Entah dari mana asalnya, yang jelas ini seperti sudah menjadi tradisi yang menahun dan mendarah daging. Yaitu panggilan kesayangan yang ditujukan pada seseorang. Mulai dari nama yang lucu, aneh, sampai yang nggak banget. Ada yang dipanggil karena plesetan nama, gayanya, postur badannya, ejaan nama, atau tambahan imbuhan berupa –cut, -cil, dan sebagainya. Misalnya saja aku. Teman-teman memanggilku dengan sebutan “nenek”.
            Suatu hari ada seorang teman bertanya perihal asal-usul panggilan tersebut. Aku tersenyum dan berkata dalam hati. Wah, mereka ini hanya ikut-ikutan saja, ya? Kalau istilah Arab kerennya, taqlid bighoyri huda. Aku menerawang. Mengingat kembali saat itu. Saat dimana nama panggilan itu mulai tersemat dan melekat pada diriku.
            Saat itu aku kelas satu dan bertempat tinggal di rayon Al-Azhar kamar empat. Pertama kali ibu membelikanku dalaman kerudung berupa ciput, karena saat itu aku belum bisa memakai mika. Dan tentu saja apa yang dibelikan oleh orang tua aku anggap berharga. Aku tak sedikitpun malu atas pemberian orang tuaku. Kebetulan pula aku memiliki baju yang berbahan kain yang kata orang mirip nenek-nenek. Dan parahnya aku baru menyadarinya saat kelas empat. Hahahha.....
            Kami berkumpul di kamar suatu sore seperti biasa. Kelas satu yang sudah mandi, dandan didepan lemari masing-masing, dan siap untuk pergi ke masjid.
            “Zid, itu dalaman kerudungmu, ya?” tanya Rahma, salah seorang temanku.
            “Iya. Memang kenapa?” tanyaku balik padanya.
            Rahma bersengut. Sepertinya ia ingin mengutarakan sesuatu.
            “Kok gimana gitu. Mirip punya nenek ana di rumah.”
            “Ah, masa’ sih? Nenekku kok nggak punya?” dengan wajah tanpa dosa aku menjawab.
            “Coba deh pakai!” pintanya.
            Aku pun mulai beraksi. Dengan bangga aku perlihatkan kepada teman-teman kamar dalaman kerudungku itu. “Lihat, nih!”
            “Kok anti jadi kayak nenek-nenek gitu sih?” tanya Rosidah.
            “Ih enggak, tahu! Ini dari ummi,” jawabku membela diri. “Kalau nenek-nenek itu kayak gini,” aku memperagakan gaya nenek-nenek. Aku melipat lidahku. “Cu.... nenek sudah tua, cu!” kataku dengan gaya nenek-nenek.
            Sontak tawa meledak dari teman-teman kamarku. Hingga kini aku akan menjadi alumni pun teman-teman masih setia memanggilku nenek. Meskipun sebenarnya panggilan ini agak gimana gitu, tapi ini adalah wujud kasih sayang dari teman-temanku.
            (By. Zidna Rizky Amalia)


Leave a Reply

Powered by Blogger.