Ketika itu, hari Kamis, aku berbaring sakit karena demam sejak dua hari yang lalu. Semua anggota sedang latihan pramuka. Dan hari itu, kegelisahan melanda. Bukan karena sakit ataupun ada ankulat, tapi gelisah menunggu surat keputusan. Surat keputusan dalam acara QL 2010 gelombang 3. Mungkin aku memang terlalu percaya diri, tapi tidak tahu mengapa aku merasa yakin akan hal ini.
            Setengah jam berlalu, akhirnya karena lelah menunggu, akupun tertidur pulas. Tidaka ada sedikitpun yang menggangguku hingga terdengar hiruk-pikuk kotak sepatu, langkah-langkah kaki dan obrolna bercampur jadi satu membuatku mau tak mau membuka mata yang sangat berat. Bangkit dari kasur, mengenakan mukena untuk berwudhu dan shalat Ashar. Tapi, ketika mukena sempurna kupakai, surat yang kutunggu tergeletak manis di atas lemari. Serta merta kubuka surat itu, dan senyumpun terkembang di bibirku karena surat itu menyatakan bahwa aku lulus untuk gelombang berikutnya. Perasaan senang memang ada, tapi ada perasaan was-was yang tiba-tiba muncul seiring dengan perasaan senang. Tak tahu apa sebabnya, aku letakkan surat itu dan beranjak dari kamar dengan perasaan dan keadaan yang lebih baik.
***
            Hari Ahad, gelombang 4 QL diadakan. Dengan persiapan yang sebenarnya jauh dari cukup, aku mengikuti gelombang ini bersama 9 orang lainnya yang memiliki kemampuan lebih dari aku. Rasa was-was dan tidak mampu membuat rasa percaya diri terus berkurang sehingga aku maju dengan percaya diri yang sangat kurang dan kemampuan yang jauh dari yang lainnya. Apalagi aku mendapat urutan no. 10 yang merupakan urutan terakhir hingga akhirnya presentasi singkat itu berakhir dengan sangat tidak memuaskan, membuatku yakin dan positif kalau aku tidak akan lolos.
            Dan benar dugaanku, bahwa aku tidak lolos di gelombang ini. Sebenarnya aku sudah memperkirakan hal ini, tapi tak tahu mengapa, kesedihan tetap menerjang dan akhirnya kulampiaskan dengan tangisan. Sangat tidak pantas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Lagipula hal itu lumayan mengurangi kekecewaan yang ada. Yah, mungkin takdirku bukan di sini.
***
            Keesokan harinya, ketika aku berangkat sekolah, mataku masih bengkak yang merupakan hasil tangisan panjang semalam cukup menarik perhatian sebagian kecil teman-temanku di kelas. Ketika mereka bertanyapun, aku hanya menjawab dengan gelengan kepala dan senyum yang kupaksakan. Lalu, aku duduk di salah satu bangku kosong, membuka buku merahku, dan menulis apapun yang bisa kutulis.
            Di tengah-tengah kesibukanku menulis, sayup-sayup kudengar percakapan-percakapan tentang hal yang sudah biasa dibicarakan. Tentang Duta Nisaiyyah. Oh, aku sudah tidak ingin mengikuti acara-acara sejenis itu, ditambah diriku yang bisa dibilang ‘g banget’ untuk mengikutinya. Tapi, apa salahnya aku tahu. Seleksi akan diadakan minggu depan, tak tahu hari apa. Huh, sudah cukup, informasi itu sudah lebih dari cukup dan aku kembali menyibukkan diriku dengan bukuku.
            Bel berbunyi, dan secepat mungkin aku membereskan buku-bukuku, beranjak pulang untuk segera berwudhu dan bersiap-siap shalat Dzuhur. Baru saja meletakkan buku dan belum sempat merapikannya, selembar surat terselip di lemariku dalam keadaan lusuh. Ku ambil surat itu dan kubuka. Hanya ada perintah berkumpul di depan Syanggit 2. Apa-apaan ini? Keningku berkerut ketika melihat berkop surat. Festival Santriwati Intelek. Hah, setahuku aku hanya mengikuti ujian gelombang 1, sedangkan dalam acara itu, ada 2 gelombang untuk lolos. Dan yang mengadakan tentunya Dept. 3. Tapi, mengapa di sini hanya tertulis perintah untuk berkumpul di Syanggit 2. Pusing memikirkan, kuabaikan surat itu.
            Tapi, rasa penasaran itu tetaplah ada selama aku belum mengetahuinya. Akhirnya, aku ikut berkumpul di depan Syanggit 2 yang, wow, orang-orang di sana adalah orang yang intelek, bahkan yang seangkatan denganku, seluruhnya anggota Malda. Setelah itu, seorang pengurus bagian keamanan pusat keluar dari kamar dan menjelaskan bahwa kami yang mendapat surat khusus tersebut adalah kontingen dalam acara yang akan diadakan oleh Dept. 3 ini. Seberkas senyum terkembang di wajahku dan dalam sejenak, kesedihan akan kandasnya harapanku di QL, hilang perlahan.
***
            Hari Jum’at, sebelum olahraga dimulai, aku dipanggil oleh pemimbing rayon dengan beberapa orang lainnya. Di situ aku ditanya nama dan identitas lain secara lengkap. Oh, ternyata ini untuk orang-orang yang terpilih mewakili setiap kamar untuk babak selanjutnya di Duta Nisaiyyah. Aku tertawa dalam hati karena hal ini memang tak terlalu aku inginkan. Tapi, baiklah, aku akan mengikutinya.
            Hari itu tiba, dan yang membuatku kaget, pengurus rayonku berinisiatif untuk me-make up wajah para perwakilan kamar. Mukaku yang biasa saja membuatku hampir tertawa ketika aku melihat wajah ber-make up-ku di cermin. Tapi, harus aku akui, wajahku terlihat lebih baik dalam polesan make up.
            Acara dimulai, babak demi babak dilalui, hingga akhir acara, aku meraih peringkat kedua,dan itu berarti aku akan maju ke babak selanjutnya. Kaget bukan main, karena aku memang tidak belajar seserius yang lain. Apalagi, temanku yang menginginkan acara ini dan belajar dengan serius, hanya mencapai peringkat ketiga. Tak tahu harus berbuat apa, bibirku terbungkam dan aku beranjka pergi.
***
            “Hari Jum’at mulai karantina” ucap salah seorang pembimbing kami di kontingen. Okay, mulai semuanya tanpa melihat ke belakang. Dan mulai hari itu, dimulailah hari-hariku yang hanya dihabiskan di DCC, Library dan Maghrib. Awalnya memang susah, karena aku sangat minder, tapi lama-kelamaan, aku terbiasa dan mulai bias berbaur dengan yang lainnya.
            Hari Senin (kalau tidak salah), babak DN selanjutnya. Ternyata, tidak hanya kau yang masuk. Ada beberapa orang dari anggota FSI yang masuk ke babak selanjutnya. Beberapa dari mereka sudah pergi dan mengikuti acara itu, demikianpun aku. Tetapi, kulihat wajah pembimbingku yang ditekuk dan menyiratkan kekecewaan yang berarti, dan itu cukup untuk membuatku mengurungkan kepergianku. Mungkin ini memang konyol, tapi, tidak bagiku.
            “Bagaimana…..?” tanyanya.
            “Buat dia aja, kak…” jawabku sambil menyebutkan sebuah nama. Aku menghela nafas dalam. Lagi-lagi, takdirku bukan di sini.
***
            Beberapa bulan berjalan, dan tibalah saatnya acara Duta Gudep. Dua kali kegagalan sebelumnya membuatku hamper tidak bersemangat untuk mengikutinya, tapi di sisi lain aku ingin menunjukkan kalau aku mampu.
            Selasa pagi, setelah mandi, lagi-lagi aku melihat selembar surat terselip manis di lemariku. Kubaca dan di situ tertulis bahwa aku masuk gel. 2 DG yang akan diadakan hari Kamis pada saat latihan Pramuka. Hmm, kuakui aku tidak memiliki satu bukupun untuk kupelajari. Jadi, sesekali aku datang ke Afgganistan untuk belajar dari apapun dan siapapun.
            Hari Kamis, ketika aku telah sampai di tempat, seperti baru tersadar bahwa rivalku belajar dengan serius dan aku merasa terpojok. Ya sudahlah, kutenangkan diriku sambil membaca buku yang aku bawa.
            Tapi, hasil akhir sungguh mengejutkan. Aku terpilih untuk mewakili gudpeku. Senang, karena ini adalah harapanku. Tidak enak, karena yang berjuang lebih gigih dari aku, justru tersisih. Lagi-lagi, aku hanya bisa membungkam mulutku.
***
            Tiga minggu adalah waktu yang sangat lama bagiku untuk mempelajari buku-buku tentang kepramukaan dan skill. Mungkin kalau buku-buku itu berupa makanan, aku sudah memuntahkannya lantaran bosan dan jenuh.
            Dua hari sebelum acara, aku merasa kesehatanku sangat terganggu, membuatku tak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Dan hari Kamis, aku sudah berada di atas panggung dengan penmpilan yang membuat orang lain tertawa. Bagaimana tidak, hari itu aku dibalut dengan gaun kuning gading, jenis pakaian yang tidak pernah aku kenakan sebelumnya. Dan jika melihat kepribadianku, warna kuning sangat tidak cocok. Dipadu dengan sandal bakiak ala Jepang, aku sangat mirip dengan boneka Jepang yang dijual di toko mainan. Apalagi dengan make up yang seperti ini. Alis yang sengaja ditebalkan dan pipi merah karena kebanyakan blush on.
            Namun, dengan penmpilan yang seperti ini tak mampu membuat kesehatanku membaik. Apa yang kutakutkan terjadi. Gangguan kesehatan yang menyerang seminggu terakhir ini membuatku kehilangan keseimbangan dan kesadaran. Heboh…? Tentu, siapa yang tidak heboh. Acara selesai dengan nilai yang tentunya tidak memungkinkan. Sekali lagi, mungki takdirku bukan di sini.
            Tahun 2011
            Kelas 5, mungkin bagi yang lain hal ini adalah suatu metamorphosis dari sifat yang umumnya dimiliki menuju sifat yang lebih dewasa dan bijaksana. Karena hal itu sangat penting untuk pekerjaan yang diemban sekarang, yaitu pengurus rayon. Sulit….? Bagiku sangat. Meski aku sudah terbiasa mengurus adik-adikku di rumah, tapi hal itu tetaplah berat bagiku. Apalagi aku mendapat bagian peningkatan bahasa yang sejujurnya, aku kurang suka karena aku memang tidak suka hal-hal yang berhubungan dengan bahasa sejak kelas 3.
            Tapi bukan karena alasan itu lantas aku bermalas-malasan. Aku tetap menjalankan apa yang harus aku lakukan sebisa mungkin. Mulai dari report pagi, sore, maghrib dan pekerjaan lainnya. Dan satu yang tidak terlalu kusuka, persidangan. Aku juga tidak tahu mengapa.
            Mungkin hatiku yang tidak seratus persen , meskipun sudah berusaha semampuku, masalah datang bertubi-tubi tanpa henti. Saking banyaknya, aku sampai kelabakan dalam menjalani hukumannya. Berkali-kali bayangan kerudung kuning-pink bergentayangan di pikiranku. Akan tetapi, hal itu hanya jadi bayangan saja.
***
Two days before DA…..
            Penyakit tipes yang sudah merajalela di seluruh penjuru pondok mulai menyerangku yang system imunnya sudah mulai goyah. Akhirnya, karena tak kuat berdiri lagi, aku terbaring di atas kasur di BKSM darurat.
            Hari H DA, siang hari aku di bawa pulang oleh orangtuaku karena keadaanku yang sudah semakin labil. Rentetan acara DA dan KMD sama sekali tidak kuikuti karena keadaan  kuterus begini. Akan tetapi, Alhamdulillah, berkat pengobatan rumah sakit, aku kembali ke pondok malam Idul Adha.
            Badanku memang masih sangat labil, tapi setidaknya tidak separah sebelum pulang. Sedikit demi sedikit aku bisa mengikuti kembali acara-acara dan melaksanakan tugasku kembali. Rasa lelah memang selalu menyerang, tapi tidak terlalu parah.
***
Hari Sabtu…
            Pagi itu setelah muhadatsah pagi, tiba-tiba salah seorang temanku yang juga sepengurus denganku dan memberitahu perihal panggilan kami ke kantor LAC. Hmm, ada apa ini…? pikirku sambil berjalan berempat ke sana.
            Sampai di sana, ustadzah LAC hanya berkata sebentar saja. Aneh, biasanya persidangan berisi perkataan panjang lebar kali tinggi dan menghabiskan waktu bermenit-menit. Lalu, ustadzah masuk sebentar, kemudian keluar menyuruh kita masuk ke perpustakaan LAC. Tanpa basa-basi, beliau meletakkan 4 kerudung kuning-pink di atas meja di hadapan kami, menyuruh kami untuk memakainya dan meninggalkan kami. Tanpa ekspresi apapun, kami langsung memakainya. Setelah itu, kami dinasehati dan diberi hukuman lainnya, kami pulang. Selama perjalanan, seluruh mata tertuju pada kami. Salah seorang temanku berbisik, “Kok pada ngeliatin kita, sih?” Kontan saja aku menunjuk ke kerudung belang itu sambil tertawa. Ya, tawa yang merupakan gumpalan ribuan rasa di hati, termasuk penyesalan.
 

           


            


Leave a Reply

Powered by Blogger.