Jalan setapak itu masih sama. Jalan kecil antara gedung Libanon dan Syiria. Rumput – rumput liar yang tumbuh di sela – sela paving. Mengingatkanku akan suasana mahjar. Perlahan memori – memori itu menguar memenuhi atmosfer ingatanku. ..
Yordania kamar 4,
            Aku sedang merapikan kertas intiqadad ketika terdengar suara teriakan dari luar. “Kelompok 31, ayo piket !!” Aku melongok keluar jendela, kulihat disana geng 31, kelompok ‘amaliah tadris-ku sudah rapi jali siap untuk piket. Aku beranjak keluar kamar sembari menarik kerudung putihku.
            “Lho, kok piketnya sore-sore sih?” aku bertanya heran .
            “Wah, Mase nggak tahu ya, kalau ‘amaliah tadrisnya di gedung Mesir baru. Kan nggak boleh piket malam – malam, soalnya...”
            Aku menoleh, “Kenapa ?”
            “Ya soalnya...”
            “ Iya, kenapa?”
            “Soalnya kemarin malam ada yang digangguin waktu piket !”
            “Digangguin ? Siapa yang nggangguin ?”
            “Ya sama penunggunya lah yaa,”
            Aku geleng-geleng kepala mesem, sementara teman – temanku masih asyik mendebatkan sang penunggu gedung Mesir Baru.
            “ Sambil jalan yuuk, biar cepet piketnya! Aku ‘amaliah tadris lusa, nih!” Aku merajuk sambil menarik-narik lengan mereka.
            “Oh iya ya, pelajaran apa se?”
            “ Mutholaah nih,  kelas 3C !”
            “Siapa pembimbingnya ? jangan-jangan...?”
            “Ustadz Suharto ya?”
            “Walah – walah, bisa – bisa darsun naqd nya sampai Maghrib tuh !”
            “Ha ha ha!!”
            Aku meringis, “Iya nih, makanya mau siap-siap ngerapiin tulisan i’dadnya, tahu sendiri kan kalau tulisanku kalah cakep sama cakar ayam !”
*****
Senja begitu temaram. Tenang dengan sapuan keemasan di cakrawala. Angin bertiup perlahan menghembus siluet maharani langit yang turun ke ujung horison dengan anggun. Iringan kidung Illahi dari bacaan qiraatul qur’an menambah aura sakral di senja itu. Aku duduk berselonjor di depan auditorium sambil membaca Qur’an, sementara teman–temanku yang lain membaca Qur’an juga. Namun bedanya mereka duduk manis di atas balkon, dan aku bersama beberapa orang tetap stay disini untuk memastikan tidak ada yang telambat ataupun kabur dari pembacaan Qur’an sebelum Maghrib.
Yah beginilah, menjadi tim Dinamisator untuk kelas 6 memang harus S5, siap siaga selalu setiap saat he..he..he, apalagi kalau teman-temanya ada yang suka bandel, kita harus siap jadi satpam dimanapaun kapanpun.
Pikiranku melayang selayang pandang. Teringat akan i’dad amaliah tadris yang belum juga kelar. Aku sudah pergi ke kamar beberapa Ustadzah untuk mengkonsultasikan hal ini. Bahkan aku sudah maju ke pembimbingku, Ustadz Suharto yang tercinta. Sang profesor sudah memberiku banyak pengarahan dan wejangan yang belum kuselesaikan pula hingga detik ini.
Aku menghela nafas panjang, panjang sekali, kali ini bahkan sepanjang jalan kenangan (ngaco, ding!) Yang jelas aku sedang galau tingkat high class. Aku tidak yakin apakah aku siap atau tidak menghadapi ujian akhir ini. Selama aku belajar di bangku kelas 6 aku belum pernah merasa belajar dengan baik dan sungguh- sungguh. Apalagi ketika masih memangku amanah di OPPM, jangan harap buku pelajaran bisa tersentuh.
Kadangkala tugas dan amanah dari pondok membuat kami lupa dari tugas utama kami, Belajar. Seharusnya itu tidak terjadi kalau kami bisa membagi waktu dengan baik. Namun kadangkala idealisme memang berbenturan dengan fakta. Sebenarnya sih udah niat mau belajar, tapi kalau kantuk dan capek sudah datang menghampiri, yaa wassalam gontor putri deh ! dan buku pun hanya jadi bantal.
Kukira keadaan aan berubah manakala datang saat pergantian amanah, ketika kami menyerahkan estafet kepengurusan kepada adik-adik periode setelah kami. Namun ternyata tidak semulus anganku. Sesudah nuzul aku masih punya kewajiban lain sebagai tim Dinamisator. Sebagai calon alumni kami punya seabreg hal yang perlu diurusi, dari wakaf pondok, perfotoan, agenda marhalah, rihlah dakhiliyah dan khorijiyah dan sebagainya dan seterusnya. Dan akupun meghela nafas semakin panjang huaaaah, ibuu tolong !!
Namun tak apa, demi teman-teman kami, ini semua akan kami selesaikan walaupun rasanya kepala ini mau pecah ! Apalagi ditambah kejadian tadi siang, tepatnya dari tadi pagi sih, begini ceritanya, beberapa teman se genk amaliah tadrisku ketahuan mengobrol saat amaliah berlangsung oleh ustadzah pembimbing kami hari itu. Aku sudah coba mengingatkan mereka dengan isyarat. Namun kejadian itu terlanjur terjadi. Kami dimarahi habis-habisan, dianggap tidak menjaga kesakralan amaliah tadris. Sang ustadzah sengaja tidak memberi kami hukuman secara langsung, namun akan melaporkan kesalahan kami pada panitia ujian. Itu artinya bukan tidak mustahil kerudung pelanggaran akan melayang dengan indahnya ke kepala kami.
Lamunanku buyar oleh deru sepeda motor. Wah pasti itu ustadzah riayah! Dugaanku tak meleset, 2 orang yang mengendarai motor jupiter itu adalah pembimbing kami dari pengasuhan santriwati.
            “Ada yang bisa dibantu, ustadzah?”, aku berbasa–basi, tentu saja ada, tak mungkin kedatangan ustadzah riayah tanpa ada sebab apapun.
            “ Nak, beritahu teman-temanmu yang lain ya, setelah Isya semua kelas 6 berkumpul di depan auditorium. Jangan lupa bawa agenda dan pulpen!” Ustadzah Hasna berkata padaku diiringi anggukan ustadzah Asma di belakang beliau.
            Ada apa, ya? Aku mengerutkan kening tapi tetap mengiyakan instruksi beliau. Segera aku beritahu teman- temanku lainnya tentang hal ini.
Kabar ini segera menyebar ke seantero kelas 6. Tepat sesudah Shalat Isya, semua personil 6 2012 sudah berkumpul di depan auditorium. Perasaanku, entah kenapa, tidak enak. Ustadazah Tias, salah satu pembimbing kami dari bagian KMI telah berdiri di hadapan kami semua. Beliau memulai pembicaraan dengan mengingatkan kami untuk lebih bersungguh–sungguh dalam belajar. Namun di akhir pembicaraan raut muka beliau berubah, sedikit menegang. Disusul suara beliau meninggi beberapa oktaf. Aku mulai menduga apa yang akan terjadi. Beliau memanggil beberapa nama, termasuk diantaranya namaku disebut. Kami, aku dan teman-temanku se-genk ‘amaliah tadris serta dua kelompok lain berdiri tegap di hadapan semua kelas 6. Aku menunduk. Semua perhatian terpusat pada kami sepenuhnya. Ustadzah Tias membeberkan semuanya. Tak salah lagi, kami yang berdiri ini adalah yang kelompok ‘amaliah tadrisnya ketahuan ‘berulah’. Mulai dari yang bercanda, mengobrol sampai yang tidak mempersiapkan ‘amaliah dengan sungguh–sungguh. Walaupun tersangkanya hanya satu dua orang, Kesalahan tetaplah menjadi kesalahan bersama. Nada bicara Ustadzah Tias makin meninggi seiring dengan kepalaku yang makin menunduk. Berbagai perasaan bercampur jadi satu, antara kesal, malu dan menyesal campur aduk di rongga dada ini. Ada perasaan sedih dan menyesal yang menyayat hati. Aku belum menjadi contoh yang baik.
“ Jangan ada yang mengulangi kesalahan mereka lagi, cukuplah ini menjadi kaca perbandingan untuk kalian semua. Dan untuk semua yang bediri di depan ustadzah, diharap kedatangan kalian di kantor panitia ujian sekarang juga “ Aku lemas mendengar kalimat terakhir yang beliau katakan. Dipanggil ke kantor panitia adalah sebuah pertanda buruk. Kemungkinan besarnya adalah memakai keudung pelanggaran KMI yang merah hijau menyala itu. Banjir air mata sudah mengaliri pipi teman–temanku. Aku ingin menangis, namun kucoba sekuat tenaga membendungya. Harus tegar..
*****
Malam mencapai titik puncaknya. Hening. Aku bersimpuh, tenggelam dalam sujudku. Sajadahku basah oleh air mata yang menggerimis. Balkon auditorium menjadi saksi bisu tumpah ruahnya emosiku. Aku tersedu mengadu pada-Nya, tentang rasa penat ini, tentang rasa khawatir ini, kegalauan hati ini. Ku benamkan sujudku lebih dalam, kuresapi setiap doa yang terlantun. Ada ketenangan disana. Ujian adalah bukti bahwa Allah sayang kepada kita. Masih hangat di ingatan bagaimana kerudung pelanggaran KMI merah hijau menyala itu tersemat diatas kepala ini. Jika kita berbuat kesalahan maka wajib pula kita mempertanggungjawabkannya. Aku menyelonjorkan kaki, menghalau rasa capek dan penat yang membebani pundak. Besok adalah hari yang mendebarkan bagiku. Giliranku untuk amaliah tadris atau praktek mengajar. Hari ini aku laksana setrika, lari sana sini. Yang agak menyusahkan adalah kerudung yang nangkring diatas kepalaku ini. Aku sudah berusaha agak cuek dengan keberadaan khimar ini. Tapi yang tidak biasa itu malah orang yang melihat. Yah, biar bagaimanpun ‘amaliah harus tetap jalan. Dengan muka setebal kulit badak akupun memberanikan diri berkonsultasi dengan Ustadz Suharto. Beliau hanya geleng – geleng ketika aku mendatangi kediaman beliau dengan “kostum” baru. Juga ketika aku harus bolak – balik fotocopy I’dad ataupun berlatih dengan ustdazah pembimbing. Walaupun tak bisa dipungkiri sepanjang jalan aku menjadi pusat perhatian orang – orang di jalan. Hu..hu.. sedih deh, sepertinya yang pakai  khimar pelanggaran banyak, tapi kenapa aku diliatin segitunya hiks..hikks kata temanku , “ yaah maklum lah se, siapa sih yang nggak heran liat roisah munadhomah pake khimar , yaa walaupun dah mantan hehe” Dasar !

            Aku baru bisa bernafas lega jam 12 malam tadi. Ketika akhirnya aku telah menyerahkan I’dad-ku pada pembimbing dan panitia. Aku teruskan dengan berlatih sebentar. Sempat frustasi juga dengan tulisan cakar ayamku yang tak kunjung membaik. Namun biar bagaimanapun aku harus tetap memperisapkan ‘amaliah tadrisku esok hari. Aku menutup doaku dengan sujud yang panjang, berharap ia yang maha kuasa mendengar permohonan kecilku.
*****
Namanya Henik. Kami memanggilnya ukhti Henik, karena ia sebenarnya beberapa tahun lebih tua dari kami. Dan sekarang aku sedang bingung mencarinya. Aku harus segera menemukannya, pertama karena ia adalah salah satu anggota genk amaliah tadrisku. Dan sekarang seluruh teman-temanku satu geng sudah berada di kantor panitia ujian, siap untuk melepaskan khimar pelanggaran yang sudah bertengger di kepala kami untuk beberapa hari terakhir ini. Masalahnya adalah semua anggota sudah komplit berkumpul disana kecuali si ukhti Henik ini. Dan lagi, besok adalah gilirannya untuk amaliah tadris. Dan satu lagi , sebagai ketua kelompok aku punya tanggunan atas kesuksesan amaliah ukhti Henik ini.
“Mase...Mase!! Ketemu! Ukhti Henik ada di Tunis, Dia lagi ngambek!”, Ni’ma salah satu temanku tergopoh – gopoh mengabariku. Aku menoleh, “Dimana? Di sebelah mana?” Tanpa mengindahkan pertanyaan, Ni’ma langsung menarik tanganku dan berlari menuju gedung Tunis. Kupercepat langkah, aku harus segera menemukannya. Ukhti Henik ini temanku yang lain daripada yang lain. Dia istimewa, ukhti Henik memerlukan bantuan dan bimbingan yang berbeda dengan teman- teman lainnya karena keistimewaannya ini.
Siang tadi aku sudah cukup bingung dibuatnya. Ketika kami sedang berlatih untuk ‘amaliah tadris, beberapa teman datang menggodanya. Walhasil ukhti Henik yang tadinya antusias dan semangat untuk talfidz imla’ berubah mengamuk – ngamuk. Aku ikut sebal kepada temanku yang telah menggodanya. Hancurlah sudah pelatihan ‘amaliah yang sudah kususun sedemikian rupa khusus untuknya. Aku mencoba membujuk dengan seribu satu rayuan pulau kelapa. Tapi ia tak bergeming. Ia malah menatapku dengan pandangan yang tajam , aku sedikit bergidik. Takut ukhti Henik berbuat hal yang diluar dugaan. Aku dan beberapa temanku membujuk-bujuk Ukhti Henik untuk kembali latihan. Baru menjelang Ashar ukhti Henik sudah lebih tenang.
Aku tersadar dari lamunan panjangku. Kami sudah sampai di gedung Tunis. Ni’ma menarikku ke kamar 1. Ketika kami masuk, Ukhti Heni disana . Wajahnya merah, matanya memandang tajam ke siapa saja. Ia sedang kalap. Kakinya menendang–nendang, tangannya mengamuk–amuk. Kami mencoba menenangkannya. Ustdazah Asma dan Ustadzah Adis datang dan mencoba menenangkannya juga. Rupanya tadi ada yang mengganggunya lagi.
Ukhti Henik menangis kencang. Aku terdiam, ada rasa iba disana. Ukhti Henik memang bebeda, tapi tak seharusnya kita memperlakukannya demikian. Aku ingat beberapa hari terakhir ini ia suka sekali bercerita padaku. Tentang ia, tentang keluarganya, tentang cita-citanya. Juga ia kesal kepada teman-teman yang suka menggoda dan mengejeknya. Ia meyakinkanku bahwa ia akan ikut ‘amaliah tadris. Ia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa. Dan kami sudah berlatih bersama, berdiri di depan kelas, mengucap salam, menulis di papan tulis dan melafadzkan imla’. Ia begitu bersemangat. Namun kini aku ragu, dengan keadaan yang seperti sekarang ini mungkinkah besok amaliah tadris untuknya akan tetap berlangsung.
Sekitar pukul satu malam Tangisnya mereda, ia sudah jauh lebih tenang. Tentunya setelah perjuangan kami sejak sehabis Isya tadi. Kini ia terdiam, ustadzah Asma menanyainya apakah ia akan tetap melakukan ‘amaliah tadris besok atau tidak. Diluar dugaan ia menjawab mantap. Besok ia akan tetap ‘amaliah tadris. Aku tersenyum, Ukhti Henik pasti bisa ! Malam itu aku dan beberapa teman menemaninya berlatih sebentar, kemudian sholat Tahajud bersama. Ia tidak mau tidur di kamar, walhasil malam iu aku ikut tidur di balkon bersamanya dan beberapa temanku. Sebelumnya banyak yang ragu apakah aku kuat atau tidak untuk tidur di Balkon, karena aku memang belum sembuh benar dari sakit tipes ku. Namun malam itu aku tak ragu, aku akan membantu Ukhti Henik sebisaku. Aku berjanji.
******

Aku menguap berkali-kali. Uahh ngantuk banget ! Kulirik jam tanganku, jam 12 kurang seperempat. Aku sedikit merasa kurang enak badan terutama setelah tidur di balkon kemarin malam. Tapi aku senang. Ukhti Henik tadi telah sukses menyelesaikan amaliah tadrisnya. Walaupun dengan thoriqoh yang sedikit terbalik – balik dan walaupun kami harus keluar dari kelas beberapa menit sebelum istirahat kedua, yang penting Ukhti Henik sudah berhasil ‘amaliah. Kulihat tadi kebanggaan terpancar nyata dari wajahnya. Tak sia-sia juga usaha  Brilly dan Azkia mengajarinya dengan berbagi macam cara.
Kulirik lagi jam tanganku, jam 12 kurang 5 menit. Kututup bukuku, ku ajak Zara yang belajar di dekatku untuk pergi ke kantor panitia mengambil absen. Waktunya kasyfal hudhur. Tak lupa sepanjang jalan menuju diwan lajnah kami pun berteriak-teriak “ Kasyfal Hudzur.. Libanon.. Syiria... Yordania !” Tepat pukul 12 kami menginjakkan kaki di diwan lajnah. Segera kupukul bel 12 kali “ teng.. teng .. teng!!! “KASYFAL HUDZUR!!!!” Baru saja ku selesai memukul bel dan membalikkan badan ketika kulihat di depan rayon sudah tidak ada orang. Kulirik depan auditorium, tempat absen berlangsung. Disana hanya ada beberapa gelintir orang saja. Iiih sebel tadi kan masih banyak orang yang hidup, giliran kasyfal hudzur aja pura–pura tidur semua. DASARR !! Maka kutarik Zara, kuajak untuk berkeliling kamar satu persatu.
“ Mau keliling semua kamar,; se? Percuma, buang – buang waktu aja! Kalau sudah kayak gini enggak akan ada yang mau!”
Aku mendengus, dasar bandel ! Kasyfal Hudhur kan biar pada bangun, buat kebaikan bersama juga ukhti! Apa susahnya seeh datang, akhirnya aku pun Cuma bersungut – sungut sambil membaca absen. Kejadian ini bukan hanya sekali dua kali. Keadaan ini membuatku benar – benar sebal, coba deh bayangkan. Sebenarnya daripada sibuk “ ngoprak – ngoprak” orang yang bahkan malas hanya untuk sekedar absen dan doa bersama, sebenarnya waktunya bisa dipakai untuk nyingkuk belajar kan. Tapi nggak bisa begitu lah bro! Mereka teman – teman ku yang tercinta, harus diingatkan ! Maka malam itupun kami absen dengan hanya beberapa gelintir orang. Benar – benar deh , 6-20 orang!


****
Aku duduk di depan Gedung Yordania. Aku hanya tersenyum jika mengingat –ingat kejadian itu. Betapa seringnya dulu aku dan teman – temanku pontang – panting oleh ulah Magenta. Dari masalah nggak pernah kasyfal hudzur, bikin murka ustdazah Musyrifah, bentrok dan marahan juga sindir – sindiran dengan adik kelas dan banyak lagi. Dari peristiwa kami “ mengadu” kepada Ustadz Hidayat di Qoah Kulliyatul banat, peristiwa- peristiwa di Kopda, sampai peristiwa pembantingan kamera DSLR dan kamera-kamera lainnya di masjid.
Saat itu aku benar benar tak tahu apakah aku bisa menjawab soal- soal di ujian akhir atau tidak, dengan keadaan yang seperti itu. Belum lagi jika sakitku kambuh. Sebentar – sebentar kami pasti dipanggil ke diwan lajnah untuk urusan marhalah apapun itu. Bahkan ketika mahjar sudah selesai, saat semua orang sudah bisa santai – santai kami masih harus berjuang di depan kantor pengasuhan mengurusi rihlah dakhiliyah, rihlah khorijiah , wakaf dan sebagainya. Namun aku yakin jika kita menyelesaikan semuanya dengan hati yang lapang dan ikhlas, apalagi jika kita melakukannya demi orang – orang yang kita sayangi, aku yakin Allah pasti akan membuat segalanya indah pada waktunya. Karena janji-Nya adalah pasti.
Aku benar – benar mendapati kepastian janjinya di akhir nafas di kelas 6. Tepatnya sehari sebelum Yudisium. Aku masih bingung berkutat dengan uang wakaf yang tak kunjung genap. Ketika itu pula aku diberitahu Oleh salah satu Ustadzah pembimbingku bahwa aku diberi amanah untuk membacakan sambutan sebagai perwakilan dari kelas 6. Seharian itu pula aku pontang-panting antara  menyelesaikan sambutan dan menyelesaikan rekapan wakaf. Bahkan sore itu aku tidak tahu, apakah orangtua ku sudah datang atau belum dan dimana mereka. Namun Maha Besar Allah, ia pasti kan membantu hamba-Nya yang dalam kesulitan.
Auditorium sudah disulap bak gedung pernikahan. Inilah perhelatan besar puncak dari segala rentetan acara siswi akhir KMI. Kini aku sudah berada di depan podium. Aku memejamkan mata, kutarik nafas. Semoga aku bisa mengemban amanah ini. Didepan ku berjajar Bapak- bapak pimpinan, pengasuh dan asatidz Gontor, Anggota Badan Wakaf, Istri- istri para asatidz, para ustadzah dan para wali murid serta seluruh teman – temanku, angkatan 62012 dari Gontor putri 1-6. Kuhalau rasa grogiku jauh- jauh. Aku harus menyampaikannya. Kesan dan pesan ku yang mewakili seluruh isi lubuk hati kawan – kawanku. Manis sepah perjuangan kami selama 6 tahun bersama. Rasa terimakasih dan permohonan maaf kepada ibunda tercinta, Gontor yang telah mendidik kami dengan filsafat dan sistemnya, yang telah menimang kami dengan jiwa dan semangatnya. Juga tak lupa permohonan doa untuk kami dalam meneruskan perjalanan jihad kami. Kuseka bening diujung pelupuk mataku. Kutatap teman-temanku. Mereka juga hanyut oleh suasana ini. Karena setelah esok kami akan berpisah menuju ladang jihad masing –masing. Tak tahu kapan takdir kan pertemukan kami lagi. Aku hampir terisak ketika menyampaikan pesan terakhirku untuk mereka. Seperti apapun mereka, aku tetap menyayangi mereka sedalam lautan hatiku. Aku berdoa semoga Allah selalu merahmati dan membimbing langkah kami. Akhir kata kututup dengan salam, lalu kuanggukan kepalaku. Tanda Khidmatku kepada pondok Gontor yang telah mendidikku, tanda hormatku untuk ustadz-ustadzah yang telah menjadi orangtuaku di pondok ini, tanda cinta kepada orangtua yang telah memberikan segalanya dan perpisahan kepada seluruh saudariku 62012. Aku mengucap salam. Hadirin hening sejenak namun segera disusul tepukan tangan yang bergema. Air mataku tak terbendung seturunnya dari panggung. Teman-teman langsung memelukku. Aku juga tak mengerti, aku bukanlah orang yang gampang menangis. Aku lebih suka membendungnya daripada memperlihatkannya pada orang – orang. Namun sudah dua kali aku menangis di depan umum. Ini untuk yang kedua kalinya, sedangkan yang pertama adalah ketika Laporan pertanggungjawaban dulu. Dan keduanya menyangkut keterpautanku dengan mereka, 620.
Tapi untuk kali itu aku biarkan air mataku menganak sungai. Aku terisak menyadari betapa aku menyayangi mereka dengan berbagia warna mereka yang berbeda. Aku menyesal kadang suka sebal dengan mereka. Walaupun ada saja ulah, namun itu semua membuatku belajar memahami karakter dari berbagai orang yang berbeda.
Malam itu aku sedikitpun tak mengeluh walaupun harus begadang demi menyelesaikan rekapan wakaf yang berhubungan dengan esok hari. Aku tak peduli lagi predikat apapun, mumtaz, jayid jiddan, jayid ataupun maqbul, itu tak lebih penting daripada kebersamaanku dengan mereka.

Jam menujukkan pukul 07.00 dan aku masih berada di depan kantor pengasuhan. Sedangkan acara yudisium akan dimulai beberapa menit lagi, kulihat jalannan sudah sepi, terang saja semua teman – temanku pasti sudah rapi jali duduk di maidan ahmar untuk Yudisium. Baru ketika terdengar dari pengeras suara salam dari ustadz Suharto tanda akan dimulainya panggilan pertama, Ustadzah Asma menyuruhku untuk meninggalkan semua yang kupegang dan segera berlari ke maidan ahmar. Aku sampai di maidan ahmar dengan terengah – engah. Sudah tak ada kursi yang bisa kududuki lagi. Aku segera mencari kursi dari kelas terdekat. Aku mendapatkan kursi ketika temanku yang dipanggil pertama kali sudah berjalan maju ke tangga Kuwait. Aku belum sempat duduk ketika namaku dipanggil setelah itu. Aku masih belum beranjak saking tidak percayanya. Ustadzah yang berjaga disana segera menyuruhku untuk menyusul temanku.
Allahu Akbar, sepanjang jalan menuju tangga Kuwait aku tidak berhenti bersyukur. Walaupun masih belum percaya aku dipanggil nomor dua, aku terus bertahmid. Kini aku semakin yakin bahwa janjiNya itu pasti. Kini  Aku benar – benar percaya akan the miracle of barakah. Bahwa jika kita ikhlas sepenuh hati menolong orang lain, Allah pasti akan menolong kita. Allah pasti akan menghitung setiap tetes airmata kita Allah pasti tahu setiap bulir keringat pengorbanan kita.
Thanks to :
·         Semua musyrifah magenta, Ustadzah Muflihah, Ustadzah Mazindri, Ustadzah Asma, , Ustadzah Hasna, Ustadzah Tias, Ustadzah Yuli, Ustadzah Adis, Ustadzah Aulia, Ustadzah Asri, Ustadzah Faiz, Ustadzah Kiki, Ustadzah Farika dan semua yang tak dapat disebut satu persatu disini
·         Tim Dinamisator yang suka kumpul di diwan lajnah
·         Tim Mediator waktu kelas 5,
·         2nd room of syanggit
·         Urpat, the comunity of Yordania 4
·         Malda 2010
·         Especially for MAGENTA 620, i love you forever

 (By. Masyitoh Anis)





Leave a Reply

Powered by Blogger.