Benar memang. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan adalah bentuk sebuah pendidikan. Bukan berarti belajar harus melulu terbatas di kelas saja, namun benar kata pepatah. Pengalaman adalah guru yang terbaik.
            Apa yang bisa dilakukan oleh kelas lima? Terima resiko menjadi kelas lima, menurut penuturan bapak Pengasuh, berarti harus siap jam tidur berkurang, waktu belajar yang otomatis berkurang, tuntutan dari para guru, teman, juga anggota yang besar, menjadi uswah untuk adik-adik, dan sebagainya. Itu kosekuensi yang harus diterima menjadi kelas lima.
            Wabah tyfus melanda pondok. Masa terberat setelah hepatitis yang melanda dua tahun sebelumnya. Kalau wabah hepatitis dulu hanya menyerang beberapa rayon dari zone tertentu, kali ini wabah tyfus menyeluruh. Seakan tak kenal ampun, bahkan beberapa guru pun juga ada yang terjangkit wabah ini. Bila satu kelas berjumlah empat puluh orang, maka yang hadir hanya tujuh belas orang saja. Di rayon keadaan lebih mengenaskan. Tak ada kamar yang bebas dari virus ini. Rata-rata lima orang yang sakit. Itu pun belum dikurangi dengan beberapa santri yang pulang karena keadaan sudah parah. Sebagai mudabbiroh, yang alhamdulillah tidak (belum) sakit saat adanya wabah tersebut, tentu hal ini makin menambah berat keseharian. Intens mengurus anggota. Bak ibu yang bahkan menyuapi makan anaknya, mengingatkan memberi obat, mentayamumi bagi yang tak kuat untuk bangkit, dan tentunya berdoa lebih keras untuk kesembuhan mereka.
            Itu sepenggal cerita terberat saat menjadi mudabbiroh.
            Ternyata virus itu bukannya tidak mau menempel pada tubuhku. Mungkin ia tahu, aku masih harus berbuat banyak untuk anggota. Maka aku terserang tyfus justru saat ujian pelajaran pagi akhir tahun. Saat aku sudah diangkat menjadi pengurus OPPM yang memiliki tugas lebih berat.
            Saat itu baru saja dimulai pembuatan majalah. Deadlineyang diinginkan tentu saja selesai sebelum ujian dimulai. Agar konsentrasi belajar tak perlu terganggu lagi. Namun apa mau dikata. Toh pembuatan majalah masih juga harus dikerjakan bahkan saat ujian lisan sudah dimulai. Terlebih kondisi yang tidak begitu memungkinkan.
            Urusan majalah baru selesai satu hari setelah ujian tulis dimulai. Memang ini yang dapat dilakukan. Tapi ternyata aku mempertaruhkan sesuatu yang lebih penting lagi. Kondisi semakin memburuk pada ujian tulis. Dimana kita harus all out dan memusatkan pikiran seratus persen untuk belajar. Gawat. Badanku sudah tak bisa dikompromi lagi untuk belajar. Kemampuan terbesarku untuk belajar hanya sebatas pukul setengah sembian malam. Apa yang mau didapat dengan usaha minim sepereti itu? Masih saja ngotot untuk tetap di kamar dan mengikuti ujian bersama yang lain di ruang ujian, bukan di BKSM. Bila akal ikut dimainkan maka mustahil seseorang akan berhasil. Bukannya pasrah, tapi tawakal. Aku tentu tak bisa menentang takdir Allah yang menggariskan demikian. Bekalku saat itu hanya apa yang pernah kupelajari jauh hari saat di kelas. Memang tak cukup, namun sepertinya bekal yang kumiliki itu lumayan memadai.
            Dibandingkan yudisium kelulusan kelas enam, yudisium kelas lima tergolong lebih menakutkan. Tak ada yang menemani, terop sekedarnya.. hanya panjatan doa yang terus mengalir saat itu. Karena tahu bahwa kita tak akan bisa melalui semuanya sendiri, tapi mengingat ada Allah yang menemani, hal itu tentu terasa lebih tenang.
            Setelah panggilan pertama bagi anak-anak dengan nilai mumtaz, giliran panggilan kedua aku naik ke gedung Kuwait. Alhamdulillah masih dalam posisi yang aman. Sakit pun dengan tawakal Allah masih mengingatku. Namun aku tak tahu apa yang akan terjadi pada esok hari.
            Tahun ajaran baru dimulai. Pembagian kelas. Acara yang dilaksanakan di aula Kairo itu pun berlangsung hangat. Tak tahu aku yang masih merasa cemas. Kelas apa aku? Ini adalah tahun terakhirku. Tentu ingin yang lebih baik, atau paling tidak mempertahankan kebaikan tahun kemarin. Sementara teman yang ada di kanan kiriku sudah terpanggil jauh sebelum namaku. Ada campur tangan apa lagi dalam semua ini? Memang sebelumnya banyak yang memberi tahu bahwa pembagian kelas enam tidak melulu ditentukan oleh nilai. Aku turun kelas.Tentu tak bisa ditolak. Terlebih mengingat bagaimana caraku belajar yang tidak maksimal. Turun kelas sudah lebih baik daripada tidak naik. Aku justru mendapat pelajaran dari semua ini. Man ‘arafa bu’da-s-safari ista’adda. Barang siapa yang tahu jauhnya perjalanan maka bersiaplah. Tentu bila sebelumnya  belajar dari jauh hari aku belum tahu akan musibah yang menimpa justru ketika datang ujian. Aku kira itu nusroh dari Allah.
            Hal yang sering aku bicarakan di kelas setelah aku lulus, terutama kepada kelas yang relatif bawah. Keberadaan kita di kelas apapun bisa jadi sudah menjadi rencana Allah. Takdir yang tak bisa dipungkiri, namun bila kita mau merubahnya, bisa saja takdir tersebut terganti. Kita butuh perbekalan dan senjata bila ingin menghadapi perang. Belajar bukan karena ingin dianggap. Belajar bila karena Allah insya allah akan berkah. Berkah entah saat ujian atau dikemudian. Hari. Banyak aku menemui orang belajar karena ingin mendapatkan derajat. Lalu apa yang akan didapat setelah itu? Lupa ilmu tahun lalu. Yang lebih parah malah apabila lupa setelah keluar dari ruang ujian.        Apa yang kita lakukan hari ini tentu akan menentukan esok hari. Bisa jadi manfaat belajar kali ini bukan datang saat ini juga.

            (By. Dhita Ayomi)


Leave a Reply

Powered by Blogger.