Saat hati inginkan sesuatu
            Saat perbuatan menjadi kendala
            Saat pikiran tak sesama hati
            Ikhlaslah dalam segala hal...
            Ye...ayo...ayo...chayyoo...!!!  Sorak-sorai santriwati membangunkanku dari tidur. Semua suara itu pasti untuk menyemangati peserta lomba SOPM party yang memang sedang berlangsung. Tapi lihat diriku! Terkulai lemas tak berdaya dibalik balutan selimut merah mudaku yang selalu setia menemaniku setiap siang dan malam. Aku ingin aktif mengikuti pelombaan dalam SOPM party, tapi kondisiku? Aku tergeletak di kasurku, kasur BKSM tepatnya. Seminggu lebih aku terbaring disini karena penyakit batu ginjalku yang baru diketahui pihak medis.  Dan beginilah hasilnya, terbaring dan hanya bisa mendengar sorakan sambil mengutuk keadaan. Andai aku sehat, aku pasti bisa mengikuti perlombaan yang aku sukai.
            Ulangan umum sudah aku lewati dengan keadaan yang masih seperti ini. Nilai pun sudah aku terima. 3,15 Ya Allah...sebodoh inikah aku? Rata-rata nilaiku menurun drastis, mungkin ini akibat dari banyaknya absenku dari kelas. Baaimana tidak, aku telah terbaring disini sekitar satu setengah bulan tanpa ada aktivitas, belajar pun tak begitu kupedulikan. Apa nilai akademisku harus terkorbankan karena penyakit ini? Aku bilang tidak. Aku harus bangkit, ya aku harus bangkit dan menambal nilai-nilaiku yang jelek. Aku akan sembuh. Aku bertekad dalam hati.
            Teringat mimpi yang selalu kugantung di anganku. DKK (Dewan Kerja Koordinator) awal dari mimpi-mimpi yang tak lagi terhitung jumlahnya. Seberapa pun banyak  aku menciptakan mimpi, akankah bisa terwujud dengan tiga koma lima belas? Sepertinya tidak..
            “Shifa, kaifa halluki al-an?” kak Risa, ketua gudepku datang menjengukku. Kaget sekalligus terharu melihat kehadiranya, beliau mau melihat keadaanku.  Obrolan ringan pun kita mulai dari menanyaiku tentang keadaan hingga nilai ulanganku, sedikit membuat rasa bosanku terkurangi dan menghilang sejenak.
            “Kamu harus lebih giat lo belajarnya Shifa..masih pingin jadi DKK kan?” degh..hatiku melonjak mendengarnya.
            “Awas kalau nilai anti tetep kecil kayak  begini, kakak kasih DKK keorang lain. Berusaha Shif, kakak yakin kamu bisa kok, kamu bisa diandalkan, jadi....jangan lupa belajar!” nasehat kak Risa yang panjang aku dengarkan dengan seksama. Aku tak  mau melewatkan nasehat beliau yang berhasil membuat diriku bangkit dari keterpurukan. Aku tak lagi takut akan mimpiku.
            Mimpiku untuk menjadi DKK dan seorang sutradara GSD di kelas empat makin membuncah. Dan aku tahu betul aku tak dapat mencapainya dengan nilai yang hanya tiga koma lima belas.
            Perlombaan duta gugep datang. Aku sadar aku bukan santriwati yang unggul dalam akademis mengingat kelasku yang berada diurutan bawah, kelas tiga I. Kelas ke-delapan dari sebelas kelas. Tapi jangan salah, bukan Shifa kalau tidak bisa membaca semaphore, morse dan mahir tali-menali. Kalu soal yang sat ini akulah jagonya.
            Temanku terpilih untuk menjadi utusan gudepkutercinta. Aku tak akan tinggal diam dengan ini, aku harus berguna bagi gudepku, meski bukan aku yang terpilih aku cukup puas untuk sekedar membantu temanku, Anis, dalam memahami hal-hal seputar kepramukaan. Ku bantu Anis semampuku, meski harus kabur dan mengendap-endap keluar dari BKSM, mengingat statusku yang masih menjadi pasien disana. Sesekali aku pulang terlalu larut dan pinti kamar BKSM terkkunci, momen inilah yang mengharuskanku pulang ke rayon. Aku yakin bisa masuk ke kamarku karena pintunya memang tidak bisa dikunci. Yang penting aku tidur malam ini. Dimana pun itu, rasanya tidur juga sama saja.
            Aku berjalan ke rayonku menyusuri malam, dalam langkah otak kecilku terus berfikir,”coba nilaiku besar, kayaknya aku deh yang jadi duta gudepnya.” Keinginan menjadi duta gudep itu ada, tapi sebisa mungkin aku berusaha mengikhlaskannya. “toh aku kan cukup senang bisa membantu Anis, kenapa aku jadi gak rela sih?”
            Mengikhlaskan semuanya, itulah yang aku tanamkan saat ini. Memang ini bukan takdirku, masih banyak hal baik lainya yang akan menghampiriku. Aku yakin dan aku gantungkan keyakinankku melebihi kemampuanku.
            “Selamat  Anis..”
            “Selamat ya..juara tiga..mabrukk..!
            “Mabruk ya..anti udah bikin kak Risa bangga, nama gudep terangkat juga lo..!” kataku.
            “Syukron ya Shifa, kalau bukan anti yang ngajarin ana tiap malem kayaknya gak bakal menang deh..” balas Anis padaku. Dia memelukku erat. Kita berpelukan, rasakan bagaimana kita menjadi tim yang kompak untuk gudep kita tercinta.
            Aku tak lagi menyesal karena tak terpilih mewakili gudepku. Mungkin jika aku yang maju menjadi utusan tak akan seperti hasilnya, gudepku tak akan jadi juara sepertinya. Ah...lupakan sajalah, yang penting aku telah menunjukan ke kak Risa kalau aku memang serius ingin menjadi DKK.       Ujian kenaikan berlangsung, sekuat tenaga aku berusaha menahan sakit yang makin hari kian menjadi. Untungnya aku masih bisa melakukan tugasku di rayon sebagai bagian keamanan, meski aku harus terkulai untuk beberapa kali karena penyakit ginjalku ini. Di saat seperti itu impianku menjadi sutradara GSD terhapus sudah. Aku ditunjuk menjadi bagian keamanan dalam GSD yang harus mengawasi dan mengabsen ketika latihan berlangsung kalau-kalau ada yang kabur saat latihan berlangsung. Aku ikhlaskan impianku yang tak sampai ini.
            Awal mula aku ingin menjadi DKK karena  aku ingin menjadi seperti kakakku Adnan Fathron. Kakak yang aku jadikan pedoman saat melangkah dan semangat hidupku saat penyakitku terus menyerang dan mengambil hari-hari indahku, dialah kekuatanku. Kakak yang selalau berkata,” dimana kamu berdiri , disitu kamu bergerak. Ikhlaskanlah sesuatu yang belum bisa kamu dapatkan, jangan gegabah dalam mengambil sebuah keptusan. Perbanyak Dhuha dan jangan lupa Al-ma’tsurat tiap pagi dan sore,” nasehat itulah yang hingga kini kupegang dan kuamalkan setiap hari.
            Liburan akhir tahun dimulai. Saat yang paling kunanti saat liburan yaitu datangnya tanggal sepuluh Ramadhan, dimana hasil kenaikan kelas telah terpampang di pondok dan aku bisa mengetahui hasil belajarku, tidak harus ke pondok tapi cukup dengan via telephon. Namun aku tak begitu berharap dengan hasil ujianku tahun ini, aku sadar betul bagaimana aku menjalani ujian di ranjang pasien. Walaupun aku telah mengerahkan semua kemampuanku tetap saja aku sedang sakit dan tak bisa semaksimal kebanyakan orang yang sehat.
            Tak sabar aku menunggu hasil ujianku, maka kuputuskan untuk menelephon ke pihak pondok, meski takut aku harus tahu hasil usahaku. Pertanyaan telah kuajukan untuk suara di seberang sana. Seutas senyum tersungging di wajahku tepat setelah aku menerima jawaban dari phone keeper, aku berhasil naik ke kelas empat, dan abjad kelasku pun naik dua tingkat. Meskipun hanya dua ini cukup membuatku berbangga hati,” ternyata aku tak bodoh-bodoh amat,” bahagia rasanya mendengar kabar ini. Meski kesempatan untuk menjadi DKK sedikit terhapus, karena untk menjadi DKK harus menduduki kelas atas. Ya setidaknya tidak dibawah F, dan aku di kelas 4G. Aku ikhlaskan ini, yang terpenting aku berhasil naik kelas.
            Liburan panjang usai. Tahun ajaran di kelas empat membuatku mengerti ap itu arti hidup di Gontor. Di tahun ini pulalah aku mendapat goncangan dari berbagai aspek kehidupanku, entah itu pertemanan, pelajaran, persaingan dan seleksi-seleksi dalam berbagai acara penting. Banyak seleksi yang hanya ditawarkan untuk kelas empat dan tiga intensive. Komandan peleton, pasukan pengibar bendera, dan masih banyak seleksi lainya yang hanya diperuntukkan kami.
            Seleksi pemilihan komandan peleton untuk pekan olahraga dan seni (PORSENI), aku dihadapkan pada dua pilihan yang mengharuskanku memilih salah satunya. Mengikuti seleksi kompel atau seleksi perkemahan antar pondok-pondok alumni (Lp/g Tpi) yang hanya diadakan dua tahun sekali, dan ini tahun terakhirku untuk menjadi peserta, karena tahun depan aku akan menjadi pengurus rayon. Aku pilih perkemahan antar pondok alumni karena bagiku gudep 17-32 lebih membutuhkanku. Dan untuk menjadi komandan peleton kan masih ada seleksi untuk pekan perkenalan (PKA) nanti.
            Aku berjuang demi gudep yang sangat aku banggakan, dengan warna khas hijau kuning yang juga merupakan warna kesukaanku. Aksesoris sekolahku pun banyak yang mengikuti warna gudep, khususnya warna kuning, kuning itu ceria.
            Keputusanku untuk mundur dari jabatan komandan peleton PKA di sesi akhir penyisihan sudah bulat. Aku takut penyakitku akan kambuh jika aku memaksakan diri mengikuti latihan yang sangat ketat dan keras. Sekali lagi aku mengikhlaskan semuanya seperti kata kakakku. Lagipula aku tahu kalau aku terus memaksakan diri akan terjadi sesuatu yang tak baik seperti saat perkemahan dulu, aku berkali-kali pingsan karena kelelahan. Dan hasilnya pun aku tak bisa maksimal dalam kegiatan.
            Aku terpilih menjadi kompel saat perkemahan membuatku cukup dikenal oleh kakak-kakak ANKULAT, dalam berbagai upacara pun aku serinng terpilih menjadi komandan peleton. Perkemahan memberiku banyak kebahagiaan, apalagi saat gudepku menerima banyak kejuaraan. Aku tak menyesal atas pilihanku mundur dari komandan peleton PKA.
            “Eh Shifa...anti masuk pemadatan kelas loh, masuk ke robi’ F,” kata salah seorang sahabatku. Sukses.. kabar ini memang membuatku sangat kaget.
            “Alhadulillah...anti lihat pengumumanya dimana?”
            “Ada deh...tapi anti seneng kan dengernya? Mabruk  Shif..”
Aku hanya menjawab ucapan selamatnya dengan senyum yang sengaja ku buat semanis mungkin. Tapi dia memang benar, aku sangat senang mendengar kabar ini. Kesempatan untuk menjai DKK kini terbuka lebar, aku hanya tinggal berusaha sedikit lagi. Tak akan kusia-siakan kesempatan langka ini.
            Kupandangi kantor kecilku yang penuh dengan tali-tali pramuka yag sudah tak baru lagi. Terlihat satu papan struktur sebuah keluarga kecil “keluarga tunas” ,disana kulihat “ Lathifatus syifa Sie. Latihan, Dewan Kerja Koordinator 2010, a little jendral.”
            Semua ini berawal dari rasa ikhlas. Ikhlas menderita penyakit yang sangat menyita waktu-waktuku. Ikhlas mendapatkan nilai kecil saat ujian. Ikhlas gagal menjadi Duta Gudep. Ikhlas tak sampai menjadi Komandan Pleton PKA maupun POD. Dan aku yakin masih banyak rangkaian ikhlas yang harus kita rajut. Bukan demi diriku, bukan karena siapa, hanya demi Allah, dan ikhlaskanlah semuanya.
           


      


Leave a Reply

Powered by Blogger.