Buku ketiga dari trilogi Negri 5 Menara karya Ahmad Fuadi ini mampu menyita perhatianku dalam belajar. Bagaimana hidup tak selamanya harus seperti alur yang kita inginkan. Mahfudzat yang diambil kali ini adalah bait ketiga dari urutan apa yang diajarkan saat kelas satu. Man saara 'ala-d-darbi washola. barang siapa yang berjalan di jalannya, maka sampailah ia.
Alkisah Alif Fikri yang telah mendapat beasiswa di Kanada, dengan segera menyelesaikan kuliahnya di Unpad dengan kemudian mendapat beasiswa kembali di Singapura. Masa orde baru yang membuat Indonesia sedang dalam masa-masa sulitnya, krisis moneter. Dengan latar belakang akademis Alif yang seperti itu ternyata tak jua mendatangkan nasib baik. Angan akan pekerjaan di kantor internasional bergengsi pupus sudah.
Ingat akan wejangan serta mantra ampuh dari mahfudzat yang dipelajarinya, Man saara 'ala-d-darbi washola. barang siapa yang berjalan di jalannya, maka sampailah ia. Alif baru sadar bahwa jalannya adalah di dunia tulis-menulis. Bukan menulis CV lagi, ia menjadi wartawan freelance di Bandung. Ternyata krisis moneter mampu juga membuat hidupnya berantakan kembali, datanglah secercah harapan dari sebuah koran bergengsi di Jakarta, Derap, yang terkenal dengan idealismenya. Di sana ia mendapat pengalaman banyak pengalaman berharga. Mondok di kantor, mendapat salam tempel, sampai wawancara pocong ia alami. dari sini jugalah ia menemui orang yang akan terus menemaninya kelak, Dinara, wartawan baru di majalah Derap.
Merasa bosan dengan hidup yang seperti itu-itu juga, Alif menginginkan sebuah tantangan baru. Ia memutuskan untuk mengejar kembali impiannya. Menuntut ilmu ke Amerika. Belajar TOEFL di sela-sela jam kerja, ditemani Dinara untuk melatih kemampuan bahasa Inggrisnya, meski tetap mendapat cemooh dari rekan kerja.
Di akhir masa tinggal Alif di Jakarta (Ia akhirnya mendapat beasiswa Fullbright untuk sekolah di George Washington University), Dinara malah menjauh. Saat keberangkatan tiba, Dinara malah memberi sinyal baik. Merasa harus segera bertindak, Alif yang belum genap setahun nekat mempersunting Dinara yang telah mendapatkan beasiswa untuk sekolah di London. Mimpi Dinara pun diundur untuk memperlengkap agamanya. Menikah dengan Alif dan diboyong ke Amerika.
Sukses di sebuah media internasional, sampai menjadi salah satu peliput kejadian WTC, ternyata membuat Alif sudah merasa puas. Dinara yang resah merasa mereka harus kembali ke Indonesia. Alif berat meninggalkan semua kenikmatan dan harus memulai dari nol di Indonesia. Terlebih tawaran lebih menggiurkan datang dari salah satu media di Inggris. Ini adalah salah satu keputusan terberat yang harus Alif pilih. Memilih antara mimpinya dan kehidupan yang lebih layak, atau mengabdikan diri kembali kepada bangsanya.
Banyak pelajaran yang dapa diambil dari buku ini. Selain untuk berjalan atau menempatkan diri pada jalan yang tepat agar sampai pada tujuan, juga bahwa mimpi atau keinginan duniawi sebenarnya tak akan pernah habis. Namun untuk menjadi sebuah manfaat, tentu efek positif bukan hanya pada diri sendiri. Ini juga yang menjadi salah satu faktor mengapa aku mengambil sebuah keputusan besar, meski berat. Bahwa Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, namun apa yang kita butuhkan dan itu terbaik.
Selamat membaca!


Leave a Reply

Powered by Blogger.