Kesalahan memang hal absolut pada manusia, tak terkecuali aku yang  hanya segelintir manusia tang bahkan tak dikenal dunia. Dan kali ini pertama kalinya aku disini, di kantor pengasuhan dengan kerudung orange-biru didepanku.
            “Hudzi al-khimar!,” kata ustadzah kepada kami untuk segera mengambil kerudung-kerudung sial itu. Tak ada pilihan lain kecuali patuh. Ya patuh. Sulit dipercaya bahkan aku sendiri belum percaya ditahun terakhirku aku harus merasakan kerudung pelanggaran. Penyebabnya sepele memang, hanya karena belum merapikan soundsystem seusai acara. Tak lihat hukuman ini, bagaikan parang bagiku.
            Aku tak mau keluar kamar, bahkan untuk sekedar makan. Dunia serasa sempit, semua mata melihat saat kuberjalan. “Hey, I am an ordinary person, i can be punished, don’t you?” tak paham apa yang mereka lihat dariku. Aku dan kelima pesakitan lain mengenakan kerudung jelek ini hampir sepuluh hari. Entah karena kasihan atau bosan melihat kami dengan kerudung belang, akhirnya pengasuhan mencopotnya. Duniaku kembali.
            Abah-Umi menjengukku jum’at ini, syukurlah kerudung belang tak lagi dikepalaku. Aku tak yakin mereka bisa tenang melihatku yang seperti itu. Tak lebih dari tontonan gratis di ruang penerimaan tamu pastinya, mereka akan kecewa padaku.
            Sebulan lebih dari kejadian itu. Ternyata pengalaman tak membuat kami paham. Aku dan teman-temanku BAGIAN INFORMASI kembali memakai kerudung itu dengan kesalahan yang sama, tapi yang sekarang sedikit keterlaluan. Kami membiarkan soundsystemitu bertengger di lapangan Ninsia semalaman tanpa menutupnya dan mematikannya. Untungnya sibelang bersama kami hanya beberapa hari, mungkin empat. Tapi ada bonus hukuman yaitu dijemur di depan masjid setelah dhuhur, dan tak ada yang memanggil kami untuk pulang. Ah...mungkin ustadzah lupa.
Tak berapa lama dari tragedi soundsystem, kami dicoba lagi dengan hukuman. Tapi kali ini bukan penuh kesalahan BAGIAN INFORMASI, karena saat itu waktu pembacaan syi’ru Abu-nawas menjelang maghrib. Dua orang temanku berbicara dengan bahasa Indonesia dan parahnya suara mereka terdengan ke seantero pondok karena mereka mengambil shaf sholat terdepan dan memang dekat dengan speaker. Kerudung belang kuning-pink pun menyapa. Kali ini dari ustadzah Language Advisory Council (LAC). Tapi bukannya sedih kami malah tertawa, karena saking seringnya dengan sibelang mungkin? Dan untuk yang ketiga kalinya juga Abah-Umi datang dari Bojonegoro untuk melihatku. Dan ini yang paling kusyukuri, mereka tak melihat sibelang di kepalaku, karena tepat di malamnya aku selesai menjalankan hukuman.
Introspeksi diri, selalu hal ini yang kami tekankan dalam bagian kami. Bagian informasi. Dan hasilnya pun Alhamdulillah, kami tak lagi lalai akan kewajiban, selalu tepat waktu dan tidak ada permusuhan. Tapi kalau namanya berantem antar teman tentu ada, namun masih dalam taraf yang wajar.
Tapi tidak untukku. Si belang selalu mengejarku, mengintaiku, dan mencari celah untuk menikamku. Tepat dihari kedua ujian untuk pelajaran sore aku diturunkan dari nomerator kertas jawaban ujian. Ya...tidak salah lagi karena kurang teliti dalam meghitung kertas jawaban. Aku dipindah tugaskan ke bagian yang menurutku sangat menguntungkan. Bagian koperasi dapur yang bertugas membagikan nasi dan lauk saat makan siang ke seluruh santriwati. Tak kuanggap ini sebagai hukuman, karena bagian ini sangat menyenangkan. Tapi satu yang membuatku tak percaya diri untuk berjalan. Si belang semangka, hijau merah tetap saja menempel di kepalaku. Dan ini untuk yang terakhir kalinya si belang terlepas dari kepalaku sehari sebelum  Abah dan umi menjengukku.

Si belang telah menjadi bayanganku setengah tahun terakhir ini, mulai dari yang orange biru, kuning pink dan semangka hijau merah. Mereka telah datang dan menyinggahi kepalaku. Tapi aku bersyukur karena Abah dan Umi tak pernah tahu itu. Biarkan saja ini menjadi rahasiaku. Apalagi Abah dan Umiku.
(By. Shofuria)


Leave a Reply

Powered by Blogger.