Gontorputri 2, enam tahun yang lalu...
            Aku masih bingung. Ayahku yang mengantarku kesini hanya bisa menemaniku dalam waktu dua hari. Banyak acara yang menunggu di rumah, itulah alasan yang aku tahu. Aku takut, bingung, apa aku bisa hidup sendiri tanpa kedua orang tuaku. Apakah aku kuat untuk menjalani kehidupanku selanjutnya? Aku terlalu kecil untuk berpisah dengan mereka, aku baru dua belas tahun. Apa yang bisa aku lakukan di umurku yang sekarang ini?
            Hari demi hari pun berlalu dengan cepatnya.Hingga tiba ujian yang menentukan kehidupanku di pondok untuk beberapa tahun ke depan.“Ya Allah, ana pingin lulus di Gontor Putri 1,”gumamku saat kami. Semua berjalan beriringan menuju gedung syiria, libanon, dan yordania. Sore itu kami membersihkan tempat yang akan kami gunakan untuk ujian pertama kelulusan.
            Do’a selalu kupanjatkan untuk kelulusanku di GP 1.Belajar yang keras pun aku lakoni demi hasil yang ingin kucapai dan akan kutunjukkan pada ayah. Aku tak akan membuatmu kecewa ayah.
            Akhirnya hari itu tiba. Dimana kami berkumpul dibawah naungan terop yang terbentang di antara gedung damaskus dan Beirut. Aku duduk bersama teman-teman sekamarku. Memenjatkan do’a, berharap keinginan yang kami cita-citakan menjadi kenyataan.
            “Panggilan pertama, Gontor Putri 1, no…,…,”
Aku terus memanjatkan do’a. “Ya Allah semoga nomor ana kesebut..”
            “no. 878, 879, 880, 882,…”
Degh! Aku tersentak. Nomorku tidak tersebut? Apa aku salah dengar? Apa aku kurang memperhatikan? Benarkah nomorku tak disebuut barusan. Perlahan namun pasti tangisku pecah. Rasanya begitu menyakitkan, begitu perih setelah apa yang kita usahakan ternyata sia-sia. Benarkah aku tak lulus di GP 1, mungkinkah di GP 2? atau di GP yang lainya?
            Aku masih terisak memikirkan kenyataan yang akan menimpaku. Tidak luluskah?
            “Panggilan selanjutnya, Gontor Putri 2. No…..”  aku masih terdiam mendengarkan dengan seksama. Semoga nomorku disebut di panggilan ini.Ku panjatkan do’a sekali lagi. Berharap nomorku akan segera disebut.
            “dan nomor 1252” aku tersentak lagi. Ya Allah, kapan nomorku disebut? Sudah cukup kesabaran menanti panggilanku. Sudah cukup rasa perih yang kutahan karena aku gagal mendapat apa yang aku inginkan. Apakah aku lulus, atau tidak? Aku pun tak lagi peduli. Aku sudah meninggalkan sanak saudara nun jauh disana untuk menuntut ilmu di Gontor. Apa aku harus pulang sia-sia tanpa membawa kebarhasilan? Aku masih mendengarkan panggilan selanjutnya.
            “Panggilan ketiga. Kelulusan Gontor Putri 3, no…, …, …
            “Ya Allah, kapan nomorku disebut Ustadzah?” Aku masih memperhatikan.
            “ No 881, no….”
Aku tersentak lagi. Itu nomorku. Seketika dadaku terasa lapang. Meski aku tak lulus di GP 1, tapi setidaknya belajarku tak sia-sia. Langsung setelah itu, aku berangkat ke wartel untuk memberi tahu orang tuaku perihal kelulusanku.
            Pertama kali kupijakkan kakiku di GP 3, aku ragu. Bisakah aku meneruskan kehidupanku disini, dengan pondok yang belum terlalu luas, jalan belum dipaving, dan terlebih lagi hatiku belum mantap disini. Apa aku bisa?
            Kucoba beradaptasi, mungkin akan sedikit membantu tuk hilangkan harapan akan kehidupan di GP1. Aku duduk di kelas 1C. Tapi ya, kalau dibandingkan teman-temanku aku tak lebih pintar dari mereka. Aku terus mencoba meningkatkan belajar untuk meningkatkan kelasku.
            Setahun berlalu. Sangat tidak ku percaya saat melihat papan kenaikan kelas. Aku mencari namaku dari kelas terbawah, 2 I. Aku teringat percakapan antar aku dan ayah baberapa minggu lalu.
            “Kalau Wiwit kelasnya dua I bagaimana?” Ayah bertanya sambil melihatku tajam.
            “Ya,,Wiwit harus meneruskan lah yah, kan udah bertekad.”
            “Kalau Wiwit gak naik?” Tanya ayahku lagi.
            Aku berfikkir sejenak. “Ya,,tetep balik lah.” Jawabku sekenannya.
            Aku terus menelusuri nama-nama itu. 2I, 2H, 2G, 2F. “ Ya Allah nama ana gak ada, apa ana gak naik?” Aku bingung dengan semua ini. 2E, 2D, 2C.
4. ....
5. Azizah Esti Pratiwi
6. .....
“Yes!” Pekikku dalam hati. Sungguh aku tak menyangka kalau aku bisa naik ke kelas 2C. Alhamdulillah...
            Setengah tahun berlalu. Karena beberapa faktor nilaiku yang diawal tahun 7,00 kini turun drastis menjadi 5,71. Absenku pun ikut turun dari nomor empat ke nomor dua puluh satu. Apa aku kurang belaja, apa aku terlalu sombong.  Aku tak tahu pasti yang aku tahu hanyalah aku harus berubah.
            Sepuluh syawwal. Kembali kutelusuri papan nama tua itu masih berharap namaku tercantum didalamnya dengan kategori anak-anak yang naik kelas da selalu memakai papan nama merah yang selalu aku banggakan. Aku kembali memperhatikan papan di ddepanku. Tiga G, batas akhir angkatanku. Mengapa berkurang begitu banyaknya. Dua kelas terhapus berarti empat puluh anak lebih yang tak naik kelas. Aku merasa bersalah tak mampu membawa mereka untuk naik ke kelas tiga.
            Hari demi hari berganti higga tiba saatnya ujian pertengahan tahun. Sayang aku terkena sakit, badanku panas, kepalaku pusing dan enggan untuk berfikir. Yang aku lakukan hanyalah terbaring lemas diatas kasur.  Untunglah banyak orang yang bersimpati dan selalu menyemangatiku, termasuk kakak kelasku. Mereka membantuku untuk memahami pelajaran yang tak aku mengerti, menemaniku belajar dan masih banyak hal baik lainya.
            Liburan tengah semester uai, kini raport kelas siap untuk dibagikan, meminta pertanggungjawaban atas apa yang kita jawab ketika ujian. Aku hanya bisa pasrah dengan hasilku ini. Jangankan nmor absen naik kelas pun aku tak sepenuhnya yakin. Wali kelasku membagi raport dimulai dari absen paling bawah. “Ana nomor berapa ya?” naik ataupun turun, aku harus tetap semangat.
            Semua telah dibagikan. Aku termangu menatap secarik kertas yang ada di tanganku.
            “Wah, Wiwit mabruk ya..namroh ula coba, gak nyangka tau.”
            “Iya, iya, kok bisa sih Wit? Anti kan ngantukan di  kelas.”
            “Alah,,Wiwit nih ngantuk juga tetep pinter.”
            “Apaan sih antuna?” Sanggahku kepada mereka. Pujian demi pujian terlontar dari mulut teman-temank. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Aku tak mau dianggap besar hati dengan semua ini. Kalau dibilang aku suka ngantuk itu memang benar, bahkan bukan rahasia lagi, ustadzah pun sudah kenal padaku karena sifat ngantukku itu. Biarpu aku ngantuk aku harus bisa membuktikan kalau aku ini rajin dan aku bisa.
            Masa kelas tigaku penuh dengan semangat optimisme. Berbagai seleksipun aku coba, seperti seleksi menjadi anggota Persada atau persatuan senam darussalam. Walaupun aku tak terlalu mahir dalam menggerkkan badan tapi setidaknya aku mencoba. Dan sore itu...
            “Ayyuwah, ij’alna shufuf murottaban!” kata bagian olahraga pusat. Aku merentangkan tangan dan meluruskan barisan. Lagu diputar dan badanku mulai bergerak mengiringi irama. Kakak-kakak dari bagian olahraga pun berkeliling mencari anggota yang dianggap pantas masuk Persada. Tiba-tiba salah satu dari mereka berdiri di depanku, konsentrasiku terhadap gerakan pun buyar dan perut bagian kiriku terasa angat sakit. Aku harus terpilih maka dengan sekuat tenaga kutahan rasa sakit yang melilit perutku.
            “Masmuki ukhti?” tanya seorang bagian olga.
            “Ismi Afifah ukhti.” Dia anak yang berada disebelahku.
Tepat setelah itu lagu berhenti. “Intahaina min ikhtiyaari, yang namanya kesebut segera berkumpul sama ukhti Medita hunaka! Dan ntuk yang disebut namanya, boleh pulang sekarang.” Aku terpukul dengan hasil akhir ini. Seluruh tenagaku terkuras habis untuk mengikuti gerakan ini dan aku rasa aku sudah cukup semangat mengikui gerakan aneh tadi. Atau memang ukhtinya kurang memperhatikan aku? Hatiku perih, sia-sia yang kulakukan, padahal sore ini berniat untuk nyetrika baju yang baru selesai dicuci. Karena mendengar seleksi Persada langsung kutinggalkan baju-bajuku, bahkan mandi pun aku tak sempat. Dan sekarang malah aku tak loos seleksi. Sangat memprihatinkan nasibku ini. Ikhlas kutanamkan dalam hati, masih ada tahun depan pkirku.
            Tahun keempatku disini aku diberi hukuman akibat dari kesalahanku sendiri. Ya, aku membaca novel yang kudapat dari temanku sewaktu dijenguk oleh orangtuanya. Aku sadar dan sangat menerima kerudung bagi sang pesakitan seperti aku dan kesepuluh kawan-kawan senasibku. Tak jauh beda dengan hukuman-hukuman yang sering kudengar, aku pun mendapat hukuman yang sama. Meminta nasehat dari wali kelasku, ustadzah Hifdzotul Munawwaroh.
            Tak seperti yang kami harapkan, ternyata beliau tidak mau memberi kami nasehat. Beliau tahu bahwa nasehat tak lagi bisa membuat kami berubah, beliau hanya ingin melihat kami berubah dengan keinginan kami sendiri dan kesadaran diri.
            Satu persatu dari kami sudah dipanggil untuk melepas kerudung pesakitan ini. Tapi kapan giliranku?
            Lima puluh empat hari kemudian. Aku terbaring lemah dengan bintik-bintik merah disekujur tubuhku. Penyakit cacar ini sangat mengganggu dan terlebih sangat membuatku terlihat tak berdaya. Tapi dalam kondisi yang seperti inilah aku mendapat kebebasanku kembali, kerudung yang hampir dua bulan bersamaku kini terlepas dariku. Aku bebas dari kerudung jelek ini, aku tak berharap untuk memakainya lagi. Tak akan.
            Tahun kelimaku masih kujalani seperti biasanya, ya, biasa mendapat omelan dari pemimbing, biasa bertengkar dengan teman sebagianku dan biasa memarahi anak-anak yang melanggar di bagian olahraga. Geduang Al-azhar masih tampak megah seperti biasanya, dan aku berharap tahun depan masih bisa melihatnya. Entah kenapa aku merasa akan sangat rindu dengan tempat ini nantinya. Lima tahun  lebih aku bersamanya, menikmati megahnya setiap aku membuka mata. Aku suka tempat ini.
            Otakku hampir tak sanggup  berfikir lagi, tapi untunglah semua ujian ini sudah berakhir. Rangkaian panjang ujian yang sangat melelahkan. Bagaimana tidak? Dimulai dari ujian lisan yang tak berjeda, ada tapi hanya satu hari selama dua minggu. Practical teaching yang sangat menguras tenaga dan pikiran sampai siang setiap hari, belum lagi ujian tulis dengan materi yang tak kurang dari dua puluh lima materi pelajaran, jika aku tak cukup kuat aku yakin sekarang rambut hitamku telah memutih sekarang ini, untungnya itu tak terjadi.
            Gontor Putri 1
            Malam kebersamaan siswi akhir KMI 2012, ya disinilah aku sekarang. Berdiri untuk menyaksikan malam dimana kami, seluruh siswi akhir KMI dari semua Pondok Putri berkumpul, entah itu dari Gp 1 yang berlokasi di Mantingan, GP 3 yang tak begitu jauh karena masih dalam satu kabupaten, Ngawi, GP 4 di Kendari pun turut bergabung di Mantingan sejak kelas lima, bahkan teman kami yang berada di GP 5 Kediri pun berada disini. Podok terlihat sangat padat dengan mobil-mobil yang berplat polisi yang sangat beragam, maklum sekolah kami berstandar internasional.
            Malam ini kami merasa dipersatukan kembali setelah sekian lama kami dipisahkan karena harus disebar ke pondok yang berbeda-beda, tapi sekarang kami satu, alumni dua ribu dua belas.
            “Kayaknya ini terakhir kalinya aku nyanyi lagu Oh Pondokku deh,”kata salah satu sahabatku.
            “Iya, kayaknya sih aku juga gitu,”kata yang lain lagi.
            “Makanya nyanyinya yang khusu’ , ntar kalo kita diluar kan gak kayak gini lagi,”tambahku ke mereka.
            “Bener banget, gak bakal denger lagu ini lagi, jadi sedih,”kata mereka lagi.
            “Sstt...diam!” kata suara dibelakang kami.
            Kami kembali melantunkan lagu Oh Pndokku dengan penuh khidmat. Acara sakral ini dihadiri oleh bapak pimpinan, serta ketua badan wakaf dan juga guru-guru senior yang berdomisili di Gontor Putra.
            “Iya,,,masih makai jaurob nih,” teriakku ke salah satu kawanku.
            “Cepetan, kita hampir telat loh,” balasnya padaku.
            Ya, hari ini hari upacara kelulusan kami, yudisium siswi akhir KMI 2012. Hari dimana kami dinyatakan lullus atau tidak dari sekolah keren dan ajaib ini. Semua santriwati telah duduk rapi di barisan kursi yang memang diperuntukkan bagi kami. Tak banyak kursi yang kosong karena memang angkatanku sangat  banyak orangnya.
            “Nih, anti dapet risalah, bacanya ntar pas pulang ke rumah ya!” kata sahabatku.
            “Jangan lupain ana ya..”
            “Siapa yang ngabdi di ma’had ya?”
Panggilan pertama sudah terdengar, namun cuap-cuap kami dan teman-teman yang lainya masih terdengar.
            “Ah,,masih panggilan pengabdian GP 1, kita masih lama,”
            “Ngabdi dimana ya?” kataku.
            Tiba-tiba,” Ananda Azizah Esti Pratiwi binti Bahari, Kalimantan,” Aku gelagapan mendengarnya. Langsung aku sambara agenda disampingku yang belum sempat kubuka karena sibuk bercanda dengan teman-temanku. Aku masih tak percaya, begitu juga teman-temanku pastinya. Semua mata tertuju padaku dengan aura binging yang tak terjawab. “Apa kalian bingung? Akupun juga,” batinku.
            Sekarang aku duduk disini, duduk di depan bapak pimpinan untuk mendengar nasehat beliau sebelum melepas kami keluar ke masyarakat nantinya. Aku merasa De Javu sejenak. Seperti kelas lima dulu aku tak menyangka akan dipanggil mendahului teman-temanku. Nomor 32, yah memang tak begitu atas, tapi diantara delapan ratus siswi, bagiku sudah dari cukup mendapat urutan ini.
            Seusai taujihat, aku masih bingung dengan cerita hidupku selanjutnya, inikah jalan yang harus aku lalui.
            “Anti dari Gontor putri3 ya?” kata teman sampingku yang memang belum aku kenal sebelumnya.
            “Na’am,” jawabku sekenanya.
            “Ana Nanda Nabilah, min Jakarta,,masmuki?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
            “Ana Wiwit, min Kalimantan,” jawabku sambil membalas uluran tangannya.
            “Salam kenal ya,”katanya lagi.
            Kami keluar satu-persatu melalui tangga gedung Kuwait, setelah bersalaman dengan para madamat yang memberi kami medali kelulusan yang bertuliskan “Alumni 2012”, dengan pita merah, hijau dan putih yang merupakan warna bendera Pondok kami.
            “Esti mabruk ya, ngabdi di GP 1,”
            Mabrukya wit,” Semua ustadzah yang membagikan tas marhalah mengucapkan selamat padaku. mana ayah ya? Pikirku.
            “Lho, Wiwit sudah dipanggil ya?” tanya seseorang disampingku, yaang ternyata ibu dari teman sekonsultku.
            “Iya tante,,,ngabdinya disini,” jawabku . Dan beliau langsung menelephon ayahku. Tiba-tib mataku terasa berat, penglihatanku mulai kabur. Aku pun bergegas pergi menuju masjid untuk berkumpul. Pengarahan un tuk opspek dan pengukuran baju tadris begitu juga almamater universitasku yang baru.
            Aku duduk disamping masjid, sendiri, memandang sekeliling. Semua orang sibu dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang berfoto ria dengan sanak saudara, sahabatnya, ada yang sibuk mengukur baju dan ada juga yang menelepho ria denga orang diseberang sana. Aku termenung.
            Ya Allah,,inikah jawaban do’aku enam tahun yang lalu, dimana aku sangat menginginkan kelulusan disini, dan mendambakan kehidupan disini. Enam tahun  telah berlalu, dan di momen kelulusan pula do’aku terkabul. Mungkin ini yang terbaik. Aku akan menjalaninya dengan baik. Enam tahun aku telah menunggunya, dan semua itu tak cukup terganti dengan satu tahun pengabdian, mungkin lebih.

           
           



Leave a Reply

Powered by Blogger.