Pada tahun ajaran lalu seorang senior bercerita tentang salah seorang muridnya yang terkenal pintar. Nomor 1 di angkatannya. Di akhir pertemuan sebelum ujian murid itu tidur dan meremehkan seniorku sehingga membuatnya tersinggung. Ternyata saat ujian lisan tanpa disangka-sangka seniorku menguji anak tersebut. Kalau kita berpikir secara rasionil, anak paling pintar seangkatan pasti akan dengan mudahnya menjawab meski tanpa memperhatikan penjelasan di kelas. Namun ternyata saat diuji anak itu tidak dapat menjawab dengan baik pada materi yang diajar seniorku tadi. Andil siapakah ini?
Seringkali kita terlalu percaya akan kekuatan yang kita miliki. Kalau aku belajar, pasti bisa. Kalau aku malas, pasti tidak bisa. Itu berarti kita percaya pada diri kita sendiri, sehingga lupa bahwa ada yang memiliki andil besar dalam kehidupan kita berikut rahasia yang ada di dalamnya. Konsep seperti ini bukannya salah, tidak berarti: bila aku malas, asal berdoa maka bisa. Iman tanpa amal. Banyak yang sudah belajar dengan sungguh-sungguh, namun saat ujian lupa. Bukan berarti karena belajarnya yang kurang, amal tanpa iman. Sudah baikkah hubungan kita dengan-Nya?
Banyak yang berdoa lebih khusyuk, memperbanyak shalat malam saat menjelang ujian. Apakah salah? Tentu tidak. Yang salah justru yang tidak ingat sama sekali.
Dalam mata kuliah bahasa Inggris beberapa minggu lalu kami berdiskusi tentang Concept of Religion. Dalam perspektif Islam tentunya. Seorang teman bertanya, bagaimana caranya kita memahamkan orang non-Muslim bahwa kita memiliki agama bukan karena kita lemah seperti yang dikatakan oleh seorang filusuf Barat, Auguste Comte. Ia berkata, hanya orang-orang lemah saja yang memiliki agama. Karena mereka menggantungkan diri pada agama tersebut. Seperti kita yang seringkali baru mengingat Allah saat dilanda kesusahan.
Kita sebagai manusia harus tahu bahwa sejatinya kita memang makhluk lemah, makanya kita bergantung pada Ia yang Maha Kuat. Kalau kita percaya dan yakin bahwa karena-Nyalah kita kuat, bukan Maha Kuat sehingga tak boleh bergantung pada yang lain. Seperti kisah anak pintar tadi. Terlalu percaya pada diri sendiri tanpa ingat bahwa ada campur tangan yang ‘lain’ dalam segala amr yang kita kerjakan. Berkah itu yang harus kita kais-kais dari dulu. Bila doa kita belum diterima, bisa jadi doa orang lain yang akan diterima. Bisa juga berkah orang lain yang meridhai kita yang diterima.
 Allahumma amiin.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.