Bermula saat Ramadhan. Bulan penuh berkah, telebih di pondok kami, Gontor. Meski santri kelas satu hingga empat pulang ke rumah untuk liburan, kelas enam yang juga akan siap-siap untuk kelulusan, kelas lima masih setia tinggal di pondok. Menghidupkannya, karena pondok tak pernah mati. Apa saja yang dilakukan? Tentu saja jauh sekali dari menjalankan liburan puasa seperti biasanya. Yang seakan bersahabat dengan hand phone ataupun facebook. Kelas lima ada di pondok untuk digembleng kembali agar dapat menjadi angkatan yang lebih tangguh di kelas enam nantinya.
Selain target-target yang harus tersalaksana dalam kepanitiaan Bulan ramadhan seperti mengecat pondok, melukisi dinding-dinding yang kosong dengan pemandangan indah, olahraga, muhadatsah pagi, dan bertanggung jawab penuh pada kebersihan pondok di bulan Ramadhan. Pembersihan umum bak pengganti makan bagi kelas lima. Setiap pagi, waktu Duha pukul sembilan, sore, pun bila ada acara-acara untuk mengisi Ramadhan, malam pun kami habiskan waktu untuk bersih-bersih. Maka tak ayal kami semua diwajibkan untuk memiliki sapu setiap orangnya.
“Teng.. teng... teng... teng.. teng...”
Bel berbunyi tanda perkumpulan berkumandang.
            Aku terlalu santai. Jarak rayon yang hanya tinggal lompat saja dari tempat perkumpulan, depan masjid, membuat aku dan beberapa temanku berleha. Memakai kerudung dengan solw motion. Seperti yang ada di film India. (Bayangkan saja!)
            Aku mengintip sebentar melalui celah kecil jendela. Sudah banyak orang! Terlebih seorang ustadzah pengasuhan telah berdiri di depan jama’ah. Kami telat! Was-was, pasti! Takut, tentu! Bak makan buah simalakama, berangkat sekarang, telat. Tidak berangkat, parah. Kabur namanya. Ketika itu rayon kami yang berangkat hanya empat orang dalam perkumpulan. Keadaan semkain merisaukan. Letak rayon yang sangat dekat juga membuat kami tidak tenang. Kalau tahu-tahu diperiksa, apa jadinya?
            Akhirnya dengan keadaan terhimpit, kami menyusun rencana untuk membuat markas persembunyian.  Aku mendapat tempat di belakang lemari dan yang lain terpencar di sudut kamar yang terbilang sangat sempit. Ada pula yang terpaksa pura-pura sakit dan terbalut selimut  demi menghindari penggerebegan yang tak bisa diprediksikan waktu kedatangannya. Sesak, penat, dan segala macam rasa yang benar-benar tak bisa ditoleransi lagi.
            Setelah selesai perkumpulan, 4 orang yang ikut perkumpulan itu datang dan terheran-heran ketiika melihat keadaan kamar kosong melompong. Akhirnya, kami semua keluar dari tempat ppersembunyian diriingi dengan gelak tawa. Yah, ternyata tak ada penggerebegan! Kami pun tetap ikut bersih-bersih dan berjanji tidak akan sembunyi lagi. Lagipula, bersembunyi hanya akan merugikan dan menyesakkan. Kalau masih bisa ikut kumpul, kenapa harus sembunyi? No hiding, be OK!














Leave a Reply

Powered by Blogger.