Tahun ini pun terdapat perbedaan dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan.  Bukan hanya di Indonesia saja ternyata. Bila di Indonesia golongan Muhammadiyah memulai puasa pada tanggal 9 Juli dan pemerintah (Gontor juga) keesokan harinya pada tanggal 10. Di belahan dunia lain, antara Amerika dan Arab Saudi juga Syria memiliki perbedaan. Hal yang jarang terjadi. Sku belum menguasai bagaimana cara penghitungannya, yang terpenting kerusuhan dalam perbedaan tidak begitu kentara tahun ini. 
Rindu Ramadhan, tentu saja. Dimana suasana gegap gempita menyambut Ramadhan sudah bergaung sedari lama. Dari iklan-iklan yang diganti, display di toko,  dan hiasan di jalanan juga ikut menyemarakan. Namun lebih dari itu, yang dirindukan dalam Ramadhan adalah peningkatan diri dalam ibadah. Ramadhan berarti puasa. Bukan hanya puasa dengan makna umum yang berarti menahankan makan dan minum dari terbit fajar hingga waktu Maghrib, namun juga menahan diri dari hal-hal yang bersifat ke-hawa nafsu-an. Apa saja. Seperti berlebih-lebihan dalam hal duniawi. Anggap saja kita berzuhud pada bulan ini, namun tanpa melalaikan kewajiban sebagai manusia untuk menjadi khalifah di bumi. Insya Allah apa yang kita lakukan dalam catatan hal kebaikan akan mendapat pahala. Terlebih saat Ramadhan. Kenapa tidurnya orang yang berpuasa disebut ibadah, itu juga salah satu faktor untuk menghindari diri dari hal yang tidak bermanfaat. Tapi juga bukan berarti tidur terus sampai buka puasa, bangun hanya untuk shalat. Banyak hal yang dapat dilakukan, banyak berkah yang dapat didapat, banyak pahala yang harus dicari. Jangan hanya berdiam diri saja.
Hari pertama Ramadhan ini aku masih berada di pondok. Setelah bepergian dan sampai pada waktu Maghrib, tarawih pertama yang kujalani lumayan juga. Menunggu imam yang tak kunjung datang, juga suasana masjid yang masih kagok dengan hari pertama. 
Kegiatan bahagia sederhanaku akhir-akhir ini melihat matahari terbit. Selepas Subuh dan mengaji, kukayuh sepeda menuju kamar teman dan mengajaknya untuk pergi ke out bound melihat matahari terbit. Out bound adalah area paling belakang di pondok ini. Namun tak dapat diusahakan lagi, kabut tebal meliputi pagi. Ditambah awan gelap sisa-sisa hujan semalam masih menyisa. Akhirnya kami memutuskan untuk mengaji dengan suasana dingin sepotong pagi. 
Agak siang, kuputuskan untuk pergi ke tempat adik. Perpisahan, karena Jum'at aku akan kembali ke Padang. Sekarang ia kelas lima dan tak akan pulang hingga lulus kelas enam nanti. Ramadhan pertamanya di pondok. Tak apalah kutemani walau hanya sebentar. Pulangnya aku menaiki bis kecil. Tepat di sebelahku dua orang ibu-ibu yang ternyata simbok kopda. Agak depan adalah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil, beserta balon. Hal yang kurenungi dan kuposting dengan judul "Bahagia Gaya Anak-Anak".
Di hari pertama Ramadhan ini langit sedang sendu. Hujan mengguyur bumi sejak siang hingga waktu berbuka. Jadilah aku terjebak dalam kebahagiaan. Bahagia yang sederhana juga. Berkumpul bersama teman melakukan hal yang apa adanya. Bukan sesuatu yang spesial, namun sulit untuk dibeli lagi momen seperti ini. Terlebih aku yang akan dalam posisi ditinggalkan.
Hari itu aku menemukan makna bahagia sesederhana mungkin. Bahagia tak perlu dibeli. Bahagia tak perlu dicari. Cukuplah kita hanya dengan merasakannya. 
Semoga Ramadhan tahun ini dapat menjadi berkah. Amiin....


Leave a Reply

Powered by Blogger.