REFLEKSI
Dalam Perjalanan Menjadi Seekor Singa

Teruntuk generasi tangguh,,,,
Singa betina.....
Mengapa kita masih juga berada di sini? Sudah hampir delapan atau enam tahun kita tertempa di tempat ini, namun mengapa kita masih juga berada di tempat yang pernah membuat kita menangis, berteriak, tertawa, juga bermimpi ini?
Alasan mengapa masih kita berada di sini tentu bermacam-macam. Kita simpan sendiri. Tidak perlu banyak orang yang tahu. Yang perlu kita tahu adalah bahwa kita ‘sebenarnya’ tak perlu mempunyai alasan untuk menyesal masih berada di sini. Mungkin beberapa mimpi kita pernah digantungkan di luar, bersama teman-teman kita yang sudah tak lagi menopang badan bersama. Bahwa hidup adalah sebuah lembaran-lembaran. Yang selalu membuat kita ragu adalah bayangan masa lalu dan juga guratan masa depan. Bila hidup dengan abyang-bayang di belakang, maka kita tak akan pernah maju. Bila membayang terus ke depan, sering kali kita tak akan pernah mau merasa puas. Naluriah memang. Namun apa yang tertakdirkan oleh Allah hingga kita masih berada di tempat ini, itulah yang terbaik. Berbaik sangkalah pada-Nya. Bagaimana kita dapat mempercayai diri kita bila kita tak dapat mempercayai Tuhan kita sendiri?
Terkadang kita suka merasa tak pantas. Mengingat bagaimana pendahulu kita. Mengingat teman-teman kita. Mengapa kita yang terpilih di sini? Mengapa bukan yang lain? Mengapa harus kita? Sejujurnya bukan karena sidang atau bagaimana kita sehingga kita masih ada di sini. Melainkan karena Allah yang memilih kita. Allah saja percaya bahwa kita bisa, mengapa kita tak percaya pada diri kita sendiri bahwa kita bisa?
Sadar tak sadar ada juga beberapa prilaku kita yang berubah. Beberapa reflek kita berbeda. Cara pandang kita yang tak lagi sama dari beberapa tahun yang lalu. Itulah prilaku, reflek dan cara pandang Gontor. Itulah prilaku, reflek dan cara pandang seekor singa. Tak mungkin pula kita berpura-pura untuk menjadi seekor biri-biri. Singa adalah hewan yang terhebat, kemudian mau jadi seorang yang ter- apakah kita ini?
Kelak kita yang akan memegang setir pondok. Kelak kita yang akan mendidik singa-singa. Tak menunggu kelak pun banyak yang sudah melihat kita, menilai kita. Reflek baik janganlah kita tinggalkan, namun diperbaiki, juga ditingkatkan. Jangan pula melek walang dengan keadaan yang terjadi di sekeliling. Sadar kawan, kita memiliki reflek seekor singa.
Masih berada di sini berarti harus tahu konsekuensi apa yang akan kita hadapi. Tak bisa bila memikirkan diri sendiri. 33% untuk mengajar, 33% untuk belajar, 33% untuk pondok. Untuk marhalah adalah sebuah kesadaran, bukan tuntutan. Bondho bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan, dalam artian yang sebenarnya.
Kawan, mungkin apa yang kita alami kini tidak sama dengan apa yang teman kita di luar alami. Lakukan saja yang terbaik, kelak akan kembali ke kita juga. In ahsantum ahsantum lianfusikum, wa in asa’tum falaha.
Mari menjadi singa. Mari kita tetap menjadi tangguh layaknya nama yang kita panggul. Mari kita berjuang. Mari kita bertindak. Mari mencetak generasi yang tangguh. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Berbanggalah karena terlahir menjadi nahkoda tangguh yang terlahir dari laut yang tak pernah tenang.

Yang selalu menyayangi sedalam lautan hati,

MAGENTA


Leave a Reply

Powered by Blogger.