Saat itu aku kelas tiga. Entah apa yang membuatku nekat melakukan hal seperti itu. Aku kabur di tengah-tengah acara Perkemahan Kamis Jum’at (PERKAJUM). Tak betah? Bukan. Benci pramuka? Tidak sama sekali. Membuat mading marhalah yang esoknya harus segera siap pasang. Aku bertanggung jawab akan semua ini.
Bersama salah seorang teman yang juga satu gudep, akhirnya kami kabur setelah apel malam berlangsung. Saat itu perkajum diadakan di lapangan depan Turki. Melewati depan gedung Saudi, tailor, lalu ke mini market yang menjadi markas kami karena disanalah wali kelasku berada.
Tidak biasa menjaid anak nakal, tentu rasa takut menggerogoti saat aku melaksanakan aksi kabur. Tapi demi tujuan yang lebih besar, kenapa tidak? Sekilas aku merasa kakak kelas lima yang saat itu sedang berjaga malam di tailor melihat kami. Benarkah?
Dua jam berselang, aku dan temanku masih berada di mini market untuk menyelesaikan mading yang sebentar lagi rampung. Bukan hanya dilihat dari segi kualitas tulisan saja, namun kreatifitas bagaimana mading itu disajikan. Di sana kami bercampur dengan teman-teman lain yang juga mengenakan baju pramuka setelah latihan pidato.
Kegiatan perkajum hidup kembali. Renungan malam. Mengharuskan andika berjalan di bawah gelapnya malam kemudian berkumpul di suatu tempat yang telah tercipta suasana kondusif untuk merenung.
Datang dua orang kakak pembina. Menjemput kami?
Ternyata niat buruk selalu tak pernah berujung baik. Hal ini yang kupelajari saat kelas enam. Don’t give too much for the whistle. Mading yang diusahakan itu tak menang, aku kabur dari perkajum, dan apesnya tertangkap. Hukuman yang kami dapatkan sangat membuat efek jera.
Hukuman dari kabur PERKAJUM bukan sekedar boking dari Sie. Giat berupa sampah, ataupun ratusan redaksi marah dari mudarribatatau ankulat. Aku harus mengikuti PERKAJUM gelombang selanjutnya yang diadakan khusus untuk andika yang sama nekat nya denganku kabur dari perkajum atau tak mengikuti sama sekali tanpa alasan. Aku dan seorang teman bersama kakak-kakak kelasku yang sebagian besar atau semua tak menyelesaikan program belajar di KMI hingga akhir. Dari yang dipulangkan secra baik-baik, diusir, atau juga karena pulang atas dasar keinginan sendiri. Sejauh ini, aku sendiri sudah tak melihat mereka. Bisa dibilang, untuk kategori kenakalan mereka termasuk dalam taraf agak sampai paling parah. Dan aku diantara mereka.
PERKAJUM itu diadakan hari Jum’at pagi hingga Maghrib. Berlari menuju auditorium. Selusin ANKULAT telah menunggu di kanovi auditorium. Memberdirikan kami sejajar untuk memeriksa kelengkapan. Hasduk, ransel, kaos kaki hitam, dan atribut yang terjehit di lengan baju. Aku hanya dapat tertunduk lemas. Satu per satu kami dipasangkan boking berupa rumbai di tepian kerudung hingga terkadang menutupi pemandangan. Papan nama besar dari kardu yang bertuliskn kata pelanggar berikut nama, kelas dan konsulat.
Kami dibagi menjadi tiga kavling. Mendirikan tenda yang awut-awutan mengingat mayoritas dari kami mungkin tidak pernah mengikuti pramuka. Aku yang saat itu sendiri, memberikan instruksi pada kakak-kakak yang satu kavling denganku tentang pemasangan tenda. Aku hanya dapat merengut.
Cross campus yang tentu lain dari biasanya karena langsung dibimbing oleh koordinator. Keluar dari pondok melalui jembatan penghubung menuju Gontor Putri 2. Dari sanalah petualangan dimulai. Menyusuri comberan kamar mandi Iskandaria, jalan terus masuk ke dalam got di depan Beirut yang sedikit berkubang dan masuk ke bawah jembatan kecil sebelah kantor YPPWPM.
            Bukan masalah buat tenda ataupun masuk got juga comberan yang membuatku mempersalahkan saat itu. Tapi rasa malu dan nama baikku yang tercoreng ketika aku harus berjalan dengan papan nama bertitel pelanggar. Separah itukah aku? Atau sebegitu sayangnyakah aku pada mading dan marhalah hingga nekat kabur dari PERKAJUM? Entahlah... Mungkin hanya tenda, tailor, dan Mini Market La Tansa yang tahu bagaimana mimikku saat itu.
            Saat cross campusdi pematang sawah aku berjalan. Melihat hina pada diri sendiri. Karena harus dipermalukan saat itu. Lalu aku berjanji atas nama tunas kelapa, aku yang telah dipermalukan, maka aku harus mengembalikan nama baikku dengan menjadi Duta Gudep.Mungkin? Ya, menjadi Duta Gudep! Itulah ambisiku saat kelas tiga.
            Selesai PERKAJUM, kami diberi banyak sekali wejangan dari sang empunya urusan pelatihan pramuka di Gontor Putri. Untuk tidak nakal dan selalu taat peraturan. Untuk tidak sembunyi saat pramuka dan tertidur di out bound, di kelas, ataupun gudang.
Mencoba peruntungan di Duta Gudep. Akhirnya aku lolos babak pertama dan masuk pada babak selanjutnya. Di gelombang kedua inilah yang akan menentukan duta dari gudep masing-masing.Aku semakin optimis dapat mengembalikan nama baik itu. Ya, aku bisa! Seorang ANKULAT yang ternyata turun di kamarku dan kini ia sedang melanjutkan studinya di Mesir melihatku dengan heran. Mengetahui bahwa aku adalah peserta perkajum gelombang tiga ternyata dapat masuk seleksi Duta Gudep.
            Ternyata Tuhan memang memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Stres? Mungkin saja. Aku ternyata tak dapat mengambil kesempatan itu. Tidak menjadi DG di kelas tiga lalu membuat mimpi baru dengan haluan yang drastis. Aku menghapus mimpi menjadi DKK di kelas empat agar dapat menjadi Duta Gudep, aku akan mengikuti ujian MALDA dan menjadi DG di tahun depannya. Lambaian tangan mantap pada mimpi menjadi DKK.
            Saat menjadi MALDA dan menjalaninya, aku benar-benar menyadari bahwa ini duniaku. Aku kembali teringat akan mimpiku sejak aku duduk di kelas 5 SD. Membuang segala egoisku untuk menjadi seorang wartawan. Aku bersyukur, mungkin ini jalan yang Tuhan pilihkan untukku. Karena kurasa, bahwa ini adalah sebuah pilihan yang tepat, bukan karena muthor. Aku berhasil mengambil kesempatan yang sangat menentukan hidupku kelak.
            Dulu keinginan untuk menjadi DG adalah sebagai pembersihan nama baik, balas dendam dan kecintaanku terhadap pramuka. Kesempatan menjadi di kelas empat tiba. Apa karena aku yang saat itu sakit-sakitan atau karena aku yang tak begitu mengenal bindep baru itu? Bahkan gelombang I pun aku tak masuk yang tak lama setelah itu aku tahu bahwa dalil kegagalanku adalah karena kurang terjunnya aku ke gudep. Lalu apa yang aku lakukan dari kelasa satu dulu? Aku merasa dipermainkan oleh gerakan berlambang tunas kelapa ini. Sedih? Tentu saja. TBC alias Tekanan Batin Continue melandaku bahkan saat LPK hingga menjadi mudarribat .
            Aku merenung...
            Mungkin karena itu pula aku telah mantap menemukan sesuatu yang jauh lebih aku bisa dan aku sukai dari pramuka. Jurnalistik dan tentu saja menulis. Dimulai dari MALDA, berlanjut ke Bagian Diskusi kemudian CAKRAWALA. Menulis bukan hanya menjadi sebuah bagian, tapi segalanya bagi hidupku. Aku tak pernah menyesal tentang kabur PERKAJUM dulu. Mungkin saja itu sebuah permulaan yang justru beruntut panjang dalam dunia tulis-menulisku hingga saat ini.
            Bila aku tidak kabur perkajum, maka apa ayang akan aku lakukan?
            Membiarkan dan seolah tak acuh pada angkatan?
            Bila aku tetap berniat menjadi DKK, maka apa yang akan terjadi kini?
            Tak menyentuh dunia tulis-menulis?
            Bila aku tetap dengan kengototan menjadi Duta Gudep bahkan di kelas empat, apa yang kudapatkan?
            Hanya rasa puas membalas dendam.
            Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Mengutip kalimat Tere Liye dalam novel Negri di ujung Tanduk, kepedulian kita hari ini akan berakibat besar di masa mendatang1. Apa yang sebenarnya kita lakukan hari ini, akan berefek besar di esok hari. Yang akan menentukan segalanya.

 (By : Dhita Ayomi)

            Syanggit, 20 Juni 2012_dengan beberapa revisi.


Leave a Reply

Powered by Blogger.