Malamnya aku sangat lelah. Maka jangan salahkan bila selepas jam sepuluh aku langsung tidur. Menyalakan alarm di ponsel pukul tiga agar bisa siap-siap sebelum berangkat ke bandara Solo. Hari ini aku pulang. Sebenarnya berat untuk pulang sekarang, padahal aku sebelumnya sudah berencana untuk pulang tanggal 17 saat kelas 6 yudisium. Namun apa mau dikata. Aku lebih tak tahan bila ada yang pamit denganku. Kemudian aku ditinggalkan. Lebih baik aku yang duluan meninggalkan. Kata seorang teman, back to home for good. Bisa jadi.
Ternyata aku malah bangun sebelum alarmku berbunyi. Jam tiga kurang seperempat. Aku mandi sambil menggigil, sahur bentar, kemudian berpamitan ke teman-teman yang akan pergi nanti. Awalnya biasa saja. Facebook connecting people, namun tetap saja keluar dari kamar mereka mataku sempat basah. Kutahan. Aku harus kuat. Pamitan terakhir ke wali kelasku dulu saat kelas 4. tahun depan beliau sudah tak kembali lagi ke pondok. Ini pengabdian di tahun keenamnya. Beliau bagiku bukan hanya seorang guru, tapi juga ibu, motivator, psikiater, teman, dan beragam titel lainnya. Bisa dibilang keputusan untuk melanjutkan pendidikan di pondok pun salah satu faktornya adalah beliau. Namun di pertemuan terakhir ini beliau terlalu lelah karena selepas sidang kelas 6 hingga jam 3. Tak mau mengganggu, aku pulang setelah bersalaman. Aku selalu berdoa, semoga beliau selalu mendapat kebaikan balasan dari kebaikan beliau selama ini. 
Berangkat dari pondok selepas Subuh. Hawa dingin dan bis yang kelewat cepat membuatku tak bisa tidur. Sampai di bandara terlalu pagi. Tak apalah. Aku bisa membaca buku yang baru kubeli kemarin. Namun tak tersentuh karena aku malah keasyikan menulis catatan di facebook. Aku mengedarkan pandanganku. Bukan zamannya lagi khoiru jaliisin fii-z-zamani kitaabun (sebaik-baiknya teman adalah buku), tapi khoiru jaliisin fii-z-zamani mahmulun. (sebaik-baiknya teman adalah ponsel). Sampai di bandara Soekarno-Hatta pun yang kulihat di sekitarku adalah orang-orang yang menunggu pesawat sambil membawa ponsel. Berderet. dari kursi ujung ke ujung. Tontonan yang ditayangkan di televisi pun kalah. 
Salah satu status di facebook yang kutulis saat menunggu adalah "bandara... kumpulan dari ribuan harapan". Itu kutulis setelah melihat seorang perempuan yang menangis sambil berbicara lewat ponsel. Sayup kudengar ayahnya meninggal. Ternyata tujuan kami sama. Ke Padang. Memang kenyataannya bandara, terminal, stasiun adalah kumpulan harapan dari banyak orang. Bayangkan, orang rela mengeluarkan kocek untuk membeli tiket demi harapan untuk dapat bertemu sanak saudara, keluarga, pekerjaan kantor, yang jelas tak mungkin orang yang datang ke tempat-tempat di atas tanpa tujuan. Tidak mungkin kan orang yang membeli tiket dari Jakarta ke Pontianak untuk luntang-luntung saja? pasti memiliki tujuan. Itulah harapan.
Hari ini aku puasa cukup lama. Sahur di Ngawi yang imsaknya pukul empat lewat, dan berbuka di Padang yang maghribnya baru pukul setengah tujuh. Lelah tak kuasa dibendung. Namun setelah bertemu dengan keluarga, perlahan rasa itu menguap.
Yang kupelajari pada hari ini adalah mencoba mengikhlaskan segala hal. Meski berat. Eksternal hard disc-ku hilang di koper yang kutaruh di bagasi. Bukan hard disc yang kusesali, namun apa yang ada di dalamnya. Seperti yang pernah kubilang dulu. Aku termasuk orang yang sangat menghargai kenangan. Untuk itu foto dari kelas empat bahkan sampai lulus saat ini pun aku simpan. Belum lagi beberapa tulisan lain. Aku hanya bisa merengut sebentar. Bagaimana lagi? Untung tak dapat dikejar, rugi pun tak dapat dihindari. Belajar untuk ikhlas. 



Leave a Reply

Powered by Blogger.