Sama halnya seperti mahasiswa baru yang harus mengikuti OSPEK, begitu juga santri baru. Bahasa kamusnya ‘perpeloncoan’. Pekan Khutbatu-l-‘Arsy (PKA) yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Tahun ini, tahun kedelapanku, tentu saja selalu berbeda.
Mengapa santri lama, bahkan aku juga yang sudah delapan tahun, harus mengikuti PKA? Semata-mata untuk memperbaharui niat dan janji. Aku baru sadar, bahkan setelah delapan tahun, bahwa pesan dari PKA itu sangatlah berat bobotnya.
Jangan menilai pondok karena bahasanya, organisasinya, mottonya, karena menilai pondok itu seutuhya. Tidak bisa hanya dari satu sisi. Absurd. Tidak komplit. Karena apa yang dinilai belum tentu baik, nanti kecewa. Karena apa yang tidak dinilai, siapa tahu baik.
Menjelaskan makna KEIKHLASAN pada orang luar itu susah-susah gampang. Mungkin karena asas pengalaman. Kalau dibilang pengabdianku (lagi) ini timbal balik atas kuliah murah, tentu aku tidak setuju. Kadar ikhlas nanti berkurang.
Karena mengajar, bukan hanya asal menyampaikan pelajaran, namun juga mendidik. Bila mendidik, bukan seberapa jam kita berada di dalam kelas, sebanyak apa lembar buku yang kita sampaikan, namun juga ikut aktif dalam proses belajar. Muroqobah, mulahadzoh, isyrof, bukan sekedar ta’lim.
Tahun ini, BISMILLAH, niat yang baru, sikap yang baru, pandangan yang baru, tentu yang lebih baik. SUBHANALLAH, betapa hebatnya Gontor mendidik kita. ALHAMDULILLAH, masih bisa berada di tempat ini. ALLAHU AKBAR, atas segala pengalaman hidup dan pikiran yang kujalani selama delapan tahun ini.


Leave a Reply

Powered by Blogger.