Satu saat aku dalam hidupku, aku teringat tentang semua yang aku lewati.
            Pertengahan tehun 2006, aku masuk Pondok ini.Menjadi siswi baru yang tak begitu menonjol dikalangan temanku.Aku senang ssat itu, karena ketua rayonu yang aku tahu adalah kakaku sendiri.
            Lima bulan berlalu, dan tiba saatnya dimana kakakku diangkat menjadi Bagian Bahasa Pusat disebuah organisasi. Aku kaget dan tak pernah menyangka kakaku akan menjadi orang yang galak nantinya. Ini sangat menakutkan dan sama artinya aku tak bisa lagi mengobrol bersamanya dengan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah, itu sangat tak mungkin.
            Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya, tak banyak yang berubah.Mungkin karena aku sudah lumayan kerasan dengan suasana seperti ini, dan tempat ini.
            Namun kejadian malam itu. Suasana makan malam yang sangat ramai dengan antrian yang mengular hingga bermeter-meter, tak lain karena lauk malam  ini special, ayam goreng kecap, lengkap dengan sambal dan kerupuk.
            Aku berdiri diantara teman-teman yang belum begitu kukenal. Mungkin karena terlalu bersemangat untuk mendapat lauk yang satu ini, tanpa sadar aku berdiri di antrian yang salah, karena ditempat itu aku benar-benar tidak mengenal anak –anaknya.
            “Aduh….nyasar coba! Mana sih rayonku?” aku berteriak sekenanya saking  kagetnya atas perbuatanku.
            Kontan empat pasang mata yang berada di barisan depanku menoleh bersamaan, menatapku seakan aku ini seorang pendosa yang tak dapat diampuni. Dan dari beberapa pasang mata tiu ada satu pasang mata yang sangat aku kenal. Kakaku.Aku terperanjat dan seketika itu pula aku berbalik dan menemukan tempat antriku sesegera mungkin.
            “Alfi, anti disuruh dateng ke Syanggit malem ini, bertemu Ukhti Sarah, kamu tahu tidak ssiapa itu ukhti Sarah?” kata ketua rayonku yang baru setelah absen malam.
            “Enggak tahu ukhti,” jawabku sekenanya.
            “Pokoknya anti ke Syanggit kamar tiga , cari yang namanya ukhti Sarah ya..!” katanya lagi.
            Na’am ukhti..,”sambil mengangguk tanda mengerti.
            Kakiku melangkah menuju sebuah bangunan yang tak terlihat baru lagi, bangunan yang terletak di depan Masjid. Bangunan ini sudah berdiri sejak Pondok ini berdiri rupanya, dan namanya pun diambil dari salah satu sintesa Pondok, negara Syanggit. Dan umurnya kini mencapai ehm,,enam belas tahun.
            Setibaku di gedung syanggit, aku yang telah mempersiapkan kata-kata dalam bahasa Arab untuk bertanya, tiba-tiba lidahku kelu dan susah untuk berbicara. Aku kaget mendengar suara-suara yang sangat mengejutkanku.Teriakan demi teriakan aku dengar dari samping kanan kiriku. Aku takut, apakah nasibku akan sama seperti mereka nantinya? Tapi apa salahku kalau    kak Sarah ingin memarahiku? Semua pertanyaan menyatu dan berputar-putar di otakku.Entahlah aku sendiri tak mengerti.
            Aku dekati jendela yang biasa digunakan unuk memanggil siapa pun orang yang ada didalam.“Ah…untuk memanggil saja harus mengantri dulu...apa-apaan ini?” aku menggerutu sendiri.
            “Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh ukhti..” kuucapkan salam dengan lengkap karena memang begitulah peraturan disini.
            “Waalaikumsalam warohmatullahiwabarokatuh ya ukhti, man tabhasiin?”Siapa yang kamu cari? Itu pasti artinya, aku tahu karena aku sering memanggil Ustadzahku untuk belajar jadi aku sudah taka sing dengan pertanyaan itu.
            “Ukhti Sarah ukhti..” aku menimpali.
            “Man anti?”
            “Alfi ramadhani Ukhti”
            Terdebgar suara tertawa dari dalam yang aku tahu tidak terlalu keras dan lebih terkesan di tahan-tahan. Aku tak peduli yang pentn sekarang adalah aku ingin tahu alasan apa yang membuatku berdiri disini, mala mini.
            Sesosok muda berbaju hitam bergaris-garis dan rok putih berenda kecil di bagian bawahnya keluar dari pintu kamar yang ku maksud.
Dia mengarahkan pertanyaan kepada semua yang hadir di depan kamar dalam bahasa Arab.          “Siapa yang mencari ukhti Sarah tadi?”Pastilah aku yang dimaksud kakak yan g satu ini, karena hanya aku yang mencarinya.
            “Ana ukhti” jawabku sambil mendekati sosoknya.
            Kak Sarah menyuruhku turun satu tangga dari tempatnya berdiri.Aku berdiri sambil menunduk dan dia mengambil kursi hijau dan kini dia duduk du depanku.
            Setelah bertanya kepadaku seputar identitas, nama, kelas, asal, rayon, kamar, dan  bertanya apa kesalahanku. Tanda Tanya besar dikepalaku. “apa salahku ya?” pikirku tak menyadarinya juga. Bahkan aku tak mengingat kapan aku melakukan kesalahn dan kesalahan apa yang dimaksud oleh kak Sarah.
            Akhirnya setelah beberapa menit kita terjebak dalam kesunyian karena aku hanya menggelangkan kepala tanda tak mengerti. Kak Sarah pun member tahu apa kesalahanku sampai aku dipanggil ke sini. Kak Sarah menjelaskan panjang lebar dengan bahasa Arab yang belum begitu aku pahami. Intinya aku masuk persidangan bahasa ini karena aku merbicara dengan bahasa Indonesia saat makan malam di dapur tadi. Aku menemukan titik terang akan masalahku ini, dan aku yakin ini pasti ulah kakakku yang ingin memasukkanku ke persidangan bahasa. Mana mungkin ada bagan bahasa yang langsung mengenaliku dalam sekali pertemuan yang tak disengaja, dan diantara tiga ribu siswi disini.Ditambah lagi aku belum pernah mengikuti perlombaan-perlombaan yang bisa membuat namaku dikenal.Aku tambah yakin ada campur tangan kakaku dalam hal ini. Aih..
            “Bagaimana dia bisa melakukan ini pada adik satu-satunya?”gumamku dalam hati.
            Kak Sarah mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak membutuhkan jawaban dariku.
            “Kenapa anti bisa masuk mahkamah bahasa?”
            “Aku juga tidak tahu kak, aku juga gak berniat untuk masuk mahkamah ini.”jawabku dalam hati.
            “Kakak anti jadi bagian bahasa pusat, kenapa anti malah melanggar bahasa dengan berbahasa Indonesia di tempat umum?Apa anti gak malu sama kakak anti?”Tanya kak Sarah padaku.
                        “Ya ampun ukhti, kalo antum tahu, kakak ana tak sebagus itu, dia juga sering ngobrol bersamaku dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah dulu, sebelum diangkat menjadi bagian bahasa pusat tentunya.” Andai kalimat ini bisa kulontarkan…
            Kak Sarah memberiku hukuman yang tidak begitu banyak, mungkin karena aku masih kelas satu dan ditakutkan dengan hukuman yang banyak akan membuatku tidak betah dan meminta pulang selamanya.  Aku berfikir positif sajalah, sudah untung dapat hukuman yang yang ringan.Alhamdulillah.
            Aku pulang ke rayon dengan langkah gontai.Meski hukuman sedikit, yang namanya hukuman sudah pasti menjadi fikiran juga. Aku tak akan tenang sampai selesai mengerjakannya.
            Setibanya dikamar, semua temanku telah tertidur pulas. Tak sedikitpun beban terlihat diraut wajah mereka, meski kuyakin sangat banyak hal yang membuat kami takut untuk berada disini sendiri, tanpa hadirnya kedua orangtua.
            Dengan terpaksa aku kembali ke rayon keramat itu, untuk menghafal pelajaran sebagai hukumanku. Kupanggil ukhti Sarah seperti sebelumnya.Tapi bukan orang yang kumaksud yang keluar melainkan kakaku yang menyebalkan itu. Dia tersenyum kecut melihatku berdiri mematung di depanya.Senyum yang melecehkan. Ugh...
            Semua hukuman yang diberikan ukhti Sarah aku kerjakan bersama kakakku, karena dia sedang sakit hingga tak dapat menemuiku mala mini.Tapi ini sangatlah menguntungkanku, aku tak harus serius dalam menghafal, dan jika aku salah dalam menghafal kakak pasti membantuku.Dia tak seburuk yang kukira.
            Banyak mata yang kelihatanya sedang memperhatikanku.Mungkin karena mereka merasa aneh dengan caraku mengerjakan hukuman, aku tak terlihat takut atau sungkan dengan bagian bahasa yang satu ini.Mungkin juga mereka merasa iri padaku yang bisa dengan gampangnya menyelesaikan hukumanku.Ku kira mereka tidak tahu siapa orang yang ada di depanku ini.Kalian tertipu pikirku.
            Aku hanyut dalam lamunanku mengingat kejadian yang membuatku tertawa sendiri di depan buku laporan harianku, hingga terdengar suara memanggilku. Aku keluar membawa kerudung kuning hijau yang akan aku berikan pada anak yang sekarang ada di depanku.
            Peran itu kini menjadi milikku, peran yang yang dimainkan oleh kakaku dan ukhti Sarah dulu.Aku merasakanya kini.Mungkin dulu aku tak memahami seutuhnya untuk apa itu hukuman? Sesuatu yang membuat beban hidup orang lain. Sekarang aku memahami seutuhnya apa itu hukuman, dan untuk apa hukuman itu diadakan. Hukuman itu bukan semata-mata untuk membuat orang jera melainkan untuk pelatihan hidup, hidup yang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan untuk hidupnya. Terimakasih Allah telah memberiku hidup ini.

            


Leave a Reply

Powered by Blogger.