Beberapa hari yang lalu seorang teman datang kembali ke tempat ini. Just couple of days, itupun adalah karena sebuah kedatangan yang belum terencanakan. Hanya karena sekilas lewat saat perjalanan menuju Solo. Dari melihat sekilas itu ia tanpa kontrol langsung menitikkan air mata. “Aku pernah bersekolah di sini. Aku pernah di sini. Aku pernah merasakan semua yang ada di sini.” Bahkan masih melewati Walikukun, ia sudah merasa rindu.
            Padahal belum juga satu tahun namun perasaan rindu yang ia miliki sudah membuncah seperti itu. Walhasil baru beberapa hari di Solo, ia memutuskan untuk datang ke tempat ini. Sholat di masjid, khusyu’ termenung mendengar syiar Abu Nawas, melihat segala gerakan yang ada, yang tak pernah mati, makan empek-empek Walikukun yang menurutnya paling enak sedunia. Tak ada suasana yang seperti ini di luar, katanya. Aku hanya dapat mengangguk sambil menimpali sekenanya.
            Aku belum bisa merasakan esensi kehilangan yang seperti itu, karena aku masih ada di sini. Yang pernah kurasakan adalah ‘hampir’ meninggalkan, jadi esensi yang kumiliki adalah rasa syukur yang berlimpah. Belum kehilangan.
            Mengutip Prie GS di novelnya Ipung, Cuma dengan pergi manusia akan mengerti indahnya pulang. Banyak yang ‘baru’ merasa sangat sayang dan beruntung justru saat sudah tak berada di dalamnya. Kemudian bagaimana perasaan yang masih ada di dalam ini? Apakah harus keluar dulu baru merasa beruntung? Susah. Karena tak akan bisa kembali lagi. Jika saja semua orang dapat merasa beruntung walau masih berada di tempat ini, percaya bahwa tempat ini akan membawa kita pada kebaikan, menjadi orang hebat, mungkin tak akan ada yang memakai kerudung pelanggaran atau melakukan kesalahan. Meski memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa, dengan rasa percaya itulah setiap orang akan bergerak dan merasa menurut kepercayaannya tersebut. Percaya akan menjadi hebat, ya akan bertingkah laku baik.

            Namun aku percaya, bagi siapapun yang pernah menapakinya, menghirup udaranya, bagi para nahkoda tangguh yang terlahir dari lautan yang tak pernah tenang, semua akan menjadi orang hebat. Seperti kata temanku itu dalam suatu keheningan, “Ana percaya. Magenta akan menjadi orang hebat semua.” Amin, kawan!


Leave a Reply

Powered by Blogger.