Siang itu matahari tak seperti biasanya, panasnya yang sangat menyengat mampu membuat wajah kita belang dalam sekejab, terlebih jika tidak memakai penutup kepala.
                Berseragamkan pramuka lengkap dan kerudung coklat tua, lengkap dengan peluit di bahu kiriku, aku siap mengabdi untuk pondokku. Aku mengambil shift siangku untuk menjadi juru parkir di panitia penerimaan santriwati. Dan lapangan hijau inilah ladang jihadku.
                Tanganku terus bergerak, memberi isyarat pada semua mobil yang datang dan pergi dari pondok, tak ketinggalan peluit yang selalu kutiup semenjak pagi tadi menambah rasa haus di siang ini. Kepalaku pening, terlebih jika melihat mobil yang tak juga mengikuti aba-aba yang aku berikan kepada sang pengendara. Dengan kesabaran yang ekstra, kuarahkan kembali mobil-mobil itu menuju lahan parkir yang memang sudah dipersiapkan sebelum arus balik  pondok tiba.
                “Ya ampun....ni mobil susah banget sih disuruh parkir di tempat yang udah disiapkan,” aku bergerut melihat hal ini. Mobil yang berkali-kali kuberi isyarat untuk parkir di lapangan malah mencoba memerobos masuk ke dalam pondok.
                “Sabarlah, namanya juga ngadepin orang banyak, pasti sifatnya berbeda-beda, jangan mengeluh terus, mengurangi keikhlasan loh,” temanku memang pengertian, disaat seperti ini pun dia masih sempat menasehatiku dengan hal-hal yang baik. Untuk yang kesekian kalinya aku tiup peluit untuk mobil yang satu ini. Mobil berwarna silver yang tak mau mengikuti suara peluitku itu sepertinya akan berbelok menuju asrama dalam area pondok. “Wah tak bisa aku diam saja untuk yang satu ini,” aku tak mengerti mengapa sang pengemudi tak mendengar suara peluitku, mungkin dia sedang memakai headset.
                Mobil itu berhenti tepat setelah aku memintanya berhenti pastinya. Dengan garang dan rasa etos kerja yang tinggi, aku bergerak menghampiri mobil berplat AE itu.
                “Maaf bapak, mobilnya tidak boleh berbelok, jadi silahkan memutar balik,” tegurku kepada sang pengemudi dari balik kaca. Dengan susah payah aku menunjukkan wajah ramahku.
                Kaca mobil di bagian pengemudi terbuka perlahan, tampak sosok yang sebenarnya belum pantas kupanggil bapak seperti apa  yang baru saja aku lakukan. Dan dia tersenyum padaku, entah aku tak tahu jenis senyum apa itu yang jelas lebih terlihat senyum ejekan.
                “Aku tak butuh senyumanmu,” pikirku. Penumpang yang duduk di sebelahnya melongok keluar jendela. Kulihat sesosok wanita yang bersahaja yang kurasa tak asing lagi bagiku.
                “Ukhti...,”sapanya kepadaku.
                “Siapa gerangan wanita ini?”
Aku melirik stiker GONTOR yang menempel rapi di kaca mobil. Aku kembali memutar otak berusaha menemukan jawaban secepatnya tentang siapa sosok di depanku ini.
                “Astaghfirullah,” pekikku pelan.
Pantas saja kau merasa tak asing dengan sosoknya, ternyata beliau adalah istri  salah satu pimpinan Pondok Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal. Sudah pasti beliau mengantar putrinya yang kini duduk di kelas tiga intensive. Aku hanya dapat menyapa beliau dengan senyuman yang berindikasikan rasa malu dan bersalah.
                Mobil itu telah berlalu, pergi, dan meninggalkanku yang masih diliputi rasa malu.
               
                               



Leave a Reply

Powered by Blogger.