Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup berpindah-pindah. Beradaptasi dengan lingkungan yang satu, kemudian ke tempat lainnya. Berusaha memahami apa yang teman-teman katakan menggunakan bahasanya sendiri. Mencoba tak lagi sakit hati dengan kebiasaan ataupun watak dari teman dari daerah lain.
Sampai selesai SD total aku sudah berpindah sebanyak lima kali. Beberapa opsi pilihan SMP sudah aku miliki. Saat itu aku berada di Banjarbaru, sebuah kota di Kalimantan Selatan. Orang tua tentu hanya mendukung saja kemana aku akan meneruskan sekolah, meski seringkali terbayang akan kepindahan Ayah yang dapat terjadi kapan saja.
Tak banyak teman perempuan yang aku miliki. Berteman dengan perempuan itu harus menggunakan perasaan. Tidak jelas maunya apa. Mungkin aku juga begitu dulu. Aku malah lebih akrab dengan teman laki-laki karena kesamaan hobi. Suka Jepang dan komik (sekarang kamu dimana, kawan?). salah satu teman perempuan yang kumiliki ini keturunan Arab. Pelajaran agama yang diberikan oleh orang tuanya lumayan. Ia direncanakan masuk pondok almameter ayahnya, Gontor. Yang aku tahu dari Gontor hanyalah sekolah dimana anak teman orang tuaku memasukkan anaknya. Di Ponorogo sana.
Detik-detik menjelang ujian makin dekat. Orang tua temanku ini makin gencar untuk memasukkan anaknya ke Gontor. Ia berontak. Aku hanya bisa menguatkan. Sempat aku bercerita pada Mama perihal temanku yang satu ini, yang ternyata disambungkan ke teman Mama yang memasukkan anaknya ke Gontor pula.
Di sepotong sore aku sendirian di rumah. Teman Mama datang hanya menitipkan kalender. Kalender Gontor Putri 2007 untuk diberikan pada temanku. Ternyata teman mama ini turut mendukung untuk masuk ke Gontor. Sepulangnya beliau, aku yang tak bisa diam dengan rasa penasaran tinggi membuka hati-hati bungkus kalender itu. Apa sih Gontor?
Di dalam kalender itu terdapat beberapa foto kegiatan dan bangunan serta penjelasan menggunakan 3 bahasa. Indonesia, Inggris dan Arab. Takjub. Hanya itu yang dapat kukatakan. Di lembar paling depan terdapat penjelasan persyaratan masuk. Entah apa yang merasuki otakku, akhirnya aku rapihkan kembali kalender itu. Menunggu Mama datang untuk mendiskusikan sesuatu.
Tanpa basa-basi saat Mama datang aku ungkapkan, “Ma... kalau aku masuk pondok gimana?” aku tahu raut Mama saat itu pasti bingung. Kalau di garis silsilah, mungkin hanya aku yang berkeinginan masuk pondok. Tapi prinsip orang tuaku adalah selalu mendukung apa yang kami inginkan. Asalkan itu baik. “Ya nggak apa-apa.” Dan beberapa wejangan lain. Ayah yang ternyata lebih berat untuk melepaskanku pergi. Aku yang baru saja lulus SD akan dilepas sendiri di tanah orang.
Meski dengan berat hati toh Ayah mengantarkanku juga ke Ngawi. Kebetulan saat itu Ayah sedang ada dinas ke Bandung dan sebelum pindah ke Kalimantan kami menetap di Surabaya. Masih ada bawahan Ayah yang mau mengantar kami ke Ngawi dan melanjutkan dinas Ayah ke Bandung.
Jujur saja, aku orang yang tak sabaran dengan sesuatu yang baru. Sesampainya kami di Gontor Putri 2 ternyata pengarahan belum lama selesai. Alhasil kami harus menunggu hingga malam tiba.
Aku langsung berkenalan dengan salah seorang teman asal Bojonegoro yang ternyata akan menjadi teman sebelah kamarku nantinya.
Dalam pengarahan, ternyata Gontor tidak mengadakan UAN. Ijazahnya pun berbeda dengan SMA atau MAN. Pendidikannya 6 tahun komplit. Aku tak akan memiliki ijazah SMP nantinya. Ayah sibuk bertanya ini-itu. Aku sih tenang saja. Ajang mencari sensasi dengan pengalaman baru.
Ternyata every begining is difficult. Tak semudah yang aku kira.


Belum lama ini seseorang bertanya padaku, kenapa sikap Gontor Putri 1 dan 3 itu berbeda? Gontor Putri 3 lebih supel, ramah dan enak diajak gaul. Sementara Gontor Putri 1 terkenal jutek, terlebih terhadap laki-laki. Saat itu yang dapat kujawab hanyalah, mungkin karena beda pengasuh. Namun jawaban itu ditolak mentah-mentah karena Gontor sejatinya dari satu rumpun yang sama.
Baru saja Kamis kemarin jawaban itu kudapatkan. Saat Kamisan, bapak pengasuh menjelaskan, bahwa untuk mendidik seorang laki-laki sangat gampang. Terlebih sudah ditemukan metode yang pas. sementara perempuan, lebih complicated. Intinya, menjadi seperti Gontor Putra, tapi yang Putri. Melihat missi yang sudah berbeda, tentu ada saja beberapa pengajaran yang juga berbeda.
Kau tahu sampai bagaimana besarnya pondok itu menjaga kita?
Jika pergi ke Gontor Putra tidak boleh memakai gamis dan baju dengan warna terang. Mencolok dan sedikit membentuk tubuh, tidak boleh memakai sandal dan lain sebagainya. Jangan kemayu, jangan terlalu ramah. Nanti bisa jadi fitnah. Bahkan bila pergi ke rumah ustadz di sini yang sudah menikah saja tidak diperkenankan sendiri.
Sampai sebegitunya pondok menjaga kita.
Lalu apa tujuannya?
Menjadi mar’ah shalihah yang sitti-l-kull (bahasa Mesir yang berarti sayyidah kull. Perempuan yang sempurna dan serba bisa). Dapat kuat dengan keadaan, tegar, bila bahasa bapak pengasuh, pendamping yang ideal.
Oke, yang bagian terakhir ini aku belum mengerti karena yang ada di pikiranku kali ini hanyalah belajar, mematangkan diri, melengkapi diri dari kekurangan dan menghadapi hidup yang tentu berbeda dari remaja seumurku.

Bismillahirrohmanirrohim. Semoga ahdaf dan tujuan yang dimisikan dapat terealisasikan. Meski sadar tak sadar.



Sama halnya seperti mahasiswa baru yang harus mengikuti OSPEK, begitu juga santri baru. Bahasa kamusnya ‘perpeloncoan’. Pekan Khutbatu-l-‘Arsy (PKA) yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Tahun ini, tahun kedelapanku, tentu saja selalu berbeda.
Mengapa santri lama, bahkan aku juga yang sudah delapan tahun, harus mengikuti PKA? Semata-mata untuk memperbaharui niat dan janji. Aku baru sadar, bahkan setelah delapan tahun, bahwa pesan dari PKA itu sangatlah berat bobotnya.
Jangan menilai pondok karena bahasanya, organisasinya, mottonya, karena menilai pondok itu seutuhya. Tidak bisa hanya dari satu sisi. Absurd. Tidak komplit. Karena apa yang dinilai belum tentu baik, nanti kecewa. Karena apa yang tidak dinilai, siapa tahu baik.
Menjelaskan makna KEIKHLASAN pada orang luar itu susah-susah gampang. Mungkin karena asas pengalaman. Kalau dibilang pengabdianku (lagi) ini timbal balik atas kuliah murah, tentu aku tidak setuju. Kadar ikhlas nanti berkurang.
Karena mengajar, bukan hanya asal menyampaikan pelajaran, namun juga mendidik. Bila mendidik, bukan seberapa jam kita berada di dalam kelas, sebanyak apa lembar buku yang kita sampaikan, namun juga ikut aktif dalam proses belajar. Muroqobah, mulahadzoh, isyrof, bukan sekedar ta’lim.
Tahun ini, BISMILLAH, niat yang baru, sikap yang baru, pandangan yang baru, tentu yang lebih baik. SUBHANALLAH, betapa hebatnya Gontor mendidik kita. ALHAMDULILLAH, masih bisa berada di tempat ini. ALLAHU AKBAR, atas segala pengalaman hidup dan pikiran yang kujalani selama delapan tahun ini.


Menyambut PKA, akhirnya kamarku mengadakan pembersihan besar-besaran. Dan apa yang kami temukan? Dua ekor kucing kecil, bersih, di dalam sebuah kardus dengan sarung bantal dan sebuah majalah terbitan kalangan sendiri, Nukhbah.
Aku yang tidak berpengalaman memelihara binatang, ikut tergerak hatinya. Di umurnya yang seperti itu ia tak bisa berjalan lincah dan makan apapun, minumpun begitu. Entah bagaimana muasalnya ia berada di sana, kata beberapa teman mungkin alasan ia berbadan bersih karena dibersihkan ibunya, namun saat dua kucing ini telah tersentuh manusia, si ibu tak akan mau lagi datang kepada anaknya. Sampai sebegitunyakah?




Sepertinya baru Senin kemarin kalau tidak salah antaran soft lense-ku datang. ini kali kedua aku meemakainya. saat kelas enam dulu juga pernah, tak berlangsung lama, as you know how was class six life yg memang harus serba cepat dan surely, aku nggak telaten. Minus empat. Lumayan juga sebenarnya.
Teman dudukku dulu sempat menasihatiku untuk memakai alat bantu lihat, kaca mata atau soft lense, nyesel banget nggak bisa lihat dunia seindah ini. Nasihat yang sebenarnya tidak aku gubris penuh. Selama aku rasa nyaman dan tak mengganggu (sori, memang mengganggu sebenarnya), ya tidak usah diambil pusing. Aku malah berkata, saat manusia mendapat kekurangan sebenarnya Tuhan memberikan beberapa kelebihan lain. Saat aku tak bisa melihat sempurna, aku dapat merasakan lebih tajam. Gerakan orang lain. Aku hampir hapal bagaimana orang lain berjalan.
Saat ini, saat memang aku benar-benar butuh, saat aku akhirnya sudah bisa melihat dengan sempurna meski dengan bantuan soft lense, aku baru memahami betul makna kata 'indah' yang temanku bilang itu. Banyak sekali warna, cerita, kata, tulisan yang seharusnya dapat kulihat, namun kuanggap lalu begitu saja. 
(mataku nggak secakep ini)
Tak ada yang sia-sia bukan dalam hidup ini? Betapa (sebenarnya) indahnya dunia ini, namun masih saja ada rasa keluh dan sesal di dalamnya. Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk melihat.



Banyak sekali dari kita beranggapan, ini sudah di batas kita. begitu sudah melewati batas Kita tak akan mampu.
Kata-kata ini berhasil dipatahkan semalam oleh angkatanku. 
Kami yang tersisa 56 orang dan 36 orang di \Putri 2 mengira, kehilangan teman-teman yang lain dan dengan komposisi kami yang seperti ini kami tak bisa melakukan apa yang sudah diamanahkan. Grand Opening untuk Pentas Mahasiswi ISID. Membuat konsep GO tanpa tarian? Apa yang menarik. Atas hasil rembukan dan segala jiwa yang ingin selalu berusaha, semua batasan yang kami buat selesai juga. Hancur. Seakan tak pernah kami ucapkan kata-kata tak bisa itu.
Kita Bisa, memang salah satu semboyan angkatanku diambil dari lagu kur kami, lagu Kita Bisa Yovie-Nuno. Namun bukan hanya sekedar angin lalu. Kita Bisa juga menjadi mantra ampuh yang diembeli kata sangat. Manusia memang terbatas, namun jangan pula kita membuat batasan pada diri kita sendiri.
KITA PASTI BISA!!!


Di postingan terdahulu aku sudah banyak menulskan rasanya akan meninggalkan pondok, namun aku masih di sini. D tempat yang masih kusebut dengan rumah.

Karena pernah merasakan ingin keluar dan ternyata masih tetap di sini di akhir, rasa syukurku saat kembali adalah dua kali lipat. Syukur masih bisa menghirup udara ini lagi, syukur karena sepertinya apa yang Allah takdirkan padaku untuk memilih sepertinya tepat. Memang ini yang aku butuhkan.

Kamis kemarin kakak kelasku baru saja wisuda. Aura setelah skripsi, terlebih wisuda memang sangat berbeda. Masih semester tiga saja rasa syukurku sudah besar seperti ini, apalagi jika nanti sudah wisuda? Ya Rabb.... semoga kami termasuk oraqng-orang yang dapat pandai bersyukur.

Rasa kurang syukur itu selalu ada saat kita merasa tak puas, selalu merasa apa yang kita miliki itu kurang. Kurang baik, kurang bagus, kurang positif. Alamiahnya manusia memang seperti itu. Namun jangan pernah mengandalkan emosi dan ego semata dalam mengambil keputusan. Kadang kala kita selalau meraqsa diri kita yang paling benar, but who knows you better? Kita tidak pernah melihat bgaimana kita berlaku kan?



Baru saja kemarin aku presentasi mata kuliah Bahasa Inggris. Kali ini dosen karismaik itu menginginkan mahasiswinya untuk menggunakan bahasa Inggris secara aktif. Lumayan berat juga judul yang diberikan untukku. Karena itupun aku harus membaca buku Mencari Tuhan, hingga diberi tanggapan gelengan oleh teman-teman. Untuk apa Tuhan dicari-cari?

Di akhir presentasiku, dosen tersebut menjabarkan, how to explain someone who don’t understand well about Islam Ar-Rahman and Ar-Rahiim. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tanpa disangka-sangaka, eliau memberikan permisalan tentang ludah. Saat masih di mulut, biasa saja. Bahkan kadang juga tertelan. Namun apabila dikeluarkan, apakah masih terasa biasa saja? Bahkan kita akan melihatnya secara jijik. Sampai sebegitunya nikmat yang Allah beri.

Bisa jadi saat kita melihat seorang pengemis, kita akan memberikan uang karena merasa kasihan. Untuk apa merasa kasihan? Allah kan Maha Pengasih. Kita memberi, bismillah, dengan nama Allah, bukan bismi kasihan.

Perempuan apabila dipuji, bentar saja jalannya sudah berbeda. Apakah semua itu, dari kecantikan, kepintaran dan lainnya adalah milik kita? Kehidupan apa juga milik kita? Apa Allah milik kita? Bukan. Semua itu milik Allah. Bahkan bukan kita punya Allah, tapi Allah yang memiliki kita. Kehidupan, bahkan kematian pun begitu. Allah yuhyi wa yumit. Yang Menghidupan.

Rumit juga kan? Ternyata sampai sedalam itu seharusnya keimanan kita. Bahkan lebih. Seperti aku yang lumayan dibingungkan saat mengajar tauhid. Apakah kadar keimanan dan keislamanku sendiri sudah bagus? Wa idz romayta idz romayta walakinna-llaha roma.


Sebenarnya apa sih yang mudah di dunia ini? Dewasa sebenarnya bukan berarti seberapa banyak umur yang menghampiori kita, namun seberapa banyak hidup memberikan kita pengalaman yang lalu kita pelajari menjadi bekal hidup di kemudian harinya kelak. Bukan berarti selalu meminta kemudahan pada-Nya, namun mintalah agar dapat diberi kekuatan lebih untuk menghadapi segala tantangan meski itu berat dan sulit.
Banyak tipe manusia apabila ia dihadapkan dengan masalah. Yang paling parah adalah yang mengeluh dan tak mengerjakan apapun. Bila saja dikerjakan, berhasilkan tak maksimal dan sangat berat. Apa yang diharapkan dari semua itu?

Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah, aku pun tentu pernah mengalami hal di atas. Terlebih dengan kegiatan pondok yang dengan waktu tak dapat dimasuk akal, berapa kali keluhan yang sudah kulontarkan? Namun setelah lama, ternyata segala kegiatan dan masalah yang sering dikeluhkan itu malah seharusnya menjadi pelajaran penting di hari kelak. Ini pelajaran yang dapat kuambil dari diri sendiri yang selalu kulontarkan pada murid-muridku, kunci untuk betah di pondok adalah dengan tidak mengeluh. Just do it! Bahkan ada yang menyeletuk, cherish everyday. Bisa jadi. Selalu berpikiran positif sebenarnya tentang apa yang akan kita hadapi. Seberat apapun itu. Allah tak akan membebankan manusia yang melebihi batas kemampuannya. Bila diberi ujian seperti A oleh Allah, berarti Allah percaya bahwa kita bisa. Allah saja percaya, mengapa kita tidak dapat mengakui kemampuan kita?


Baru saja tadi aku diceritakan seorang teman perihal kunjungan singkat Din Syamsuddin ke pondok. Ingin mampir sebentar, begitu isi SMS beliau kepada bapak direktur. Yag dibahas pada pertemuan singkat bersama para asatidz itu membahas tentang pondok pada saat ini, kemajuan-kemajuannya, juga alumninya. Bagaimana alumni Gontor Putri? Apa sudah ada yang menghasilkan dan berhasil? Kira-kira begitu isi pertanyaannya. Yang dijawab oleh bapak direktur, mungkin belum. Karena anak putri begitu keluar lalu menikah. Jadi berkarya hanya dalam lingkup domestik. Pembicaraan tentang perempuan di antara laki-laki? Temanku tentu saja merasa tidak enak. Ingin bertingkah bagaimana?
Kalau segala sesuatunya kita menilai dari segi ‘apa yang dapat kita lihat’, semuanya akan menjadi tabu. Apa yang dapat perempuan hasilkan? Apa perempuan dapat berhasil?
Mengingat fitrah sebagai perempuan, yang menikah menyempurnakan agama, berbakti pada suami, melahirkan, merawat anak dan meneruskan pejuang agama Islam, apakah masih belum bisa disebut berhasil?
Bila yang dinilai adalah  apa-apa yang dapat dilihat, mala cobalah melihat dengan mata hati. Banyak hal tak dapat hanya dilihat dengan mata. Seperti keberhasilan seorang perempuan. Berhasil berbakti kepada suami yang dapat sukses, berhasil membesarkan anak yang sukses. Di belakang lelaki ‘adzim ada perempuan sholehah.

Gontor putri berdiri bukan untuk menjadikan santri di dalamnya ‘orang’ di kalangan masyarakat, namun sebagai ‘perempuan’ pada fitrahnya di lingkungan masyarakat.


Powered by Blogger.