Lemounajh Trois. Baru sebentar aku masuk ke kehidupan baruku di kelas tiga, musibah menimpaku karena melanggar peraturan yang ditetapkan pondok. Akhirnya kerudung hijau bagian keamanan melayang ke kepalaku. Hari-hariku muram semenjak itu.
            Bukan kebetulan, memang diakhir tahun ajaran selalu diadakan untuk menjadi staff OPPM. Seperti yang lain akupun berminat untuk menjadi staff. Apalagi kelasku tak terlalu bawah jadi menurutku kesempatan itu ada. Satu hal yang membuat harapanku kian memudar, kerudung yang tersampir dikepalaku inilah penyebabnya. Kakak-kakak OPPM pasti memandangku sebagai anak yang nakal dan tak patuk terhadap disiplin. Bagaimana jika memang seperti itu, apa mereka akn menerimanku?
            Semua ujian staff tetap aku ikuti meski dengan rasa percaya diri yang sangat minim. Dan benar dugaanku, tak satu staff pun yang mau merekrutku untuk menjadi anggotanya.
            Ditahun berikutnya, aku masih mempunyai kesempatan untuk mengikuti ujian staff JMK ( Jum’iyyatu-l-Khotibah ) dan DKK ( Dewan Kerja Koordinator ). Kedua staff inilah yang menjadi prioritas pertamaku. Sekuat tenaga aku menyiapkan segala hal yang memang aku butuhkan, mulai dari belajar semaphore dan sandi-sandi pramuka hingga tali temali, semua sudah aku kuasai. Disisi lain aku juga menghafal teks pidato tiga bahasa hingga luar biasa. Begitulah perjuanganku untuk menjadi staff OPPM.
Ujian staff DKK tiba dan aku telah siap dengan seragam pramuka, sepatu olahraga dan tak lupa pula buku-buku yang telah aku baca semalaman. Kuhampiri rayon temanku yang mana dia juga ingin mengikuti ujian bersamaku.
Rayon Indonesia 4 terlihat ramai dengan anak-anak yang berkostum pramuka sepertiku. Dan disini pulalah tak sengaja aku mendengar pengumuman dari bagian informasi yang mengumumkan  bahwasanya ujian menjadi JMK akan dilangsungkan sore ini. Degh… ini tak seperti apa yang aku ketahui. Kenapa bisa dalam satu waktu? Aku bingung atas pilihanku. Semalaman aku mempersiapkan diri untuk ujian ini, tapi aku ingin sekali menjadi JMK. Dengan sedikit helaan nafas, aku memilih DKK, karena kurasa persiapanku lebih matang untuk mengikuti hal ini.
Tak ada surat tergeletak diatas lemariku. Sudah pasti aku tidak diterima di staff DKK. Aku kecewa dengan diriku, yang tak mampu memasuki satu staff manapun. Kecewa dengan keputusanku memilih DKK dibandingkan JMK.
Ternyata keberuntungan itu ada juga. Tanpa mengikuti ujian yang diadakan aku terpilih menjadi salah satu dari staff bagian pertamanan. Meski aku tak begitu menginginkannya, aku terima dengan lapang dada. Mungkin inilah kesempatanku untuk menunjukkan kemampuan diriku. Meningkatkan kualitas di bagian yang lain.
            Aku terus menjalani hidup dengan optimisme tinggi. Apapun yang akan terjadi padaku, aku anggap itulah yang terbaik. Bahkan kerudung pelanggaran inipun aku anggap hukuman terbaik untuk perbaikan diriku, dalam upaya meningkatkan kualitas diri. Meski banyak pandangan miring dari kebanyakan orang, ataupun anggapan bahwa aku bukanlah contoh yang baik bagi anggotaku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin perbaikan, apapun itu bentuknya.

Satu tahun berlalu dan            menjadi bagian pengajaran bukan hal yang mudah. Apalagi dengan segudang acara yang sangat menguras tenaga. Tapi ada hal yang kini membuatku mengerti rencana yang dipersiapkan Allah untukku. Aku dipilih menjadi pembimbing salah satu staff  bagianku, JMK. Biarlah aku tak menjadi JMK, menjadi pembimbingnya pun taka apa, kurasa ini lebih baik. Kini mimpi itu telah dipenuhi oleh-Nya, bahkan diganti dengan yang lebih baik. Terimakasih ya Allah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.