Sebut saja namaku Alfi ,aku duduk di kelas empat B, dua tahun yang lalu tepatnya. Kelas yang memang ingin aku duduki karena tak ingin kalah saing dengan kakakku.
             Aku menjalani kehidupan seperti semua orang melakukaknya. Namun semuanya berubah semenjak kakak yang aku sayang, lulus dari pondok ini. Aku merasa bebas, tidak ada lagi yang membayang-bayangiku dalam bertindak, dalam memilih, dalam segala hal intinya. Ku jalani kehidupan dengan pilihan penuh dariku. Aku bebas, and let me do what i wanna do!
            Aku yang dulunya anggota rajin dan disukai pengurus rayon serta penurut, menurut ingatanku, kini berubah menjadi anggota yang bandel, sering melanggar, tak patuh peraturan rayon ataupun peraturan pondok, sering berpura-pura sakit dan segala betuk kenakalan lain yang belum pernah aku lakukan di kelas tiga dulu. Aku berubah menjadi orang lain yang tak kukenal. Ini benar-benar bukan aku yang aku inginkan.
            Untuk pertama kalinya di tahun ini aku dan semua anggota kamarku terlambat ketika berangkat sholat subuh, speaker rayon yang rusaklah penyebab utamanya. Kita tak mau disalahkan penuh atas pelanggaran yang ini, ini sebuah bentuk ketidaksengajaan.
            “Ya sudahlah..toh kena qismu amn-nya bareng-bareng, gak sendirian,” aku tak mengambil pusing kejadian di pagi buta ini.
            Hari-hari menjalani hukuman pun tiba, aku mengerjakan semua hukuman yang diberikan bagian keamanan dengan sepenuh hati, aku tak mau dibilang meremehkan, dan aku pun memang tak pernah meremehkan peraturan. Aku tahu betul semua itu untuk kebaikan, agar menjadi pribadi yang disiplin. Aku sepenuhnya tau itu.
            Sore itu aku dipilih menjadi salah satu peserta gladian pinsa/pinru, dan terpaksa tak mengerjakan hukumanku saat itu dan aku pun tak sempat meminta izin pada bagian keamanan, ditambah lagi aku pulang kembali ke rayon saat qiroatu-l-qur’an sudah dimulai. Kegiatan pramuka selalu menyita waktu tapi aku senang bisa berkecimpung disana. Hukuman tak bisa kuelak saat bagian keamanan rayon menyuruhku berdiri didepan rayon sambil membaca Al-qur’an menjelang maghrib.
            “Tahukah engkau wahai kakak? Aku  telat karena habis ada kegiatan. Kenapa aku juga mendapat hukuman berdiri seperti yang lain, mereka yang telat tanpa alasan yang masuk akal?” semua pertanyaan tak kuasa kulontarkan, hanya sampai tenggorokan dan tertelan. Aku kesal, belum hilag capek yang aku dapat saat latihan, belum lagi ditambah berdiri sambil membaca Qur’an, sepaket dengan omelan-omelan kecil.
            Aku membaca Qur’an bersama teman-teman yang senasib denganku sampai terdengarsuara sepeda tua yang takasing lagi ditelingaku. Citt....suara roda sepeda tua itu terdengar tak enak ditelinga kami. Sudah pasti benar dugaanku, sepeda hijau tua sedikit tinggi agak kusam namun terlihat gagah berhenti tepat di depanku. Sang pengendara turun dari sepeda itu. Orang itu ternyata.
            “Alfi..aina sohibatuki almutaakhirrot?”
            “Qiyaaman fii makanikunna!”
            Sontak semua mata tertuju pada kami dan teman-temanku yang juga belum menyelesaikan hukuman bergerak mengikuti intruksi bagian keamanan tadi, berjalan dan berdiri disampingku. Sekali lagi aku mendapat omelan dengan alasan karena aku tidak mengerjakan hukumanku sore ini. Kenapa engkau tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa alasanku sebenarnya hingga tak melakukan menjalani hukuman? Aku hanya bisa membatin. Semua alasan tak ada gunanya toh aku tetap mendapat marah atas sesuatu yang tak pernah aku inginkan. Aku jengah dengan keadaan ini.
            Hari selanjutnya mungkin akan lebih baik, tapi ternyata dugaanku salah besar. Saat makan malam aku tidak membawa gelas seperti biasanya dan memang karena apes lagi, akhirnya aku dan beberapa temanku tertangkap basah oleh bagian keamanan yang kebetulan sedang berkeliling di dapur keluarga guru. “Tumben-tumbenya nih kakaknya daur sini segala,” kataku kesalah satu  teman yang juga bernasib sial sepertiku. Lauk yang sedari tadi kunanti-nantikan sekarang tak ingin lagi kumakan, nafsu makanku menghilang. Aku pulang ke rayon dengan langkah gontai, aku tak habis pikir belum selesai hukuman kemarin aku kerjakan, datang lagi hukuman yang mengantri untuk  kembali aku kerjakan.
Aku urungkan niatku untuk kembali ke dapur karena waktu yang aku butuhkan untuk mengambil gelas dan berjalan kembali lagi ke dapur akan membuatku telat pergi ke masjid saat sholat Is’ya. Selain itu aku sangat yakin keadaan dapur yang sangat sesak tak akan mengizinkanku mendapat lauk dengan cepat. Kuputuskan untuk menahan lapar yang dari tadi kutahan karena puasa. Apa boleh buat, aku tak punya pilihan lain.
            Malam setelah belajar malam, kembali aku dan teman sepermainanku bergegas mengambil mie yang sudah kami siapkan untuk mengganti makan malam yang terpaksa cancel akibat tragedi bersama bagian keamanan. Cepat-cepat kami menuju tempat air panas dan menyeduhnya di dapur kelas enam, karena hanya disitulah kami bebas untuk tidak membawa tas sandal.
Bercanda saat menunggu mie yang kami seduh memang menyenangkan, apalagi topik yang kami angkat adalah bagaimana muka kami saat kami ketahuan tidak membawa gelas ketika makan malam tadi.
            Ternyata apes waktu makan malam belum juga hilang. Sampai akhirnya kami sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang sengaja memerhatikan kami. Ya..lagi-lagi bagian keamanan berjalan kearah kami, melihat sekeliling, dan mendekat. Muka air yang tadinya sumringah mendadak menjadi garang seakan siap menerka kami. “ Waduh... kayaknya kita bakal kena lagi nih guys...,” kataku sambil melirik ke arah teman temanku yang aku yakin mempunyai pikiran yang sama.
            Dan yang lebih menyebalkan ternyata dugaan kami tak meleset. Dia bertanya seputar peralatan makan, dan kami yang memang tak ada niatan untuk minum pun tidak membawa gelas seperti yang ditanyakan oleh bagian keamanan ini. Tapi alasan apapun yang kita ajukan tak mengubah alur fikiran sang penegak hukum. Dan hukuman pun kembali menghampiri kami.
            Semua hukuman serta nasehat sudah kami terima dengan pasrah. Apa boleh buat memang kami bersalah, meski kesalahanya kecil dan tidak begitu berat, kami harus menerimanya. Untung saja hukuman yang diberikan tak seberapa.
            Hari berikutnya aku kembali dengan aktifitas soreku, gladian pinsa/pinru yang mengharuskanku pulang lebih lambat seperti sebelumnya. Tepat sepuluh menit sebelum Qiroatu-l-Qur’an acara baru selesai, hingga tak ada kesempatan bagiku untuk mandi sebelum Maghrib. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika keringat terus saja dibiarakan dan tidak dibersihkan. Ini sangat menyiksaku, sangat tidak nyaman.
            Disela-sela waktu membaca Al-Qur’an aku mendapat ide cemerlang untuk misi mandiku. Datang kesempatan untuk berwudhu bagi siapa saja yang batal. Aku ikut keluar dan tanpa pikir panjang akupun melesat menuju kamar mandiku yang tak begitu jauh dan memang menjadi kamar mandi bagi siapapun yang batal dari wudhu. Tak akan aku lewatkan kesempatan emas ini, pikirku.
            Aku kembali ke masjid sebelum sholat Maghrib dimulai. Lima langkah lagi aku sampai di dalam masjid sampai akhirnya ada suara yang memanggilku dari belakang. Firasatku mengatakan ini bukanlah hal yang baik. Dan untuk yang kesekian kalinya firasatku benar. Bagian kemanan yang sangat aku kenal dan juga mengenalku memanggil dan mengintrogasi perbuatanku sekarang ini.
 “Min aina anti Alfi?”
Min hammam ukhti.”jawabku sekenanya.
Madza ‘amilti fii-l-hammam?”
Atawadho’ ukhti.
Ternyata kakak yang satu ini tahu apa yang ada difikiranku, dia tak percaya bahwa aku hanya berwudhu, karena dia telah mengawasiku semenjak aku keluar dari masjid pertama kali dan pulang terakhir kali. Kenapa lagi aku bernasib seperti ini. Aku tak habis-hibisnya memutar otak untuk mencari jawaban atas apa yang menyebabkan semua bagian keamanan mengenalku. Dan bagian keamanan yang satu ini memang sangat mengenalku, bagaimana tidak kita pernah sekamar satu tahun yang lalu, belum lagi aku terbilang dekat denganya. Dan hukuman kembali kuterima.
Hari berikutnya.
Makan malam dengan lauk yang tak bisa dibilang spesial, namun cukup membuat antrian mengular hingga tak ada celah untuk mengambil tempat. Antrian panjang memang tak bisa dielak lagi, dan inilah  pelajaran yang selalu membuatku merasa harus menjadi orang yang sabar kelak.
Setelah berdiri di antrian yang cukup panjang, akhirnya aku bisa menyantap menu hidangan yang ada dihadapanku. Aku melihat sekelilingku, aku berfikir meski lauk seperti inilah yang selalu mengisi perut-perut lapar kami dan  dengan tempat yang sangat sederhana seperti ini, tapi senyum kami tak pernak tercuri sedikit pun, bahkan bercanda dengan teman-teman pun sempat kami lakukan. Seakan tak ada beban yang menjurangi keadaan. Aku suka suasana seperti ini. Fikiranku terus berkelana samapi terdengar oleh telingaku suara yang sangat membuatku kaget. Suara bagian keamanan yang memarahi seorang anak dari kelas tiga. Dan aku tak membawa gelas. Lagi .Experience is the best teacher, but why it never give me homework? Inilah yang ada difikiranku. Aku sudah pernah masuk bagian keamanan sebab tak membawa gelas, dan sekarang akuakan masuk dengan alasan yang sama.
Dua bagian keamanan berjaga-jaga di pintu samping, dan empat orang dari mereka berkeliling menuju tempat para santriwati sedang melangsungkan makan malamnya. “Tak ada celah bagiku untuk melarikan diri dari situasi genting ini,” pikirku dalam hati. Dan benar adanya, aku kembali mendapat omelan dan hukuman demi hukuman dilontarkan padaku.
Hukuman aku jalani dengan semampuku. Hingga aku berada di satu malam dimana aku tak sanggup lagi menanggung lima hukuman dari lima bagian keamanan dalam satu waktu sekaligus, sedangkan semuanya menuntutku untuk menyelesaikannya
Aku akan menyelesaikannya kak, tapi bagaimana caranya aku menyelesaikanya sedangkan sekarang ini aku sibuk dengan acara yang sangat penting bagi kami, kelas empat yaitu GSD, dimana kami dituntut untuk mengeluarkan bakat dan potensi demi suksesnya acara ini. Aku diberi amanat untuk menjadi seorang ketua bagi para penerjemah naskah, tugasku yang hanya menerjemahkan naskah dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab dan Inggris, meski hanya itu yang aku lakukan semua itu cukup menyita banyak waktu. Setiap hari di kejar deadline, belum lagi ada ishlah dari parapembimbing dan harus di salin ulang. Disisi lain ujian pelajaran sore menuntutku untuk dibaca. Apa yang harus aku selesaikan dulu? Ratapku dalam hati.
Dan malam ini, setelah belajar malam aku kembali diberi nasehat oleh bagian keamanan dan sukses membuatku menangis. Dan sungguh ini hal paling memalukan saat aku menangis di depan orang lain. Aku tak percaya apa yang dikatakan olehnya bisa membuatku seakan tak pernah menaati peraturan yang ada di pondok ini, aku tak seburuk itu. Tenagaku habis hanya untuk mendengar nasehat yang lebih mirip ejekan dari bagian keamanan. Satu hal masih aku sesali mengapa kau tak pernah punya kesempatan untuk membela diri, setidaknya hanya untuk menjelaskan alasan ketidak hadiranku dan absenku saat mengerjakan hukuman.
Aku terjatuh, dan yang aku rasakan hanyalah tangan-tangan yang berusaha membantuku berdiri, dan berjalan menuju rayon.
Absen malam, hanya itulah yang bisa aku lakukan setibanya di rayon, karena aku harus kembali ke Syanggit untuk menemui kakak yang telah memberiku hukuman. Dengan niat dan nyali yang tak terlalu besar aku berniat untuk mencoba mengutaran maksudku, yaitu meminta tenggang waktu, aku akan meminta perpanjangan waktu sampai GSD selesai, dan aku akan menjalani hukumanku lagi.
Dia menyetujui permintaanku, namun aku harus menggantinya dengan hukuman yang lebih berat, tak masalah asalkan aku bisa menjalankan tugasku di GSD dengan maksimal. Kecintaanku terhadap tugasku ini memberiku kekuatan untuk mengabaikan segalanya, tapi tidak untuk hukuman.
Tahun berganti, dan sikap orang pun pasti berubah. Dan siapa yang menyangka bahwa hari ini aku telah menjadi bagian Pengajaran. Tak jauh beda dengan bagian keamanan menurutku. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana memberi hukuman, tak jarang aku memarahi anak yang melanggar seperti apa yang dilakukan bagian keamanan padaku dulu. Tapi satu hal yang selalu aku pegang selama ini, apapun kesalahanya, mereka mempunyai hak untuk mengutarakan alasan mereka melakukan pelanggaran, dan kesempatan kedua pun layak diberikan bagi siapapun yang ingin berubah. Dan semua orang pasti akan berubah, entah kapan.
           
           
           
           


            


Leave a Reply

Powered by Blogger.