Kini saatnya aku untuk banyak-banyak bersyukur. Benar bila orang bijak berkata bahwa jika ingin mengetahui betapa berharganya waktu satu tahun tanyakan pada orang yang tidak naik kelas.
                Banyak hal yang tak bisa terucap, terlalu banyak bahkan untuk sekedar memikirkannya pun aku tak akan sanggup. Ketika aku tahu bahwa pondok menyatakan aku tinggal kelas, seakan waktu menjadi hal yang paling berharga saat itu, seakan waktu tak lagi memberiku kesempatan. Ini sangat menyakitkan bagiku terlebih lagi orang tuaku. Aku harus bisa bertanggung jawab atas hidup yang aku jalani. Itulah tekadku saat aku menemui cobaan.
                Pertama aku memasuki kelas ini yang aku rasakan adalah ragu, bimbang dan entahlah, aku tak mampu menjabarkannya dengan kata-kataku. Wajahku pun tertekuk, malas rasanya memasuki kelas baruku ini, jikalau waktu bisa diputar sendiri, aku ingin kembali pada kelasku yang dulu. Aku bukan memasuki rumah hantu dengan kereta tua ataupun memasuki kawasan perdukunan dengan segudang jin,hanya kelas biasalah yang akan kumasuki, kelas baru dengan wajah-wajah yang belum kukenal sebelumnya. Mereka bukan teman-temanyang ku kenal, bukan juga teman-teman seperjuanganku ynag selalu menemaniku saat berjuang, saat-saat bersama dalam suka maupun duka. Kemana kalian yang dulu selalu bersamaku?
                Hatiku belum juga mantap atas keputusan yang sudah kuambil. Kembali ke pondok lagi meski aku tahu semua tak lagi sama nantinya. Enggan sebenarnya, dengan hanya bertamengkan Bismillah dalam hati aku beranikan diri.
                Kupandangi satu persatu wajah-wajah baru itu. Yang seakan tak mempedulikan kesedihanku. Mereka bercanda, mereka tertawa bahagia. Bahagia telah menduduki kelas baru mereka, kelas baru kami tepatnya. Ya...merekalah yang akan menjadi teman dalam jihadku, selama ini, selamanya untuk mencapai keberhasilan yang tertunda. Aku tak memaksakan diri tapi ternyata air mataku mengalir begitu saja tanpa henti. Orang lain hanya menatapku heran tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap kakaknya ini. Dalam tangisku hanya ada sebuah penyesalan. Walaupun itu tak akan mengembalikan waktu yang hilang. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Kuhirup nafas dalam-dalam dan,,, aku bisa.
                Hari-hari kujalani seperti dahulu,namun perbedaan memang tak bisa kuhindari lagi, meski aku terus ingin bersama teman-teman lamaku toh akhirnya aku akan bersama adik-adikku sekaligus teman-teman baruku. Aku dapati masa dimana aku berada diantara dua kubu kehidupan, kehidupanku bersama teman seangkatanku dan kehidupan baruku bersama angkatan yang sekarang aku perjuangkan.
                Hari ini kutatap kalender yang menggantung di tembok kamarku. Hanya tinggal pembekalan akhir, study tour, haflah takhrij dan yang terakhir yaitu graduation. Tak terasa beberapa tahun sudak kulewati bersama mereka. Dan sebentar lagi aku akn menyelesaikan program study KMI-ku.

                Semua pelajaran dan berbagai pengalaman telah kulalui bersama mereka. Dan kini mereka jugalah yang akan kutinggalkan. Biar saja aku terlambat, karena aku hanya ingin menjadi lebih baik. In uriidu illa-l-islah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.