Sahur pertama di Padang. Masih kagok, karena ternyata Subuh saja masih jam lima lewat. Kali ini pun aku sholat Subuh di sebuah masjid dekat rumah. Masjid Sahara. Mungkin karena kecamatannya bernama Padang Pasir, jadi dinamai Sahara. 
Suasananya enak, nyaman, sejuk. Betah aku berlama-lama di masjid. Seusai sholat, ada sesi kultum. Oleh pemerintah kota Padang, semua anak sekolahan wajib mengikuti pesantren kilat yang berada di masjid terdekat di lingkungan rumahnya. Namun sekolah diliburkan. Acara ini diselenggarakan hingga 20 Ramadhan nanti. Walhasil aku menemani adikku sekalian ikut mencatat hasil kultum tadi. 
Aku langsung teringat akan perkataan yang sering didengungkan di pondok, jarum jatuh kedengaran. Maksudnya kita harus tenang dan khusyu' dalam perkumpulan apalagi ujian. Karena hari itu pembukaan pesantren kilat, banyak sekali anak sekolahan yang datang. Suasana kultum saat itu jauh dari kata tenang, gaduh malah. Penceramah mau saja untuk ditinggal ngobrol seperti itu. Terlebih ini di dalam masjid.
Hampir siang aku sekeluarga bertandang ke Bukittinggi untuk menengok sepupuku yang baru saja melahirkan dua hari yang lalu. Anaknya perempuan. Kecil sekali. Kata Mama, dulu aku sebesar itu. Keponakanku yang baru saja lahir ini tidur saja. Memang bayi seperti itu kan? Aku jadi membayangkan bagaimana aku bayi dulu. Katanya saat aku masih kecil sangat... sangat... bandel. Hahahha.....
Karena sepupuku itu akan segera keluar dari rumah sakit, kami tidak lama. karena waktu masih lumayan banyak, kami pergi ke Pasar Atas Bukittinggi. Memang hawa di Bukittinggi ini dingin. Siang saja tak terasa panasnya. 
Hal yang paling kusuka dan kubenci adalah jalan menuju Bukittinggi. Dari Padang, tak mungkin untuk tidak melewati lembah Anai yang sangat indah. Di samping kanan dan kiri banyak sekali pohon yang dibiarkan hidup dengan umur yang sangat lama. Sering ditemui kera yang kebetulan keluar dari habitatnya. Kera-kera itu kecil, jadi besar kemungkinan banyak kera lain yang lebih besar, rajanya. Jadi kalau ada yang berani mengambil kera dari sana, banyak kera lain yang akan marah.
Hawa di lembah anai tak usah diragukan. Sangat sejuk. Sengaja kami membuka jendela mobil untuk menghirup hawa yang jarang ditemukan di Jawa.

Yang paling menyebalkan adalah jalannya yang berkelok-kelok tajam. Perut dan kepalaku terasa dikocok dengan paksa. Tak pernah aku tak mabuk bila pulang dari Bukittinggi. *pusing....


Leave a Reply

Powered by Blogger.