Tak jarang aku harus menelungkupkan diri.
Untuk sembunyikan segala sedih dan tangis. Namun ternyata Kau tahu juga.
Lalu Kau telah berjanji bahwa tak akan pernah pergi tinggalkanku. Bersama alam sepiku, gelapku, dalam segala kesusahan yang Kau berikan sebagai ujian. Hingga aku tak punya alasan lagi untuk dapat bersedih.
Kau selalu menjanjikan segala ketenangan bagiku, asal aku selalu mengingatMu, mendekatiMu yang tak akan pernah pergi.
Padahal Kau telah jelaskan, bahwa dalam setiap kesusahan itu, dalam setiap sedih yang kurasakan karenanya, selalu kau selipkan kemudahan.
Dan tentang banyak hal yang kubenci, tak pernah kusukai, sebelumnya Kau telah memprediksi. Bahwa semua itu memang layak bagiku, memang baik untukku.
Namun aku tak pernah menyadari, tak akan pernah mengerti, tak dapat memahami segala rahasia hidup yang aku jalankan berdasarkan apa yang Kau sebut dengan takdir.
BersamaMu mudah, menjauhiMu apalagi, namun untuk dapat kembali dekat denganMu itu yang paling susah. Untuk dapat menerima seikhlas-ikhlasnya takdirMu yang sebenarnya memang indah, namun sering kupertanyakan.
Walau kuminta agar Kau tak jauh dariku, ternyata Kau memang tak akan pernah pergi. Kecuali aku yang mulai untuk menjauhiMu.
Namun jangan! Jangan pernah biarkan hal itu terjadi.
Bagaimana lagi keadaanku tanpa kehadiranMu di sini, dalam hati dan setiap gerak yang kuhasilkan.
Aku coba memnita, karena Kau juga berjanji akan selalu mengabulkan doa yang kupanjatkan, asa yang kuharapkan, agar Kau berikanku kekuatan. Kekuatan dalam beriman. Agar tak pernah suatu hari dalam hidupku untuk mempercayai selain diriMu. Tidak juga diriku.


Leave a Reply

Powered by Blogger.