terbaik.



ed. Alfi ramadhani



Leave a Reply

Powered by Blogger.