Di hari kedua ini aku mendengar beberapa keluhan dari teman. Ramadhan nggak Ramadhan sama aja rasa puasanya. Jelas saja. Di hari biasa saat aktivitas pondok masih aktif (mengajar, kuliah, isyrof, keliling belajar malam) saja diwajibkan puasa Senin-Kamis, bagaimana dengan liburan yang bahkan tak ada kerjaan. Benar juga, namun esensi Ramadhan yang jelas berbeda dari hari-hari biasanya.
Hari ini aku belajar tentang kebersamaan. Mengutip dari lagu Westlife, we are strong because we are together, kuat karena bersama. Beberapa sisi kelemahanku justru muncul karena perpisahan. Untuk itu aku memilih cepat pulang. Walau hati ini sedikit tidak tenang, namun beban yang kuterima akan lebih sedikit.
Karena tahu besok aku akan pulang, maka aku berusaha untuk mengumpulkan kenangan terakhir yang dapat kulakukan. Melakukan sun rise di atap gedung Mesir baru (yang ternyata tertutup awan sehingga matahari tak kunjung muncul), mengumpulkan tulisan teman-teman yang akan pergi, sedapat yang bisa kulakukan. Juga buka bersama anak-anak Malda 2012 asuhanku dulu. Mereka sudah ada di sektor-sektor OPPM dan Koordinator kini. Aku bangga dengan mereka. Sangat. Meski perjuangan untuk mencari bukaannya itu lumayan juga.

Sore ditemani langit mendung dan beberapa rintikan hujan, berpartnerkan seorang teman yang saat itu menjabat menjadi tukang ojek dan aku sekretaris, karena harus mencatat pesanan teman-teman. Jalanan sore itu penuh dengan truk-truk. Sempat spot jantung diajak ngebut. Jadilah sore itu aku sun set di jalan. Melihat matahari yang tinggal separuh ditelan awan. Padahal hari itu mendung. Subahanallah. Indah sekali. 
Hari itu tarawih terakhirku di pondok bersama seorang teman. Teman sesama pemimpi. Teman sesama pejuang mimpi. Sebelumnya ia baru saja mendapat kabar bahwa ujian untuk kuliah di Mesir tahun ini dibatalkan. Padahal seharusnya ujian akan diadakan satu minggu lagi. Tepat pada tanggal 17 di Malang. Segala persiapan, harapan, doa, dan buku-buku itu, harus diundur untuk satu tahun ke depan. Namun ia masih memiliki rencana lain untuk mengisi kekosongan selama setahun. Walau agak melenceng. Yang kusalutkan adalah ketegaran hatinya. Seperti yang pernah ia katakan padaku sebelumnya, Allah itu nggak php alias pemberi harapan palsu. Tenang dan percaya. Insya Allah akan membayar segala harapan-harapan itu.
Manusia memang harus selalu berencana. Walau Allah jugalah yang menentukan, bukan berarti kita hanya menunggu rencana dari Allah. Sebagai manusia yang hidup dengan sejatinya memiliki keinginan, tentu harus memiliki perencanaan dalam hidupnya. hasilnya? Baru serahkan pada Allah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.