Belum lama ini seseorang bertanya padaku, kenapa sikap Gontor Putri 1 dan 3 itu berbeda? Gontor Putri 3 lebih supel, ramah dan enak diajak gaul. Sementara Gontor Putri 1 terkenal jutek, terlebih terhadap laki-laki. Saat itu yang dapat kujawab hanyalah, mungkin karena beda pengasuh. Namun jawaban itu ditolak mentah-mentah karena Gontor sejatinya dari satu rumpun yang sama.
Baru saja Kamis kemarin jawaban itu kudapatkan. Saat Kamisan, bapak pengasuh menjelaskan, bahwa untuk mendidik seorang laki-laki sangat gampang. Terlebih sudah ditemukan metode yang pas. sementara perempuan, lebih complicated. Intinya, menjadi seperti Gontor Putra, tapi yang Putri. Melihat missi yang sudah berbeda, tentu ada saja beberapa pengajaran yang juga berbeda.
Kau tahu sampai bagaimana besarnya pondok itu menjaga kita?
Jika pergi ke Gontor Putra tidak boleh memakai gamis dan baju dengan warna terang. Mencolok dan sedikit membentuk tubuh, tidak boleh memakai sandal dan lain sebagainya. Jangan kemayu, jangan terlalu ramah. Nanti bisa jadi fitnah. Bahkan bila pergi ke rumah ustadz di sini yang sudah menikah saja tidak diperkenankan sendiri.
Sampai sebegitunya pondok menjaga kita.
Lalu apa tujuannya?
Menjadi mar’ah shalihah yang sitti-l-kull (bahasa Mesir yang berarti sayyidah kull. Perempuan yang sempurna dan serba bisa). Dapat kuat dengan keadaan, tegar, bila bahasa bapak pengasuh, pendamping yang ideal.
Oke, yang bagian terakhir ini aku belum mengerti karena yang ada di pikiranku kali ini hanyalah belajar, mematangkan diri, melengkapi diri dari kekurangan dan menghadapi hidup yang tentu berbeda dari remaja seumurku.

Bismillahirrohmanirrohim. Semoga ahdaf dan tujuan yang dimisikan dapat terealisasikan. Meski sadar tak sadar.


Leave a Reply

Powered by Blogger.