Ini mungkin bukanlah satu-satunya pengalamanku di Pondok, tapi ini adalah salah satu kenangan terindah di sini. Berawal dari suatu keharusan bagi seluruh santriwati kelas lima, pada bulan ramadhan, ya... harus menjaga pondok, otomatis kami semua tak merasakan bagaimana indahnya  berbuka bersama dengan keluarga tercinta, tarawih bersama apalagi untuk merasakan lebaran dan berkumpul dengan sanak saudara. Itu tak mungkin karena inilah kewajiban kami sebagai santriwati kelas lima "wajib pondok”.
Ramadhan di pondok? Awalnya sangat ragu, enak nggak? Seru nggak ? Pingin pulang nggak ya? Dan setelah aku merasakan sendiri bagaimana menjalani puasa di pondok ternyata jawabannya, enak, seru dan nggak ingin pulang. Walau diawal liburan badan terasa capek semua gara-gara saat penempatan panitia rihlah kelas enam mendapat bagian jukir alias juru parkir. Sangat berkesan, bagaimana tidak? Aku dituntut untuk mengatur bus-bus yang akan membawa seluruh santriwati kelas enam yang jumlahnya mencapai lima ratusan. Belum lagi menghadapi sopir-sopir yang ngeyel dan tak jarang yang susah diatur, hingga terjadi perang mulut diantara kami. Semuanya sungguh sangat berkesan hingga kini dan mungkin sampai nanti jika aku sudah bercucu.
Ramadahan di pondok, bukan berarti bebas dari kegiatan. Kami masih saja disibukkan dengan Musyawarah Kerja untuk menentukan peraturan di tahun depan, dari merevisi isinya, redaksinya atau bahkan menambah peraturan yang dijalankan untuk setahun kedepan. Tapi sayangnya aku tak begitu sehat saat Musyawarah, aku sakit dan diperbolehkan untuk beristirahat tapi bukan berarti aku tak mengikuti jalannya Muker ini, meski aku sakit aku masih bisa mendengarkan jalannya musyawarah dari dalam kamar yang berlokasi tak begitu jauh dari aula.
Pada bulan ini juga Allah memberiku kesempatan yang sangat aku syukuri, pergi ke Mesir untuk jangka waktu yang dua minggu itu menurutku sangatlah luar biasa. Banyak cerita di Mesir bersama teman-teman kontingen. Dari situ aku banyak mengenal anak-anak dari Gontor Putri tiga ataupun Gontor Putri lima, dan sedikit anak putra dari kontingen Gontor Putra. Kami hidup berdampingan selama disana karena tak ada orang lain yanng bisa kami dampingi pastinya. Tapi sebenarnya aku merasa sangat bersalah kepada semua teman-teman satu bagianku. Aku disini bersenang-senang dengan teman baruku sedangkan mereka yang disana kian berkutat  dengan  musyawarah kerja yang sangat panjang, apalagi aku tak ikut menguatkan bagian kami. Akupun berjanji meski aku tak banyak ikut campur dalam pembuatan program kerja baru aku akan tetap semangat untuk menjalaninya.
Banyak hal yang aku lewatkan selama aku di Mesir, aku tak menyaksikan bagaimana teman-teman berjuang menjadi panitia haflah takhrij bagi kakak-kakak kelas enam yang sebentar lagi akan keluar. Tak menyaksikan Graduation siswi akhir KMI, yang katanya sangat ramai dan kontan embuat Pondok terasa sempit karena kehadiran wali santriwati  yang ingin menyaksikan kelulusan putri tercintanya.
Meski banyak moment yang aku lewatkan saat Ramadhan, aku tetap menikmati suasana ramadhan di sini, terlebih saat aku mendapat bagian Ta’mir dalam Panitia Bulan Ramadhan.bagian yang aku anggap bagian paling susah sekaligus seru. Bisa dibayangkan, ketika kami ditugaskan untuk merubah penampilan luar pondok ini? Kami harus merubah warna pondok dengan warna cat yang kian memudar  dengan warna-warna baru sehingga terlihat lebih segar ketika santriwati pulang dan melihat pondok ini. Tak jarang kami harus sahur dan buka puasa on the road, bukan karena dalam perjalanan seperti yang biasa kita dengar sebelumnya, melainkan karena kami harus mengecat seluruh jalanan di pondok ini, maka dari itu kami namakan buka on the road.
Bagi semua teman-teman seperjuangan ku seperti: Ni’no, Nanjak, Shamy, Isha, Inung, Baried, Bali, Megamon, Riska, Idung, Adel, Atika, Komeng, Eros, Ugo, ka’ Luthfa, Aning, Irma, Dedew dan putri...maaf untuk semua teman yang belum disebut disini bukan berarti Ata lupa tapi karena keterbatasan ingatan. Ingatkah kalian bagaimana kita menakhlukan kerasnya lapangan Hostel Indonesia dan bagaimana kita berjibaku menundukkan lapangan merah? Semua terpahat jelas dibenakku akan semua  kilatan memori indah kita kala itu. Tak seindah taman firdaus memang tapi pertemanan kita dan persatuan kita waktu itu adalah segalanya bagiku, aku sangat berutung bisa merasakan kebersamaan bersama kalian.
Dalam acara buka bersama bersama masyarakat sekitar aku mendapat bagian “jukir” lagi. Dan tak bisa dipungkiri memang postur tubuhku sangat mendukungku dalam mengemban bagian ini. Banyak tamu yang menghadiri jamuan buka puasa ini, bahkan Pak bupati Ngawi dan keluarganya pun hadir berjalan berdampingan dengan guru-guru senior kami. Tak lupa kehadiran bapak pimpinan pondok yang sangat bersahaja menambah acara malam ini terlihat begitu bersahaja. Aku bisa menyaksikan betapa terlihat jelas bahwa aku sedang tidak berada di tempat sembarangan. Banyak sekali orang diluar sana yang mengetahui apa itu Gontor, meski tak tahu seutuhnya dan apa hakikat Gontor itu sebenarnya. Entah kenapa akku ingin menitikkan air mata jika mengingat dimana aku sekarang. Aku di pondok disaat ramadhan tanpa kehadiran kedua orang tuaku.
Begitu banyak kenangan yang telah kita ukir bersama disini. Hingga tak ada sdkitpun ruang dihati kita yang  kosong akan kenangan dan memori akan Gontor. Untuk Richa ayu, aku ingat bagaimana kita setiap kali merasa kelaparan di malam hari dan tak ada akanan yang bisa dimakan? Kita memakai kompor pemberian papa anti yang biasa dipakai kalau lagi dinas keluar kota. Yang bisa dibilang tak berbentuk seperti kompor karena bentuknya yang memang hanya lempengan seng dan ada kipas di tengahnya, biasanya kita tuang baby oil diatasnya, dan sim salabim jadilah api yang bisa kita gunakan untuk merebus mie.
Aku juga ingat kenangan bersama kedua temanku, Shofa dan Okta. Ingat nggak kalian bahwa kita pernah mengambil air ke MJM (ma-un janib mathbakh) dengan hanya berkendara satu sepeda? Ata yang ngebonceng, Okta yang duduk dibelakang sambil bawa jak tempat air juga Shofa yang saat itu duduk di stang depan, siip banget nggak kan?
Inget juga bagaimana Ata dan Pute’ alias Putri Nur Jannah berlenggak lenggok diatas altar fashion show saat malam kebersamaan. Ata tak akan menyangka bisa bergaya disana secara Ata tahu betul kriteria orang-orang yang mesti ber-fashhion show, dan semua itu nggak ada sedikit pun dalam diri Ata.
 Masih banyak ha-hal yang memang tak bisa aku rangkai dalam cerita Ramadhan di sini, tapi cukuplah cuplikan diatas mewakili perasaanku yang memang sangat menikmati suasana Ramadhan ditahun kelimaku sewaktu berada di pondok ini. Dan memang benar adanya bahwa ramadhan tahun itu adalah the best Ramadhan ever in my life.


                (By: Faprilisya Heldika)


Leave a Reply

Powered by Blogger.