Gontor...kata bapakku waktu itu, sebelum beliau meninggalkan keluarganya untuk menghadap Allah. “Dek Unda kamu harus bisa lulus dari Gontor kayak masmu. Kalian berdua harus sekolah disana kayak pesan bapak.” Ibuku mengingatkanku akan wasiat bapak sebelum pergi. Semenjak itu aku berjanji akan berusaha sekuat tenagaku untuk menjalankan wasiat bapak. Bismillah...aku melangkah menuju pintu gerbang Gontor. “Bapak jangan khawatir aku akan melaksanakan wasiat bapak dengan semampuku,” aku bbergumam dala hati.
            Aku masih teringat betul hari tu. 06 juni 2006, tanggal dimana aku memasuki kawasan berjilbab Gontor. Tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Suasana baru, kamar baru dan teman baru. Tak satu pun orang yang kukenal disini.
            Bulan berganti, aku dikenal sebagai anak yang pendiam dan pasif dalam kegiatan. “ Tahukah kalian? Sebenarnya aku tak suka dengan tanggapan-tanggapan kalian yang seakan membuat keadanku disini semakin buruk.”
            Dengan semangat yang tinggi aku selau mencoba untuk mengubah kepribadianku. Ku coba untuk menjadi anak yang supel, belajar trik-trik berkomunikasi yang baik dengan orang lain sampai belajar mengubah intonasi suaraku. Semua kulakukan untuk meningkatkan kualitas diriku. Setiap ada seleksi aku selalu muncul sebagai peserta supaya banyak orang yang mengenalku. Walau tak satupun perlombaan yang aku menangkan.
            Kadang aku merasa semua ini tak adil. Kenapa hanya anak itu-itu saja yang tampil dan menang. Mana yang sering digembar-gemborkan dengan istilah pemerataan kepernahan? Nothing, omong kosong buatku. Rasa iri pun terpicu dengan prestasi non akademis kakak laki-lakiku, dia yang aktif disini, disitu, ikut ini, ikut itu bahkan dia sering membawa piala ke rumah.
            “Ayo, buktiin ke aku kalau kamu bisa kayak kakakmu ini!” Mas Aryo berkata padaku tapi lebih tepat disebut mengejekku.
            “Ok, aku bawa besok piala ke rumah,” dengan kepedean aku katakana itu padanya. Aku tak mau dianggapnya remeh.
            Tapi semuanya belum juga berubah. Sepintas kemenangan membayangiku sampai akhirnya aku gugur di babak teakhir dalam kompetisi MTQ (Musabaqah Tilawati-l-Qur’an). Sedih , kecewa dan putus asa.
            Beberapa tahun berlalu dan sekarang kutemukan dimana passion-ku sebenarnya. Pramuka. Aku sangat suka dengan kegiatan ekstra yang satu ini. Kecintaanku dengan pramuka bermula dari keikutsertaanku dalam kelompok gemar membaca saat aku masih duduk di kelas dua, berlanjut menjadi anggota PMR di kelas tiga. Dan yang terakhir menjadi Dewan Kerja Koordinator di kelas empat.
            Inilah awal percaya diriku. DKK memberiku banyak kesempatan untuk mengeksplorasi ide-ideku. Aku menemukan duniaku. Dengan kostum kebesaran kami, baju pramuka, dan senjata tali, tongkat dan peluit kami telusuri apa yang dinamakan pramuka. Dan bagaimana pengamalan dari Dasa Dharma itu sendiri.
            Tahun kelimaku di pondok ini membuatku enggan untuk keluar dan meninggalkan pondok tercintaku. Kesempatan yang besar telah dipasrahkan padaku. Jabatan sebagai ketua rayon sighor jadidah pun tak pernak aku bayangkan sebelumnya. Di tahun ini juga aku mendapat teman-teman baru yang sebelumnya belum pernah aku kenal di kelas empat. Mereka teman-teman dari kelas intensive alias baru masuk pondok setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP ataupun MTs. Tak kusangka aku merasa cocok dengan mereka yang sempat aku berfikir bahwa mereka ini cuek dan tak mengerti arti sebuah kebersamaan.
            Keadaan tak selamanya bersahabat, begitu juga dengan kesehatan yang dianugerahkan Allah untuk hamba-hambaNya. Dan ini yang kami rasakan. Wabah penyakit menjalar dengan cepatnya. Banyak anggota rayonku yang terpaksa pulang karena harus dirawat di rumah masing-masing. Mengingat usia mereka yang rata-rata baru dua belas tahun suasana rumah memang sangat di butuhkan, apalagi perhatian dari orang tua. Tak beda jauh denganku. Aku meninggalkan banyak momen di kelas lima, seperti acara tahunan pecan perkenalan, KMD, musyawarah kerja rayon, idul adha bahkan acara monumental drama arena yang seharusnya aku ada di dalamnya. Aku tak bisa mengelak dengan penyakit tifusku. Aku terbaring di rumah sakit.
            Tak ada daya dalam tubuhku. Gambaran rayonku dengan komposisi pengurus yang hanya beberapa gelintir ditambah kondisi anggota yang banyak terjangkit penyakit  sangat menghambat kesembuhanku. Aku erus kepikiran dengan tugas-tugas yang aku tinggalkan selama sakit. Tak ingin rasanya berlarut-larut dalam keadaan ini. Aku berusaha keras untuk sembuh.
            Tahun berlalu begitu cepatnya. Dan di tahun terakhir akademis aku diamanati untuk menjadi ketua bagian kesehatan. Mungkin supaya aku lebih bisa meningkatkan kualitas kesehatan pondok begitu juga kesehatanku. Kekompakan yang selalu kami jaga dan semangat untuk menjadikan anggota Darussalam sehat kembali inilah sumber tenaga kami dalam menjalankan amanat suci. Dengan terus memegang nilai-nilai yang ditanamkan dalam diri akhirnya kami bisa menyelesaikan amanat dengan baik.
            “Aku memang tak sehebat Mas Aryo, tapi setidaknya aku tak sepasif yang dia kira,” aku sedikit berbangga hati dengan diriku, guna menumbuhkan rasa percaya diriku yang kian menipis menjelang ujian akhir. Kepercayaay diri ini sangat membantuku dalam mengerjakan soal-soal ujian yang berlembar-lembar.
            Graduation siswi akhir KMI. Langkah kaki pun ku percepat menuju terop yang terpasang didepan tiga gedung itu. Inilah masa-masa akhirku, entah kemana nasib akan membawaku setelah ini yang pasti aku harus mempersiapkan diri dengan matang.
            Aku duduk di baris kedua sebelah kiri. Direktur KMI pun meminta kami untuk membuka amplop yang kami terima saat berjalan di tangga menuju gedung Kuwait tadi. Nomor tiga puluh Sembilan. Alhamdulillah, ternyata aku masih bisa mengabdi di pondok tercinta ini.
            Medali bertuliskan angkatan VIXX melingkar rapi dileherku. Dengan ucapan syukur yang tak henti-hentinya terucap aku berjalan menuruni anak tangga yang menuju pintu keluar. Seluruh wali sudah berjubel menanti kedatangan putri-putrinya. Tiba-tiba sesosok yang amat sangat kukenal berhambur memelukku, mencium pipiku dan meneteskan air mata. Ternyata kedua kakakku dan keponakanku juga ikut menjemputku.
            “Panggilan nomor berapa?” Tanya mas Aryo padaku.
            “Nomor 39.” Kataku lirih menahan tangisku yang hamper tumpah.
            “Yah…masih kalah sama aku.” Katanya lagi
            “Ok, one day I’ll show you. That I’ll be better than you, I promise,” aku tersenyum padanya, sinis.
           (By. Undainti)

                        


Leave a Reply

Powered by Blogger.